LOGINAroma pahit kopi hitam yang menguar tajam bersama kehangatan racikan teh herbal di dekat tempat tidur menyapa indra penciuman Rosalynd. Sentuhan serta usapan lembut jemari kasar suaminya membuat kelopak mata Rosalynd bergerak pelan. Hal pertama yang menyapa pandangannya begitu membuka mata bukanlah suasana istana yang kaku, melainkan wajah tampan suaminya yang berjarak dekat dengannya. Pria itu sudah berbaring miring menatapnya. Kali ini penampakannya tak menggunakan zirah tebal atau jas kebesaran yang kaku. Kenneth hanya mengenakan kemeja santai berbahan halus yang kancingnya sengaja dibiarkan terbuka. Rosalynd tersenyum tipis. Suaranya terdengar sedikit parau khas orang baru bangun tidur. "Sejak kapan Anda terbangun dan memperhatikan saya seperti ini, Tuan?" selidik Rosalynd dengan manja. "Sejak setengah jam yang lalu," respon Kenneth. Suara beratnya bergetar lembut ketika jemari kekarnya bergerak turun dan membelai garis rahang Rosalynd dengan teratur. "Menyaksikan mu bernapas
Deru mesin kendaraan mewah membelah jalanan khusus kekaisaran yang cukup lenggang menuju pusat kota. Di balik kemudi, Kenneth melonggarkan ikatan dasi atas kemeja serba hitamnya dan seolah menghilangkan kesan kaku nan mengintimidasi di ruang dewan. Rosalynd menoleh, menatap wajah tegas Kenneth dari samping yang diterangi remang lampu jalanan kota. "Kita mau kemana, Yang Mulia? Bahkan pengawal pribadi Anda tidak di izinkan untuk mengekori Anda di belakang." Kenneth tersenyum miring. Senyuman yang khusus diberikan pada wanita kesayangan nya. Tangannya yang tak memegang kemudi mobil bergerak menggapai jemari manis Rosalynd yang sudah disisipi Cincin Utama dan mengecup punggung tangan Rosalynd lembut. "Ke tempat di mana tidak ada Kaisar Blackwood dan tidak ada Selir Agung," katanya dengan suara hangat. "Hanya ada Kenneth dan Rosalynd." Setelah sekitar tiga puluh menit berkendara, mobil berhenti di sebuah pelataran griya tawang pribadi yang berdiri di puncak gedung tertinggi di ibu kot
Hal pertama yang Rosalynd rasakan ketika membuka mata bukanlah udara dingin istana, melainkan kehangatan lengan kekar suaminya yang masih melingkar erat dan protektif di pinggangnya. Kenneth belum hengkang. Pria yang biasanya sudah berdiri tegap dengan mengenakan zirah atau jas kebesarannya sejak fajar menyingsing, namun hal itu berbeda karena dirinya sedang berbaring di sebelah istrinya. Dengan sanggaan satu tangan di kepala, sang Tiran menatap wajah permaisurinya yang baru saja melenguh. "Selamat pagi, Cantikku," sapa Kenneth sambil menunduk untuk mengecup kening Rosalynd ringan. Rosalynd mengerutkan keningnya tipis dan membiarkan senyumnya merekah. "Sejak kapan Tiran Blackwood bolos dari rapat Dewan Militer pagi hari, Tuan?" "Sejak aku menyadari bahwa dengan menatap wajahmu di pagi hari jauh lebih penting daripada mendengarkan ocehan menteri tua bangka itu berdebat." respon Kenneth santai tanpa beban. Jemari kasar dan besarnya membelai lembut pipi halus Rosalynd. Ia seolah meni
"Tergantung—"Rosalynd sengaja menggantung kan kalimat nya dan menatap manik mata Kenneth yang menyala penuh penasaran.Kenneth semakin memeluk Rosalynd dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher selirnya. "Tergantung apa, hemthhh? Katakan yang sejujurnya padaku, Rosalynd!"Rosalynd tersenyum simpul, mengikis seluruh aura dingin yang sejak tadi menyelimuti wajahnya. Jemarinya mengelus rahang tegas Kenneth yang tertutup oleh sisa-sisa kelelahan akibat peperangan."—Tergantung bagaimana sikap Anda kepada saya mulai malam ini, Tuan," balas Rosalynd sangat pelan. Suaranya yang lembut terasa menyapu perasaan Kenneth yang bergelora.Mendengar jawaban yang tanpa ragu itu, raut wajah Kenneth yang biasanya keras bak batu seketika melunak. Tatapan tajamnya berubah menjadi hangat. Sebuah tawa kecil yang sangat jarang terdengar dari bibir sang Tiran perlahan lolos. "Pintar sekali bermain dengan perasaan ku, Rosalynd," gumam Kenneth perlahan.Kenneth tak menekan atau menuntut jawaban kembali. Namu
Dua jam setelah laporan darurat terdengar di Paviliun Mawar, suasana persidangan agung Kekaisaran Blackwood mendadak mencekam. Ratusan pasang mata pejabat dan petinggi militer berbaris kaku di bawah pilar-pilar megah. Di tengah aula yang dingin, Gavin Von Shanza dan Permaisuri Cassandra berlutut pasrah. Jubah kain kasar yang digunakan oleh tahanan menyelimuti tubuh keduanya yang masih terbelenggu rantai besi pekat. "Ampuni saya, Yang Mulia! Ini semua bukan rencana saya! Pangeran Raymond dan Pangeran Gavin yang telah merencanakan semuanya! Saya hanya diancam saja, Yang Mulia! Dan satu lagi, Anda harus ingat jasa keluarga saya pada Kekaisaran mu!" pekik histeris sambil mencoba merangkak maju, namun dadanya langsung ditahan oleh ujung tombak pengawal. Kenneth duduk di singgasana Naga Hitam tanpa mengalihkan pandangannya. Wajahnya yang tertutup bayangan zirah perang terlihat sedingin es. "Berisik sekali, Cassandra! Darah pengkhianat di tubuhmu membuat suaramu terdengar sangat menjiji
Pintu jati berukir milik Paviliun Mawar tertutup rapat dengan dentuman keras yang menggemakan dominasi sang Penguasa. Puluhan prajurit Batalion Ksatria Hitam berbaris membelakangi kamar dan mengunci seluruh akses istana supaya tidak ada satu pun yang berani mengusik. Suasana di dalam kamar seketika berubah panas. Seolah sudah menahan hasrat itu lama sekali, Kenneth merobek gaun sutra yang membalut tubuh Rosalynd hingga kain halus itu terlepas dari tubuh Rosalynd. Kenneth mencengkeram pinggang Rosalynd dengan sedikit kuat, mengangkat tubuh wanita itu mendadak dan menghempaskan nya ke atas meja rias. Beberapa botol parfum dan cermin kaca berdenting dan hancur berkeping-keping seolah memantulkan kegilaan sang penguasa. "Arghhhh! Kau hanya milikku, Rosalynd! Seluruh jiwa mu yang beracun dan ragamu adalah milikku!" pekik Kenneth dengan suara yang lebih mirip hewan buas. Rosalynd tidak memberontak sedikit pun. Jemarinya yang dingin justru mencengkeram erat rambut hitam Kenneth, menarik
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t







