Share

Bab 4. Harapan Tetua

Penulis: Wening
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-03 17:47:04

“Sedang apa di situ, Nduk?”

Sarah terlonjak kaget mendengar suara Bapak yang muncul tiba-tiba di belakangnya.

“Kenapa kaget begitu?”  tanya bapak lagi dengan heran.

“Bapak tiba-tiba muncul di belakang Sarah.”

“Bukan tiba-tiba, tapi kamu yang melamun. Apa yang kau pikirkan tentang Nak Dokter?”

Sarah tidak langsung menjawab pertanyaan bapak tapi beranjak masuk kembali ke dalam rumah. Sementara lelaki cinta pertamanya mengekor di belakang. Sepertinya masih penasaran pada perilaku ibu dari para cucu kebanggannya itu.

“Memang bisa memikirkan apa? Sarah wanita bersuami, lagi pula kami bukan anak baru gede yang tidak paham hal-hal, Pak. Sarah takut syetan hadir di antara kami.”

Bapak tertegun menghentikan langkah sejenak, tapi kemudian kembali mengejar langkah Sarah. Ujung bibirnya terangkat ke atas membentuk senyum kecil. Lagi-lagi kebanggaan mekar melihat putrinya begitu menjujung tingg norma di antara jaman yang lebih mendorong sifat ego yang membumbung.

“Bapak percaya keimananmu cukup kuat tapi….” Bapak menggaruk kepala yang tak gatal.

“Kalian bahas apa? Kesini beritahu ibu!” Suara ibu selalu menghipnotis. Tanpa banyak kata dua orang beda usia itu menuju sofa ruang keluarga di mana ibu berada  dengan patuh.

Ruang tengah rumah sewa itu adalah ruangan memanjang yang hanya diisi dengan satu set sofa sudut yang tersusun rapi di bagian pinggir ruang dengan hamparan permadani di bawahnya. Dengan bantal-bantal besar sebagai pengaman jika Bayi Putri bermain di sana. Sementara sudut lain terdapat televisi. Sarana ibu menonton sinetron kesayangan saat senggang waktu.

Keluarga tiga orang itu duduk bersama dan saling memandang bergantian satu sama lain.

“Bapak sama ibu jangan bikin Sarah tegang. Ada apa sih?”

Ibu memandang bapak yanmg segera mengangkat bahu mengisyaratkan tak tahu harus bicara apa dengan anak perempuan mereka untuk menjelaskan kondisi saat ini.

“Kita hampir tiga bulan di rumah sewa ini, Nak. Keadaanmu sudah sangat baik sekarang. Semua itu tak lepas dari peran Dokter Wan yang tak pernah lelah merawatmu.

Selama kau, em- melupakan banyak hal, Nak Dokterlah yang terus mendampingimu dan terus menstimulasi agar ingatanmu kembali. Karena itu, mungkin yang membuatnya sedikit melonggarkan formalitas di antara kalian.”

“Apakah kami sedekat itu, Bu?”

“Dan Putri, tadi itu bukan kata pertamanya memanggil papa padanya.”

“Apa?” Sarah menatap bapak dan ibunya bingung.

Bapak mengalihkan pandangan dari tatapan anak perempuan yang selalu dianggapnya kecil di depannya.

“Selama ini kau lebih banyak di rumah sakit dan dalam pantauannya langsung. Bapak yang selama ini menjagamu di sana sementara ibumu menjaga Putri di sini bersama Bibi. Memasak dan mengirimkan makanan sehat untuk kita di rumah sakit.”

Bapak bercerita sammbil menerewang pandang. Mengingat bagaimana gamangnya perasaannya yang dipenuhi ketakutan Sarah tidak segera sadar.

“La-lalu Mas Fadhil?” Bapak medengus mendengar nama menantunya disebut.

“Kau ingat waktu kita pulang buru-buru dari rumah sakit ke sini? Itu adalah saat istri keduanya melahirkan di rumah sakit yang sama denganmu dirawat.” Sarah mengernyit mengingat saat itu.

“Pantas Dokter Wan sendiri yang mengantar dengan mobilnya,” gumam Sarah.

“Dokter Wan tidak ingin kamu terguncang lagi dan memindahkan perawatanmu di rumah ini. Tetapi sebelum kau pulang, Dia bahkan menyempatkan diri di antara padatnya jadwal untuk memberikan peran ayah yang tak pernah dimiliki bayi cantikmu itu. Dengan alasan memeriksa kesehatannya.” Ibu sudah tak tahan untuk tak meneteskan airmata mengingat perjalanan pahit cucu dan anak perempuan satu-satunya itu dalam mengatasi kemelut rumah tangga.

Sarah tidak tahu bagaimana lagi harus merespon setiap cerita baik tentang Dokter Wan. Bukan tak paham maksud tetua yang berharap Sarah memikirkan baik-baik kebaikan dokter itu, tapi dirinya sunggung tak paham dengan cara apa membalasnya.

“Memang Sarah harus gimana, Pak”

“Pertimbangkan dia saat kau nanti bisa melepaskan Si Fadhil. Dokter Wan sangat perhatian pada anak-anakmu, semetara ayahnya orang yang seharusnya ada justeru,...” 

Bapak tak kuasa melanjutkan ucapannya. Buku jemarinya mengepal hingga memutih. Bahu Sarah luruh mengetahui apa yang terjadi sebelum dirinya sadar dari babyblues yang berkepanjangan.

“Sarah, kalau boleh bapak , mohon. Lepaskan saja biduk rumah tanggamu yang hanya terus membuatmu sakit.”

“Ba-bapak ….”

Sarah tiba-tiba menyadari satu hal. Jika dirinya hanyut dalam dunianya sendiri hampir tiga bulan dan berada di rumah sakit, lalu suaminya sibuk dengan keluarga baru, lalu bagaimana dengan dua anak lelakinya? Siapa yang mengurusnya sementara hubungan mereka dengan ayahnya juga tidak begitu baik dalam ingatan Sarah terakhir tentang mereka.

“Nduk, Kenapa?” bapak dan ibu menjadi panik melihat Sarah yang terbengong.

“Royyan, Syamil!”

Dua wajah tua itu segera mengendur, “Jangan khawatir, mereka baik-baik saja dan senang. Nanti ibu ceritakan pelan-pelan.”

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab. 18

    Sejak saat itu Sarah menjadi sangat pendiam. Mengurus bayi Putri dalam keheningan. Sementara celoteh Si Kecil juga semakin jarang terdengar.Suasana rumah Pak Rahmat dan Bu Syarifah mendadak menjadi suram. Seperti pagi ini.“Kopi, Pak?”“Teh saja, Bu. Lambungku agak agak perih belakangan ini kalau minum kopi.”Mendengar hal itu Bu Syarifah segera meletakkan termos yang baru saja diisi dengan air mendidih. “Apa kau sakit?” tanyanya panik.“Tidak, Bu cuma kadang rasanya perih.”“Kalau begitu jangan minum kopi lagi,” pungkas Bu Syarifah.Kemudian suami istri yang telah menjalani kehidupan berumah tangga selama empat puluh tahun itu duduk berdua dengan cangkir di tangan.Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran masing-masing tetapi tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Ada hati yang perlu dijaga yaitu putri mereka. Seolah saling memahami isi hati pandangan mereka bertemu.“Pak, apa kita salah langkah?”Pak Rahmat menarik napas panjang membuat istrinya juga mendesah lelah.“Putri kita sud

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 17. Amarah Itu Masih Ada

    Bab 17. Amarah Itu Masih AdaSuara tangis dari kamar Sarah membuat kedua orang tuanya bergegas menghampiri. Bayi Putri terbangun dan merengek dengan suara melengkling. Terdengar Sang Bunda sedang berusaha menenangkannya. Mamun nampaknya bayi mungil itu sedang tak mau menurut.Tok! Tok!Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian bayi mungil itu. Namun setelah berhenti sebentar suaranya tangisnya kembali terdengar.“Sarah. ibu masuk, ya.”“Masuk saja, Bu.”“Kenapa cucu, eyang? Sini biar ibu gendong.” Ibu mengambil alih Bayi Putri dari gendongan Sarah. Alih-alih diam Putri malah meliukkan badan me

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 16. Hampa

    “Assalamualaikum!”Seruan Salam dari pintu depan mengalihkan perhatian Bapak dan Dokter Wan yang sedang duduk mengobrol. Sambil mengangkat tangan tanda menjeda obrolan lelaki dengan sarung dan koko itu beranjak menghampiri daun pintu yang memang tidak ditutup.“Waalaikumusalam ….Wah Pak RT, silakan-silakan,” kata Bapak ramah sambil mempersilakan tamunya masuk.“Silakan duduk, Pak.” Dokter Wan bangkit dan meyalami tamu yang baru saja datang lalu mempersilakan duduk.Sikap Dokter Wan yang serupa tuan rumah membuat suami Bu Siti itu tampak canggung dan sungkan. Tatapannya mengarah pada Bapak dengan wajah mengisyaratkan tanya.“Silakan duduk dulu,Pak,” kata Bapak mengabaikan rasa ingin tahu tamunya.Pak Zulkarnain yang merupakan ketua RT di lingkungan Bapak duduk dengan sedikit gelisah. Penampilan Dokter di hadapannya itu sangat menonjol dengan karisma kuat membuatnya bingung bagaimana memulai percakapan. Untungnya Bapak sangat paham dan segera mengakhiri suasana kurang nyaman itu.“Nak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 15. Itu Janjiku

    Rumah bapak dan ibu Sarah tampak lebih tenang sore ini. Keberadaan Anton dan keluarga kecilnya kemarin membuat beberapa tetangga mampir untuk menyapa sekaligus menjenguk Sarah dan keluarga karena lama di kota sana dan diketahui pergi untuk menjaga Sarah pasca melahirkan. Sebagian dari mereka menjenguk untuk mengetahui apakah Sarah sudah sehat kembali dan ingin melihat anak yang baru dilahirkannya. Namun sebagian dari mereka adalah untuk mengorek berita untuk bekal obrolan kala duduk bersama bergosip dengan yang lain. Penyebabnya Sarah pulang kembali ke kampung halaman tanpa sang suami sedangkan saat hamil juga sendirian di rumah orang tuanya. Anton dikenal karena memang asli warga desa itu dan sebagian penduduk terutama mereka yang sepuh tahu. Namun tamu lain dan ternyata seorang dokter membuat wanga desa sangat penasaran. Apa lagi saat mobil Anton sudah tidak ada dan dipastikan kembali ke kota sana, kendaraan sang dokter masih anteng parkir di halaman samping keluarga Sarah. Sontak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 14. Jangan Berikan Harapan Semu

    Hari kunjungan berakhir menjelang waktu asyar. Para Santri harus shalat berjamaah bersama para pengampu mereka. Dengan berat hati Sarah melepaskan kedua putranya kembali ke asrama. Lalu mereka kembali ke area parkir. Cuti Anton telah selesai dan esok hari harus kembali ke kantor, jadi mereka langsung berpisah karena keluarga kecil itu akan mengambil jalur jalan yang berbeda. Bapak dan Ibu pulang bersama Dokter Wan di mobilnya bersama Sarah dan bayi Putri.“Apa tidak merepotkan, Nak Dokter?” tanya bapak sungkan.“Saya bisa pesan kendaraan online, Dok,” kata Sarah menimpali.Dokter Wan tampak bimbang. Misinya datang jelas belum mendapatkan kesempatan untuk disampaikan pada wanita di hadapannya itu. Tanpa sadar tatapannya melembut ke bawah di mana sosok kecil masih meringkuk nyaman di lengan besarnya yang hangat. Melihatnya membuat Sarah jadi serba salah. Bayinya itu sulit dilepaskan dari pria yang dipanggilnya Papa. Tatapan sendi mata Sarah membuat ujung bibir Dokter tampan itu sedikit

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 13. Pandangan Kosong Itu menyakitiku

    “Assalamualaikum!” Beberapa Santri mendekati keluarga Sarah dan mengangsurkan tangan untuk menyalami semuanya. Syamil dengan antusias memperkenalkan keluarga pada teman-temannya. Suasana canggung antara Sarah dan Dokter Wan tersamar begitu saja. Mereka melanjutkan dengan makan bersama dan bercerita. Secara garis besar kedua anak lelaki Sarah betah di tempat belajar baru meski jauh dari orang tua. Si pendiam Rayyan lebih banyak mengangguk mengiyakan setiap celoteh adiknya tentang asyiknya sekolah berasramah. Punya banyak teman yang membersamai dalam suka dan duka baik siang maupun malam membuat mereka sangat bersyukur menemukan sekolah baru, pengalaman baru juga teman baru yang lebih bermakna. Menghadapi banyak hal bersama seperti mengatasi rasa kangen pada keluarga. Persamaan rasa sebagai yang jauh dari ayah dan bunda membuat mereka menjadi saling menjaga dan saling mengisi setiap kekososngan. Seperti ketika teman-temannya di jenguk wali mereka, Syamil dan Rayyan juga kerap diajak ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status