Share

Bab 5. Hangatnya Tatapan

Author: Wening
last update Last Updated: 2025-12-03 17:51:28

Sarah tak sabar menunggu pagi. Setelah kemarin Bapak dan Ibu menceritakan tentang kedua putranya mondok di kota asal sana, akhirnya keputusan untuk pulang dan meninggalkan rumah sewa, bulat diambil.

“Apa itu aman buat keadaan tubuhku, Dok?’ tanya Sarah pada Dokter Ema sahabat sekaligus dokternya di kampung halaman. Mereka berkesempatan bertelepon ria setelah mengetahui kini Sarah sudah nyaris pulih total keadaannya.

“Luka operasai kurasa sudah sangat baik kalau tak ada gejala infeksi dan sebagainya. Kau di rumah sakit untuk penyembuhan isi kepalamu bukan luka di tubuhmu,” kata Dokter Ema berkelakar. Sarah hanya tertawa mendengarnya.

“Tapi tetap tanyakan pada doktermu di sana ya, kalau semua ok kalian bisa langsung jalan saja. Aku akan menunggumu di sini.”

Sarah kemudian menelephon Dokter Wan dengan ragu. Ucapan hallo dari seberang sana sungguh membuat dada Sarah berdebar tak menentu. Seolah dirinya melihat dokter tampan itu sedang menatapnya sekarang. Rasa gugup membuatnya tak berdaya dan mati gaya.

“Em-anu, Dok. Kami mau meninggalkan rumah sewa dan kembali ke kota asal. Apakah keadaanku sudah baik-bak saja untuk perjalanan jauh?”

Kata, Ya, dari ujung sambungan membuatnya lega. Dengan banyak pesan dan nasihat, Dokter  Wan mengijinkan Sarah dan keluarga kembali pulang. Kesibukannya yang tak memungkinkan untuk mengantar justreru membuat Sarah lega. Tak bisa menolak tetapi jika dokter itu ingin mengikutinya ke kampung bukan mustahil keadaan mentalnya akan kembali parah karena urusan ribet dengan tetangga kiri kanan yang pasti akan sangat penasaran pada keluarganya. Keadaan Sarah yang lama tinggal di kampung tanpa suami dalam keadaan mengandung di waktu lalu saja sudah membuat pusing. Kali ini bagaimana respon mereka ketika keluarga Sarah kembali dengan bayi dan seorang lelaki baru yang dipanggil Papa oleh bayinya. Sungguh Sarah tak sanggup membayangkan apalagi menanggung konsekuensinya.

“Bu, Sarah.” Sarah tergagap mendapati tepukan lembut di bahu oleh Bibi.

“Kenapa, Bi? Putri nangis ya?”

“Bukan, Bu. Ada Pak Anton sama Mbak Laras di depan.”

Sarah mengangguk dengan semangat dan segera menyongsong sahabatnya ke ruang tamu. 

“Laras!” pekik Sarah sambil menghambur dalam pelukan wanita anggun berjilbab navi yang sedang duduk di sofa ruang tamunya.

“Hati-hati perutmu!” kata Laras panik melihat Sarah berlari ke arahnya.

“Sudah tidak apa-apa sudah sembuh. Apa kau juga akan pulang bersamaku? Anton bilang begitu saat menelphonku tadi.” Laras hanya tersenyum melihat sahabatnya begitu antusias.

“Iya. Bang Anton juga sengaja cuti untuk mengantar kita semua.”

“Benarkah? Terima kasih, Ya… kalian terbaik.” Kata Sarah membuat Anton tersipu. Dalam hati dirinya berkata, “Kau tak akan bicara begitu kalau tahu suamimu dipecat dari kantor karena aku.”

*

Begitulah rencana esok hari mereka diskusikan dengan matang. Keluarga Sarah akan kembali pulang ke kota asal dengan mobil Anton. Menggunakan kendaraan umum tidak akan nyaman. Mereka akan melakukan perjalanan santai sambil menikmati kebersamaan yang jarang sekali terjadi kecuali ada acara keluarga atau hari besar tertentu seperti lebaran. Anton juga berjanji akan mengantar Sarah menemui putranya di pondok tempat mereka belajar. Untuk itulah misi utama pasangan Anton Laras ikut mendampingi Sarah kali ini.

Sarah nyaris melupakan semua kesakitan. Orang-orang di sekitarnya begitu tulus menyayanginya. Mereka saling memandang dan  tersenyum hangat. 

Tiba-tiba Sarah teringat seseorang yang juga selalu tersenyum lembut dan hangat. Saat dalam masa remang-remang yang samar, saat dirinya setengah sadar, dia selalu berbisik menenangkan. “Aku akan selalu ada untukmu, aku janji, jangan takut, ya… bangunlah.”

Sarah mengira-ngira, siapakah dia? Sepertinya tak mungkin itu Fadhil Sang Suami. Lelaki payah itu pasti sibuk dengan istri yang menurutnya sangat pengertian dan tidak pernah menekan suami hanya karena uang. Yah dengan menekankan setiap kata dalam kalimat ‘hanya karena uang’ saat mengatakannya. Sarah bahkan dapat membayangkannya dengan jelas raut sinis itu.

Jadi, siapakah dia?

Bersambung ....

,

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab. 18

    Sejak saat itu Sarah menjadi sangat pendiam. Mengurus bayi Putri dalam keheningan. Sementara celoteh Si Kecil juga semakin jarang terdengar.Suasana rumah Pak Rahmat dan Bu Syarifah mendadak menjadi suram. Seperti pagi ini.“Kopi, Pak?”“Teh saja, Bu. Lambungku agak agak perih belakangan ini kalau minum kopi.”Mendengar hal itu Bu Syarifah segera meletakkan termos yang baru saja diisi dengan air mendidih. “Apa kau sakit?” tanyanya panik.“Tidak, Bu cuma kadang rasanya perih.”“Kalau begitu jangan minum kopi lagi,” pungkas Bu Syarifah.Kemudian suami istri yang telah menjalani kehidupan berumah tangga selama empat puluh tahun itu duduk berdua dengan cangkir di tangan.Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran masing-masing tetapi tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Ada hati yang perlu dijaga yaitu putri mereka. Seolah saling memahami isi hati pandangan mereka bertemu.“Pak, apa kita salah langkah?”Pak Rahmat menarik napas panjang membuat istrinya juga mendesah lelah.“Putri kita sud

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 17. Amarah Itu Masih Ada

    Bab 17. Amarah Itu Masih AdaSuara tangis dari kamar Sarah membuat kedua orang tuanya bergegas menghampiri. Bayi Putri terbangun dan merengek dengan suara melengkling. Terdengar Sang Bunda sedang berusaha menenangkannya. Mamun nampaknya bayi mungil itu sedang tak mau menurut.Tok! Tok!Suara pintu yang diketuk mengalihkan perhatian bayi mungil itu. Namun setelah berhenti sebentar suaranya tangisnya kembali terdengar.“Sarah. ibu masuk, ya.”“Masuk saja, Bu.”“Kenapa cucu, eyang? Sini biar ibu gendong.” Ibu mengambil alih Bayi Putri dari gendongan Sarah. Alih-alih diam Putri malah meliukkan badan me

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 16. Hampa

    “Assalamualaikum!”Seruan Salam dari pintu depan mengalihkan perhatian Bapak dan Dokter Wan yang sedang duduk mengobrol. Sambil mengangkat tangan tanda menjeda obrolan lelaki dengan sarung dan koko itu beranjak menghampiri daun pintu yang memang tidak ditutup.“Waalaikumusalam ….Wah Pak RT, silakan-silakan,” kata Bapak ramah sambil mempersilakan tamunya masuk.“Silakan duduk, Pak.” Dokter Wan bangkit dan meyalami tamu yang baru saja datang lalu mempersilakan duduk.Sikap Dokter Wan yang serupa tuan rumah membuat suami Bu Siti itu tampak canggung dan sungkan. Tatapannya mengarah pada Bapak dengan wajah mengisyaratkan tanya.“Silakan duduk dulu,Pak,” kata Bapak mengabaikan rasa ingin tahu tamunya.Pak Zulkarnain yang merupakan ketua RT di lingkungan Bapak duduk dengan sedikit gelisah. Penampilan Dokter di hadapannya itu sangat menonjol dengan karisma kuat membuatnya bingung bagaimana memulai percakapan. Untungnya Bapak sangat paham dan segera mengakhiri suasana kurang nyaman itu.“Nak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 15. Itu Janjiku

    Rumah bapak dan ibu Sarah tampak lebih tenang sore ini. Keberadaan Anton dan keluarga kecilnya kemarin membuat beberapa tetangga mampir untuk menyapa sekaligus menjenguk Sarah dan keluarga karena lama di kota sana dan diketahui pergi untuk menjaga Sarah pasca melahirkan. Sebagian dari mereka menjenguk untuk mengetahui apakah Sarah sudah sehat kembali dan ingin melihat anak yang baru dilahirkannya. Namun sebagian dari mereka adalah untuk mengorek berita untuk bekal obrolan kala duduk bersama bergosip dengan yang lain. Penyebabnya Sarah pulang kembali ke kampung halaman tanpa sang suami sedangkan saat hamil juga sendirian di rumah orang tuanya. Anton dikenal karena memang asli warga desa itu dan sebagian penduduk terutama mereka yang sepuh tahu. Namun tamu lain dan ternyata seorang dokter membuat wanga desa sangat penasaran. Apa lagi saat mobil Anton sudah tidak ada dan dipastikan kembali ke kota sana, kendaraan sang dokter masih anteng parkir di halaman samping keluarga Sarah. Sontak

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 14. Jangan Berikan Harapan Semu

    Hari kunjungan berakhir menjelang waktu asyar. Para Santri harus shalat berjamaah bersama para pengampu mereka. Dengan berat hati Sarah melepaskan kedua putranya kembali ke asrama. Lalu mereka kembali ke area parkir. Cuti Anton telah selesai dan esok hari harus kembali ke kantor, jadi mereka langsung berpisah karena keluarga kecil itu akan mengambil jalur jalan yang berbeda. Bapak dan Ibu pulang bersama Dokter Wan di mobilnya bersama Sarah dan bayi Putri.“Apa tidak merepotkan, Nak Dokter?” tanya bapak sungkan.“Saya bisa pesan kendaraan online, Dok,” kata Sarah menimpali.Dokter Wan tampak bimbang. Misinya datang jelas belum mendapatkan kesempatan untuk disampaikan pada wanita di hadapannya itu. Tanpa sadar tatapannya melembut ke bawah di mana sosok kecil masih meringkuk nyaman di lengan besarnya yang hangat. Melihatnya membuat Sarah jadi serba salah. Bayinya itu sulit dilepaskan dari pria yang dipanggilnya Papa. Tatapan sendi mata Sarah membuat ujung bibir Dokter tampan itu sedikit

  • Damai Dalam Poligami Sesion 2   Bab 13. Pandangan Kosong Itu menyakitiku

    “Assalamualaikum!” Beberapa Santri mendekati keluarga Sarah dan mengangsurkan tangan untuk menyalami semuanya. Syamil dengan antusias memperkenalkan keluarga pada teman-temannya. Suasana canggung antara Sarah dan Dokter Wan tersamar begitu saja. Mereka melanjutkan dengan makan bersama dan bercerita. Secara garis besar kedua anak lelaki Sarah betah di tempat belajar baru meski jauh dari orang tua. Si pendiam Rayyan lebih banyak mengangguk mengiyakan setiap celoteh adiknya tentang asyiknya sekolah berasramah. Punya banyak teman yang membersamai dalam suka dan duka baik siang maupun malam membuat mereka sangat bersyukur menemukan sekolah baru, pengalaman baru juga teman baru yang lebih bermakna. Menghadapi banyak hal bersama seperti mengatasi rasa kangen pada keluarga. Persamaan rasa sebagai yang jauh dari ayah dan bunda membuat mereka menjadi saling menjaga dan saling mengisi setiap kekososngan. Seperti ketika teman-temannya di jenguk wali mereka, Syamil dan Rayyan juga kerap diajak ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status