Mag-log inPerjalanan siang hari menuju kota kelahiran Sarah, terasa menyenangkan. Mobil sejuta umat milik Anton membawa mereka dengan kecepatan sedang saja. Memang sengaja tidak terburu-buru dalam perjalanan kali ini karena membawa anak-anak dan juga orang tua jadu disepakati akan menjadikan rute sebagai ajang rekreasi.
Anton menyetir ditemani bapak di kursi depan. Di tengah ibu memangku bayi Putri dan Laras bersama putri kecilnya Mimi. Bibi duduk di antara mereka untuk membantu siapapun yang tampak kesulitan. Sementara kursi belakang ditempati Sarah sendirian agar bisa merebahkan diri jika lelah duduk terlalu lama. Bekas suntikan di punggungnya masih kerap terasa pegal.
“Apa kau merasa cukup nyaman, Nduk?” tanya ibu sambil melongokkan kepala ke belakang.
“Ya, Bu. Laras bahkan menyediakan banyak bantal empuk khusus untukku,” jawab Sarah sambil mengerling ke arah sahabatnya. Semua tersenyum menanggapi.
Menjelang maghrib mereka sampai ke rumah yang telah ditinggalkan beberapa bulan lamanya. Ibu tampak sangat merindukan rumahnya hingga senyum merekah meski kelelahan jelas terlihat dari sorot matanya yang sayu.
“Akhirnya pulang ke rumah,” katanya haru.
Rumah tampak bersih, halaman rapi dan pot bunga kebanggaan ibu juga segar dan terawat. Ketika mereka tengah melangkah naik ke beranda, seorang wanita bertubuh gempal tergopoh-gopoh dari arah samping.
“Alhamdulillah sudah sampai dengan selamat. Maaf tadi saya tanggung shalat isyak pas suara mobil kalianterdengar,” katanya sambil bergegas membuka pintu.
Beliau adalah Bu Siti tetangga rumah ibu yang sudah seperti keluarga. Ibu menitipkan kunci rumah pada beliau. Tak disangka bahkan Bu Siti membersihkan juga secara teratur beberapa hari sekali. Mereka kerap bertelepon saling meberi kabar.
“Terima kasih sudah merepotkanmu lama ya, Jeng Siti.”
“Jangan sungkan Mbakyu. Ayo ayo mari silakan.” Bu Siti mempersilakan semua ,masuk layaknya seorang tuan rumah.
Masuk ke dalam, tercium aroma wangi masakan dari arah meja makan, sementara aroma cenceman teh menguar dari teko yang juga telah tersedia bersama gelas-gelas yang masih dalam posisi terbalik dalam nampan. Hubungan keluarga orang tua Sarah sangat baik dengan tetangga kiri kanan.
“Wah Bu Siti ….” Sarah menatap tetangga ibunya dengan mata berkaca.
“Sudah, Nduk. Ibu mendengar cerita tentangmu ikut sedih tapi tak bisa membantu apa-apa. Sekarang kau sudah sehat dan kembali dengan selamat, ibu sangat lega. Masakan ini hanya seadanya. Kalian makanlah. Tehnya mungkin sudah agak dingin. Ibu tidak mengganggu lagi.” Menepuk pundak Sarah lembut, Bu Siti berlalu meninggalkan rumah diiringi senyum penuh terima kasih dari semuanya.
Sementara di depan pintu rumah sewa nun jauh di sana, seorang lelaki tampan sedang menatap pintu yang tertutup. Suasana sepi sangat terasa mengabarkan bahwa rumah itu sekarang tanpa penghuni. Sambil mengernyit dahi, sosok berkarisma khas dengan jas putih itu melongokkan kepala ke kiri dan kekanan. Tak seorang pun terlihat, bahkan tetangga yang biasanya berlalu lalang, saat dirinya datang di waktu lalu. Daerah itu termasuk perumahan padat penduduk yang saling mengenal satu sama lain.
“Mereka tak mungkin telah kembali ke kota asal, kan?” tanyanya dalam gumam.
Lelaki itu Dokter Wan. Saat beberapa hari lalu menanyakan apakah Sarah dan bayinya aman untuk perjalanan jauh, dirinya sudah menebak kalau Sarah sekeluarga berencana untuk pulang. Namun tak menyangka akan secepat ini. Dokter Wan bahkan sengaja mencari alasan kunjungan pasien untuk datang. Membawa beberapa paper bag untuk sekedar memberi hadiah penggati karena tak bisa mengantar. Memikirkannya, mantan kakak ipar Ali itu segera merogoh kantong dan mengeluarkan benda kotak yang segera berkedip saat jemari mulai menyentuh permukaannya.
“Hallo, Bu Sarah. Hari ini saya kunjungan pasien. Kok rumah kosong apa sedang bepergian?” tanyanya saat sambungan di terima di ujung sana.
Sarah yang menerima panggilan darinya, terbengong sambil bergumam, “Hari kunjungan?”
Bersambung ....
Fajar baru saja menyingsing ketika Sarah membuka jendela kamarnya. Cahaya keemasan perlahan menerobos sela-sela tirai, menyapu lantai kayu dan sajadah yang masih terbentang di sudut ruangan.Rumah itu belum benar-benar ramai. Hanya terdengar langkah kaki Bibi yang sesekali berlalu di dapur serta suara burung yang saling bersahutan dari pepohonan di halaman.Hari itu berbeda.Tidak ada rasa gugup yang membuat dadanya sesak. Tidak ada pula kegembiraan yang meledak-ledak sebagaimana sering ia lihat dalam kisah-kisah pernikahan.Yang ada hanyalah ketenangan.Sarah memandangi kedua telapak tangannya beberapa saat.Tangan yang dulu pernah gemetar menandatangani gugatan cerai.Tangan yang pernah menggenggam erat ranjang rumah sakit sambil mempertahankan hidupnya dan Putri.Tangan yang pernah bekerja siang malam demi memastikan ketiga anaknya tetap dapat makan dan bersekolah.Hari ini, tangan yang sama akan diulurkan kembali.Bukan untuk memulai mimpi tentang kehidupan yang sempurna.Melainka
Ruang tamu rumah Sarah terasa begitu lengang.Ruangan yang luas itu hanya diisi dua orang yang duduk saling berhadapan dalam diam. Dari kejauhan, mereka tampak seperti dua aksen kecil yang melengkapi ruang tanpa saling mengganggu.Bibi entah sedang berada di mana. Putri pun masih terlelap di kamarnya, seolah alam sengaja menghadiahkan sedikit waktu bagi dua orang yang diam-diam memiliki arti besar dalam hidupnya.Sarah memeluk bantal sofa lebih erat.“Dokter...” panggilnya pelan.Pria itu mengangkat kepala.“Kau memahami maksud ucapanmu tadi, kan?” Tatapan Dokter Wan tetap tenang.“Apa aku terlihat s
Akulah yang BergantungSarah langsung masuk ke kamar begitu tiba di rumah. Peristiwa yang baru saja terjadi masih membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.Air hangat memenuhi bak mandi. Perlahan ia membasuh wajah, rambut, lalu seluruh tubuhnya. Kehangatan air dan aroma sabun melati sedikit demi sedikit meluruhkan kepanikan yang sejak tadi menguasai pikirannya.Hampir setengah jam berlalu.Ketika keluar dari kamar, tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Ia telah mengenakan pakaian rumah yang rapi dan kerudung instan berwarna krem. Napasnya pun kembali teratur.Namun langkahnya terhenti di ambang pintu ruang tamu.Dokter Wan ternyata
Mendekati gerbang rumah, Sarah buru-buru membereskan barang bawaannya. Tas kerja, ponsel, dan beberapa berkas sudah berpindah ke kedua tangannya. Begitu mobil berhenti, ia berniat segera turun sebelum Putri menyadari kedatangannya.“Terima kasih banyak ya, Dok.” Ia bergeser mendekati pintu.Namun alih-alih membuka kunci pintu, Dokter Wan justru menurunkan kaca jendela.“Pak Ujang!” Penjaga yang sedang duduk di pos segera menoleh.“Eh, Pak Dokter! Sebentar!” Pak Ujang berlari kecil membuka gerbang sambil tersenyum lebar.Bahu Sarah langsung merosot.Selesai sudah harapannya pulang diam-diam.
Selesai makan siang, Sarah memutuskan tidak kembali ke kantor. Hari itu ia ingin segera pulang karena tidak tega meninggalkan Putri terlalu lama.Seperti biasa, Dokter Wan bersikeras mengantarnya.“Tidak usah pesan kendaraan online,” katanya sambil membuka kunci mobil. “Aku juga searah.”Sarah menghela napas pelan. Percuma menolak. Pada akhirnya ia kembali memilih duduk di kursi belakang, menjaga jarak yang menurutnya lebih pantas.Perjalanan dimulai dalam suasana santai. Berbeda dengan pertemuan-pertemuan mereka dahulu yang selalu canggung, kini percakapan mengalir begitu saja. Mereka sudah terlalu sering bertemu sehingga selalu ada hal baru untuk dibahas.Sarah akhirnya mengutarakan rasa penasarannya
Siang itu Sarah turun ke lobi kantor dengan ponsel di tangan. Jemarinya lincah menari di atas layar, hendak memesan taksi daring sebelum berangkat memenuhi undangan makan siang.Tin!Tin!Suara klakson membuatnya mengalihkan perhatian. Ia menengadah dan mendapati wajah tampan Dokter Wan menyembul dari balik jendela mobil.“Tidak usah pesan. Ayo pergi bersama.”Sarah mengernyit, melangkah mendekat hendak menolak dengan halus.“Tapi saya—”“Cepat naik,” potong Dokter Wan sambil melirik antrean kendaraan di belakangnya. “Lobi sudah mulai macet.”
Dokter Wan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Pikirannya berkelana pada seraut wajah yang akhir-akhir ini menyita perhatian. “Sarah,” gumamnya lirih.Rasa bingung dan hampa tanpa tahu apa penyebab pasti membuatnya tak bersemangat. Memasuki ruangan pribadi di klinik sesampainya di sana han
Sarah tak sabar menunggu pagi. Setelah kemarin Bapak dan Ibu menceritakan tentang kedua putranya mondok di kota asal sana, akhirnya keputusan untuk pulang dan meninggalkan rumah sewa, bulat diambil.“Apa itu aman buat keadaan tubuhku, Dok?’ tanya Sarah pada Dokter Ema sahabat sekaligus dokternya di
“Sedang apa di situ, Nduk?”Sarah terlonjak kaget mendengar suara Bapak yang muncul tiba-tiba di belakangnya.“Kenapa kaget begitu?” tanya bapak lagi dengan heran.“Bapak tiba-tiba muncul di belakang Sarah.”“Bukan tiba-tiba, tapi kamu yang melamun. Apa yang kau pikirkan tentang Nak Dokter?”Sarah
Keluarga sederhana Sarah, makan bersama pagi itu dengan sangat tenang. Berbeda dengan hari-hari biasanya mereka selalu ramai di depan meja makan. Bukan soal ketidak sopanan tetapi lebih pada hangatnya hubungan mereka biasanya. Kini mereka tampak sangat menjaga sikap, terutama wanita berkerudung cok







