Home / Romansa / Dari Balik Lensa / Bab 2 - Kesan Kedua

Share

Bab 2 - Kesan Kedua

last update publish date: 2023-11-14 05:57:40

Hujan yang cukup deras menahan Moira sore itu. Ia baru tiba di rumah kos menjelang malam. Sebenarnya, bukan dirinya yang ia kuatirkan akan basah kuyup, tetapi kamera satu-satunya yang Moira jaga serupa nyawanya. Tanpa kamera itu, entah bagaimana ia bisa menyambung hidup. Walaupun sebenarnya sia-sia ia membawanya hari ini. Karena ketika wawancara kerja siang tadi, benda itu sama sekali tak terpakai.

Bagi Moira, kamera miliknya menyimpan begitu banyak kenangan. Tak hanya karena ia mendapatkannya dengan susah payah, tetapi seseorang yang menghadiahkan padanya juga telah berpulang. Yang Moira sesalkan, ia belum sempat membuktikan pada seseorang itu bahwa ia mampu bertahan di atas pilihannya. Selama dua puluh tahun hidupnya, Moira merasa saat ini adalah titik terendahnya.

Gadis itu berusaha tertawa atas apa yang telah ia lalui hari ini. Jika bukan ia yang membuat hidupnya ceria, lantas siapa lagi? Meskipun lowongan kerja yang berhasil ia dapatkan tidak seperti perkiraan awal, paling tidak perkerjaan itu bisa membantunya bertahan selama beberapa bulan ke depan, sampai ia bisa mendapatkan yang lebih baik.

Dering ponselnya membuat Moira urung beranjak ke kamar mandi. Senyumnya mengembang saat melihat nama yang tertera di layar. Gano yang menghubunginya. Moira sangat rindu pada kakak lelakinya itu. Jadwal kuliah Gano yang begitu padat kadang membuat mereka kesulitan untuk bertemu.

“Ra, gue lagi deket kos lo.” Suara Gano terdengar dari seberang. “Jangan pakai celana pendek, gue bareng teman.”

Gano memutuskan panggilan sebelum Moira sempat bicara apa pun. Ciri khas Gano memang begitu. Cuek, tapi justru sangat protektif. Dulu ketika masih duduk di bangku SMA, entah berapa kali Gano menyusulnya ke lokasi photo hunting hanya karena tidak ingin Moira pulang telat. Jika diingat kembali, betapa kesal Moira akan sikap Gano. Namun, setelah mereka tinggal terpisah seperti sekarang, Moira merindukan perhatian Gano yang terkadang berlebihan.

Seperti biasa, Gano datang dengan beragam bungkusan makanan. Moira tak pernah meminta, malah sebaliknya ia sungkan jika kakak lelakinya itu terlampau boros untuk keperluannya. Moira tak ingin Gano terkena imbas akan sikapnya yang keras kepala.

“Dana bantuan gue udah cair,” ujar Gano saat ditanya. Moira paham yang dimaksud Gano dana bantuan sebenarnya adalah uang saku dari ibu mereka.

“Ini kebanyakan, Kak.”

Moira memandang kantongan plastik berisi cemilan kesukaannya. Gano ternyata juga membelikannya beberapa perlengkapan lain yang sudah lama Moira coret dari daftar belanja karena terlampau mahal. Ia masih ingin mengutarakan keberatan, tetapi Gano malah tidak memedulikan ocehannya. Ia justru asyik berbincang dengan teman yang datang bersamanya.

“Ini adik yang kemarin lo ceritain nggak mau jadi dokter?”

Moira yang sedang membenahi isi bungkusan, langsung menengadah. Tatapannya bertemu dengan senyum lebar si pemilik suara. Tak perlu lama mengamati, Moira bisa menilai bahwa teman Gano kali ini tak jauh beda dengan teman-teman lainnya yang pernah sang kakak kenalkan padanya.

“Adik gue fotografer.” Gano bantu menjawab saat melihat Moira enggan merespon.

“Kalau nggak mau jadi dokter, jadi istri dokter, mau, Dek?”

Kalimat itu diakhiri ucapan mengaduh, karena Gano telah lebih dulu menggebuk pundak si teman dengan tas miliknya. Moira yang tadinya tak acuh, kini tertawa lepas.

“Ra, kalau emang lo kepincut anak kedokteran, lo harus lapor gue.” Gano buru-buru memberi peringatan. “Gue hapal mana yang waras dan mana yang sakit jiwa kayak dia.”

Di sela tawanya, Moira bersyukur Gano menyempatkan diri berkunjung. Hatinya sedikit terhibur dengan obrolan ringan mereka, hingga sang kakak dan temannya berpamitan. Moira sangat terharu saat Gano sempat menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribu di saku kemejanya sebelum beranjak pulang.

“Lo harus kuat, biar Papa bangga.”

Air mata Moira menetes saat mendengar Gano membisikkan kalimat itu di telinganya. Tiba-tiba rindunya pada sang ayah membuncah tak tertahan. Entah berapa lama ia menangis hingga tertidur dengan sendirinya.

***

Moira ingat ucapan Raka untuk tidak datang terlambat. Ia memutuskan hadir tiga puluh menit lebih awal sebelum jam kerja dimulai. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dengan sedikit bingung. Tak satu pun karyawan ia temui di lantai dasar.

Niatnya untuk naik ke lantai dua langsung tertunda ketika mendengar suara langkah sedang menuruni anak tangga. Moira memutuskan untuk duďuk saja hingga salah satu karyawan menghampiri. Gadis itu sudah memasang senyum ramah untuk menyapa siapa pun yang ia jumpai lebih dulu.

Namun, yang ia perkirakan tidak seperti dugaannya. Bukan Raka atau si keriting Boni, atau pun karyawan lain yang menuruni anak tangga itu. Moira cepat-cepat mengalihkan pandangan saat matanya bertemu dengan tatapan Maruli, yang dengan santainya hanya bertelanjang dada. Kedua tangan lelaki itu sibuk mengusap sebuah handuk kecil pada rambutnya yang basah. Kakinya yang panjang hanya tertutupi celana jeans lusuh tanpa ikat pinggang. Moira yakin lelaki itu sama terkejutnya, karena ia buru-buru kembali naik ke lantai dua.

“Sori, Moy. Gue lupa lo mulai kerja hari ini,” ucap Maruli saat ia telah berpakaian.

Moira mengangguk dengan canggung. Wajar jika Maruli lupa, karena studio foto ini tidak pernah mempekerjakan perempuan sebelumnya. Ia berharap karyawan lain segera datang, sehingga ia tak harus berdua saja dengan Maruli.

“Maaf, saya kecepetan datangnya, Pak.” Moira mencoba berbasa-basi.

Maruli memandangnya sekilas. “Kalau lo datang telat hari ini, besok nggak perlu masuk kerja lagi.”

Nyali Moira sedikit menciut mendengar ucapan sinis Maruli. Selanjutnya ia memilih diam hingga lelaki itu yang mengajaknya bicara. Maruli menunjukkan sebuah meja paling depan yang nantinya akan ditempati Moira.

“Ini yang nanti jadi work-station lo.” Maruli menyuruhnya mendekat untuk lebih mudah menjelaskan. “Semua komputer di sini terhubung pakai LAN. Ini password lo.”

Dengan jeli Moira memperhatikan semua yang dijelaskan atasannya. Termasuk gerak-gerik lelaki itu yang entah mengapa terlihat menarik di matanya. Dari cara Maruli mencari kertas di laci meja yang berantakan, hingga ia menuliskan sederetan huruf bercampur angka yang nantinya menjadi kata kunci bagi Moira untuk mengakses komputer kerjanya. Aroma shampo mentol yang menguar dari rambut Maruli yang masih separuh basah, juga membawa perasaan asing di hati Moira.

“Hari ini kerjaan lo beresin meja dan ruang depan.” Maruli memberi instruksi. “Nanti belajar sama Raka gimana caranya presentasi kalau ada klien.”

“Baik, Pak.”

“Kalau udah bisa jualan, entar lo baru gue ajarin motret,” sambung Maruli.

“Baik, Pak.”

Moira tetap mengangguk meskipun sebenarnya ia heran. Pastilah atasannya itu tidak membaca curriculum vitae yang ia lampirkan bersama surat lamaran. Jika ia melamar untuk posisi fotografer, tentu saja ia memiliki keahlian di bidang tersebut. Namun, Moira enggan berdebat di hari pertama ia bekerja juga pada kesan kedua pertemuannya dengan Maruli. Ia memilih patuh agar tidak mendapat masalah.

“Kalau semua sudah datang, panggil gue ke atas. Kita briefing dulu sebelum kerja.” Maruli menambahkan.

“Siap, Pak.”

Langkah Maruli yang hendak menaiki anak tangga sesaat tertunda. Ia memandang lurus ke arah Moira.

“Moy, umur gue masih dua enam. Gue ngerasa ajal gue makin deket setiap lo manggil gue Pak.”

Moira menelan ludah. Gadis itu sudah dapat membayangkan bagaimana hari-harinya ke depan selama bekerja sebagai bawahan Maruli. Namun, kata-kata yang dibisikan Gano membuat semangatnya kembali berkobar. Ia harus bisa membuat sang ayah bangga. Bahwa putri kecilnya dulu, kini mampu menaklukkan keadaan. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Balik Lensa   Bab 5 - Shopping Time

    Moira yakin ada yang salah dengan pola berpikir Maruli. Selain cara bicaranya yang jauh dari kata manis dan sikapnya yang sering sekali berubah mengikuti arah angin, tingkat kepercayaannya pada orang lain ternyata melebihi batas normal. Mereka baru mengenal kurang dari 36 jam, dan Maruli dengan santai menyerahkan begitu saja kartu ATM berikut PIN-nya pada Moira.“Sampai kapan lo mau bengong kayak gitu?” Maruli membuatnya cepat-cepat menutup mulut yang mungkin menganga.Mereka baru saja tiba di area parkir salah satu pusat perbelanjaan. Setelah mematikan mesin mobil, Maruli membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu pada Moira.“Bang Ruli nggak ikut belanja?” Moira menanyakan sembari memandangi kartu dalam genggamannya.“Apa gunanya gue bawa lo, Moy?”“Trus kartunya?”“Lo tarik aja, atau langsung gesek di kasir.” Maruli dengan santai menjawab. “Kan PIN-nya udah gue kasih.”“Saya tarik berapa, Bang?” Moira memandang bi

  • Dari Balik Lensa   Bab 4 - Persyaratan

    Suatu kebetulan yang indah bahwa lokasi indekos Moira tidak terlampau jauh dari kediaman Maruli. Lelaki itu tersenyum sendiri sambil menyetir sampai ia tiba di rumah. Entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya, yang jelas bayangan wajah Moira  melekat hingga ia akan tidur malam itu.Dering telepon genggamnya membuat Maruli menunda memejamkan mata. Nama opung boru berkedap-kedip muncul di layar ponsel. Maruli ingat, sudah hampir seminggu ini ia tidak sempat menghubungi sang nenek. Sejak kedua orang tuanya wafat, opung boru lah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.“Sehat, Opung?” sapa Maruli saat suara perempuan tua itu terdengar.Opung boru menjawab dengan kecerewetannya seperti biasa. Satu sapaan Maruli akan dijawab dengan paling sedikit lima kalimat beruntun olehnya. Setiap menelepon, Maruli harus memasang ear-phone agar tangannya tidak lelah memegang ponsel hingga hampir satu jam lamanya. Menanggapi ocehan sang nenek melalui telepon sudah menjadi

  • Dari Balik Lensa   Bab 3 - Intimidasi

    Suasana briefing pagi hari ini sedikit berbeda. Ada objek menarik di sisi kiri ruangan yang membuat sepasang mata Maruli selalu ingin melirik ke arah sana. Seperti ada magnet berdaya tarik tinggi yang memaksanya agar selalu menoleh pada sudut itu.Maruli sudah lama tidak memberi perhatian lebih pada perempuan. Mungkin hal ini berlangsung sejak peristiwa putus cintanya dengan seseorang yang sekarang entah di mana keberadaannya. Lelaki itu butuh ruang untuk kembali menata hati. Pekerjaan selalu menjadi pelampiasan baginya agar tidak kembali teringat pada masa lalu. Hal itu pula yang membuatnya enggan mempekerjakan karyawan yang berlawanan jenis. Namun, ketika hasil rapat dengan seluruh anggota tim menyimpulkan bahwa studio foto miliknya memang membutuhkan sedikit sentuhan feminin, Maruli terpaksa mengalah.Lelaki itu segera naik ke ruang kerjanya setelah pertemuan pagi selesai. Ada beberapa hasil editan video yang harus ia periksa sebelum ditunjukkan kepada klien. Ia

  • Dari Balik Lensa   Bab 2 - Kesan Kedua

    Hujan yang cukup deras menahan Moira sore itu. Ia baru tiba di rumah kos menjelang malam. Sebenarnya, bukan dirinya yang ia kuatirkan akan basah kuyup, tetapi kamera satu-satunya yang Moira jaga serupa nyawanya. Tanpa kamera itu, entah bagaimana ia bisa menyambung hidup. Walaupun sebenarnya sia-sia ia membawanya hari ini. Karena ketika wawancara kerja siang tadi, benda itu sama sekali tak terpakai.Bagi Moira, kamera miliknya menyimpan begitu banyak kenangan. Tak hanya karena ia mendapatkannya dengan susah payah, tetapi seseorang yang menghadiahkan padanya juga telah berpulang. Yang Moira sesalkan, ia belum sempat membuktikan pada seseorang itu bahwa ia mampu bertahan di atas pilihannya. Selama dua puluh tahun hidupnya, Moira merasa saat ini adalah titik terendahnya.Gadis itu berusaha tertawa atas apa yang telah ia lalui hari ini. Jika bukan ia yang membuat hidupnya ceria, lantas siapa lagi? Meskipun lowongan kerja yang berhasil ia dapatkan tidak seperti perkiraan

  • Dari Balik Lensa   Bab 1 - Sarang Penyamun

    Menunggu bukanlah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Terlebih jika harus dilakukan dalam sebuah ruangan yang sempit, dengan beragam tumpukan kardus dan onggokan barang di sudutnya. Moira duduk sendiri, menanti giliran wawancara sebagai persyaratan lamaran kerjanya di studio foto ini. Satu-satunya pemberi kerja yang berbaik hati menanggapi surat lamarannya, setelah yang lainnya mungkin mengabaikan dengan alasan ia seorang perempuan.Hanya ada bunyi kipas angin berderit yang menemani Moira dalam ruangan itu. Embusan udara yang dihasilkan oleh baling-baling kipas yang berdebu bahkan tak sanggup menghilangkan titik-titik peluh yang bermunculan. Selama tiga puluh menit Moira duduk di kursi plastik itu, ia sama sekali tak berani melekatkan punggungnya pada sandaran. Gadis itu kuatir kemeja biru muda yang ia pakai akan mencetak bulir-bulir keringat di bagian belakang.Moira tak pernah menyangka karir fotografinya akan berubah seperti ini. Bekerja di studio foto adalah ops

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status