Home / Romansa / Dari Balik Lensa / Bab 5 - Shopping Time

Share

Bab 5 - Shopping Time

last update publish date: 2023-11-14 06:41:40

Moira yakin ada yang salah dengan pola berpikir Maruli. Selain cara bicaranya yang jauh dari kata manis dan sikapnya yang sering sekali berubah mengikuti arah angin, tingkat kepercayaannya pada orang lain ternyata melebihi batas normal. Mereka baru mengenal kurang dari 36 jam, dan Maruli dengan santai menyerahkan begitu saja kartu ATM berikut PIN-nya pada Moira.

“Sampai kapan lo mau bengong kayak gitu?” Maruli membuatnya cepat-cepat menutup mulut yang mungkin menganga.

Mereka baru saja tiba di area parkir salah satu pusat perbelanjaan. Setelah mematikan mesin mobil, Maruli membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu pada Moira.

“Bang Ruli nggak ikut belanja?” Moira menanyakan sembari memandangi kartu dalam genggamannya.

“Apa gunanya gue bawa lo, Moy?”

“Trus kartunya?”

“Lo tarik aja, atau langsung gesek di kasir.” Maruli dengan santai menjawab. “Kan PIN-nya udah gue kasih.”

“Saya tarik berapa, Bang?” Moira memandang bingung.

“Terserah lo, Moy.” Lelaki itu menjawab asal-asalan. “Gue nunggu di food court. Atau lo mau makan dulu?”

Moira segera menggeleng. Tak terbayangkan duduk di meja berdua saja dengan Maruli. Apa yang harus diobrolkannya sampai makanannya habis. Lebih baik ia memilih berbelanja dan membeli makanan untuk dibawa kembali ke studio.

“Batas belanjanya berapa, Bang? Saya takut kelebihan.”

Maruli terkekeh. “Kalau kebanyakan entar gue potong gaji lo,” ujarnya seolah sengaja menakuti.

Moira membenahi tasnya dan bergegas turun dari mobil. Berlama-lama dengan Maruli bisa membuatnya pusing. Lagi pula sudah lama Moira tidak mencuci mata berbelanja di tempat yang indah. Selama ini ia harus puas menyesuaikan isi dompetnya di warung kecil seputaran indekos.

Langkahnya terhenti saat teringat akan sesuatu. Ia belum mencatat nomor kontak Maruli di ponselnya. Jika terjadi hal tidak diinginkan dengan kartu ATM tersebut, ia tak tahu harus menghubungi ke mana.

Maruli baru saja mengunci mobilnya dan berjalan menyusul di belakang. Tatapan mengintimidasi dari sepasang mata tajam itu membuat Moira mengurungkan niat meminta nomor ponsel Maruli. Ia sudah kembali berbalik arah jika lelaki itu tidak lebih dulu menegur.

“Kenapa, Moy? Takut duitnya kurang?” Maruli menyamai langkahnya. “Asal lo nggak beli sajadah harga lima puluh juta, gue rasa saldonya masih lebih dari cukup.”

“Eh, iya, Bang.” Moira mengangguk.

“Siniin hape lo.” Maruli mengulurkan tangannya sambil tetap berjalan.

“Buat apa, Bang?” tanya Moira, dan kemudian menyesal telah bertanya demi melihat tatapan galak lelaki itu. Ia memasrahkan saja ponselnya di utak-atik Maruli.

“Udah gue simpen,” lanjut lelaki itu. “Nomor ponsel gue. Kalau ada apa-apa lo tinggal telepon.”

“Namanya apa, Bang?” Moira lugu bertanya.

“Cari sendiri, Moy.” Maruli tertawa seraya mengambil arah yang terpisah.

Moira mengepalkan jemarinya sedikit kesal. Cepat ia melangkah menuju gerai ATM di dekat pintu masuk. Gadis itu memutuskan untuk menarik tunai saja sekarang agar tidak repot nantinya di depan kasir. Lagi pula melihat gelagat Maruli yang senang sekali menggodanya, ia harus memastikan apakah saldo di kartu itu benar-besar cukup untuk dipakai berbelanja.

Gadis itu kemudian menyesali tindakannya yang terlalu ingin tahu. Jumlah yang tertera di layar ATM setelah kartu itu terbaca oleh sistem, amat sangat fantastis dan membuatnya seketika meringis. Moira teringat tiga lembar uang merah yang tersisa di dompetnya, dan tentu saja saldo rekeningnya yang sudah diambang batas minimal. Ia lalu menarik tunai seperlunya dan segera melangkah ke lantai atas.

Satu jam berlalu, Moira merasa perutnya sudah mulai protes jika diajak berkeliling lebih lama lagi. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran, ia berniat untuk menelepon Maruli dan menanyakan di food court sebelah mana lelaki itu menunggu. Sebuah pesan masuk sudah lebih dulu terbaca oleh Moira ketika ia membuka ponsel.

[Gue di CoffeeBreak. Food court rame.]

Nama pengirim yang tertulis di atasnya membuat gadis itu melolot. Apa tidak ada lagi pilihan nama kontak yang bagus selain ‘Bos Kamu'? Moira memilih bersabar dari pada mengumpati atasannya yang ia anggap kurang waras.

Lelaki itu sedang duduk santai di sofa paling sudut ketika Moira berhasil mendapatinya. Hanya ada sebuah cangkir di atas meja. Artinya Maruli belum memesan apa pun kecuali kopi hitam favoritnya.

“Kita balik sekarang, Bang?”

Maruli mengalihkan wajah dari ponselnya untuk menatap Moira yang berdiri di depannya dengan kedua tangan penuh dengan kantong belanja.

“Lo nggak laper, Moy?”

“Laper, Bang.” Moira menjawab jujur.

“Duduk kalo laper.” Lelaki itu memberi isyarat dengan dagunya, lalu lengan kanannya terangkat untuk memanggil pramusaji yang terdekat.

Moira segera memilih dari daftar menu yang disodorkan. Ia memesan Blackpepper Chicken Steak dan segelas es lemon. Gadis itu tidak ingin ambil pusing pilihan menu apa yang disebutkan Maruli, hanya saja pramusaji itu membuat catatan agak panjang setelahnya. Lima belas menit kemudian semua pesanan diantar dan Moira menyantapnya tanpa memedulikan apa yang harus ia obrolkan dengan Maruli. Ia baru sadar lelaki itu memerhatikan setelah makanan di piringnya hampir habis.

“Lo nggak sarapan tadi pagi?” tebak Maruli.

Moira menggeleng malu. Ia memang tidak sempat sarapan ketika berangkat ke studio. Alasan yang lebih tepat sebenarnya karena ia berniat mengirit lembar uang di dompetnya agar cukup hingga akhir bulan. Moira lebih memilih mengisi bensin motornya dan merangkap sarapannya dengan jadwal makan siang.

“Lain kali harus sarapan, Moy,” celetuk Maruli. “Jangan sampai lo pingsan di studio gue.”

Tanpa menggubris perkataan Maruli, Moira melanjutkan makan siangnya. Tiga hari berinteraksi dengan atasannya ini, ia mulai bisa menyimpulkan. Ada perhatian khusus yang Maruli berikan padanya, meskipun cara penyampaiannya aneh dan cenderung kasar bagi perempuan. Moira yakin bahwa lelaki yang duduk di depannya sekarang adalah seorang yang penyayang. Ia menduga ada sesuatu yang membuat Maruli menjadi pribadi yang kaku. Apakah ada hubungannya dengan wanita cantik yang ia lihat dalam tumpukan foto yang ditemukannya di gudang? Moira lekas menepis dugaan itu. Kehidupan Maruli bukan urusannya. Prioritasnya sekarang adalah untuk mencari uang dan melanjutkan hidup.

***

Penat yang menghampiri tubuhnya membuat Moira tertidur lebih cepat. Ia terbangun lewat tengah malam untuk meminum segelas air putih. Pikirannya mengembara sesaat, dan tiba-tiba teringat pada kartu ATM milik Maruli yang lupa ia kembalikan.

[Bang, maaf. ATM-nya lupa saya kembalikan.]

Pesan itu ia kirimkan sambil berharap atasannya itu tidak marah dan menaruh curiga padanya. Moira tertegun saat tiba-tiba pesan itu berbalas, yang artinya Maruli tidak dalam keadaan tidur saat ini.

[Okay]

Moira mengernyit. Ia mengharapkan Maruli memberi jawaban lebih panjang. Bahkan mengomel akan lebih baik.

[Besok saya kembalikan, Bang.]

Moira mengirim sebuah pesan lagi. Balasan dari pesan itu membuat Moira mendadak bingung.

[Lo simpen aja, gue masih punya satu lagi.]

Gadis itu membelalak. Maruli mungkin sedang tidak sadar mengatakannya. Lelaki itu baru saja menitipkan padanya sebuah kartu dengan saldo hampir dua ratus juta.

Dalam kondisi kesulitan keuangan seperti ini, Moira benar-benar merasa ia sedang dalam bahaya. Lama ia menimbang untuk membuat keputusan akan tetap mengembalikan kartu itu, walau Maruli akan menyebutnya pembangkang atau bahkan mengancam memecatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Balik Lensa   Bab 5 - Shopping Time

    Moira yakin ada yang salah dengan pola berpikir Maruli. Selain cara bicaranya yang jauh dari kata manis dan sikapnya yang sering sekali berubah mengikuti arah angin, tingkat kepercayaannya pada orang lain ternyata melebihi batas normal. Mereka baru mengenal kurang dari 36 jam, dan Maruli dengan santai menyerahkan begitu saja kartu ATM berikut PIN-nya pada Moira.“Sampai kapan lo mau bengong kayak gitu?” Maruli membuatnya cepat-cepat menutup mulut yang mungkin menganga.Mereka baru saja tiba di area parkir salah satu pusat perbelanjaan. Setelah mematikan mesin mobil, Maruli membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu pada Moira.“Bang Ruli nggak ikut belanja?” Moira menanyakan sembari memandangi kartu dalam genggamannya.“Apa gunanya gue bawa lo, Moy?”“Trus kartunya?”“Lo tarik aja, atau langsung gesek di kasir.” Maruli dengan santai menjawab. “Kan PIN-nya udah gue kasih.”“Saya tarik berapa, Bang?” Moira memandang bi

  • Dari Balik Lensa   Bab 4 - Persyaratan

    Suatu kebetulan yang indah bahwa lokasi indekos Moira tidak terlampau jauh dari kediaman Maruli. Lelaki itu tersenyum sendiri sambil menyetir sampai ia tiba di rumah. Entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya, yang jelas bayangan wajah Moira  melekat hingga ia akan tidur malam itu.Dering telepon genggamnya membuat Maruli menunda memejamkan mata. Nama opung boru berkedap-kedip muncul di layar ponsel. Maruli ingat, sudah hampir seminggu ini ia tidak sempat menghubungi sang nenek. Sejak kedua orang tuanya wafat, opung boru lah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.“Sehat, Opung?” sapa Maruli saat suara perempuan tua itu terdengar.Opung boru menjawab dengan kecerewetannya seperti biasa. Satu sapaan Maruli akan dijawab dengan paling sedikit lima kalimat beruntun olehnya. Setiap menelepon, Maruli harus memasang ear-phone agar tangannya tidak lelah memegang ponsel hingga hampir satu jam lamanya. Menanggapi ocehan sang nenek melalui telepon sudah menjadi

  • Dari Balik Lensa   Bab 3 - Intimidasi

    Suasana briefing pagi hari ini sedikit berbeda. Ada objek menarik di sisi kiri ruangan yang membuat sepasang mata Maruli selalu ingin melirik ke arah sana. Seperti ada magnet berdaya tarik tinggi yang memaksanya agar selalu menoleh pada sudut itu.Maruli sudah lama tidak memberi perhatian lebih pada perempuan. Mungkin hal ini berlangsung sejak peristiwa putus cintanya dengan seseorang yang sekarang entah di mana keberadaannya. Lelaki itu butuh ruang untuk kembali menata hati. Pekerjaan selalu menjadi pelampiasan baginya agar tidak kembali teringat pada masa lalu. Hal itu pula yang membuatnya enggan mempekerjakan karyawan yang berlawanan jenis. Namun, ketika hasil rapat dengan seluruh anggota tim menyimpulkan bahwa studio foto miliknya memang membutuhkan sedikit sentuhan feminin, Maruli terpaksa mengalah.Lelaki itu segera naik ke ruang kerjanya setelah pertemuan pagi selesai. Ada beberapa hasil editan video yang harus ia periksa sebelum ditunjukkan kepada klien. Ia

  • Dari Balik Lensa   Bab 2 - Kesan Kedua

    Hujan yang cukup deras menahan Moira sore itu. Ia baru tiba di rumah kos menjelang malam. Sebenarnya, bukan dirinya yang ia kuatirkan akan basah kuyup, tetapi kamera satu-satunya yang Moira jaga serupa nyawanya. Tanpa kamera itu, entah bagaimana ia bisa menyambung hidup. Walaupun sebenarnya sia-sia ia membawanya hari ini. Karena ketika wawancara kerja siang tadi, benda itu sama sekali tak terpakai.Bagi Moira, kamera miliknya menyimpan begitu banyak kenangan. Tak hanya karena ia mendapatkannya dengan susah payah, tetapi seseorang yang menghadiahkan padanya juga telah berpulang. Yang Moira sesalkan, ia belum sempat membuktikan pada seseorang itu bahwa ia mampu bertahan di atas pilihannya. Selama dua puluh tahun hidupnya, Moira merasa saat ini adalah titik terendahnya.Gadis itu berusaha tertawa atas apa yang telah ia lalui hari ini. Jika bukan ia yang membuat hidupnya ceria, lantas siapa lagi? Meskipun lowongan kerja yang berhasil ia dapatkan tidak seperti perkiraan

  • Dari Balik Lensa   Bab 1 - Sarang Penyamun

    Menunggu bukanlah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Terlebih jika harus dilakukan dalam sebuah ruangan yang sempit, dengan beragam tumpukan kardus dan onggokan barang di sudutnya. Moira duduk sendiri, menanti giliran wawancara sebagai persyaratan lamaran kerjanya di studio foto ini. Satu-satunya pemberi kerja yang berbaik hati menanggapi surat lamarannya, setelah yang lainnya mungkin mengabaikan dengan alasan ia seorang perempuan.Hanya ada bunyi kipas angin berderit yang menemani Moira dalam ruangan itu. Embusan udara yang dihasilkan oleh baling-baling kipas yang berdebu bahkan tak sanggup menghilangkan titik-titik peluh yang bermunculan. Selama tiga puluh menit Moira duduk di kursi plastik itu, ia sama sekali tak berani melekatkan punggungnya pada sandaran. Gadis itu kuatir kemeja biru muda yang ia pakai akan mencetak bulir-bulir keringat di bagian belakang.Moira tak pernah menyangka karir fotografinya akan berubah seperti ini. Bekerja di studio foto adalah ops

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status