LOGINSuasana briefing pagi hari ini sedikit berbeda. Ada objek menarik di sisi kiri ruangan yang membuat sepasang mata Maruli selalu ingin melirik ke arah sana. Seperti ada magnet berdaya tarik tinggi yang memaksanya agar selalu menoleh pada sudut itu.
Maruli sudah lama tidak memberi perhatian lebih pada perempuan. Mungkin hal ini berlangsung sejak peristiwa putus cintanya dengan seseorang yang sekarang entah di mana keberadaannya. Lelaki itu butuh ruang untuk kembali menata hati. Pekerjaan selalu menjadi pelampiasan baginya agar tidak kembali teringat pada masa lalu. Hal itu pula yang membuatnya enggan mempekerjakan karyawan yang berlawanan jenis. Namun, ketika hasil rapat dengan seluruh anggota tim menyimpulkan bahwa studio foto miliknya memang membutuhkan sedikit sentuhan feminin, Maruli terpaksa mengalah.Lelaki itu segera naik ke ruang kerjanya setelah pertemuan pagi selesai. Ada beberapa hasil editan video yang harus ia periksa sebelum ditunjukkan kepada klien. Ia menyalakan laptop, memasang head phone, dan mulai menekuni layar di depannya.Lima belas menit berlalu, Maruli menengadah untuk mengurangi rasa pegal di lehernya. Saat itu pula ia melihat Moira sedang berdiri di depan pintu kaca, menunggu izinnya untuk masuk. Mungkin gadis itu sudah memanggilnya sejak tadi. Head phone yang menutupi telinga Maruli membuatnya hanya terfokus pada suara dari video yang diputar. Dengan tangannya ia mengisyaratkan Moira agar masuk.Cara Moira yang sedikit canggung memancing Maruli untuk melepas head phone dan memancing sedikit pembicaraan dengan karyawan barunya itu.“Ini kopinya, Pak, eh, Bang.” Gadis itu meletakkan secangkir kopi hitam dengan hati-hati di depan Maruli.“Gitu, dong, Moy. Jangan panggil Pak lagi. Biar awet muda gue,” ucap Maruli sambil menyesap kopi yang disediakan Moira.Entah karena suasana hatinya yang sedang baik, atau memang kali ini peraciknya yang hebat, kopi hitamnya pagi ini memberikan rasa luar biasa di lidah Maruli.“Siapa tadi yang nyeduh?” tanya Maruli saat gadis itu hendak beranjak meninggalkan ruangan.“Eh, saya, Bang.”Sepasang mata almond itu menatap Maruli takut-takut, seolah atasannya akan menelannya bulat-bulat. Maruli tersenyum. Kopi racikan gadis itu hampir mendekati seleranya.“Kopinya enak, Moy.” Maruli memuji. “Thank you.”Maruli menunda sebentar melanjutkan pekerjaannya sepeninggalan Moira. Aroma parfum vanila yang tertinggal di ruangan itu membuyarkan konsentrasinya. Maruli bersandar sebentar dengan tatapan yang tidak terfokus hendak mengarah ke mana. Hingga tiba-tiba matanya berantuk dengan sebuah map di mejanya yang bertuliskan nama Moira. Maruli menebak itu adalah surat lamaran kerja Moira yang bahkan tidak pernah ia baca sebelumnya. Pasti Raka yang teledor meninggalkan berkas itu di ruang kerjanya.Rasa ingin tahu tentang gadis itu membuat Maruli tergoda untuk membuka map tersebut. Lembar pertama yang ia baca membuat dahinya berkerut. Data pribadi dan alamat rumah Moira menggambarkan bahwa karyawan barunya itu bukan dari kalangan biasa. Riwayat pendidikannya, walaupun hanya sampai sekolah menengah atas, mencantumkan deretan nama sekolah yang Maruli tahu betul tidak menghabiskan uang sedikit.Penasaran mendorong Maruli untuk mencari tahu lebih jauh mengenai kehidupan pribadi gadis itu. Sayang, satu-satunya akun sosial media Moira yang berhasil ia temukan di mesin pencari, ternyata diatur privat sehingga tak bisa dilihat sembarang orang. Maruli terlalu segan untuk menekan tombol ikuti. Pagi itu isi kepalanya dipenuhi tanda tanya tentang siapa Moira sebenarnya, dan mengapa gadis itu bersedia bekerja di studio fotonya dengan gaji yang terbilang kecil. Maruli yakin ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu.***Maruli mendapati Moira masih berada di kantor saat ia turun ke lantai dasar malam itu. Mungkin gadis itu sedang menunggu hujan reda, karena hanya tinggal Boni yang menungguinya di sana. Hari ini adalah giliran Boni yang menginap di studio.Beberapa pesan yang penting untuk dibalas membuat perhatian Maruli sedikit teralih. Teguran Boni yang menyuruhnya pulang membuat matanya tak sengaja menangkap sosok Moira yang sedang kesulitan mengenakan mantel hujan. Gadis itu kemudian menutup kepalanya agar terlindungi tetesan air. Maruli bergegas menghampiri karena hujan yang turun sebenarnya belum benar-benar reda.“Lo naik motor, Moy?” Maruli menatap Moira yang hendak menaiki sepeda motornya. “Bahaya, hujannya gede.”Maruli membayangkan kondisi jalanan yang licin akan sangat berbahaya. Terlebih waktu hampir menunjukkan pukul delapan malam. Tingkat kejahatan biasanya akan lebih tinggi saat kondisi hujan.“Udah biasa, Bang,” ujar gadis itu. “Kalo nggak pulang cepat, besok takutnya saya telat.”Maruli berpikir sejenak, menimbang apakah sopan jika ia mengantar gadis itu pulang di hari pertama bekerja. Namun, rasa kasihan mengalahkan rasa sungkannya. Moira sedikit terkejut mendengar tawaran Maruli.“Titipin motor lo sama Boni. Lo ikut mobil gue.” Maruli memaksa.Moira kembali menggeleng. “Beneran nggak usah, Bang.”Maruli melipat kedua tangannya di depan dada. Jika memang Moira kembali menolak, ia akan memakai hak prerogatifnya sebagai atasan.“Baru sehari kerja udah berani ngelawan gue, Moy?”Sepertinya ancaman itu berguna. Maruli tertawa dalam hati saat melihat gadis itu melepas jas hujannya dan mendorong motor masuk ke garasi studio. Ada sebersit perasaan senang merambat di dada Maruli setiap melihat Moira merasa terintimidasi dengan perkataannya. Namun, lelaki itu cepat menepis. Ia justru kuatir sikapnya ini sebenarnya adalah pelampiasan dari rasa sakit hatinya pada wanita. Tak ada alasan ia untuk menumpahkannya pada Moira.Tak banyak pembicaraan yang Maruli berusaha bincangkan dengan Moira dalam perjalanan. Ia sendiri mungkin sudah lupa bagaimana cara berkomunikasi dengan baik dengan perempuan, terkecuali klien studionya. Ia sempat menawarkan Moira untuk mempir membeli makan malam, tetapi sudah lebih dulu ditolak oleh gadis itu. Maruli berpikir mungkin caranya mengajak yang tidak tepat.Alamat kediaman Moira yang Maruli lihat dalam berkas lamaran kerja gadis itu, ternyata tidak sesuai dengan yang ia duga. Moira memandunya ke sebuah lokasi indekos yang ternyata tak begitu jauh dari rumahnya. Sebenarnya Maruli ingin mengantar gadis itu hingga benar-benar sampai. Sayang, Moira bersikeras dengan alasan kuatir merepotkan.“Terima kasih, Bang,” ujar Moira sesaat setelah turun dari mobil. “Hati-hati.”Maruli mengangguk. Ia tak juga menginjak pedal gas sampai Moira hampir berjalan menjauh. Entah apa yang memicunya, tiba-tiba Maruli bersuara keras hingga gadis itu kembali menoleh.“Besok jam tujuh pagi gue jemput di sini, Moy. Jangan telat.”Dahi gadis itu sesaat berkerut, tetapi kemudian berganti dengan senyuman lepas. Cukup sebuah anggukan mampu membuat hati Maruli menghangat. Beberapa saat ia tertegun, dan langsung memasukkan persneling saat menyadari tak ada alasan ia berlama-lama memandang Moira seperti itu.Untuk pertama kali dalam dua tahun terakhir, Maruli merasa hidupnya kembali berwarna.Moira yakin ada yang salah dengan pola berpikir Maruli. Selain cara bicaranya yang jauh dari kata manis dan sikapnya yang sering sekali berubah mengikuti arah angin, tingkat kepercayaannya pada orang lain ternyata melebihi batas normal. Mereka baru mengenal kurang dari 36 jam, dan Maruli dengan santai menyerahkan begitu saja kartu ATM berikut PIN-nya pada Moira.“Sampai kapan lo mau bengong kayak gitu?” Maruli membuatnya cepat-cepat menutup mulut yang mungkin menganga.Mereka baru saja tiba di area parkir salah satu pusat perbelanjaan. Setelah mematikan mesin mobil, Maruli membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu pada Moira.“Bang Ruli nggak ikut belanja?” Moira menanyakan sembari memandangi kartu dalam genggamannya.“Apa gunanya gue bawa lo, Moy?”“Trus kartunya?”“Lo tarik aja, atau langsung gesek di kasir.” Maruli dengan santai menjawab. “Kan PIN-nya udah gue kasih.”“Saya tarik berapa, Bang?” Moira memandang bi
Suatu kebetulan yang indah bahwa lokasi indekos Moira tidak terlampau jauh dari kediaman Maruli. Lelaki itu tersenyum sendiri sambil menyetir sampai ia tiba di rumah. Entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya, yang jelas bayangan wajah Moira melekat hingga ia akan tidur malam itu.Dering telepon genggamnya membuat Maruli menunda memejamkan mata. Nama opung boru berkedap-kedip muncul di layar ponsel. Maruli ingat, sudah hampir seminggu ini ia tidak sempat menghubungi sang nenek. Sejak kedua orang tuanya wafat, opung boru lah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.“Sehat, Opung?” sapa Maruli saat suara perempuan tua itu terdengar.Opung boru menjawab dengan kecerewetannya seperti biasa. Satu sapaan Maruli akan dijawab dengan paling sedikit lima kalimat beruntun olehnya. Setiap menelepon, Maruli harus memasang ear-phone agar tangannya tidak lelah memegang ponsel hingga hampir satu jam lamanya. Menanggapi ocehan sang nenek melalui telepon sudah menjadi
Suasana briefing pagi hari ini sedikit berbeda. Ada objek menarik di sisi kiri ruangan yang membuat sepasang mata Maruli selalu ingin melirik ke arah sana. Seperti ada magnet berdaya tarik tinggi yang memaksanya agar selalu menoleh pada sudut itu.Maruli sudah lama tidak memberi perhatian lebih pada perempuan. Mungkin hal ini berlangsung sejak peristiwa putus cintanya dengan seseorang yang sekarang entah di mana keberadaannya. Lelaki itu butuh ruang untuk kembali menata hati. Pekerjaan selalu menjadi pelampiasan baginya agar tidak kembali teringat pada masa lalu. Hal itu pula yang membuatnya enggan mempekerjakan karyawan yang berlawanan jenis. Namun, ketika hasil rapat dengan seluruh anggota tim menyimpulkan bahwa studio foto miliknya memang membutuhkan sedikit sentuhan feminin, Maruli terpaksa mengalah.Lelaki itu segera naik ke ruang kerjanya setelah pertemuan pagi selesai. Ada beberapa hasil editan video yang harus ia periksa sebelum ditunjukkan kepada klien. Ia
Hujan yang cukup deras menahan Moira sore itu. Ia baru tiba di rumah kos menjelang malam. Sebenarnya, bukan dirinya yang ia kuatirkan akan basah kuyup, tetapi kamera satu-satunya yang Moira jaga serupa nyawanya. Tanpa kamera itu, entah bagaimana ia bisa menyambung hidup. Walaupun sebenarnya sia-sia ia membawanya hari ini. Karena ketika wawancara kerja siang tadi, benda itu sama sekali tak terpakai.Bagi Moira, kamera miliknya menyimpan begitu banyak kenangan. Tak hanya karena ia mendapatkannya dengan susah payah, tetapi seseorang yang menghadiahkan padanya juga telah berpulang. Yang Moira sesalkan, ia belum sempat membuktikan pada seseorang itu bahwa ia mampu bertahan di atas pilihannya. Selama dua puluh tahun hidupnya, Moira merasa saat ini adalah titik terendahnya.Gadis itu berusaha tertawa atas apa yang telah ia lalui hari ini. Jika bukan ia yang membuat hidupnya ceria, lantas siapa lagi? Meskipun lowongan kerja yang berhasil ia dapatkan tidak seperti perkiraan
Menunggu bukanlah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Terlebih jika harus dilakukan dalam sebuah ruangan yang sempit, dengan beragam tumpukan kardus dan onggokan barang di sudutnya. Moira duduk sendiri, menanti giliran wawancara sebagai persyaratan lamaran kerjanya di studio foto ini. Satu-satunya pemberi kerja yang berbaik hati menanggapi surat lamarannya, setelah yang lainnya mungkin mengabaikan dengan alasan ia seorang perempuan.Hanya ada bunyi kipas angin berderit yang menemani Moira dalam ruangan itu. Embusan udara yang dihasilkan oleh baling-baling kipas yang berdebu bahkan tak sanggup menghilangkan titik-titik peluh yang bermunculan. Selama tiga puluh menit Moira duduk di kursi plastik itu, ia sama sekali tak berani melekatkan punggungnya pada sandaran. Gadis itu kuatir kemeja biru muda yang ia pakai akan mencetak bulir-bulir keringat di bagian belakang.Moira tak pernah menyangka karir fotografinya akan berubah seperti ini. Bekerja di studio foto adalah ops







