LOGINPerbedaan pendapat antara Moira dan ibunya membuat gadis berambut ikal dan bermata almond itu memilih tinggal terpisah. Sang ibu menginginkannya menjadi seorang dokter, tetapi Moira justru antusias memilih menjadi seorang fotografer. Berbekal kamera peninggalan sang ayah, Moira mencoba berjuang mencapai mimpinya. Sayang, setelah setahun berlalu, hidupnya justru semakin terpuruk. Uang tabungannya habis dan bahkan ia tidak sanggup membayar uang kos setiap bulannya. Moira yang tadinya gigih bekerja menjadi fotografer lepas, kini harus merelakan dirinya menjadi pekerja serabutan di sebuah studio foto. Garis hidup pun membawanya bertemu dengan Maruli, lelaki Batak pemilik studio foto yang sudah berkali-kali diminta menikah oleh sang nenek. Maruli dengan sikapnya yang cuek berusaha mendekati Moira yang polos dan lugu. Siapa sangka dibalik perhatiannya pada Moira, Maruli menyimpan tujuan yang sejak dulu ia persiapkan untuk keuntungan hidupnya
View MoreMenunggu bukanlah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Terlebih jika harus dilakukan dalam sebuah ruangan yang sempit, dengan beragam tumpukan kardus dan onggokan barang di sudutnya. Moira duduk sendiri, menanti giliran wawancara sebagai persyaratan lamaran kerjanya di studio foto ini. Satu-satunya pemberi kerja yang berbaik hati menanggapi surat lamarannya, setelah yang lainnya mungkin mengabaikan dengan alasan ia seorang perempuan.
Hanya ada bunyi kipas angin berderit yang menemani Moira dalam ruangan itu. Embusan udara yang dihasilkan oleh baling-baling kipas yang berdebu bahkan tak sanggup menghilangkan titik-titik peluh yang bermunculan. Selama tiga puluh menit Moira duduk di kursi plastik itu, ia sama sekali tak berani melekatkan punggungnya pada sandaran. Gadis itu kuatir kemeja biru muda yang ia pakai akan mencetak bulir-bulir keringat di bagian belakang.Moira tak pernah menyangka karir fotografinya akan berubah seperti ini. Bekerja di studio foto adalah opsi terakhir yang ada dalam pikiran gadis itu. Andai saldo tabungannya tidak semakin menipis, dan pemilik kos tidak berulang kali memberi peringatan, Moira akan tetap bertahan menjalani pekerjaannya sebagai fotografer lepas. Namun, terkadang hidup tidak selalu semudah yang dibayangkan, dan tidak pula harus selamanya merepotkan. Meskipun mereka tidak pernah berkeberatan, Moira tetap punya harga diri untuk membuktikan apa yang sejak awal ia perjuangkan.Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Moira. Seorang pemuda berambut keriting muncul dengan sebuah map di tangannya. Ia membaca sekilas tulisan yang tertera, lalu memandang Moira dengan raut wajah datar."Moira Putri?"Moira mengangguk dan segera berdiri, mengikuti langkah pemuda itu sesuai isyaratnya. Ia dipandu naik ke lantai tiga menuju sebuah ruangan berdinding kaca. Pemuda tadi kembali meninggalkannya sendiri, sehingga Moira menyempatkan matanya menyapu setiap sisi ruangan yang terlihat rapi.Berbanding terbalik dengan tempat ia menunggu tadi, ruang kerja berdesain futuristik ini terlihat sangat nyaman. Di bagian tengah terdapat sebuah meja berwarna perak dengan sebuah laptop dan head-phone terletak di atasnya. Pada dinding yang tidak terlapisi kaca, bergantungan bingkai-bingkai minimalis yang menampilkan foto-foto ekspresi wajah dalam warna hitam dan putih. Selain benda-benda tersebut, hanya ada sebuah sofa tempat Moira duduk.Pintu kaca terbuka. Kali ini, si pemuda berambut keriting kembali lagi bersama seseorang yang terlihat sedikit lebih dewasa. Melihat dari gerak-geriknya, Moira menebak keduanya bukanlah pemilik ruangan ini."Kata Bos, setengah jam lagi dia baru nyampe." Pemuda dengan rambut keriting menjelaskan pada temannya. "Lo disuruh handle dulu, kasihan dia udah lama nunggu.""Kenapa nggak lo aja, editan gue masih numpuk." Pemuda yang satunya berusaha menolak.Si Keriting terlihat menggaruk kepala. "Lah, kan elo yang kemarin ngusulin kita terima karyawan cewek?"Keduanya serentak menoleh saat mendengar Moira berdeham. Salah satunya kemudian mengambil alih situasi dengan memperkenalkan diri, sementara yang lain memilih meninggalkan ruangan."Gue Raka," ucapnya. "Yang tadi Boni."Moira menanggapi dengan senyum kecil. "Moira."Pemuda bernama Raka lalu menanyakan beberapa hal pada Moira mengenai pekerjaan apa saja di bidang fotografi yang pernah ia jalani. Moira menjelaskan secara ringkas, termasuk alasan mengapa ia tertarik bergabung di studio foto mereka. Tentu saja alasan materi tidak turut disampaikan. Moira ingin ia diterima bekerja secara profesional."Sebenarnya studio foto ini belum pernah mempekerjakan karyawan perempuan." Raka mencoba memberikan penjelasan. "Kalau nanti diterima, ada beberapa perangkapan tugas yang harus dikerjakan.""Contohnya seperti apa, Mas?" Moira ingin tahu."Nanti si Bos yang akan nentuin." Raka menunda memberitakan. "Gue nggak berwenang ngasih job-desc."Percakapan itu terjeda dengan kehadiran seseorang. Lelaki bertubuh tinggi itu masuk tanpa memedulikan Moira dan Raka yang sedang berbincang di sofa. Moira menebak usia lelaki itu sudah melewati seperempat abad. Ia duduk di belakang meja, memakai head-phone, dan mulai bekerja di laptopnya.Moira menjawab pertanyaan Raka sambil mengamati lelaki itu. Raut wajahnya kaku dengan garis rahang yang tegas. Tulang hidungnya tinggi, lurus hingga menuju alisnya yang tebal. Rambutnya sedikit berantakan, seperti habis mengenakan helm yang dibuka sembarangan. Moira segera mengalihkan pandangan saat sorot mata tajam lelaki itu menangkap basah dirinya sedang memperhatikan."Beres?" Lelaki itu melepas head phone dan bangkit menghampiri sofa."Kenalin, ini Bos kita." Raka mempersilahkan lelaki itu duduk di sampingnya."Maruli," sapanya. Nyali Moira sedikit menciut saat mendengar suara yang terdengar berat dan rendah itu."Saya Moira, Pak." Gadis itu mengulurkan tangan.Lelaki bernama Maruli lalu tertawa terbahak. "Gue langsung merasa tua dipanggil Pak."Moira mencoba ikut tertawa, meskipun hambar. Ia menjadi kuatir pertemuan pertama dengan sang pimpinan tidak berkesan. Untung saja sikap Raka yang sangat ramah membuat kecanggungan Moira sedikit mereda."Jadi gimana menurut lo?" Maruli bertanya kembali seolah meminta pendapat Raka."Gue sih oke, Bang." Raka melirik Moira sekilas. "Kalo cewek, kan, bisa sekalian bantu-bantu handle klien, beres-beres kantor, bikin kopi."Dahi Moira berkerut mendengar perkataan Raka barusan. Bukankah ia melamar untuk posisi fotografer? Mengapa ada tugas tambahan lain yang menyusul disebutkan?"Lo yakin dia nggak bakal bikin repot?" Kali ini Maruli yang melirik ke arah Moira. "Gue nggak pernah punya anggota tim cewek.""Aman, Bang. Gue yang jamin." Raka memberi isyarat pada Moira dengan alisnya yang naik turun.Kedua mahluk di depannya terus berdebat mengenai hal-hal kecil yang menurut Moira menyebalkan. Dan yang lebih membuatnya semakin kesal, Maruli membicarakannya layaknya ia sebuah benda, bukan manusia. Andai saja Moira tidak sedang dalam posisi kesulitan keuangan, pasti sudah ia tinggalkan tempat ini sedari tadi.'Oke lah, yang penting kerjaan beres. Gue nggak mau pusing." Sepertinya Maruli sudah mengambil keputusan. "Kapan kamu bisa kerja? Besok?"Moira mengangguk cepat. "Besok bisa, Pak."Bagimana pun juga hatinya bersorak gembira. Satu permasalahan telah terselesaikan. Apa pun yang akan terjadi dengan pekerjaannya di studio foto ini, bisa dipikirkan kemudian."Masalah gaji dan detil tugas, kamu bisa langsung ke Raka." Maruli memandangnya sebentar. "Bikinin Si Momoy kontrak kerja. Kalau dia setuju biar sekalian tanda tangan sekarang." Lelaki itu ganti memberi instruksi pada Raka.Moira tertegun saat Maruli dengan spontan memanggilnya dengan sebutan itu. Ingatan Moira spontan terbang pada kenangan seseorang yang ia sangat sayangi. Hanya dia yang pernah menyebut Moira begitu. Walaupun sudah sangat lama, rasa hangat tetap menjalari dadanya saat menggumamkan nama itu.Setelah keluar dari ruang kerja Maruli, Raka mengajaknya berdiskusi mengenai pekerjaan yang ditawarkan. Semua jawaban Raka menuntaskan rasa ingin tahu Moira mengapa ia tidak diminta menjalani tes memotret saat wawancara. Ternyata yang mereka butuhkan adalah pekerja rangkap, resepsionis, kasir, sekaligus asisten fotografer saat tiba-tiba dibutuhkan. Moira meringis saat mendengar jumlah gaji yang ditawarkan. Nominalnya hanya sedikit lebih banyak dari uang sakunya ketika masih duduk di bangku sekolah. Namun, bagaimana pun juga, ia sangat butuh pekerjaan ini.Moira berusaha tetap bersemangat saat menandatangani surat kontrak kerjanya. Raka menjelaskan sedikit mengenai aturan di studio foto mereka. Salah satunya, jangan pernah mencoba datang lewat dari pukul delapan pagi jika tidak ingin bermasalah dengan Maruli. Jam kerja berakhir sampai pukul lima sore, dan tidak ada uang lembur jika tiba-tiba harus menyelesaikan pekerjaan mendesak."Yok, gue kenalin sama anak-anak studio!" Raka mengajak Moira turun ke lantai dua.Beberapa wajah muncul dari balik kubikel saat menyadari suara langkah mendekat, diikuti beberapa orang berdiri dan mulai menebar senyum lebar. Seluruh pasang mata serempak menatap Moira antusias. Gadis itu menarik senyum terpaksa saat Raka mengenalkannya pada mereka."Gais, lihat apa yang gue bawa!" seru Raka.Selanjutnya bunyi siulan bersahutan dengan sorakan, bergantian hinggap di telinga Moira. Diikuti antrian dadakan yang berebut hendak menjabat tangannya.Moira memutar bola mata. Ia sadar baru saja menceburkan dirinya dalam sarang penyamun.Moira yakin ada yang salah dengan pola berpikir Maruli. Selain cara bicaranya yang jauh dari kata manis dan sikapnya yang sering sekali berubah mengikuti arah angin, tingkat kepercayaannya pada orang lain ternyata melebihi batas normal. Mereka baru mengenal kurang dari 36 jam, dan Maruli dengan santai menyerahkan begitu saja kartu ATM berikut PIN-nya pada Moira.“Sampai kapan lo mau bengong kayak gitu?” Maruli membuatnya cepat-cepat menutup mulut yang mungkin menganga.Mereka baru saja tiba di area parkir salah satu pusat perbelanjaan. Setelah mematikan mesin mobil, Maruli membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu pada Moira.“Bang Ruli nggak ikut belanja?” Moira menanyakan sembari memandangi kartu dalam genggamannya.“Apa gunanya gue bawa lo, Moy?”“Trus kartunya?”“Lo tarik aja, atau langsung gesek di kasir.” Maruli dengan santai menjawab. “Kan PIN-nya udah gue kasih.”“Saya tarik berapa, Bang?” Moira memandang bi
Suatu kebetulan yang indah bahwa lokasi indekos Moira tidak terlampau jauh dari kediaman Maruli. Lelaki itu tersenyum sendiri sambil menyetir sampai ia tiba di rumah. Entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya, yang jelas bayangan wajah Moira melekat hingga ia akan tidur malam itu.Dering telepon genggamnya membuat Maruli menunda memejamkan mata. Nama opung boru berkedap-kedip muncul di layar ponsel. Maruli ingat, sudah hampir seminggu ini ia tidak sempat menghubungi sang nenek. Sejak kedua orang tuanya wafat, opung boru lah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.“Sehat, Opung?” sapa Maruli saat suara perempuan tua itu terdengar.Opung boru menjawab dengan kecerewetannya seperti biasa. Satu sapaan Maruli akan dijawab dengan paling sedikit lima kalimat beruntun olehnya. Setiap menelepon, Maruli harus memasang ear-phone agar tangannya tidak lelah memegang ponsel hingga hampir satu jam lamanya. Menanggapi ocehan sang nenek melalui telepon sudah menjadi
Suasana briefing pagi hari ini sedikit berbeda. Ada objek menarik di sisi kiri ruangan yang membuat sepasang mata Maruli selalu ingin melirik ke arah sana. Seperti ada magnet berdaya tarik tinggi yang memaksanya agar selalu menoleh pada sudut itu.Maruli sudah lama tidak memberi perhatian lebih pada perempuan. Mungkin hal ini berlangsung sejak peristiwa putus cintanya dengan seseorang yang sekarang entah di mana keberadaannya. Lelaki itu butuh ruang untuk kembali menata hati. Pekerjaan selalu menjadi pelampiasan baginya agar tidak kembali teringat pada masa lalu. Hal itu pula yang membuatnya enggan mempekerjakan karyawan yang berlawanan jenis. Namun, ketika hasil rapat dengan seluruh anggota tim menyimpulkan bahwa studio foto miliknya memang membutuhkan sedikit sentuhan feminin, Maruli terpaksa mengalah.Lelaki itu segera naik ke ruang kerjanya setelah pertemuan pagi selesai. Ada beberapa hasil editan video yang harus ia periksa sebelum ditunjukkan kepada klien. Ia
Hujan yang cukup deras menahan Moira sore itu. Ia baru tiba di rumah kos menjelang malam. Sebenarnya, bukan dirinya yang ia kuatirkan akan basah kuyup, tetapi kamera satu-satunya yang Moira jaga serupa nyawanya. Tanpa kamera itu, entah bagaimana ia bisa menyambung hidup. Walaupun sebenarnya sia-sia ia membawanya hari ini. Karena ketika wawancara kerja siang tadi, benda itu sama sekali tak terpakai.Bagi Moira, kamera miliknya menyimpan begitu banyak kenangan. Tak hanya karena ia mendapatkannya dengan susah payah, tetapi seseorang yang menghadiahkan padanya juga telah berpulang. Yang Moira sesalkan, ia belum sempat membuktikan pada seseorang itu bahwa ia mampu bertahan di atas pilihannya. Selama dua puluh tahun hidupnya, Moira merasa saat ini adalah titik terendahnya.Gadis itu berusaha tertawa atas apa yang telah ia lalui hari ini. Jika bukan ia yang membuat hidupnya ceria, lantas siapa lagi? Meskipun lowongan kerja yang berhasil ia dapatkan tidak seperti perkiraan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.