LOGINPerbedaan pendapat antara Moira dan ibunya membuat gadis berambut ikal dan bermata almond itu memilih tinggal terpisah. Sang ibu menginginkannya menjadi seorang dokter, tetapi Moira justru antusias memilih menjadi seorang fotografer. Berbekal kamera peninggalan sang ayah, Moira mencoba berjuang mencapai mimpinya. Sayang, setelah setahun berlalu, hidupnya justru semakin terpuruk. Uang tabungannya habis dan bahkan ia tidak sanggup membayar uang kos setiap bulannya. Moira yang tadinya gigih bekerja menjadi fotografer lepas, kini harus merelakan dirinya menjadi pekerja serabutan di sebuah studio foto. Garis hidup pun membawanya bertemu dengan Maruli, lelaki Batak pemilik studio foto yang sudah berkali-kali diminta menikah oleh sang nenek. Maruli dengan sikapnya yang cuek berusaha mendekati Moira yang polos dan lugu. Siapa sangka dibalik perhatiannya pada Moira, Maruli menyimpan tujuan yang sejak dulu ia persiapkan untuk keuntungan hidupnya
View MoreMoira yakin ada yang salah dengan pola berpikir Maruli. Selain cara bicaranya yang jauh dari kata manis dan sikapnya yang sering sekali berubah mengikuti arah angin, tingkat kepercayaannya pada orang lain ternyata melebihi batas normal. Mereka baru mengenal kurang dari 36 jam, dan Maruli dengan santai menyerahkan begitu saja kartu ATM berikut PIN-nya pada Moira.“Sampai kapan lo mau bengong kayak gitu?” Maruli membuatnya cepat-cepat menutup mulut yang mungkin menganga.Mereka baru saja tiba di area parkir salah satu pusat perbelanjaan. Setelah mematikan mesin mobil, Maruli membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu pada Moira.“Bang Ruli nggak ikut belanja?” Moira menanyakan sembari memandangi kartu dalam genggamannya.“Apa gunanya gue bawa lo, Moy?”“Trus kartunya?”“Lo tarik aja, atau langsung gesek di kasir.” Maruli dengan santai menjawab. “Kan PIN-nya udah gue kasih.”“Saya tarik berapa, Bang?” Moira memandang bi
Suatu kebetulan yang indah bahwa lokasi indekos Moira tidak terlampau jauh dari kediaman Maruli. Lelaki itu tersenyum sendiri sambil menyetir sampai ia tiba di rumah. Entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya, yang jelas bayangan wajah Moira melekat hingga ia akan tidur malam itu.Dering telepon genggamnya membuat Maruli menunda memejamkan mata. Nama opung boru berkedap-kedip muncul di layar ponsel. Maruli ingat, sudah hampir seminggu ini ia tidak sempat menghubungi sang nenek. Sejak kedua orang tuanya wafat, opung boru lah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.“Sehat, Opung?” sapa Maruli saat suara perempuan tua itu terdengar.Opung boru menjawab dengan kecerewetannya seperti biasa. Satu sapaan Maruli akan dijawab dengan paling sedikit lima kalimat beruntun olehnya. Setiap menelepon, Maruli harus memasang ear-phone agar tangannya tidak lelah memegang ponsel hingga hampir satu jam lamanya. Menanggapi ocehan sang nenek melalui telepon sudah menjadi
Suasana briefing pagi hari ini sedikit berbeda. Ada objek menarik di sisi kiri ruangan yang membuat sepasang mata Maruli selalu ingin melirik ke arah sana. Seperti ada magnet berdaya tarik tinggi yang memaksanya agar selalu menoleh pada sudut itu.Maruli sudah lama tidak memberi perhatian lebih pada perempuan. Mungkin hal ini berlangsung sejak peristiwa putus cintanya dengan seseorang yang sekarang entah di mana keberadaannya. Lelaki itu butuh ruang untuk kembali menata hati. Pekerjaan selalu menjadi pelampiasan baginya agar tidak kembali teringat pada masa lalu. Hal itu pula yang membuatnya enggan mempekerjakan karyawan yang berlawanan jenis. Namun, ketika hasil rapat dengan seluruh anggota tim menyimpulkan bahwa studio foto miliknya memang membutuhkan sedikit sentuhan feminin, Maruli terpaksa mengalah.Lelaki itu segera naik ke ruang kerjanya setelah pertemuan pagi selesai. Ada beberapa hasil editan video yang harus ia periksa sebelum ditunjukkan kepada klien. Ia
Hujan yang cukup deras menahan Moira sore itu. Ia baru tiba di rumah kos menjelang malam. Sebenarnya, bukan dirinya yang ia kuatirkan akan basah kuyup, tetapi kamera satu-satunya yang Moira jaga serupa nyawanya. Tanpa kamera itu, entah bagaimana ia bisa menyambung hidup. Walaupun sebenarnya sia-sia ia membawanya hari ini. Karena ketika wawancara kerja siang tadi, benda itu sama sekali tak terpakai.Bagi Moira, kamera miliknya menyimpan begitu banyak kenangan. Tak hanya karena ia mendapatkannya dengan susah payah, tetapi seseorang yang menghadiahkan padanya juga telah berpulang. Yang Moira sesalkan, ia belum sempat membuktikan pada seseorang itu bahwa ia mampu bertahan di atas pilihannya. Selama dua puluh tahun hidupnya, Moira merasa saat ini adalah titik terendahnya.Gadis itu berusaha tertawa atas apa yang telah ia lalui hari ini. Jika bukan ia yang membuat hidupnya ceria, lantas siapa lagi? Meskipun lowongan kerja yang berhasil ia dapatkan tidak seperti perkiraan
Menunggu bukanlah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Terlebih jika harus dilakukan dalam sebuah ruangan yang sempit, dengan beragam tumpukan kardus dan onggokan barang di sudutnya. Moira duduk sendiri, menanti giliran wawancara sebagai persyaratan lamaran kerjanya di studio foto ini. Satu-satunya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews