MasukGerobak cilok milik Julia ambruk dan menumpahkan sebagian besar isinya. Tubuhnya masih membeku dalam posisi mendorong gerobak.
Untunglah mobil hanya menabrak gerobak. Jika satu langkah saja berada di depan, ceritanya akan berbeda. Julia menarik napas yang sempat tertahan sambil menatap gerobaknya yang rusak dan cilok yang berhamburan di atas jalan. "Gerobakku!" Kepala Julia menoleh ke arah kaca depan mobil. Menatap tajam ke arah kaca hitam yang menyembunyikan wajah pengendara. "Woi! turun enggak?!" teriak Julia mengarahkan telunjuknya sambil menatap tajam. Bibirnya mengatup dan hidungnya mengerut sebelum turun. Hans membanting pintu mobil dengan kasar. Lalu ia berjalan memeriksa bemper mobil yang penyok. Pupil mata Julia seketika melebar melihat pria tampan berkulit putih yang mengenakan jas hitam di depannya. Bunga-bunga mekar di dalam hatinya. “Pangeran dari mana ini? Gantengnya...” kata Julia dalam hati, matanya sampai berkedip berkali-kali. Tapi segera ia berdehem untuk mengendalikan diri. "Ganti rugi gerobak dan jualanku!" tunjuk Julia ke arah gerobak yang terbaring di atas aspal, berusaha tetap terlihat galak. Tapi bukan meminta maaf dan segera ganti rugi, Hans memilih menuntut balik. "Enak saja. Bemper mobilku lebih mahal daripada gerobak murahanmu. Seharusnya kamu yang ganti rugi karena asal menyebrang!" balas Hans pada wanita yang memakai topi di hadapannya. Julia sampai melongo, tidak percaya akan dituntut balik oleh orang yang baru saja hampir menabraknya. "Eh pasang kupingmu dan dengar baik-baik omonganku. Aku enggak peduli bemper mobilmu semahal apa. Mau setinggi langit pun aku enggak peduli. Di sini kamu yang nabrak gerobakku! Harusnya kamu yang ganti rugi!" tegas Julia menginginkan ganti rugi. Di saat mereka berdebat, warga mulai berkumpul satu persatu. “Enak saja, kamu yang menyeberang tidak hati-hati. Aku tidak mau ganti rugi.” Hans kukuh menolak untuk ganti rugi. Kesal karena penolakan itu, Julia mulai melipat ujung lengan bajunya seraya berkata, “wah! Cari perkara nih orang. Jangan karena aku cewek, kamu pikir aku takut!” Hans menelan ludah, entah kenapa ia merasa agak takut. Julia langsung menarik dasi merah Hans yang membuat wajah mereka berdekatan. “Ganti rugi atau aku hancurin mobilmu?!” ancam Julia dengan sorot mata tajam. Hans yang tidak pernah sedekat ini dengan perempuan langsung gelagapan. Tangannya mencoba melepaskan cengkraman tangan wanita yang sedang mencengkram dasi miliknya. Tapi, yang membuat bingung adalah kenapa tangan perempuan ini tidak bisa dilepas? Tidak mendapat jawaban. Julia langsung mendorong tubuh Hans lalu mengait kaki. Hans yang terdorong tidak dapat menjaga keseimbangan karena kaki kanannya digait sehingga jatuh terduduk di atas aspal. Hal ini sangat mengejutkan Hans. Baru pertama kali ia diperlakukan seperti ini oleh seorang perempuan. “Enggak mau ganti rugi? Aku hantam sampai kamu ganti rugi!” kesal Julia karena Hans hanya terdiam menatap dirinya. “Tunggu, Mbak. Sabar.” “Jangan main hakim sendiri.” Warga-warga mencoba menengahi agar masalah tidak panjang. “Mas, mending cepat ganti rugi. Kami memang menahannya agar tidak main hakim sendiri. Tapi, kalau Masnya tidak ganti rugi. Kami siap main hakim bersama,” ancam salah satu warga. "Jangan macam-macam, aku bisa laporin kalian ke polisi!" Hans mengancam balik untuk menakut-nakuti warga. Namun di luar dugaan, warga malah mengelilinginya dan bersiap untuk memukul. Nyali Hans langsung ciut. Daripada babak belur dihakimi, belum lagi mobilnya bisa saja ikut kena imbas. Ia akhirnya terpaksa mengalah. “Oke-oke. Aku akan ganti rugi,” ucapnya sambil mengangkat kedua tangan. “Nah, gitu dong dari tadi. Cepat bayar,” tagih Julia menjulurkan tangan. Hans segera berdiri dan mengeluarkan dompet dari saku sebelum memberikan sepuluh lembar uang seratusan. “Cukup?” Tanya Hans. Julia tak langsung menjawab. Ia menghitung lembar perlembar uang tersebut. “Oke, cukup. Makasih,” tuturnya sambil melebarkan senyuman. Lalu menuju gerobak yang sudah berdiri dibantu oleh warga. “Makasih ya warga-warga. Masalah udah selesai. Silakan lanjutkan kegiatan masing-masing,” ujar Julia sambil tersenyum ramah, membubarkan warga-warga. Hans masuk ke dalam mobil dengan perasaan frustasi. Hari ini benar-benar apes untuknya. Tok tok tok Ia menoleh ke arah Julia yang mengetuk kaca jendelanya. Menurunkan kaca jendela. “Apa lagi?” tanya Hans dengan nada kesal. “Ini buatmu. Sisa cilok yang tersisa. Tenang saja ini enggak jatuh,” tawar Julia. “Tidak perlu,” tolak Hans sambil membuang muka karena muak. “Udah ambil saja. Anggap sedekah buat orang yang lagi kena musibah,” ejek Julia sambil menjatuhkan kantong cilok ke kursi samping Hans. Lalu ia jalan begitu saja dan mendorong gerobak yang salah satu ban sudah tidak melingkar sempurna. Hans mengarahkan tinjunya ke arah Julia. Wanita ini membuatnya sangat kesal tapi tidak dapat berbuat apa-apa... “Mungkin tiga puluh menitan, bang,” jawab teknisi body repair setelah memeriksa kerusakan mobil. “Hum.” Hans hanya bisa berdehem. Memikirkan kesialan hari ini menguras seluruh mentalnya. Bahkan hanya untuk berbicara saja ia malas. Hampir tiga puluh menit menunggu, perut Hans mulai keroncongan. Ia menatap kantung cilok di samping pemberian Julia. Berpikir untuk dijadikan cemilan pengganjal perut, Ia mengambil dan memakan cilok tersebut. Namun baru beberapa kali kunyahan cepat, kunyahannya langsung melambat. Cilok ini sangat lembut, kenyal, ada gurih-gurihnya. Ini bukan hanya enak, tapi sangat enak, berbeda dengan cilok yang pernah ia cicip. Hans langsung terpikir untuk menjadikan cilok ini sebagai brand terbaru miliknya. "Aku harus mencari cewek galak itu!" monolog Hans yakin. “Sudah beres bang. Empat ratus lima puluh ribu saja, bang,” ujar teknisi tersebut. Kebetulan mobil Hans selesai tepat waktu. Ia buru-buru membayar seharga lima ratus ribu. “Ambil saja kembaliannya.” "Terima kasih, bang," kata Teknisi tersebut. Hans tak menjawab, segera ke lokasi saat menabrak wanita tukang cilok. Harus menemukan penjual cilok itu. Mungkin dengan resep cilok itu, ia bisa menyelamatkan posisinya sebagai CEO."Kemarin murung sekarang tidak jualan. Dia sebenarnya kenapa? Bisa gawat kalau dia tidak mau jualan lagi," monolog Hans dalam hati. Hans menjadi melamun karena masalah ini. Jika Julia benar-benar berhenti jualan, maka rencananya mendapatkan resep cilok itu akan gagal sepenuhnya. "Pak Hans... Pak Hans," panggil manajer Keina. "Oh, iya. Maaf." Hans segera memperbaiki cara duduknya dan berusaha kembali fokus. Ia terlalu memikirkan Julia sampai lupa kalau sedang berada dalam meeting perusahaan. "Anda baik-baik saja, Pak Hans?" tanya manajer Keina. "Ya-ya, it's okay. Lanjutkan saja," ucap Hans tetap bersikap professional. Beberapa orang manajer senior saling memandang. Sikap tidak fokus CEO mereka hari ini sangat tidak lazim dengan Hans yang mereka kenal sebagai CEO yang tegas dan teliti. "Begini, Pak Hans. Dari beberapa data dan masukan dari beberapa meeting sebelumnya, saya menyimpulkan perlunya menurunkan harga pada brand yang telah mengalami penurunan minat dan p
Kini Julia duduk di depan belasan keluarga Bang Mamat dan hanya didampingi oleh Kendra. "Aku akan terima lamaran dengan dua syarat," ujar Julia.Ia tidak dapat menghindari pertunangan ini. Tapi, ia memilih memberikan syarat. Tapi, bagi bang Mamat sebuah syarat tidak berarti apa-apa asal dapat memiliki Julia."Katakan saja, Julia. Abang pasti akan penuhi," jawab bang Mamat dengan percaya diri. "Pertama, aku tidak suka dihalang-halangi kalau mau kerja. Kedua, tanggal pernikahan diundur sampai Kendra wisuda. Kecuali Bang Mamat berjanji menanggung biaya kuliah Kendra maka pertunangan bisa dipercepat sampai tahun depan." Julia menjadi sedikit murung di kata terakhirnya. Sebenarnya Julia hanya menganggap bang Mamat sebagai abangnya dan tidak lebih. Tapi, ia tidak dapat menolak pertunangan ini. "Tanggung biaya kuliah Kendra?" tanya bang Mamat merasa agak berat. "Kenapa, Bang? Enggak sanggup?" Kendra balik bertanya. Bang Mamat tampak berpikir sejenak. menunggu hingga Kendra wisuda itu
"Empat juta sembilan ratus, lima juta. Sudah lima juta aja nih!" Julia meletakkan keuntungan jualannya itu di dompet. "Di bank aku sudah punya simpanan dua ratus sepuluh juta. Seharusnya sudah cukup buat perluas usahaku dan simpanan buat modal Kendra lanjut kuliah." Bibir Julia merekah lebar. Usahanya hampir dua tahun akhirnya berbuah manis. "Tapi, aku harus nambah gerobak cilok lagi atau buka tempat permanen?" monolonya sendiri sambil berpikir. Namun fokus Julia segera buyar oleh teriakan Kendra dari luar rumah. "Kak, kakak!" teriak Kendra sambil lari masuk. Alis Julia mengerut karena kesal. "Bisa enggak usah teriak-teriak?! Sakit kupingku!" Omelan Julia tidak terlalu digubris karena Kendra terlalu panik. "Gawat, Kak!" kata Kendra. "Apa yang gawat?" tanya Julia santai sambil memasukkan dompetnya ke saku. "Aku dengar Bang Mamat mau melamar kakak!" ungkap Kendra. Sesaat tubuh Julia membeku sebelum menggerakkan kepalanya menatap Kendra. "What?!" kata J
Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya. Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua pr
“Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam
Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih







