แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Susu Cabai
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-26 23:53:03

Gerobak cilok milik Julia ambruk dan menumpahkan sebagian besar isinya. Tubuhnya masih membeku dalam posisi mendorong gerobak.

Untunglah mobil hanya menabrak gerobak. Jika satu langkah saja berada di depan, ceritanya akan berbeda.

Julia menarik napas yang sempat tertahan sambil menatap gerobaknya yang rusak dan cilok yang berhamburan di atas jalan.

"Gerobakku!"

Kepala Julia menoleh ke arah kaca depan mobil. Menatap tajam ke arah kaca hitam yang menyembunyikan wajah pengendara.

"Woi! turun enggak?!" teriak Julia mengarahkan telunjuknya sambil menatap tajam.

Bibirnya mengatup dan hidungnya mengerut sebelum turun. Hans membanting pintu mobil dengan kasar.

Lalu ia berjalan memeriksa bemper mobil yang penyok.

Pupil mata Julia seketika melebar melihat pria tampan berkulit putih yang mengenakan jas hitam di depannya. Bunga-bunga mekar di dalam hatinya.

“Pangeran dari mana ini? Gantengnya...” kata Julia dalam hati, matanya sampai berkedip berkali-kali.

Tapi segera ia berdehem untuk mengendalikan diri.

"Ganti rugi gerobak dan jualanku!" tunjuk Julia ke arah gerobak yang terbaring di atas aspal, berusaha tetap terlihat galak.

Tapi bukan meminta maaf dan segera ganti rugi, Hans memilih menuntut balik.

"Enak saja. Bemper mobilku lebih mahal daripada gerobak murahanmu. Seharusnya kamu yang ganti rugi karena asal menyebrang!" balas Hans pada wanita yang memakai topi di hadapannya.

Julia sampai melongo, tidak percaya akan dituntut balik oleh orang yang baru saja hampir menabraknya.

"Eh pasang kupingmu dan dengar baik-baik omonganku. Aku enggak peduli bemper mobilmu semahal apa. Mau setinggi langit pun aku enggak peduli. Di sini kamu yang nabrak gerobakku! Harusnya kamu yang ganti rugi!" tegas Julia menginginkan ganti rugi.

Di saat mereka berdebat, warga mulai berkumpul satu persatu.

“Enak saja, kamu yang menyeberang tidak hati-hati. Aku tidak mau ganti rugi.” Hans kukuh menolak untuk ganti rugi.

Kesal karena penolakan itu, Julia mulai melipat ujung lengan bajunya seraya berkata, “wah! Cari perkara nih orang. Jangan karena aku cewek, kamu pikir aku takut!”

Hans menelan ludah, entah kenapa ia merasa agak takut.

Julia langsung menarik dasi merah Hans yang membuat wajah mereka berdekatan.

“Ganti rugi atau aku hancurin mobilmu?!” ancam Julia dengan sorot mata tajam.

Hans yang tidak pernah sedekat ini dengan perempuan langsung gelagapan. Tangannya mencoba melepaskan cengkraman tangan wanita yang sedang mencengkram dasi miliknya. Tapi, yang membuat bingung adalah kenapa tangan perempuan ini tidak bisa dilepas?

Tidak mendapat jawaban. Julia langsung mendorong tubuh Hans lalu mengait kaki.

Hans yang terdorong tidak dapat menjaga keseimbangan karena kaki kanannya digait sehingga jatuh terduduk di atas aspal.

Hal ini sangat mengejutkan Hans. Baru pertama kali ia diperlakukan seperti ini oleh seorang perempuan.

“Enggak mau ganti rugi? Aku hantam sampai kamu ganti rugi!” kesal Julia karena Hans hanya terdiam menatap dirinya.

“Tunggu, Mbak. Sabar.”

“Jangan main hakim sendiri.”

Warga-warga mencoba menengahi agar masalah tidak panjang.

“Mas, mending cepat ganti rugi. Kami memang menahannya agar tidak main hakim sendiri. Tapi, kalau Masnya tidak ganti rugi. Kami siap main hakim bersama,” ancam salah satu warga.

"Jangan macam-macam, aku bisa laporin kalian ke polisi!" Hans mengancam balik untuk menakut-nakuti warga.

Namun di luar dugaan, warga malah mengelilinginya dan bersiap untuk memukul.

Nyali Hans langsung ciut. Daripada babak belur dihakimi, belum lagi mobilnya bisa saja ikut kena imbas. Ia akhirnya terpaksa mengalah.

“Oke-oke. Aku akan ganti rugi,” ucapnya sambil mengangkat kedua tangan.

“Nah, gitu dong dari tadi. Cepat bayar,” tagih Julia menjulurkan tangan.

Hans segera berdiri dan mengeluarkan dompet dari saku sebelum memberikan sepuluh lembar uang seratusan.

“Cukup?” Tanya Hans.

Julia tak langsung menjawab. Ia menghitung lembar perlembar uang tersebut.

“Oke, cukup. Makasih,” tuturnya sambil melebarkan senyuman.

Lalu menuju gerobak yang sudah berdiri dibantu oleh warga.

“Makasih ya warga-warga. Masalah udah selesai. Silakan lanjutkan kegiatan masing-masing,” ujar Julia sambil tersenyum ramah, membubarkan warga-warga.

Hans masuk ke dalam mobil dengan perasaan frustasi. Hari ini benar-benar apes untuknya.

Tok tok tok

Ia menoleh ke arah Julia yang mengetuk kaca jendelanya.

Menurunkan kaca jendela.

“Apa lagi?” tanya Hans dengan nada kesal.

“Ini buatmu. Sisa cilok yang tersisa. Tenang saja ini enggak jatuh,” tawar Julia.

“Tidak perlu,” tolak Hans sambil membuang muka karena muak.

“Udah ambil saja. Anggap sedekah buat orang yang lagi kena musibah,” ejek Julia sambil menjatuhkan kantong cilok ke kursi samping Hans.

Lalu ia jalan begitu saja dan mendorong gerobak yang salah satu ban sudah tidak melingkar sempurna.

Hans mengarahkan tinjunya ke arah Julia. Wanita ini membuatnya sangat kesal tapi tidak dapat berbuat apa-apa...

“Mungkin tiga puluh menitan, bang,” jawab teknisi body repair setelah memeriksa kerusakan mobil.

“Hum.” Hans hanya bisa berdehem.

Memikirkan kesialan hari ini menguras seluruh mentalnya. Bahkan hanya untuk berbicara saja ia malas.

Hampir tiga puluh menit menunggu, perut Hans mulai keroncongan. Ia menatap kantung cilok di samping pemberian Julia.

Berpikir untuk dijadikan cemilan pengganjal perut, Ia mengambil dan memakan cilok tersebut. Namun baru beberapa kali kunyahan cepat, kunyahannya langsung melambat.

Cilok ini sangat lembut, kenyal, ada gurih-gurihnya. Ini bukan hanya enak, tapi sangat enak, berbeda dengan cilok yang pernah ia cicip.

Hans langsung terpikir untuk menjadikan cilok ini sebagai brand terbaru miliknya.

"Aku harus mencari cewek galak itu!" monolog Hans yakin.

“Sudah beres bang. Empat ratus lima puluh ribu saja, bang,” ujar teknisi tersebut.

Kebetulan mobil Hans selesai tepat waktu. Ia buru-buru membayar seharga lima ratus ribu.

“Ambil saja kembaliannya.”

"Terima kasih, bang," kata Teknisi tersebut.

Hans tak menjawab, segera ke lokasi saat menabrak wanita tukang cilok. Harus menemukan penjual cilok itu. Mungkin dengan resep cilok itu, ia bisa menyelamatkan posisinya sebagai CEO.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 9

    Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya.Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua proses penjua

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 8

    “Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 7

    Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 6

    "Kakak! Awas!" teriak Kendra sambil melemparkan piring. Julia berbalik dengan cepat lalu menahan tangan kang Tarnet menggunakan kaki. KRASH! Piring pecah saat menghantam kepala kang Tarnet. Junus menyerang dari belakang tapi Julia berhasil menangkap tangan Junus dan membanting ke arah kang Tarnet hingga bertabrakan. "Beraninya nyerang diam-diam!" Julia yang sudah sangat geram langsung mengambil loyang dan menghantamkan ke arah kepala kang Tarnet dan Junus berulangkali. PLAK! PLAK! PLAK! Suara nyaring bersahutan dengan teriakan kesakitan dari Junus dan kang Tarnet. Kendra mengambil golok dan linggis tanpa memperdulikan Julia yang masih menghajar dua preman itu. "Hiyat!" Julia lompat tinggi-tinggi lalu memberikan pukulan terakhir ke arah kang Tarnet. Mata kang Tarnet berputar dengan wajah kebiruan. "Huh, puas rasanya," kata Julia sambil menyeka kening. "Ampun... Jangan pukul lagi. Aku punya istri tiga dan 10 anak. Tidak ada yang tanggung hidup mereka," mohon Kang T

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 5

    “Itu ‘kan orangnya?” tanya preman gondrong pirang bernama kang Tarnet.Preman botak bernama Junus memperhatikan Julia yang mendorong pulang gerobak cilok.“Iya itu, Kang. Mirip dengan yang di foto,” balas Junus.Kang Tarnet menoleh dengan alis bertautan. “Dia atau bukan?” tanya kang Tarnet sekali lagi.“Iya, Kang. Mirip dengan yang di foto.” Junus mengulangi jawabannya yang kedua kali.“Kalau mirip berarti bisa jadi iya bisa jadi bukan. Dasar bodoh! Sini HP-mu.”Kang Tarnet merebut ponsel dari tangan Junus yang memasang wajah memelas salah tingkah. Setelah itu, ia mencocokkan foto tersebut dengan wanita penjual cilok. Dari pakaian, wajah, dan topi yang dikenakan sama semua. “Ini bukan mirip. Tapi memang dia yang jadi target kita. Begitu saja tidak becus! Ambil!” Kang Tarnet mengembalikan ponsel milik Junus dengan setengah memarahi.Junus hanya pasrah dimarahi sambil mengambil kembali ponsel miliknya.Mereka mengikuti cewek yang memakai pakaian serba panjang itu cukup lama. Beberapa

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 4

    Julia menoleh ke belakang. “Buset, ngejar dia. Beneran mau nagih duit kemarin nih.” Ia menambah tenaga sehingga jaraknya dengan Hans semakin menjauh. Hans menghentikan langkah, melihat wanita Cilok itu berbelok di perempatan jalan. Ia tidak menyangka cewek cilok itu lebih sulit dikejar. “Ini cewek apa kuda? Lari seperti orang kesetanan saja,” ujar Hans ngos-ngosan. Ia buru-buru berbalik ke arah mobil. Julia sekali lagi memeriksa ke belakang, sudah tidak melihat cowok yang mengejarnya. Menghentikan langkahnya lalu duduk di trotoar jalan. “Buset tuh orang. Bikin capek orang saja,” ujar Julia sambil mengatur nafas di pinggir jalan yang ramai oleh kendaraan berlalu-lalang. Menggunakan topi hitamnya untuk mengipas-ngipas wajah yang terasa panas. Ia menoleh ke samping, matanya melotot melihat mobil yang kemarin menghampirinya. “Mampus,” pikir Julia tidak dapat berkata-kata. Segera berdiri dari posisi duduknya. Hans turun dari mobil dengan ekspresi kesal. “Kenapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status