LOGIN“Bagaimana ini? kenapa tidak ketemu?" gumam Hans wajahnya kusut karena sudah hampir sejam menyusuri jalan tapi tidak menemukan cewek yang dicarinya.
Hans menghembuskan nafas panjang karena tidak tau harus mencari kemana lagi? *** Kendra menghentikan motor Supra X di depan rumah. Saat turun, ia terkejut melihat gerobak cilok yang sudah rusak. Pikirannya langsung teringat kakaknya. Ia berlari masuk ke dalam rumah, memastikan kondisi sang kakak. “Kakak! Kakak!” panggilnya. Saat di ruang tamu, matanya tertuju pada Julia yang sedang tidur di atas sofa robek. Kaki Julia satu ditekuk, satunya setengah melingkar menahan kaki yang ditekuk. Seperti seorang laki-laki. Kendra segera menghampiri kakaknya itu. “Kakak! kakak!” Alis Julia langsung mengkerut karena bahunya di goyang-goyang oleh Kendra. “Kendra!” Julia menarik telinga Kendra karena kesal. “Adududuh... Sakit kak,” keluh Kendra memiringkan kepala ke arah tarikkan. Julia melepaskan jeweran, Kendra mengelus telinga yang terasa panas. “Makanya, orang lagi anteng-anteng tidur malah digangguin. Nyari penyakit,” omel Julia. “Aku panik, kirain kakak kenapa-napa. Gara-gara tuh di depan, gerobak ringsek. Kirain ada apa-apa dengan kakak,” keluh Kendra sambil berulang meniup tangan lalu ditempelkan ke telinga. Anehnya cara itu berhasil mengurangi rasa panas di telinga. “Oh itu, ditabrak orang tadi,” jawab Julia menurunkan kakinya lalu duduk bersandar dengan normal. “Apa?!” Tangan Kendra mengepal kuat menunjukkan urat-urat dan ototnya yang keras. “Siapa yang tabrak kakak?” Mata Julia melihat perubahan ekspresi Kendra, lalu melirik ke tangan adiknya yang mengeras. “Enggak usah marah-marah. Orang itu hanya tabrak gerobak. Lagian tuh orang udah ganti rugi sejuta. Nih lihat,” ungkap Julia sambil menunjukkan uang hasil ganti rugi. Namun hal itu tidak membuat hati Kendra tenang. Tangan masih mengepal, tapi raut wajahnya berubah murung. “Kalau saja ayah ibu masih hidup, kakak enggak bakal nanggung uang sekolah Kendra sampai pertaruhkan nyawa begini,” ucap Kendra. Julia terdiam mendengar perkataan Kendra. Hatinya pedih tapi ia malah tersenyum. “Ayo, sini duduk.” Ia menarik tangan adiknya agar duduk di sampingnya. “Orang tua kita meninggal sudah takdir tuhan. Kita enggak boleh pakai kata seandainya. Ntar tuhan ngira kita enggak terima takdirnya. Kan berabe. Ambil aja positifnya. Lihat kakak jadi mandiri dan pintar nyari duit,” tutur Julia memberi nasehat. Kendra ikut tersenyum, hatinya merasa bersemangat lagi dan bangga karena memiliki kakak perempuan yang sangat tangguh. “Iya, maaf kak. Aku hanya merasa harusnya aku yang nyari duit dan kakak enggak perlu berhenti kuliah,” ungkap Kendra menumpahkan isi hatinya. “Udah, diam.” Julia mengambil tangan Kendra dan memberikan 300 ribu. “Nih, ambil.” Bibir Kendra seketika memanjang membentuk senyuman sumringah. “Buat aku kak?” Ia bertanya sambil menatap tiga uang merah itu. “Bukanlah. Bawa tuh gerobak ke bang Mamat, sisa duitnya beli ayam geprek,” jelas Julia. Tatapan Kendra langsung berubah datar, terjebak oleh tipu daya wanita yang tidak lain kakaknya sendiri. “Kak, bang Mamat udah lama naksir kakak. Gimana kalau—“ Julia langsung mendorong kasar bokong Kendra menggunakan kaki hingga berdiri dari posisi duduk. “Enggak usah banyak cincong, bawa tuh gerobak. Besok kakak mau jualan cilok lagi,” omel Julia lagi memotong ucapan Kendra yang sedang mengejek. “Iya-iya, galak amat.” Kendra mengelus bokongnya sambil berjalan keluar. “Eh itu pakaian sekolah ganti dulu,” ujar Julia memerintah, khawatir pakaian sekolah adiknya akan bernoda. “Nanti kak setelah pulang,” sahut Kendra dari luar rumah. “Awas aja kalau bernoda. Kakak kucek mukamu!” ancam Julia. “Iya, kak!” jawab Kendra yang sudah terdengar jauh. “Dasar anak itu.” Julia menghembuskan nafas panjang dari mulut. Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya lagi ke sofa sambil menengadah menatap plafon rumah yang mulai menghitam. Perkataan adiknya tadi masih membekas. Ia memejamkan mata, setetes air mata berhasil lolos. “Kurang ajar emang si Kendra. Kenapa harus bahas-bahas orang tua lagi sih? Kan jadinya nangis,” monolog Julia sendiri sambil menyeka air mata. *** Besoknya, Hans sudah menunggu di tempat yang sama dengan mobilnya. "Mudah-mudahan hari ini bisa ketemu cewek penjual cilok itu," gumam Hans berharap. Hampir 3 jam menunggu tapi orang yang ditunggu belum juga kelihatan. “Jangan-jangan gerobaknya masih rusak. Jadi hari ini dia tidak jualan,” ucap Hans menebak-nebak. Sehingga pikirannya berpikir seperti itu juga. “Buang-buang waktuku saja,” lanjutnya sambil memutar kunci mobil. Baru saja menginjak gas, matanya menangkap sosok yang ditunggu sejak tadi. Ia tersentak ke depan karena kaki mendadak menginjak rem. "Aduh." Hans memegang ulu hati yang membentur stir mobil. Tapi, ia tetap turun dari mobil untuk menghampiri wanita itu sambil menahan sakit. Julia yang baru menyeberangkan gerobak jualannya terdiam melihat pria yang menabrak gerobaknya kemarin. “Wah, si ganteng itu lagi. Jangan-jangan dia enggak terima dipaksa ganti rugi dan pengen aku balikan uangnya. Enggak bisa nih. Mending kabur aja deh,” ujar Julia overthinking. Julia cepat-cepat memutar gerobaknya dan mendorongnya dengan cepat ke arah berlawanan. Alis Hans mengerut melihat Julia yang tiba-tiba kabur. “Kenapa cewek itu lari? Mbak, ada yang mau aku omongin!” panggilnya sambil mengejar."Kemarin murung sekarang tidak jualan. Dia sebenarnya kenapa? Bisa gawat kalau dia tidak mau jualan lagi," monolog Hans dalam hati. Hans menjadi melamun karena masalah ini. Jika Julia benar-benar berhenti jualan, maka rencananya mendapatkan resep cilok itu akan gagal sepenuhnya. "Pak Hans... Pak Hans," panggil manajer Keina. "Oh, iya. Maaf." Hans segera memperbaiki cara duduknya dan berusaha kembali fokus. Ia terlalu memikirkan Julia sampai lupa kalau sedang berada dalam meeting perusahaan. "Anda baik-baik saja, Pak Hans?" tanya manajer Keina. "Ya-ya, it's okay. Lanjutkan saja," ucap Hans tetap bersikap professional. Beberapa orang manajer senior saling memandang. Sikap tidak fokus CEO mereka hari ini sangat tidak lazim dengan Hans yang mereka kenal sebagai CEO yang tegas dan teliti. "Begini, Pak Hans. Dari beberapa data dan masukan dari beberapa meeting sebelumnya, saya menyimpulkan perlunya menurunkan harga pada brand yang telah mengalami penurunan minat dan p
Kini Julia duduk di depan belasan keluarga Bang Mamat dan hanya didampingi oleh Kendra. "Aku akan terima lamaran dengan dua syarat," ujar Julia.Ia tidak dapat menghindari pertunangan ini. Tapi, ia memilih memberikan syarat. Tapi, bagi bang Mamat sebuah syarat tidak berarti apa-apa asal dapat memiliki Julia."Katakan saja, Julia. Abang pasti akan penuhi," jawab bang Mamat dengan percaya diri. "Pertama, aku tidak suka dihalang-halangi kalau mau kerja. Kedua, tanggal pernikahan diundur sampai Kendra wisuda. Kecuali Bang Mamat berjanji menanggung biaya kuliah Kendra maka pertunangan bisa dipercepat sampai tahun depan." Julia menjadi sedikit murung di kata terakhirnya. Sebenarnya Julia hanya menganggap bang Mamat sebagai abangnya dan tidak lebih. Tapi, ia tidak dapat menolak pertunangan ini. "Tanggung biaya kuliah Kendra?" tanya bang Mamat merasa agak berat. "Kenapa, Bang? Enggak sanggup?" Kendra balik bertanya. Bang Mamat tampak berpikir sejenak. menunggu hingga Kendra wisuda itu
"Empat juta sembilan ratus, lima juta. Sudah lima juta aja nih!" Julia meletakkan keuntungan jualannya itu di dompet. "Di bank aku sudah punya simpanan dua ratus sepuluh juta. Seharusnya sudah cukup buat perluas usahaku dan simpanan buat modal Kendra lanjut kuliah." Bibir Julia merekah lebar. Usahanya hampir dua tahun akhirnya berbuah manis. "Tapi, aku harus nambah gerobak cilok lagi atau buka tempat permanen?" monolonya sendiri sambil berpikir. Namun fokus Julia segera buyar oleh teriakan Kendra dari luar rumah. "Kak, kakak!" teriak Kendra sambil lari masuk. Alis Julia mengerut karena kesal. "Bisa enggak usah teriak-teriak?! Sakit kupingku!" Omelan Julia tidak terlalu digubris karena Kendra terlalu panik. "Gawat, Kak!" kata Kendra. "Apa yang gawat?" tanya Julia santai sambil memasukkan dompetnya ke saku. "Aku dengar Bang Mamat mau melamar kakak!" ungkap Kendra. Sesaat tubuh Julia membeku sebelum menggerakkan kepalanya menatap Kendra. "What?!" kata J
Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya. Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua pr
“Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam
Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih







