แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Susu Cabai
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-27 09:50:17

“Bagaimana ini? kenapa tidak ketemu?" gumam Hans wajahnya kusut karena sudah hampir sejam menyusuri jalan tapi tidak menemukan cewek yang dicarinya.

Hans menghembuskan nafas panjang karena tidak tau harus mencari kemana lagi?

***

Kendra menghentikan motor Supra X di depan rumah. Saat turun, ia terkejut melihat gerobak cilok yang sudah rusak.

Pikirannya langsung teringat kakaknya. Ia berlari masuk ke dalam rumah, memastikan kondisi sang kakak.

“Kakak! Kakak!” panggilnya.

Saat di ruang tamu, matanya tertuju pada Julia yang sedang tidur di atas sofa robek. Kaki Julia satu ditekuk, satunya setengah melingkar menahan kaki yang ditekuk. Seperti seorang laki-laki.

Kendra segera menghampiri kakaknya itu.

“Kakak! kakak!”

Alis Julia langsung mengkerut karena bahunya di goyang-goyang oleh Kendra.

“Kendra!” Julia menarik telinga Kendra karena kesal.

“Adududuh... Sakit kak,” keluh Kendra memiringkan kepala ke arah tarikkan.

Julia melepaskan jeweran, Kendra mengelus telinga yang terasa panas.

“Makanya, orang lagi anteng-anteng tidur malah digangguin. Nyari penyakit,” omel Julia.

“Aku panik, kirain kakak kenapa-napa. Gara-gara tuh di depan, gerobak ringsek. Kirain ada apa-apa dengan kakak,” keluh Kendra sambil berulang meniup tangan lalu ditempelkan ke telinga.

Anehnya cara itu berhasil mengurangi rasa panas di telinga.

“Oh itu, ditabrak orang tadi,” jawab Julia menurunkan kakinya lalu duduk bersandar dengan normal.

“Apa?!” Tangan Kendra mengepal kuat menunjukkan urat-urat dan ototnya yang keras. “Siapa yang tabrak kakak?”

Mata Julia melihat perubahan ekspresi Kendra, lalu melirik ke tangan adiknya yang mengeras.

“Enggak usah marah-marah. Orang itu hanya tabrak gerobak. Lagian tuh orang udah ganti rugi sejuta. Nih lihat,” ungkap Julia sambil menunjukkan uang hasil ganti rugi.

Namun hal itu tidak membuat hati Kendra tenang. Tangan masih mengepal, tapi raut wajahnya berubah murung.

“Kalau saja ayah ibu masih hidup, kakak enggak bakal nanggung uang sekolah Kendra sampai pertaruhkan nyawa begini,” ucap Kendra.

Julia terdiam mendengar perkataan Kendra. Hatinya pedih tapi ia malah tersenyum.

“Ayo, sini duduk.” Ia menarik tangan adiknya agar duduk di sampingnya.

“Orang tua kita meninggal sudah takdir tuhan. Kita enggak boleh pakai kata seandainya. Ntar tuhan ngira kita enggak terima takdirnya. Kan berabe. Ambil aja positifnya. Lihat kakak jadi mandiri dan pintar nyari duit,” tutur Julia memberi nasehat.

Kendra ikut tersenyum, hatinya merasa bersemangat lagi dan bangga karena memiliki kakak perempuan yang sangat tangguh.

“Iya, maaf kak. Aku hanya merasa harusnya aku yang nyari duit dan kakak enggak perlu berhenti kuliah,” ungkap Kendra menumpahkan isi hatinya.

“Udah, diam.” Julia mengambil tangan Kendra dan memberikan 300 ribu. “Nih, ambil.”

Bibir Kendra seketika memanjang membentuk senyuman sumringah.

“Buat aku kak?” Ia bertanya sambil menatap tiga uang merah itu.

“Bukanlah. Bawa tuh gerobak ke bang Mamat, sisa duitnya beli ayam geprek,” jelas Julia.

Tatapan Kendra langsung berubah datar, terjebak oleh tipu daya wanita yang tidak lain kakaknya sendiri.

“Kak, bang Mamat udah lama naksir kakak. Gimana kalau—“

Julia langsung mendorong kasar bokong Kendra menggunakan kaki hingga berdiri dari posisi duduk.

“Enggak usah banyak cincong, bawa tuh gerobak. Besok kakak mau jualan cilok lagi,” omel Julia lagi memotong ucapan Kendra yang sedang mengejek.

“Iya-iya, galak amat.” Kendra mengelus bokongnya sambil berjalan keluar.

“Eh itu pakaian sekolah ganti dulu,” ujar Julia memerintah, khawatir pakaian sekolah adiknya akan bernoda.

“Nanti kak setelah pulang,” sahut Kendra dari luar rumah.

“Awas aja kalau bernoda. Kakak kucek mukamu!” ancam Julia.

“Iya, kak!” jawab Kendra yang sudah terdengar jauh.

“Dasar anak itu.” Julia menghembuskan nafas panjang dari mulut.

Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya lagi ke sofa sambil menengadah menatap plafon rumah yang mulai menghitam.

Perkataan adiknya tadi masih membekas. Ia memejamkan mata, setetes air mata berhasil lolos.

“Kurang ajar emang si Kendra. Kenapa harus bahas-bahas orang tua lagi sih? Kan jadinya nangis,” monolog Julia sendiri sambil menyeka air mata.

***

Besoknya, Hans sudah menunggu di tempat yang sama dengan mobilnya.

"Mudah-mudahan hari ini bisa ketemu cewek penjual cilok itu," gumam Hans berharap.

Hampir 3 jam menunggu tapi orang yang ditunggu belum juga kelihatan.

“Jangan-jangan gerobaknya masih rusak. Jadi hari ini dia tidak jualan,” ucap Hans menebak-nebak.

Sehingga pikirannya berpikir seperti itu juga.

“Buang-buang waktuku saja,” lanjutnya sambil memutar kunci mobil.

Baru saja menginjak gas, matanya menangkap sosok yang ditunggu sejak tadi. Ia tersentak ke depan karena kaki mendadak menginjak rem.

"Aduh."

Hans memegang ulu hati yang membentur stir mobil. Tapi, ia tetap turun dari mobil untuk menghampiri wanita itu sambil menahan sakit.

Julia yang baru menyeberangkan gerobak jualannya terdiam melihat pria yang menabrak gerobaknya kemarin.

“Wah, si ganteng itu lagi. Jangan-jangan dia enggak terima dipaksa ganti rugi dan pengen aku balikan uangnya. Enggak bisa nih. Mending kabur aja deh,” ujar Julia overthinking.

Julia cepat-cepat memutar gerobaknya dan mendorongnya dengan cepat ke arah berlawanan.

Alis Hans mengerut melihat Julia yang tiba-tiba kabur.

“Kenapa cewek itu lari? Mbak, ada yang mau aku omongin!” panggilnya sambil mengejar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 9

    Setelah melayani beberapa pelanggan yang membeli cilok, Julia kembali menghampiri Mahendra sambil membawa air minum. “Nih, minum,” kata Julia yang sengaja membawa double botol minuman hari ini. Mahendra segera mengambil air minum itu dan segera meneguk airnya.Julia duduk di atas rumput dan ikut meneguk air minum sambil menatap Mahendra. Sembari menyeka sisa air di bibir, Julia berkata, “kalau kamu enggak kuat mending penelitian di rumahku saja. Enggak usah ikut aku jualan.” Tangan Mahendra memutar penutup botol untuk menutup air minum. “Aku maunya begitu,” kata Mahendra sambil menghembuskan nafas panjang. “Tapi?” tanya Julia. “Kamu tahu DOPEM?” Julia menggelengkan kepala atas pertanyaan Mahendra. “Enggak tahu.” “DOPEM, Dosen Pembimbing yang membimbing proses penyusunan skripsi mahasiswa,” jelas Mahendra. Mulut Julia membentuk huruf ‘o’ tanpa suara dengan sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tadi malam DOPEM mengarahkanku untuk mengikuti semua proses penjua

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 8

    “Apa-apaan sih, Bang Mamat?!” Julia segera menarik tangan bang Mamat agar melepaskan Mahendra. “Kamu belain dia berarti ada apa-apa!” tuduh bang Mamat yang semakin tersulut dan kembali ingin menyerang Mahendra.“Bang Mamat!” Julia mendorong bang Mamat supaya menjauh dari Mahendra. “Kami gak ada hubungan apa-apa. Dia itu anak kuliahan semester akhir yang ingin meneliti usaha cilok milikku buat skripsiannya!” lanjutnya menjelaskan dengan nada kesal.“Skripsi? Jadi enggak ada hubungan apa-apa?” tanya bang Mamat amarahnya meredah.“Enggak! Stop biasakan asal mukul sebelum cari tahu! Bang Mamat buat aku malu, tahu Enggak?! His!” omel Julia berbalik ke gerobaknya. “Ayo pergi!” ajaknya pada Mahendra. Mahendra buru-buru mengikuti langkah Julia.Bang Mamat menatap punggung Mahendra dengan tajam.“Mahendra. Tunggu saja kamu!” geram bang Mamat sambil menendang udara.“Sorry ya. Baru hari pertama kamu sudah dapat masalah,” ujar Julia tak berani menatap Mahendra gara-gara perlakuan bang Mam

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 7

    Hans yang masih nyenyak dalam tidur terganggu oleh suara dering ponsel yang berulang kali. “Siapa tengah malam begini telepon?! Ganggu orang tidur saja!” kesal Hans sambil mengangkat telepon. “Tolong, Bos. Kami habis dipukuli oleh tukang cilok itu, Bos. Mereka bisa beladiri,” lapor kang Tarnet mengadu sambil meringis kesakitan saat memegangi area sekitar wajahnya yang merah dan biru kehijauan. Alis Hans mengerut. “Apa maksudmu?” “Bos, mereka sangat kejam. Selain memukuli kami, mereka juga merebut ponsel dan jam tanganku,” jawab kang Tarnet. "Bukan itu! Aku menyuruh kalian mengawasinya, kenapa bisa dipukuli?" tanya Hans tidak masuk di akalnya jika seorang preman bisa dipukuli oleh seorang wanita. "Tadi kamu menyusup ke rumahnya untuk mencari resepnya, Bos. Tapi–" "Apa?!" Hans menyapu wajahnya, kini dia tahu kenapa dua preman ini dihajar. Rasanya ingin mengeluarkan kata-kata mutiara untuk dua preman itu. "Aku menyuruh kalian mengawasinya bukan... Ah!" Hans memilih

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 6

    "Kakak! Awas!" teriak Kendra sambil melemparkan piring. Julia berbalik dengan cepat lalu menahan tangan kang Tarnet menggunakan kaki. KRASH! Piring pecah saat menghantam kepala kang Tarnet. Junus menyerang dari belakang tapi Julia berhasil menangkap tangan Junus dan membanting ke arah kang Tarnet hingga bertabrakan. "Beraninya nyerang diam-diam!" Julia yang sudah sangat geram langsung mengambil loyang dan menghantamkan ke arah kepala kang Tarnet dan Junus berulangkali. PLAK! PLAK! PLAK! Suara nyaring bersahutan dengan teriakan kesakitan dari Junus dan kang Tarnet. Kendra mengambil golok dan linggis tanpa memperdulikan Julia yang masih menghajar dua preman itu. "Hiyat!" Julia lompat tinggi-tinggi lalu memberikan pukulan terakhir ke arah kang Tarnet. Mata kang Tarnet berputar dengan wajah kebiruan. "Huh, puas rasanya," kata Julia sambil menyeka kening. "Ampun... Jangan pukul lagi. Aku punya istri tiga dan 10 anak. Tidak ada yang tanggung hidup mereka," mohon Kang T

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 5

    “Itu ‘kan orangnya?” tanya preman gondrong pirang bernama kang Tarnet.Preman botak bernama Junus memperhatikan Julia yang mendorong pulang gerobak cilok.“Iya itu, Kang. Mirip dengan yang di foto,” balas Junus.Kang Tarnet menoleh dengan alis bertautan. “Dia atau bukan?” tanya kang Tarnet sekali lagi.“Iya, Kang. Mirip dengan yang di foto.” Junus mengulangi jawabannya yang kedua kali.“Kalau mirip berarti bisa jadi iya bisa jadi bukan. Dasar bodoh! Sini HP-mu.”Kang Tarnet merebut ponsel dari tangan Junus yang memasang wajah memelas salah tingkah. Setelah itu, ia mencocokkan foto tersebut dengan wanita penjual cilok. Dari pakaian, wajah, dan topi yang dikenakan sama semua. “Ini bukan mirip. Tapi memang dia yang jadi target kita. Begitu saja tidak becus! Ambil!” Kang Tarnet mengembalikan ponsel milik Junus dengan setengah memarahi.Junus hanya pasrah dimarahi sambil mengambil kembali ponsel miliknya.Mereka mengikuti cewek yang memakai pakaian serba panjang itu cukup lama. Beberapa

  • Dari Cilok Jadi Cinlok    Bab 4

    Julia menoleh ke belakang. “Buset, ngejar dia. Beneran mau nagih duit kemarin nih.” Ia menambah tenaga sehingga jaraknya dengan Hans semakin menjauh. Hans menghentikan langkah, melihat wanita Cilok itu berbelok di perempatan jalan. Ia tidak menyangka cewek cilok itu lebih sulit dikejar. “Ini cewek apa kuda? Lari seperti orang kesetanan saja,” ujar Hans ngos-ngosan. Ia buru-buru berbalik ke arah mobil. Julia sekali lagi memeriksa ke belakang, sudah tidak melihat cowok yang mengejarnya. Menghentikan langkahnya lalu duduk di trotoar jalan. “Buset tuh orang. Bikin capek orang saja,” ujar Julia sambil mengatur nafas di pinggir jalan yang ramai oleh kendaraan berlalu-lalang. Menggunakan topi hitamnya untuk mengipas-ngipas wajah yang terasa panas. Ia menoleh ke samping, matanya melotot melihat mobil yang kemarin menghampirinya. “Mampus,” pikir Julia tidak dapat berkata-kata. Segera berdiri dari posisi duduknya. Hans turun dari mobil dengan ekspresi kesal. “Kenapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status