로그인Sembilan bulan kemudian.Chloe duduk santai di kursi kayu taman samping rumah, membiarkan hangatnya sinar matahari pagi menerpa kulitnya. Di sampingnya, Arley duduk bertumpu pada satu lutut, telaten memijat bagian bawah punggung Chloe yang belakangan ini kerap terasa pegal dan tegang setelah kandungan Chloe semakin besar.Chloe mengusap perutnya yang sudah membuncit sempurna. Di kehidupan sebelumnya, dia bahkan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melihat buah hatinya terlahir ke dunia. Namun kini, jemari Chloe bisa merasakan dorongan kecil dari dalam perutnya. Ada keyakinan dan antusiasme luar biasa yang membuncah di dadanya untuk menyambut kelahiran bayi ini bersama Arley."Aku mau melahirkan secara normal," ujar Chloe pelan, memecah keheningan di antara mereka.Gerakan tangan Arley di pinggang Chloe mendadak terhenti. Dia menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Tidak. Kita pilih prosedur cesar saja.""Kenapa? Proses pemulihan melahirkan normal jauh lebih cepat, Arley." Chloe
Beberapa hari kemudian.Suasana di mansion keluarga Bradley pagi itu terasa begitu hangat dan damai. Di taman belakang yang asri, Nenek Ella duduk santai di gazebo sembari menikmati teh melati hangat. Di sampingnya, Arley dan Chloe duduk berdampingan, menikmati momen kebersamaan yang dulu sempat terasa begitu mahal akibat pusaran konflik yang tiada henti.Edo, kepala tim keamanan yang selalu setia, tampak berdiri siaga beberapa meter dari gazebo. Di sebelahnya, hadir pula Charlie yang selalu mengurus seluruh urusan logistik dan eksekutif juga pekerjaan Arley selama mengambil cuti.Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa yang anggun mendekat ke arah gazebo. Kayla melangkah masuk membawa sebuah map berkas operasional."Selamat pagi, Nenek Ella, Tuan Arley," sapa Kayla sopan, lalu menatap Chloe dengan senyum hangat. "Chloe, aku membawa laporan pemesanan ballroom untuk acara pekan depan. Maaf kalau aku mengganggu waktu istirahatmu.""Sama sekali tidak mengganggu, Kayla. Duduklah dulu,"
Ruang interogasi di kepolisian terasa begitu dingin dan pengap. Lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya putih yang agak redup, memantulkan bayangan dua pria yang dipisahkan oleh sebuah meja besi yang kokoh.Antoni Bradley duduk di kursi besi dengan kedua tangan terikat borgol. Kemeja mewahnya kini kotor dan kusut, sementara raut wajahnya yang biasa memancarkan keangkuhan telah sirna, berganti dengan sorot mata liar seorang yang tak lagi memiliki jalan keluar.Di hadapan Antoni, Arley duduk dengan sikap tubuh yang tegap dan tenang. Balutan setelan jas hitamnya yang rapi berbanding terbalik dengan penampilan Antoni. Arley menatap saudaranya itu dengan pandangan dingin, matanya menyorot penuh kemenangan atas jatuhnya Antoni karena permainannya sendiri."Seluruh bukti transaksi pencucian uang, manipulasi dana investor asing, hingga keterlibatanmu dalam konspirasi sabotase Mega Mall sudah disahkan oleh kejaksaan," ucap Arley dengan suara pelan tapi penuh penekanan. "Vonis pidana se
Rasa puas atas tertangkapnya Antoni musnah seketika dari wajah Arley. Suasana di ruang kerjanya yang baru saja tenang mendadak berubah menjadi mencekam. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arley meraih kunci mobilnya dan melangkah lebar meninggalkan ruangan."Charlie, siapkan tim hukum terbaik Bradley Group sekarang juga! Pastikan mereka langsung menuju hotel!" perintah Arley dengan suara berat penuh penekanan."Baik, Tuan!" jawab Charlie cekatan.Sepanjang perjalanan menuju hotel milik Chloe, Arley mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kekhawatiran membakar dadanya. Bayangan bahaya yang baru saja mengancam nyawa wanita yang paling dicintainya membuat jemarinya mencengkeram kemudi hingga memutih.Setibanya di hotel, garis polisi berwarna kuning sudah terpasang di depan area koridor menuju ruang kerja Chloe. Beberapa petugas kepolisian dan tim forensik tampak hilir mudik melakukan olah TKP. Kayla berdiri di luar koridor bersama Edo dan beberapa staf, menenangkan suasana yan
Cecilia berdiri di dekat pintu dengan rambut berantakan dan sorot mata yang liar. Dia baru saja membuka masker di wajahnya sehingga Chloe bisa melihat jelas siapa dirinya.Pakaian cleaning service yang dipakainya, adalah kamuflase agar dia tak terlihat oleh karyawan dan Kayla yang ada di luar ruang kerja Chloe.Cecilia melangkah pelan. Di tangan kanannya, dia menggenggam erat sebuah botol kaca kecil berisi cairan racun mematikan dan sebilah pisau lipat kecil di tangan kirinya untuk mengancam."Semua ini karena kamu, Chloe!" jerit Cecilia dengan suara serak yang mengerikan. "Kamu mengambil semua hal yang seharusnya milikku! Kamu menghancurkan hidupku!"Chloe menatap Chloe yang ada di hadapannya dengan raut wajah yang tetap tenang, meski kewaspadaannya berada di tingkat tertinggi. "Kamu yang menghancurkan hidupmu sendiri dengan keserakahan dan kedengkianmu, Cecilia.""Tutup mulutmu!" bentak Cecilia histeris. Dia melangkah maju dengan cepat, mengacungkan pisau lipat ke arah leher Chloe d
Siaran langsung konferensi pers yang dipimpin Arley dan Chloe masih menayangkan bukti-bukti kejahatan di layar televisi penthouse. Antoni berdiri mematung di tengah ruangan, menatap layar dengan raut wajah yang membeku. Sorot matanya yang semula dipenuhi ambisi kini berganti menjadi kalkulasi dingin seorang pria yang tahu kapan harus memotong kerugian.Pintu suite terbuka kasar. Cecilia berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah. Ponselnya terus berdering tanpa henti, menampilkan panggilan dari nomor-nomor tak dikenal dan pihak kepolisian."Antoni! Kita harus pergi sekarang!" Cecilia panik, jemarinya gemetar saat mencengkeram lengan jas Antoni. "Arley menyerahkan semua bukti transaksi rekening itu! Polisi sudah mengeluarkan surat penangkapan atas namaku! Antoni, bantu aku ... kita harus keluar dari kota ini!"Antoni perlahan menurunkan pandangannya, menatap jemari Cecilia yang menempel di lengannya dengan tatapan menolak. Tanpa sepatah kata pun, Antoni mengibaskan
Tatapan Cecilia dan Kayla tertuju ke arah langkah kaki yang menggema di ruangan ini.Cecilia tersenyum melihat kedatangan Chloe. Dia melirik sinis pada Kayla.“Chloe, untung saja kamu datang. Lihat, Kayla berani memukulku.” Cecilia memiringkan wajahnya, memperlihatkan merah bekas tamparan yang Kayl
Chloe menatap bingung.“Maksudnya, Nek? Menolak apa?” Chloe benar-benar tidak tahu apa yang Nenek Ella maksud.Nenek Ella menatap serius pada Chloe, sebelum akhirnya dia tertawa kecil.“Sudah, sudah, kenapa mukamu serius sekali?” Nenek Ella mengambil daging lalu meletakkan di atas piring Chloe. “Ma
Setelah dari rumah sakit.Chloe dan Kayla kembali ke hotel.Baru saja menginjakkan kaki di lobby, Chloe sudah harus melihat dua manusia yang sangat tidak ingin dilihatnya.Ya, siapa lagi jika bukan Harry dan Cecilia.Tatapan Chloe seperti muak. Tapi dia tetap memasang wajah tenang.“Chloe.”Langkah
Mata hitam yang tajam, rahang dengan garis yang tegas, seolah menyedot Chloe ke dalam tatapan pria yang menopang tubuhnya.Sampai sebuah dehaman menyadarkan Chloe. Kedua kaki Chloe buru-buru berpijak dengan benar. Tangan besar pria di depannya ini, akhirnya terlepas dari pinggang Chloe.“Maaf.” Ha







