MasukBrakk....
Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan bergegas menghampiri suamianya. "Papa sudah pulang? katanya lembur?" "Mana Senja? Benar dia sudah sadar?" tanya Himawan, mengabaikan pertanyaan istrinya. "Iya benar. Senja sudah sadar, Pa." Wulandari menjawab dengan lembut. Senyum tipis bahagia menghiasi wajahnya. Himawan menutup mata sejenak, menghela nafas panjang seolah beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Syukurlah, akhirnya dia sadar juga," gumamnya. "Tadi security lapor, katanya Senja datang ke pabrik." Wulandari mengangguk. "Sekarang sedang istirahat di kamarnya?" Mendadak wajah Himawan berubah. "Kenapa sudah pulang? Apa kata dokter?" Wulandari menghela nafas berat. "Sebenarnya masoh harus dirawat di dua sampai tiga hari. Tapi putrimu itu memaksa pulang. Dia kabur dari rumah sakit dan nekat datang ke pabrik mencarimu," Himawan kaget "Apa?" Wulandari memegang lengan suaminya. "Sejak bangun dari koma, Senja jadi sedikit aneh. Ucapan ngelantur dan gak masuk akal," katanya pelan. "Ngelantur bagaimana, maksudmu?" Himawan mengerutkan dahinya. "Bicara gak masuk akal. Tapi kata dokter mungkin itu efek dari koma yang ia alami. Senja seolah melakukan perjalanan waktu." "Apa itu akan menganggu mentalnya? "Kata dokter, Tidak." Wulandari menggeleng. "Tapi Papa harus sabar, kalau dia bicara macam-macam tentang perusahaan atau hal yang tidak masuk akal, jangan marah, dia hanya terbawa mimpi," Himawan menghela nafas panjang. "Ini semua salahku, tidak bisa menjaganya dengan baik," "Mama juga salah, karena sakit-sakitan jadi kurang perhatian." Tanpa dua orang itu sadari, di ujung tangga Senja berdiri mematung. Tatapannya sendu dan penuh kerinduan yang menyesakkan. Lebih dari itu, rasa bersalah kembali menyeruak dalam dadanya, teringat betapa egois dirinya. Hanya demi cinta mengabaikan orang tuanya. "Hari ini Senja sudah sadar koma dan kerja sama dengan Bramantyo berjalan lancar," ujar Himawan senang. "Besok suruh orang antar sumbangan ke panti asuhan." Berbeda dengan suaminya, Wulandari nampak tak senang. Hati-hati doa bicara, "Pa, masalah perjodohan apa tidak bisa dibicarakan lagi? Sepertinya Bulan tidak mau dijodohkan," "Ya kamu bujuk lah..." ujar Himawan tanpa beban. Seolah itu hanya perkara kecil yang tak perlu diambil pusing. "Bulan masih muda, nasihati dia. Bujuk supaya dia setuju. Anaknya Bramantyo sudah setuju. Setelah melihat foto Bulan langsung suka." "Tapi--" "Ini demi kebaikan Bulan," tegas Himawan. "Dengan menikahi putra sulung Bramantyo, hidupnya akan terjamin." Wulandari tak lagi membantah. Himawan pria yang keras. Tidak suka dibantah. Dan sikap itu menurun pada kedua putri mereka. Di ujung tangga, Senja mendesah berat. Merubah keputusan papanya sangat sulit. Satu-satunya cara adalah mencegahnya kakaknua kabur. Ia menegakkan tubuhnya, lalu memasang senyum termanisnya. "Papa," panggilnya melangkah menuruni tangga. Sampai di lantai bawah, Senja berlari dan langsung, memeluk papanya erat. Meluapkan rasa rindu yang sudah menumpuk di dadanya. "Aku kangen Papa," ucap Senja dengan suara tercekat. Himawan membeku. Putrinya bungsunya yang pemarah dan susah diatur tiba-tiba bersikap manis. Mengucapkan kalimat yang hampir tak pernah ia dengar. Ia melirik Wulandari, namun istrinya hanya mengangguk kecil. Himawan berdehem, "Jangan kira dengan bilang rindu, Papa gak kasih kamu hukuman?" katanya melepas pelukan Senja. "Kamu sudah melanggar larangan Papa. Pergi dari rumah hanya demi menonton konser musik yang gak ada faedahnya." Senja menatap papanya sendu. "Maafin aku, Pa. Aku salah. Janji tidak akan mengulanginya lagi," Lagi-lagi Himawan dibuat terkejut. Putrinya itu berbeda. Biasanya ketika ditegur atau dimarahi Senja akan membantah dan akhirnya mogok bicara. Tapi kali ini reaksinya tidak seperti sebelumnya. Mungkin karena takut sikap Senja berubah, pikir Himawan. Himawan berdehem. "Papa maafin. Tapi tetap dihukum. Uang saku dipotong, berangkat kuliah diantar sopir." Senja mengangguk. "Aku mengerti, Pa." Himawan tersenyum lebar, meski masih ragu taoi di dalam hatinya, pria itu berharap putrinya benar-benar berubah. "Ya sudah, Papa balik dulu ke pabrik dulu. Maaih banyak pekerjaan yang harus Papa urus," ujar Himawan. "Nanti Papa pulang malam, kalian makan malam duluan saja." Setiap hari Himawan lembur. Ambisinya menjadi penguasa sukses membuatnya tak punya waktu untuk keluarga. Sekedar berkumpul dan berbincang dengan anak-anaknya. Sebagai seorang ayah ia tidak lagi memiliki kedekatan emosional dengan kedua putrinya. Dan hari ini Senja mengerti, apa yang membuat keluarganya hancur? Selain hasutan dari luar, sifat egois dan komunikasi yang buruk, adalah hal utama yang harus ia perbaiki. Dan kali ini Tuhan memberinya kesempatan kedua, apapau caranya dia tak boleh gagal atau hidup akan berakhir dengan bunuh diri lagi.Plak!Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kantin.Beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke arah Senja dan Ardan yang kini berdiri saling berhadapan. Suasana mendadak sunyi. Namun hanya sesaat.Detik berikutnya, bisik-bisik mulai bergulir seperti gelombang. Dari yang terkejut, mencibir dan menertawakan Ardan.Ardan sendiri seperti membatu. Napasnya tertahan di dada, matanya membelalak penuh keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka Senja berani menamparnya."Apa yang kamu lakukan?!" sentaknya menatap Senja dengan mata menyala penuh amarah. Namun Senja justru menarik satu sudut bibirnya.Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.Ada kepuasan kecil di matanya. "Kenapa kamu menamparku?!" geram Ardan.Tangannya mencengkeram lengan Senja dengan kasar.Cengkeraman itu begitu kuat sampai membuat Senja meringis. Namun Ardan tidak peduli.Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa malunya. Harga dirinya runtuh dalam sekejap.Senja menarik tangannya d
Pagi ini Senja akhirnya memutuskan kembali kuliah. Sudah hampir tiga minggu ia tidak muncul di kampus sejak kecelakaan itu. Tubuhnya memang sudah cukup pulih, namun luka di kepalanya masih belum benar-benar sembuh. Senja sedang duduk di depan meja rias ketika pintu kamar terbuka perlahan. Wulandari melangkah masuk. Tatapan seorang ibu yang penuh kekhawatiran langsung tertuju pada kepala Senja yang masih diperban. "Apa tidak mulai minggu depan saja kuliahnya?" ujar Wulandari lembut sambil duduk di ujung ranjang. "Luka di kepalamu belum sembuh, Nak." Senja tersenyum.Dari pantulan cermin ia menatap wajah mamanya dengan mata yang tiba-tiba terasa menghangat. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar nada khawatir itu. Di kehidupan sebelumnya, setelah keluarganya hancur, suara cerewet penuh perhatian ini hilang dari hidupnya. Senja menjalani delapan tahun hidup tanopa adanya dukungan dari sang mama. Penyakit jantung merenggut nyawanya. "Kok malah diam?" Wulandari kembali bertanya, bingu
Senja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langkahnya pelan saat menuruni tangga. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat Bulan dan Arini sudah duduk di sana. Keduanya tampak berbincang santai, sesekali tertawa kecil terlihat sangat akrab. “Senja, cepat duduk!” panggil Wulandari yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring udang. “Mama masakin udang saus mentega kesukaan kalian.” Aroma gurih langsung memenuhi ruangan ketika ia meletakkan hidangan itu di tengah meja. Wulandari baru saja hendak mengambil piring Bulan untuk diisi nasi, namun Arini lebih dulu berdiri. “Mbak duduk saja,” katanya lembut. “Biar aku yang ambilkan nasinya.” Senyumnya ramah, tangannya cekatan mengambil sendok nasi. Senja memperhatikan dengan tatapan dat
Brakk.... Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan bergegas menghampiri suamianya. "Papa sudah pulang? katanya lembur?" "Mana Senja? Benar dia sudah sadar?" tanya Himawan, mengabaikan pertanyaan istrinya. "Iya benar. Senja sudah sadar, Pa." Wulandari menjawab dengan lembut. Senyum tipis bahagia menghiasi wajahnya. Himawan menutup mata sejenak, menghela nafas panjang seolah beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Syukurlah, akhirnya dia sadar juga," gumamnya. "Tadi security lapor, katanya Senja datang ke pabrik." Wulandari mengangguk. "Sekarang sedang istirahat di kamarnya?" Mendadak wajah Himawan berubah. "Kenapa sudah pulang? Apa kata dokter?" Wulandari menghela nafas berat. "Sebenarnya masoh harus dirawat di dua sampai t
"Tidak perlu berpura-pura lagi! Tante, kan, yang memberi tahu Mbak Bulan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?" Tatapan Senja tajam dan dingin, menusuk tepat ke arah Arini. Sementara wanita itu tampak terperanjat, wajahnya pucat seketika, seolah tak menyangka tuduhan itu akan meluncur dari bibir keponakannya sendiri. “Ya Tuhan… Kenapa kamu menuduh Tante sejahat itu?” sahut Arini dengan suara bergetar. “Untuk apa Tante mengadu domba kalian? Kamu dan Bulan sudah Tante anggap seperti anak sendiri.” Nada memelas itu terdengar begitu meyakinkan. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, seolah air mata siap tumpah detik itu juga. Senja berdecak pelan. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi oleh wajah polos itu. Di kehidupan sebelumnya, ia dan Bulan menelan mentah-mentah setiap nasihat Arini. Mereka percaya tanpa ragu, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kelembutan tutur katanya, tersimpan niat yang tak pernah benar-benar tulus. "Senja, jangan bicara seperti itu pada Tant
"Apa kamu pikir Mama ini anak SD yang akan percaya dengan cerita karanganmu itu?" murka Wulandari. Wajah teduh itu sudah berubah merah padam. "Ma, aku serius. Ak--""Sudah cukup!!" bentak Wulandari. “Mama sudah benar-benar capek sama kamu! Gak bisa apa kamu nggak bikin masalah?" Nada suara Wulandari meninggi. Kesabaran yang selama ini menjadi ciri khasnya runtuh begitu saja. Wanita lemah lembut itu sudah benar-benar lelah dengan semua tingkah putri bungsunya itu. Senja mendesah berat, mendadak jantungnya berdenyut nyeri melihat tatapan kecewa sang mama. Secapek itukah sang mama dengan semua sikapnya? "Kamu juga Naren, berapa kali Tante bilang, jangan turuti permintaan Senja!""Maaf, Tante." Narendra menunduk. "Ma... aku mohon sekali ini saja," Senja tak putus asa."Mama bilang cukup! Kamu jadi suka membantah sejak mengenal si Ardan itu. Suka bohong dan membangkang!"Di mata Wulandari dan Himawan, Senja berubah sejak mengenal Ardan. Jadi sering membangkang dan sulit diatur. Ar







