LOGINSenja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langkahnya pelan saat menuruni tangga. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat Bulan dan Arini sudah duduk di sana. Keduanya tampak berbincang santai, sesekali tertawa kecil terlihat sangat akrab. “Senja, cepat duduk!” panggil Wulandari yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring udang. “Mama masakin udang saus mentega kesukaan kalian.” Aroma gurih langsung memenuhi ruangan ketika ia meletakkan hidangan itu di tengah meja. Wulandari baru saja hendak mengambil piring Bulan untuk diisi nasi, namun Arini lebih dulu berdiri. “Mbak duduk saja,” katanya lembut. “Biar aku yang ambilkan nasinya.” Senyumnya ramah, tangannya cekatan mengambil sendok nasi. Senja memperhatikan dengan tatapan datar saat Arini mengambilkan nasi untuk Bulan, lalu untuk Wulandari. Ketika tangan Arini bergerak menuju piringnya, “Aku mau diambilkan Mama.” Suara Senja datar. Tangan Arini meenggantung di udara. “Kenapa?” tanyanya sambil tersenyum tipis. “Biasanya juga Tante yang ambilkan," katanya namin tangannya tetap bergerak hendak menyentuh piring Senja. “Mulai sekarang aku mau Mama yang ambilkan.” Kali ini nada Senja lebih tegas. Jarinya menahan piringnya agar tidak diambil. Arini terdiam sejenak. Senyum di wajahnya tetap terpasang, tapi sorot matanya berubah. Wulandari justru tersenyum lebar. Hatinya hangat. Sudah lama sekali kedua putrinya tidak meminta hal kecil seperti ini darinya. Sejak penyakit jantungnya sering kambuh tiga tahun lalu, Senja dan Bulan selalu menolak ketika ia ingin melakukan sesuatu untuk mereka. “Gak usah, Ma. Mama nanti capek.” Kalimat itu yang selalu ia dengar. Lama-kelamaan, kedua putrinya justru lebih dekat dengan Arini, adiknya. “Tidak apa-apa, Rin. Biar aku saja,” kata Wulandari lembut. Ia mengambil piring Senja dan mengisinya dengan nasi serta udang. “Cukup?” “Cukup, Ma. Terima kasih.” Senja tersenyum. Bulan langsung memutar matanya, ekspresinya muak. “Mulai dramanya,” cibirnya pelan. Arini kembali duduk di kursinya. Senyum masih menghiasi wajahnya, namun jemarinya menggenggam sendok sedikit lebih erat dari sebelumnya. Ia berdehem pelan. Masih belum putus asa, ingin mengambil hatiku Senja. “Senja, nanti sebelum tidur Tante bantu ganti perban di kepalamu, ya?” “Mama saja,” jawab Senja singkat tanpa menoleh. Arini mengangguk pelan. Wajahnya berubah sedikit muram. “Tante hanya ingin membantu. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Tante hanya kasihan sama Mamamu, dari tadi sibuk di dapur. Takut kelelahan.” Ucapan itu terdengar penuh perhatian. Namun bagi Senja, kalimat itu seperti pisau halus yang sengaja ditusukkan. Seolah Mamanya sangat lemah. Ia mendengus pelan. Hari ini ia benar-benar baru menyadari, adiknya mama itu sangat manipulatif. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu terasa memiliki maksud tersembunyi. “Mama capek?” Senja menatap mamanya. Wulandari menggeleng cepat. "Tidak. Mama tidak capek. Nanti Mama saja yang bantu ganti perbannya.” Senyumnya bahkan lebih lebar dari sebelumnya. “Tidak usah diambil hati, Te,” sela Bulan sambil menyeringai. “Dia lagi cari muka sama Mama. Habis bikin dosa.” Arini segera menyentuh lengan Bulan dengan lembut. “Jangan begitu sama adikmu. Dia baru keluar dari rumah sakit,” tegurnya pelan. “Tante tidak marah kok.” Ia lalu menoleh pada Senja dengan senyum samar. "Tante tidak marah kok. Mungkin luka di kepalanya mempengaruhi psikisnya, jadi mudah marah." Bulan langsung menyambar. “Memang kenyataannya begitu, Te! Dia itu kena Karma, kecelakaan gara-gara kabur sama anak janda penjual pecel!” Senja hanya menarik napas panjang. Ia tidak kabur. Ia hanya pergi menonton konser. Namun menjelaskan pada Bulan tidak ada gunanya. “Kenapa diam? Nggak bisa bantah? ” tantang Bulan sambil mengangkat dagu. “Gara-gara kamu Papa harus keluar uang banyak buat biaya rumah sakitmu. Ngeropotin!” “Bulan!” tegur Wulandari keras. “Jangan bicara seperti itu pada adikmu!” “Jangan salahkan Bulan, Mbak,” sahut Arini dengan suara lembut. “Dia hanya kasihan melihat Mas Himawan bekerja keras setiap hari. Lembur sampai malam mengumpulkan uang demi keluarga… tapi habis untuk biaya rumah sakit. Dan sekarang, demi kerja sama…” Kalimatnya menggantung. Namun semua orang di meja itu mengerti arahnya kemana. “Demi kerja sama aku yang dikorbankan!” Bulan langsung menyambar tajam. “Dia yang banyak habisin uang, kenapa bukan dia saja yang dijodohkan?” “Bulan!” Wulandari benar-benar naik pitam. “Tidak pantas kamu bicara seperti itu!” Ia menatap putri sulungnya tajam. “Kalau soal perjodohan, Senja baru dua puluh tahun! Dia juga belum lulus kuliah. Sementara kamu sudah waktunya menikah. Papamu hanya ingin yang terbaik untukmu!” “Alasan!” desis Bulan. Ia berdiri kasar dari kursinya lalu pergi begitu saja. Senja meletakkan sendok di tangannya. Suasana meja makan berubah tegang. “Bulan, kembali! Mama belum selesai bicara!" panggil Wulandari. “Mbak Wulan lanjut makan saja,” kata Arini cepat sambil berdiri. “Biar aku yang bicara dengan Bulan.” “Tante duduk!” ucap Senja membuat Arini terdiam. “Mama saja yang nyusul," Wulandari tampak ragu sejenak, lalu akhirnya bangkit dan menyusul Bulan. “Tante pulang saja,” ujar Senja datar. "Apa?" tanya Arini, dahinya berkerut. "Kamu bilang apa?" “Di rumah ini sudah ada Mama. Tante urus saja rumah Tante sendiri.” “Kamu mengusirku?” Arini kesal, rahangnya mengeras. Namun hanya sebentar. Kembali ia memasang senyum lembut. “Sebenarnya ada apa? Sejak kemarin kamu terlihat kesal pada Tante. Kalau Tante ada salah… Tante minta maaf, ya." "Bibi!" Senja mengabaikan ucapan Arini dan memanggil artnya. “Iya, Non,” jawab bibi. “Antar Tante Arini keluar. Suruh sopir mengantarnya pulang.” Wajah Arini langsung memerah. Tangannya mengepal kuat. Lalu, tanpa berkata apa-apa ia melangkah pergi. Senja tersenyum tipis. "Malai sekarang, aku akan menjaga keluarga kita," gumamnya lirih. Kali ini ia tidak akan memberi kesempatan siapa pun mengadu domba keluarganya lagi.Plak!Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kantin.Beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke arah Senja dan Ardan yang kini berdiri saling berhadapan. Suasana mendadak sunyi. Namun hanya sesaat.Detik berikutnya, bisik-bisik mulai bergulir seperti gelombang. Dari yang terkejut, mencibir dan menertawakan Ardan.Ardan sendiri seperti membatu. Napasnya tertahan di dada, matanya membelalak penuh keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka Senja berani menamparnya."Apa yang kamu lakukan?!" sentaknya menatap Senja dengan mata menyala penuh amarah. Namun Senja justru menarik satu sudut bibirnya.Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.Ada kepuasan kecil di matanya. "Kenapa kamu menamparku?!" geram Ardan.Tangannya mencengkeram lengan Senja dengan kasar.Cengkeraman itu begitu kuat sampai membuat Senja meringis. Namun Ardan tidak peduli.Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa malunya. Harga dirinya runtuh dalam sekejap.Senja menarik tangannya d
Pagi ini Senja akhirnya memutuskan kembali kuliah. Sudah hampir tiga minggu ia tidak muncul di kampus sejak kecelakaan itu. Tubuhnya memang sudah cukup pulih, namun luka di kepalanya masih belum benar-benar sembuh. Senja sedang duduk di depan meja rias ketika pintu kamar terbuka perlahan. Wulandari melangkah masuk. Tatapan seorang ibu yang penuh kekhawatiran langsung tertuju pada kepala Senja yang masih diperban. "Apa tidak mulai minggu depan saja kuliahnya?" ujar Wulandari lembut sambil duduk di ujung ranjang. "Luka di kepalamu belum sembuh, Nak." Senja tersenyum.Dari pantulan cermin ia menatap wajah mamanya dengan mata yang tiba-tiba terasa menghangat. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar nada khawatir itu. Di kehidupan sebelumnya, setelah keluarganya hancur, suara cerewet penuh perhatian ini hilang dari hidupnya. Senja menjalani delapan tahun hidup tanopa adanya dukungan dari sang mama. Penyakit jantung merenggut nyawanya. "Kok malah diam?" Wulandari kembali bertanya, bingu
Senja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langkahnya pelan saat menuruni tangga. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat Bulan dan Arini sudah duduk di sana. Keduanya tampak berbincang santai, sesekali tertawa kecil terlihat sangat akrab. “Senja, cepat duduk!” panggil Wulandari yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring udang. “Mama masakin udang saus mentega kesukaan kalian.” Aroma gurih langsung memenuhi ruangan ketika ia meletakkan hidangan itu di tengah meja. Wulandari baru saja hendak mengambil piring Bulan untuk diisi nasi, namun Arini lebih dulu berdiri. “Mbak duduk saja,” katanya lembut. “Biar aku yang ambilkan nasinya.” Senyumnya ramah, tangannya cekatan mengambil sendok nasi. Senja memperhatikan dengan tatapan dat
Brakk.... Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan bergegas menghampiri suamianya. "Papa sudah pulang? katanya lembur?" "Mana Senja? Benar dia sudah sadar?" tanya Himawan, mengabaikan pertanyaan istrinya. "Iya benar. Senja sudah sadar, Pa." Wulandari menjawab dengan lembut. Senyum tipis bahagia menghiasi wajahnya. Himawan menutup mata sejenak, menghela nafas panjang seolah beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Syukurlah, akhirnya dia sadar juga," gumamnya. "Tadi security lapor, katanya Senja datang ke pabrik." Wulandari mengangguk. "Sekarang sedang istirahat di kamarnya?" Mendadak wajah Himawan berubah. "Kenapa sudah pulang? Apa kata dokter?" Wulandari menghela nafas berat. "Sebenarnya masoh harus dirawat di dua sampai t
"Tidak perlu berpura-pura lagi! Tante, kan, yang memberi tahu Mbak Bulan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?" Tatapan Senja tajam dan dingin, menusuk tepat ke arah Arini. Sementara wanita itu tampak terperanjat, wajahnya pucat seketika, seolah tak menyangka tuduhan itu akan meluncur dari bibir keponakannya sendiri. “Ya Tuhan… Kenapa kamu menuduh Tante sejahat itu?” sahut Arini dengan suara bergetar. “Untuk apa Tante mengadu domba kalian? Kamu dan Bulan sudah Tante anggap seperti anak sendiri.” Nada memelas itu terdengar begitu meyakinkan. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, seolah air mata siap tumpah detik itu juga. Senja berdecak pelan. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi oleh wajah polos itu. Di kehidupan sebelumnya, ia dan Bulan menelan mentah-mentah setiap nasihat Arini. Mereka percaya tanpa ragu, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kelembutan tutur katanya, tersimpan niat yang tak pernah benar-benar tulus. "Senja, jangan bicara seperti itu pada Tant
"Apa kamu pikir Mama ini anak SD yang akan percaya dengan cerita karanganmu itu?" murka Wulandari. Wajah teduh itu sudah berubah merah padam. "Ma, aku serius. Ak--""Sudah cukup!!" bentak Wulandari. “Mama sudah benar-benar capek sama kamu! Gak bisa apa kamu nggak bikin masalah?" Nada suara Wulandari meninggi. Kesabaran yang selama ini menjadi ciri khasnya runtuh begitu saja. Wanita lemah lembut itu sudah benar-benar lelah dengan semua tingkah putri bungsunya itu. Senja mendesah berat, mendadak jantungnya berdenyut nyeri melihat tatapan kecewa sang mama. Secapek itukah sang mama dengan semua sikapnya? "Kamu juga Naren, berapa kali Tante bilang, jangan turuti permintaan Senja!""Maaf, Tante." Narendra menunduk. "Ma... aku mohon sekali ini saja," Senja tak putus asa."Mama bilang cukup! Kamu jadi suka membantah sejak mengenal si Ardan itu. Suka bohong dan membangkang!"Di mata Wulandari dan Himawan, Senja berubah sejak mengenal Ardan. Jadi sering membangkang dan sulit diatur. Ar







