Share

Wanita beracun.

Author: iva dinata
last update Last Updated: 2026-02-23 11:02:22

"Tidak perlu berpura-pura lagi! Tante, kan, yang memberi tahu Mbak Bulan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?"

Tatapan Senja tajam dan dingin, menusuk tepat ke arah Arini. Sementara wanita itu tampak terperanjat, wajahnya pucat seketika, seolah tak menyangka tuduhan itu akan meluncur dari bibir keponakannya sendiri.

“Ya Tuhan… Kenapa kamu menuduh Tante sejahat itu?” sahut Arini dengan suara bergetar. “Untuk apa Tante mengadu domba kalian? Kamu dan Bulan sudah Tante anggap seperti anak sendiri.”

Nada memelas itu terdengar begitu meyakinkan. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, seolah air mata siap tumpah detik itu juga.

Senja berdecak pelan. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi oleh wajah polos itu.

Di kehidupan sebelumnya, ia dan Bulan menelan mentah-mentah setiap nasihat Arini. Mereka percaya tanpa ragu, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kelembutan tutur katanya, tersimpan niat yang tak pernah benar-benar tulus.

"Senja, jangan bicara seperti itu pada Tante!" tegur Wulandari dengan nada tak suka.

"Ma, Tante Arini----"

"Senja tidak salah, Mbak…" Arini memotong cepat, suaranya semakin lirih. “Memang aku yang memberi tahu Bulan. Tapi aku tidak punya niat buruk. Aku hanya ingin menasihatinya supaya menuruti keinginan Mas Himawan. Tidak tahunya Bulan malah salah paham dan merasa dikorbankan."

Dengan wajah penuh penyesalan, Arini meraih lengan kakaknya. "Maafkan aku ya, Mbak… Aku lancang."

Senja mendengus kasar, menahan amarah yang berputar liar di dadanya. Muak. Ia benar-benar muak dengan akting murahan Tentenya itu. Siapa sangka, di balik wajah kalem dan tutur lembut itu, tersembunyi seekor serigala berbulu domba?

“Mama jangan percaya. Tante Arini memang sengaja membuat Mbak Bulan menolak perjodohan. Dia punya niat buruk pada keluarga kita,” ujar Senja tegas.

“Ya Allah… Senja…” Arini mulai terisak. “Apa salah Tante sampai kamu bicara seperti ini? Apa kamu marah karena Narendra? Karena dia ceroboh memboncengmu sampai kalian kecelakaan? Tante sudah menegurnya. Selama kamu koma, dia Tante kurung di kamar. Kalau kamu belum puas, Tante akan minta Om-mu memukulnya sampai kapok.”

Seperti biasa, Arini akan mencari kambing hitam. Kali nama putra bungsunya dia bawa. Tahu betul, Senja cukup dekat dengan Narendra.

“Tante jangan libatkan Narendra. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini,” sahut Senja, semakin geram.

“Lalu kenapa kamu marah pada Tante? Sampai tega menuduh Tante punya niat buruk?”

“Aku tidak menuduh. Itu kenyataan. Tan—”

“Senja, sudah cukup!”

Wulandari memekik, suaranya menggema di ruang keluarga. Wajahnya pucat menahan sesak di dadanya. Dan kini bertambah pusing karena perdebatan yang tak berkesudahan.

“Ma, Tante Arini tidak sebaik yang Mama kira,” Senja masih bersikeras.

“Mama bilang cukup! Jangan bicara sembarangan. Arini itu adik kandung Mama. Tidak mungkin dia berniat jahat.”

Nada Wulandari tegas, tak memberi kesempatan untuk Senja membantah lagi.

“Bik, tolong antar Senja istirahat ke kamarnya. Dia tidak boleh keluar tanpa izin saya,” perintahnya pada asisten rumah tangga mereka.

Meski tak terima, Senja memilih menurut. Tak ingin membuat mamanya ssmakin maeah dan berakibat pada jantungnya. Dengan langkah berat ia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.

“Maafkan Senja ya, Rin. Sejak sadar dari koma, sikapnya jadi aneh. Ucapannya juga seperti ngelantur.”

Suara ibunya masih terdengar jelas hingga ke anak tangga terakhir.

Senja menggeram pelan, rahangnya mengeras. Ia menoleh sekilas, menatap Arini dengan sorot penuh kebencian sebelum akhirnya dipaksa melanjutkan langkah.

“Non Senja, jalannya hati-hati,” ujar Bi Sri, menggenggam lengannya agar tidak terjatuh karena terus menoleh ke belakang.

"Aku kesal pada Tante Arini. Setiap haei kesini, memang di rumahnya gak ada kerjaan? Mama juga, kenapa selalu percaya ucapannya?"

“Non Senja harus sabar. Kalau ingin membongkar niat buruk Bu Arini, harus tenang. Jangan terbawa emosi,” bisik Bi Sri pelan setelah mereka sampai di kamar.

Senja berhenti. “Apa, Bik?”

“Maaf, Non. Tadi Bibi tidak sengaja mendengar,” jawab wanita yang telah puluhan tahun bekerja di rumah itu.

“Bibi juga merasa, kan… kalau Tante Arini punya niat jahat?” Senja bersemangat. Ternyata tak hanya dirinya, ada orang lain yang juga menyadari niat buruk Arini.

“Saya tidak yakin, Non. Tapi tadi Bibi sempat mendengar Bu Arini berbicara dengan Non Bulan.”

“Dia menghasut Mbak Bulan untuk menolak perjodohan, kan?” tebak Senja.

Bi Sri terdiam. Namun sorot matanya cukup untuk menjawab.

“Bibi tidak perlu menjawab. Aku sudah tahu.”

Ingatan dari kehidupan sebelumnya menyeruak jelas.

Arini-lah yang membantu Bulan kabur. Ia pula yang membisikkan racun di telinganya agar menolak menggantikan sang kakak. Perjodohan pun akhirnya batal. Adityawarman murka dan kerja sama diputus sepihak.

Tak sampai setahun, pabrik milik ayahnya bangkrut.

Dan hari ketika ayahnya mengalami kecelakaan… Arini tanpa ragu menyalahkan ibunya. Mengatakan semua aib itu terjadi karena Wulandari tak becus mendidik anak-anaknya. Rasa bersalah membuat mamanya Senja tertekan, hingga serangan jantung merenggut nyawanya.

Di pemakaman kedua orang tuanya, Senja masih ingat dengan jelas bisikan Arini yang menyebarkan gosip. Mengatakan papanya meninggal karena bunuh diri, frustasi pabriknya bangkrut dan semua itu karena kesalahan mamanya.

Padahal kebenarannya, semuanya ulah Arini dan suaminya.

Iri dan dengki telah membutakan hati wanita itu, sampai tega menghancurkan saudara kandungnya sendiri.

“Demi Tuhan… aku akan membalasnya,” gumam Senja, tangannya mengepal kuat.

Semua air mata mamanya akan ia balas sepuluh kali lipat.

"Bik, tolong bantu saya." Senja meraih tangan Bi Sri erat.

"Memangnya saya bisa membantu apa, Non?" tanya Bi Sri bingung. Ia hanya seorang pembantu. Apa daya yang ia punya?

"Tentu saja bisa," jawab Senja, tersenyum tipis. Senyum yang nyaris tak terlihat, namun menyimpan tekad yang membara. “Kali ini aku tidak boleh gagal. Perjodohan Mbak Bulan tidak boleh batal.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Permintaan Ardan.

    Plak!Suara tamparan itu menggema keras di seluruh kantin.Beberapa mahasiswa yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke arah Senja dan Ardan yang kini berdiri saling berhadapan. Suasana mendadak sunyi. Namun hanya sesaat.Detik berikutnya, bisik-bisik mulai bergulir seperti gelombang. Dari yang terkejut, mencibir dan menertawakan Ardan.Ardan sendiri seperti membatu. Napasnya tertahan di dada, matanya membelalak penuh keterkejutan. Sama sekali tidak menyangka Senja berani menamparnya."Apa yang kamu lakukan?!" sentaknya menatap Senja dengan mata menyala penuh amarah. Namun Senja justru menarik satu sudut bibirnya.Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.Ada kepuasan kecil di matanya. "Kenapa kamu menamparku?!" geram Ardan.Tangannya mencengkeram lengan Senja dengan kasar.Cengkeraman itu begitu kuat sampai membuat Senja meringis. Namun Ardan tidak peduli.Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa malunya. Harga dirinya runtuh dalam sekejap.Senja menarik tangannya d

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Kembali ke kampus.

    Pagi ini Senja akhirnya memutuskan kembali kuliah. Sudah hampir tiga minggu ia tidak muncul di kampus sejak kecelakaan itu. Tubuhnya memang sudah cukup pulih, namun luka di kepalanya masih belum benar-benar sembuh. Senja sedang duduk di depan meja rias ketika pintu kamar terbuka perlahan. Wulandari melangkah masuk. Tatapan seorang ibu yang penuh kekhawatiran langsung tertuju pada kepala Senja yang masih diperban. "Apa tidak mulai minggu depan saja kuliahnya?" ujar Wulandari lembut sambil duduk di ujung ranjang. "Luka di kepalamu belum sembuh, Nak." Senja tersenyum.Dari pantulan cermin ia menatap wajah mamanya dengan mata yang tiba-tiba terasa menghangat. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar nada khawatir itu. Di kehidupan sebelumnya, setelah keluarganya hancur, suara cerewet penuh perhatian ini hilang dari hidupnya. Senja menjalani delapan tahun hidup tanopa adanya dukungan dari sang mama. Penyakit jantung merenggut nyawanya. "Kok malah diam?" Wulandari kembali bertanya, bingu

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Menjaga keluarga.

    Senja sedang tenggelam dalam tumpukan buku kuliahnya ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Tok… tok… “Non, dipanggil Nyonya. Makan malam sudah siap.” Suara bibi terdengar dari balik pintu. “Iya, Bi,” jawab Senja singkat. Ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan keluar kamar. Langkahnya pelan saat menuruni tangga. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat Bulan dan Arini sudah duduk di sana. Keduanya tampak berbincang santai, sesekali tertawa kecil terlihat sangat akrab. “Senja, cepat duduk!” panggil Wulandari yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring udang. “Mama masakin udang saus mentega kesukaan kalian.” Aroma gurih langsung memenuhi ruangan ketika ia meletakkan hidangan itu di tengah meja. Wulandari baru saja hendak mengambil piring Bulan untuk diisi nasi, namun Arini lebih dulu berdiri. “Mbak duduk saja,” katanya lembut. “Biar aku yang ambilkan nasinya.” Senyumnya ramah, tangannya cekatan mengambil sendok nasi. Senja memperhatikan dengan tatapan dat

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Berbeda.

    Brakk.... Sore itu pintu rumah keluarga Senja dibuka dengan tergesa. Dengan langkah lebar seorang pria berjalan masuk dan terhenti di ruang tengah. "Ma!!" Suara berat itu menggema sampai ke dapur. Wulandari yang tengah memotomg sayur tersentak. Pisau di tangannya segera ia letakkan dan bergegas menghampiri suamianya. "Papa sudah pulang? katanya lembur?" "Mana Senja? Benar dia sudah sadar?" tanya Himawan, mengabaikan pertanyaan istrinya. "Iya benar. Senja sudah sadar, Pa." Wulandari menjawab dengan lembut. Senyum tipis bahagia menghiasi wajahnya. Himawan menutup mata sejenak, menghela nafas panjang seolah beban berat di dadanya baru saja terangkat. "Syukurlah, akhirnya dia sadar juga," gumamnya. "Tadi security lapor, katanya Senja datang ke pabrik." Wulandari mengangguk. "Sekarang sedang istirahat di kamarnya?" Mendadak wajah Himawan berubah. "Kenapa sudah pulang? Apa kata dokter?" Wulandari menghela nafas berat. "Sebenarnya masoh harus dirawat di dua sampai t

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Wanita beracun.

    "Tidak perlu berpura-pura lagi! Tante, kan, yang memberi tahu Mbak Bulan? Tante sengaja ingin mengadu domba kami?" Tatapan Senja tajam dan dingin, menusuk tepat ke arah Arini. Sementara wanita itu tampak terperanjat, wajahnya pucat seketika, seolah tak menyangka tuduhan itu akan meluncur dari bibir keponakannya sendiri. “Ya Tuhan… Kenapa kamu menuduh Tante sejahat itu?” sahut Arini dengan suara bergetar. “Untuk apa Tante mengadu domba kalian? Kamu dan Bulan sudah Tante anggap seperti anak sendiri.” Nada memelas itu terdengar begitu meyakinkan. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, seolah air mata siap tumpah detik itu juga. Senja berdecak pelan. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi oleh wajah polos itu. Di kehidupan sebelumnya, ia dan Bulan menelan mentah-mentah setiap nasihat Arini. Mereka percaya tanpa ragu, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kelembutan tutur katanya, tersimpan niat yang tak pernah benar-benar tulus. "Senja, jangan bicara seperti itu pada Tant

  • Dari Istri Terhina Menjadi Kesayangan Penguasa   Terlambat.

    "Apa kamu pikir Mama ini anak SD yang akan percaya dengan cerita karanganmu itu?" murka Wulandari. Wajah teduh itu sudah berubah merah padam. "Ma, aku serius. Ak--""Sudah cukup!!" bentak Wulandari. “Mama sudah benar-benar capek sama kamu! Gak bisa apa kamu nggak bikin masalah?" Nada suara Wulandari meninggi. Kesabaran yang selama ini menjadi ciri khasnya runtuh begitu saja. Wanita lemah lembut itu sudah benar-benar lelah dengan semua tingkah putri bungsunya itu. Senja mendesah berat, mendadak jantungnya berdenyut nyeri melihat tatapan kecewa sang mama. Secapek itukah sang mama dengan semua sikapnya? "Kamu juga Naren, berapa kali Tante bilang, jangan turuti permintaan Senja!""Maaf, Tante." Narendra menunduk. "Ma... aku mohon sekali ini saja," Senja tak putus asa."Mama bilang cukup! Kamu jadi suka membantah sejak mengenal si Ardan itu. Suka bohong dan membangkang!"Di mata Wulandari dan Himawan, Senja berubah sejak mengenal Ardan. Jadi sering membangkang dan sulit diatur. Ar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status