Share

48. Rela Berkorban

Author: Dita SY
last update publish date: 2026-10-13 18:26:26

"Apa ada pintu masuk lain selain pintu depan?"

Lee membuka sabuk pengaman di pinggang setelah mobilnya sampai di depan pintu pagar rumah mewah Arum.

​"Lewat depan aja, Pak. Kalau lewat belakang, nanti kita disangka maling."

Arum ikut membuka sabuk pengaman, namun sial, tali sabuk itu justru tersangkut di pakaiannya.

​Melihat Arum kesulitan, Lee langsung mendekat, mengikis jarak di antara mereka, lalu membantu membukakan sabuk itu dengan perlahan.

​Arum terdiam membeku, berusaha mengecilkan peru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   75. Dimana Anakku?

    Suasana di luar gerbang rumah peninggalan kakek Arum itu tampak sepi. Sang pemilik rumah sah yang baru saja turun dari mobil mewah bersama Pak Hendra dan kedua orang tua Lee, langsung mendekati pintu pagar sambil celingukan.Arum mengedarkan pandangan mencari petugas keamanan yang biasanya berjaga di pos depan.​"Kamu cari siapa, hmm?" tanya Lee lembut, memperhatikan gerak-gerik wanita di sampingnya sambil tersenyum manis.​"Nyari Pak Satpam yang biasa jaga di pos. Tapi kok nggak ada. Apa dia nggak denger ada orang datang?" gumam Arum sambil mengernyitkan dahi."Kamu lupa? Terakhir kali kita datang ke sini, satpam rumah ini memang sudah tidak ada. Enggar sudah memecatnya. Mungkin untuk mengurangi pengeluaran bulanan.""Ohh iya. Astaghfirullah, saya kok lupa." Arum mengangguk pelan, baru ingat sikap sewenang-wenang Enggar dulu dalam mengatur orang-orang yang bekerja di rumah ini.Tanpa membuang waktu, Lee melangkah maju ke dekat pagar, lalu menekan tombol bel rumah yang terpasang di di

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   74. Demi Memuluskan Rencana

    "Semua berjalan sesuai rencana kamu, Bi Itam udah pergi. Sekarang apalagi?" Yanti menatap Enggar yang tengah duduk bersandar di sofa sambil memegang ponsel.​Yang ditanya itu tampak fokus menatap layar ponselnya dan mengabaikan pertanyaan sang ibu.​"Nggar!" bentak Yanti emosi. Ia menghentakkan kaki, menghampiri Enggar, kemudian duduk di samping anaknya. "Kenapa diam aja? Sekarang kita ngapain lagi? Ibu nggak mau kita diusir dari rumah ini! Ibu nggak mau jadi gembel. Ibu udah senang kita hidup bergelimang harta."​Enggar melirik sekilas, lalu berdecak kesal. "Sabar, Bu. Aku lagi nyiapin rencana cadangan. Jadi, nanti kalau Arum datang ke sini, kita punya pegangan alibi yang kuat. Kalau cuma mengandalkan omongan kosong, Arum nggak mungkin percaya gitu aja."​Yanti mengerutkan kening, memajukan tubuhnya mendekati Enggar untuk melihat layar ponsel sang anak."Emangnya kamu lagi ngapain, sih?" Matanya menyempit, memperhatikan apa yang dikerjakan Enggar. Namun, ia tidak paham sama sekali. D

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   73. Diusir

    Beberapa jam kemudian, mobil yang dibawa Enggar memasuki halaman rumah.Melihat kedatangan majikannya, buru-buru Bi Itam menghampiri dan membuka pintu utama.Melihat ke depan, Enggar turun dari mobil, disusul Yanti. ​Namun, yang mengejutkan mereka berdua hanya membawa satu anak saja.Di dalam gendongan Yanti, hanya terlihat si kecil Arsy yang menangis rewel. Sementara Aira sama sekali tidak ada!Tak ingin langsung berprasangka buruk, Bi Itam menegakkan posisinya berdiri, mengamati bagian dalam mobil, siapa tahu Aira tertidur di jok belakang.Namun lagi-lagi, ia tidak melihat Aira di sana.Bi Itam melangkah cepat, mengekor Enggar dan Yanti yang memasuki rumah.​"Maaf Pak Enggar. Nek Yanti. Di mana Aira ya? Kok cuma Arsy yang dibawa pulang? Di mana anak satunya lagi?" tanya Bi Itam dengan nada se-sopan mungkin.​Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Yanti berubah seketika. Ia terduduk lemas di atas sofa sambil memegang dadanya."Aira, dia ... dia hilang." Tangis Yanti pecah, entah tangis

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   72. Hatinya Sudah Mati

    "Mi, Pi, please, jangan permasalahkan soal panggilan. Jangan buat Arum tidak nyaman," ucap Lee sambil melirik kedua orang tuanya bergantian.Sudah sangat lama Sofia dan Willy menantikan momen ini, akhirnya terwujud dengan kehadiran Arum di tengah keluarga mereka.Wajah Lee tampak memerah, jelas dia malu dengan ulah kedua orang tuanya, apalagi di depan Arum.Diam-diam Lee melirik wanita cantik itu, lalu mengatakan, "Jangan dipikirkan Rum. Untuk sementara kamu boleh memanggil saya apa saja, hmm."Arum mengangguk pelan. "Iya Pak Lee."Di samping mereka, Willy dan Sofia saling menatap. Senyum di bibir mereka semakin merekah melihat dua orang itu malu-malu."Ayo kita pulang," ajak Lee. Lama-lama di tempat ramai begini, ia bisa jadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang.***​Di tempat berbeda, di rumah yang kini tampak kusam dan tidak terurus itu, Enggar dan ibunya tengah menyusun rencana terakhir.Panik karena kalah dalam persidangan dan ancaman jatuh miskin seperti dulu lagi, membuat

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   71. Menang!

    Setelah berdiskusi singkat dan meneliti dengan cermat berkas-berkas serta bukti forensik digital yang dilampirkan oleh pihak Arum, Hakim ketua akhirnya menghentikan bisik-bisiknya.Hakim menegakkan tubuh, merapikan mikrofon di hadapannya, lalu mengetuk palu satu kali dengan mantap.​Tok!​"Baiklah, majelis telah mempertimbangkan permohonan dari pihak penggugat serta meninjau ulang catatan kehadiran pihak tergugat," ucap Hakim ketua dengan suara berat dan berwibawa yang memenuhi seluruh ruangan sidang. "Mengingat pihak tergugat telah dipanggil secara sah dan patut, tetapi tidak hadir tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, serta berdasarkan asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, maka majelis hakim memutuskan ...."​Arum menahan napas. Jangan tanya perasaannya sekarang. Jantungnya bergemuruh kian hebat, seolah siap melompat keluar dari rongga dada. Jemarinya yang digenggam erat oleh Sofia terasa sedingin es."Tenangkan dirimu, Nak. Kamu pasti bisa membawa

  • Dari Istri XXL jadi Janda Bahagia   70. Tidak Juga Datang

    Satu jam berlalu dengan begitu cepat. Namun, Enggar tak juga menunjukkan batang hidungnya. Sementara waktu penundaan yang diberikan oleh pihak pengadilan telah habis.Di kursi saksi, Arum duduk dengan perasaan yang semakin tak karuan. Jantungnya berdegup kencang dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.Kekhawatiran itu semakin menjadi saat ia melihat majelis hakim yang dipimpin oleh ketua sidang kini sudah memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk palu tiga kali.​Tok! Tok! Tok!​"Sidang perkara perdata nomor gugatan hak asuh anak dan rekonvensi atas nama Arum dan Enggar dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap sang Hakim ketua.​Arum menelan ludah dengan susah payah. Bulir-bulir keringat dingin terus merembes membasahi telapak tangan yang saling meremas di atas pangkuan.Kursi di sisi meja pihak tergugat, kursi yang seharusnya diduduki oleh Enggar atau kuasa hukumnya, terlihat kosong."Mas Enggar beneran nggak akan datang?" gumam Arum.​Di tengah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status