ログインLily menunggu sambil duduk menghadap jendela. Tak lama ponselnya kembali berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Dimitri. Ketika ia menekan layar berwarna hijau, wajah Dimitri yang tampan langsung menguasai layar ponselnya. "Saya sudah tiba di sini." Lily mengangguk. Ia agak kikuk. Entah kenapa terasa aneh. Mungkin karena kali ini Dimitri melakukan panggilan video saat berada di luar. Berbeda dengan biasanya di mana Dimitri memang sedang berada di suatu ruangan. "Coba kamu lihat dulu ke sekeliling. Di sini ada beberapa pakaian, gaun, sepatu, kaca mata, bahkan aksesoris." Dimitri mengarahkan ponselnya sehingga Lily bisa melihat kondisi dan situasi di toko itu. Lily terperanjat pelan karena pria tampan itu ada di sebuah toko merek kelas atas. Ia jadi semakin yakin jika Dimitri hendak membelikan barang-barang mewah itu untuk perempuan lain. "Saya hendak belanjakan untuk Mama." Suara Dimitri membuyarkan lamunan Lily. Lily membuka mulutnya lalu mengangguk. "Menurut kamu yang bagus warna
Lily terbangun di sore hari ketika ponselnya bergetar. Nama kontak "My Husband" muncul di sana. Ia berusaha untuk duduk menyender di headboard kasur. "Halo?" Lily bisa merasakan tenggorokannya kering. Seharusnya tadi ia minum lebih dahulu. Lagipula ia juga takut apabila mendiamkan panggilan telpon dari Dimitri lebih lama. "Apa kamu baru bangun tidur?" "Iya. Ada apa? Apa ada yang bisa saya lakukan untuk Anda?" Lily bertanya-tanya apa gerangan yang membuat pria itu menghubunginya kembali. Pasalnya mereka saja tadi sudah melakukan panggilan video selama ia mencoba gaun satu per satu. "Apa saya mengangguk waktu istirahat kamu?" "Tidak, tidak. Sama sekali tidak menganggu. Maaf saya terlalu banyak tidur." Lily tidak tahu apa maksud dari ucapan Dimitri. Tapi karena ia khawatir itu adalah sebuah sindiran untuknya, maka lebih baik ia cepat cepat bertanya. Apabila nantinya Dimitri mengatakan iya maka Lily harus mencatatnya. Ia harus tahu jika di rumah jni memang dilarang untuk tidur t
Rose menghentak-hentakkan kakinya ketika sampai rumah. Hal itu langsung menjadi perhatian utama Anggara ketika istrinya baru saja tiba di depannya. "Kenapa, Ma?" Rose membuang asal tas mahal miliknya ke atas sofa. Anggara melirik sekelas tapi akhirnya ikut duduk ketika istrinya juga sudah mulai duduk. "Aku benar-benar benci dengan anak itu." Anggara masih mendengarkan. Meskipun ia sendiri juga masih tidak yakin siapa yang sebenarnya tengah diperbincangkan oleh istrinya tersebut. "Dia sepertinya tengah menghasut anak kita sampai Dimitri mau membelikan gaun-gaun mahal hanya untuk pesta pernikahan teman Dimitri minggu ini." Anggara kini tahu siapa yang tengah dibahas oleh Rose. "Kamu tahu, Pa? Dimitri sampai rela membawa desainer ke rumah mereka lalu meminta gadis pincang itu mencobanya satu per satu! Bahkan lebih gilanya lagi Dimitri membelikan semua pakaian kepada gadis itu!" "Ma, mungkin itu cara Dimitri agar nama keluarga kita tidak buruk. Bayangkan jika nanti gadis itu hadir
"Ada apa ini? Siapa tadi yang datang ke sini?"Lily baru saja hendak naik ke kamarnya ketika ia sudah mendengar suara seseorang yang pastinya ia kenal.Rose masuk ke dalam rumah dengan tatapan menginterogasi semua orang. Lily masih diam."Itu ada desainer yang sudah dipesan oleh Tuan Dimitri, Nyonya Rose. Sengaja didatangkan ke sjni agar Nyonya Rose bisa mencoba beberapa baju."Lily melihat ekspresi wajah Rose yang langsung berubah menjadi sangat tidak suka. "Memanggil desainer segala untuk apa? Memangnya untuk acara apa?""Untuk acara pesta ulang tahun salah satu teman Dimitri."Kali ini Lily yang menjawab. Ia tidak ingin disangka tidak sopan."Oh jadi kamu memang sengaja memanfaatkan momen ini untuk menjadi pusat perhatian di sana?"Suara Rose begitu tajam seperti sebelum-sebelumnya."Ini semua atas perintah Dimitri juga," jawab Lily masih mencoba tenang.Rudi menatap keduanya seperti sedang melihat bagaimana situasi bekerja. Lily tidak tahu apa yang dipikirkan orang kepercayaan su
Lily mengedipkan mata berkali-kali karena merasa tidak yakin dengan apa yang diucapkan Dimitri. Baru saja pria tampan itu mengatakan jika ia tidak suka istrinya berpenampilan terbuka di depan umum.Ia langsung sadar beberapa saat kemudian. Itu bukan berarti karena Dimitri memiliki perasaan dengannya. Melainkan memang terlalu berpenampilan terbuka di kalangan keluarga elit seperti ini adalah sesuatu yang tidak pantas.Apalagi ia yakin sekali di acara ulang tahun salah satu teman Dimitri nanti pasti akan hadir banyak orang."Lily? Apa kamu dengar apa yang saya katakan?"Seolah menuntut jawaban, Dimitri kembali berbicara."Iya, ma-maaf. Saya akan coba pakaian lain kalau begitu."Lily menatap gaun yang ia kenakan sekali lagi. Rasanya sayang sekali jika memang harus melepaskan ini. Ia suka sekali dengan warnanya. Begitu unik dan jarang sekali ada orang yang memakai warna seperti ini."Kamu suka sekali dengan gaun yang itu?"Dimitri kembali mengajukan sebuah pertanyaan yang menurut Lily har
Lily sedang duduk menikmati udara segar di taman pagi ini ketika Rudi menghampirinya mengatakan jika ada desainer yang datang membawakan baju-baju untuknya. Lily agak terkejut. Pasalnya ini baru jam sembilan pagi. “Kenapa pagi sekali seperti ini?” tanya Lily pada Rudi. Mereka menghampiri desainer di dalam. Rudi mencoba untuk berjalan di belakang Lily. Lily menganggapnya sebagai salah satu bagian dari bentuk kesopanan dan rasa hormat untuk istri majikannya tersebut. “Ini semua sesuai dengan permintaan Tuan Dimitri, Nyonya. Tuan berpesan jika lebih baik desainer itu datang lebih awal. Sehingga jika ada yang tidak cocok, maka nanti Nyonya bisa langsung dibuatkan gaun yang lebih cantik dan bagus.”Lily menoleh agak ke belakang untuk menatap Rudi. Ia kira orang kepercayaan Dimitri itu hanya bercanda. Namun, sejak kapan di rumah ini ada yang gemar bercanda? Apalagi wajah serius Rudi semakin mempertebal keyakinannya jika memang mungkin saja ini semua adalah yang diharapkan Dimitri. Lily







