FAZER LOGINYang sudah baca buku Emak lainnya, pasti sudah hafal. Acara nikahan tokoh cerita pasti ada pertunjukan. Itu ciri khas Emak. Kalau ada yang bikin model gini juga, fix mereka niru ^^
53"Yiran, kamu menikah tanpa memberitahu Papa. Anak kurang ajar!" bentak Zhou Ming Hao. "Papaku sudah mati," jawab Zhou Yiran sembari mengepalkan tangan kanannya."Aku masih hidup. Bagaimana kamu bisa bilang jika aku sudah mati?" desak Zhou Ming Hao. "Bagiku, sudah, karena kamu tidak pernah benar-benar menjadi papaku!" desis Zhou Yiran. Dia tidak mau bersikap sopan pada pria tua yang tengah terperangah. "Kapan kamu pernah membelaku? Kapan kamu pernah bilang sayang padaku? Kapan kamu pernah memelukku saat sedang sedih, atau ketakutan? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah!" jerit Zhou Yiran. "Justru kamu menutup mata dan membiarkanku disiksa ketiga orang tolol itu!" Zhou Yiran menunjuk Ibu tiri dan kedua anaknya. "Dan kalian bertiga, bersiaplah. Aku akan membalas dendam atas semua perlakuan buruk kalian dari aku kecil dulu!" geramnya. "Jangan berbohong. Kami tidak pernah menyiksamu," kilah Sheng Eleanor. Zhou Yiran tersenyum sinis. "Aku punya buktinya, Pelacur!" "Jangan sebut
52Jalinan waktu terus bergulir. Siang itu, Dimas dan Zhou Yiran telah berada di pesawat Adhitama. Keduanya tersenyum seusai mendengar perdebatan antara Lazuardi dan Zikria, yang berada di deretan kursi kiri. Tawa pasangan itu meledak, kala Deswin dan Fikri kompak membenturkan kepala Zikria serta Lazuardi dari belakang, karena Deswin dan Fikri kesal dengan perdebatan kedua pria tersebut. Wirya yang menempati kursi belakang Dimas bersama Zayd, hanya bisa menggeleng menyaksikan tingkah keempat direktur PBK, yang masih meneruskan perkelahian pura-pura. Wirya enggan melerai perseteruan itu, karena menjadi hiburan buat seluruh penumpang lainnya. "Para Om, udah. Perutku sakit karena tertawa terus," rengek Marwa yang duduk berdampingan dengan Fazluna, di belakang kursi keempat Om direktur."Tadi ada yang merekam, nggak?" tanya Herjuno. "Aku," sahut Xie Honghui, anak pertama Xie Gui dan Han Suzie, kerabat 4 klan. "Aku juga," sela Xie Duyi, Adik Honghui. Keduanya merupakan ajudan Vanetta
51Matahari sudah menyorot saat Zhou Yiran terbangun. Dia merintih ketika kepalanya berdenyut dan sekujur tubuhnya sakit. Zhou Yiran memaksakan diri untuk bangkit duduk. Dia memindai sekeliling, sebelum berdiri dan jalan terhuyung-huyung ke bilik mandi. Setengah jam berlalu. Zhou Yiran keluar dari kamar sambil berpegangan ke dinding. Kepalanya yang masih pusing menjadikan Zhou Yiran tidak jadi membuat makanan, dan beralih ke meja buffet guna menyiapkan roti untuk sarapan. Bunyi mesin cuci dari area servis di atas dapur, menjadikan Zhou Yiran mendongak. Dia memanggil sang asisten, yang segera menuruni tangga putar dan mendekatinya."Bisa tolong buatkan teh? Kepalaku sakit," ujar Zhou Yiran."Ya, Ci," balas Puput. "Cici duduk aja, kubuatkan dulu," lanjutnya sembari memapah perempuan berkulit putih yang wajahnya pucat. Setelah Zhou Yiran duduk di sofa panjang, Puput memberanikan diri untuk meraba dahi perempuan tersebut. "Cici demam," tukasnya. "Hu um. Badanku juga sakit," rengek Zho
50Dimas keluar dari kamar depan dan hendak menuju kamarnya, ketika melihat Zhou Yiran yang tengah berdiri membelakanginya di dapur. Dimas membuka mulut untuk memanggil, tetapi bibirnya segera dirapatkan kembali. Dimas khawatir Zhou Yiran akan kabur jika dia mengeluarkan suara. Pria itu merunduk dan melepaskan sandalnya, lalu dia jalan sambil berjinjit, supaya Zhou Yiran tidak mengetahui bila dirinya tengah mendekat. Tiba di dekat perempuan bersetelan piama hijau, Dimas langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zhou Yiran dan merapatkan tubuh mereka. Namun, ketika Zhou Yiran menoleh, justru Dimas yang kaget menyaksikan wajah istrinya yang menghitam. "Kamu pakai masker apa?" tanya Dimas, setelah bisa menguasai diri. Akan tetapi, Zhou Yiran tidak menyahut. Perempuan itu kembali sibuk mengaduk-aduk mi di panci, lalu mematikan kompor. Zhou Yiran memaksakan lepas dari pelukan suaminya dan berpindah ke kiri, guna menuangkan mi ke mangkuk kaca. Dimas bergidik melihat banyaknya p
49Zhou Yiran mengemasi barang-barang yang hendak dibawanya ke China. Perempuan itu sangat bahagia bisa pulang ke negara asalnya, walaupun waktunya singkat. Jika menuruti keinginan, Zhou Yiran mau kembali menetap di Guangzhou. Dia merindukan kota itu dan banyak orang di sana, kecuali keluarga papanya. Mengingat sosok pria tua itu, menjadikan Zhou Yiran berhenti beraktivitas. Dia belum mengabari Zhou Ming Hao tentang pernikahannya dengan Dimas, sekaligus kepindahan keyakinannya. Zhou Yiran bisa membayangkan reaksi papanya. Zhou Ming Hao pasti murka dan akan memarahinya. Namun, Zhou Yiran tidak peduli. Bahkan dia juga tidak keberatan bila namanya dihapus dari silsilah keluarga Zhou. "Ran, sudah beres?" tanya Dimas seusai membuka pintu kamar. "Belum," jawab Zhou Yiran. "Dilanjutin nanti aja. Sekarang, ikut aku." "Ke mana?" "Warungnya Syuja. Dia lagi eksperimen menu baru. Minta riview jujur dari kita." "Dia atau Bubu?' "Dia, karena ini masakan yang resepnya dari mamanya." "Aku
48Selama dua hari berikutnya, suasana hati Dimas sangat kacau. Dia gelisah, karena tidak menemukan Esme, yang ternyata telah berhenti kerja di perusahaan properti yang dihubungi Dimas. Sebab benar-benar bingung untuk mencari keberadaan Esme, Dimas akhirnya mendatangi Lazuardi di kantor PBK. Dimas meminta tolong sahabatnya itu guna mencari posisi Esme. "Siapa yang bisa bantu nyelidikin dia, Di?" tanya Dimas. Lazuardi tidak langsung menyahut, melainkan mengecek daftar nama para ajudan Australia di layar laptopnya. "Kayaknya kudu nanya ke Mahesa, Bang. Ini laporan bulan lalu. Mungkin personel kita di sana sudah berubah," jelasnya."Oke, nanti aku chat Mahesa." "Telepon aja." Dimas mengecek arlojinya. "Di sini jam 11, berarti di sana jam 3 sore. Mungkin dia lagi meeting." "Ya, udah. Tunggu 1 jam lagi, baru telepon." "Oke." "Bang, aku dengar, beberapa hari lalu Abang ketemu Zianka." Dimas melengos. "Kamu mengintaiku?" "Enggak." Lazuardi menampilkan raut wajah tenang. "Tapi, katan







