LOGIN136Zhou Yiran memandangi pantulan diri di cermin. Dia takjub dengan perubahan perutnya yang kian membuncit, karena dulu dia tidak pernah mengira akan bisa hamil di usia 28.Zhou Yiran mengusap garis-garis di perutnya dengan tangan kiri. Dia mengamati area yang paling banyak stretchmark, lalu Zhou Yiran meraih botol baby oil dan cotton bud dari meja rias."Bang, bantuin," pinta Zhou Yiran sembari menyambangi suaminya yang tengah duduk di sofa ujung kanan.Dimas meletakkan laptop ke meja. Dia mengambil kedua benda dari tangan istrinya, dan mulai membersihkan garis-garis itu dengan teliti. Dimas tersenyum ketika perut Zhou Yiran menonjol. Dia memegangi area itu, lalu mengusapnya pelan."Dia lagi latihan wushu," kelakar Dimas, sembari meneruskan aktivitas. "Aku mau dia belajar silat dan jaipongan," sahut Zhou Yiran. "Minta les privat ke Teh Irshava." "Hu um." Zhou Yiran memandangi suaminya. "Abang sudah dapat namanya?" desaknya. "Belum. Nunggu dari Emak OY aja. Artinya pasti bagus."
135Zhou Yiran membaca banyak materi yang diberikan Wirya untuk dipelajari. Meskipun matanya sudah lelah, Zhou Yiran tetap memaksakan diri untuk meneruskan aktivitas.Perempuan berkaus hijau muda itu berhenti membaca, kala mendengar bunyi mobil berhenti di depan rumah. Zhou Yiran memadamkan laptop, lalu berdiri dari kursi dan jalan ke dekat jendela.Zhou Yiran mengintip dari balik gorden, sebelum dia berbalik dan jalan keluar kamar. Pekikan Zayd, Tirza, dan Shahzain, terdengar nyaring, setelah melihat bawaan Dimas dan Luthfiandi. Zhou Yiran memandangi beberapa sepeda lipat yang diparkirkan dekat ruang tamu. Dia meringis saat melihat kursi khusus anak, yang tengah dipasang Dimas di depan salah satu sepeda."Neng, kita coba, yuk!" ajak Dimas sambil mengangkat Tirza dan mendudukkan sang bayi di kursi anak. "Pasang sabuk dulu," lanjutnya sembari mengaitkan kepala sabuk, untuk menahan badan Tirza supaya tetap tegak. "Satu lagi, buat siapa?" tanya Vanetta, seraya menunjuk kursi anak yang
134 Alunan musik instrumental mengiringi gerakan pelan para Ibu hamil, yang tengah melakukan senam di halaman tengah rumah sakit kawasan Jakarta Selatan. Zhou Yiran menuntaskan senam itu sembari bersandar ke dada suaminya. Pasangan tersebut mengatur napas dengan santai, sebelum duduk bersila dan beristirahat. Obrolan ringan dilakukan para perempuan. Sedangkan semua laki-laki justru bercanda, untuk meredam kegugupan mereka akibat waktu lahiran yang kian dekat.Dimas yang baru kali itu akan menjadi Bapak, mendengarkan tips dari rekan-rekannya, yang telah memiliki anak pertama. Dimas merasa senang, karena keempat pria tersebut kompak menyemangatinya, supaya bisa kuat menemani Zhou Yiran saat melahirkan kelak.Hampir setengah jam berlalu, Dimas dan Zhou Yiran telah berada di salah satu kantin area depan rumah sakit. Mereka menikmati nasi kuning komplet sembari memandangi ponsel masing-masing. "Bang, pesankan 20 bungkus. Mama yang minta," ujar Zhou Yiran, sembari memasukkan ponselnya k
133Matahari baru muncul seperempat di garis cakrawala, ketika sepasang manusia melenggang keluar dari kediaman mereka. Pasangan itu jalan menyusuri blok tersebut, lalu berbelok ke kanan guna melintasi jalur utama cluster 7.Keduanya jalan sambil berpegangan tangan. Sekali-sekali mereka akan berhenti untuk menyapa penghuni lainnya, yang kebetulan keluar dari rumah masing-masing. Setibanya di ujung jalan utama, mereka menyeberang hingga sampai di perempatan air mancur besar, yang menjadi batas empat cluster. Yakni, cluster 5, 6, 7 dan 8. Kedua orang tersebut melanjutkan jalan sambil memandangi deretan gerobak, milik para pedagang makanan, yang akan berjualan di sana setiap akhir pekan, ataupun jika libur tanggal merah. Zhou Yiran menunjuk lapak bubur ayam, sebelum keduanya mendekati gerobak untuk memesan. Lalu mereka duduk di dua kursi tepi kanan yang menghadap ke jalan.Zhou Yiran mengusap perutnya yang bergerak-gerak. Dia meraih tangan kiri Dimas dan menempelkan ke perutnya. "Dia
132 Sudut bibir Zianka merekahkan senyuman, kala melihat sekelompok orang yang tengah diarahkan petugas WO, melalui jalur VIP. Orang paling depan di kelompok itu menyalami kedua orang tua Raidu terlebih dahulu, lalu dia menyambangi pasangan pengantin yang telah berdiri dari kursi panjang. Dimas menyalami Raidu, lali mendekap pria itu sesaat. Dimas bergeser ke kanan guna bersalaman dengan Zianka. Dia kaget, kala perempuan bergaun peach mengembang itu, memeluknya sesaat. "Makasih, sudah datang, Bang," ujar Zianka, seusai mengurai dekapan. "Aku memang harus datang. Kedua kakakmu sudah mengancam untuk menyiksaku, kalau aku nggak muncul di sini," balas Dimas.Zianka beralih menyalami Zhou Yiran. Dia memeluk perempuan bergaun ungu muda itu dengan hati-hati, supaya tidak menekan perut rekannya tersebut. "Makasih kadonya, Ran. Aku suka banget," tutur Zianka, sembari menjauhkan diri dan memperlihatkan gelang di tangan kirinya."Syukurlah kalau Kakak suka," jawab Zhou Yiran. "Itu aku yan
131Jalinan masa terus berjalan. Minggu berganti bulan. Musim bertukar cepat, tanpa sanggup dihentikan apa pun dan siapa pun.Kehamilan Zhou Yiran sudah mencapai 7 bulan. Dia makin rajin melakukan senam hamil, dengan ditemani Depika dan Malya, yang juga tengah hamil muda. Selain mereka, beberapa istri ajudan muda lainnya juga tengah hamil, dalam waktu yang tidak berbeda jauh. Namun, hal itu justru menimbulkan masalah di kantor PB dan PBK, karena para suami mereka mengalami ngidam yang aneh-aneh. Pagi itu, Dimas memasuki kantor PB. Dia mengernyitkan hidung, karena mencium aroma menyengat yang mengambang di udara. Dimas berhenti melangkah dan tertegun melihat beberapa rekannya tengah berkumpul di sekitar Julian. Dimas memasuki ruangan manajer untuk mencari tahu apa yang tengah dilakukan teman-temannya. Dimas mengangkat alis, sebelum mengambil piring kecil yang diulurkan Dahlia. "Siapa yang ngidam ini?" tanya Dimas, sebelum duduk di sofa dan mulai bersantap. "Aku, Bang," jawab Julia
03Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat. Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis b
74Rishya terkekeh, sedangkan Zianka tersenyum. Keduanya saling melirik, sebelum kembali memandangi Zhou Yiran. "Sebetulnya, nggak begitu, Ran," ujar Rishya, setelah berhenti tertawa. "Aku sama Bang Dimas, pacaran lebih dulu. Setelah kami putus beberapa bulan, Bang Dimas ngedeketin Zianka," sambun
02Dimas memaksa otaknya berpikir cepat, sebelum mengambil tindakan nekat. Dia memundurkan mobil, lalu melaju dan menabrak belakang mobil van. Zhou Yiran menjerit saat benturan keras itu terjadi. Dia kaget saat Dimas menekan kepalanya agar merunduk. Belum sempat Zhou Yiran bertanya, terdengar buny
01Seorang perempuan bergaun hijau muda, keluar dari lift di satu bangunan puluhan lantai. Dia lari secepat mungkin keluar lobi, dan menuruni tangga teras dengan tergesa-gesa. Zhou Yiran memerhatikan sekeliling. Dia berputar ke kanan dan merentangkan tangan, untuk menghadang seunit mobil SUV biru







