LOGINHari keberangkatan.
Rayyan melihat dirinya dari pantulan cermin di kamarnya.Laki-laki itu memakai kaos hitam polos, dengan hanya satu logo kecil bergambar elang di bagian dada kiri. Bagian bawahnya senada, celana panjang hitam yang tidak ketat."Hmm.. Begini saja sudah pas, kan?" gumamnya.Rayyan cukup bingung harus memakai setelan yang seperti apa.Kalau menurut Aurel, ia sebaiknya memakai pakaian santai saja. Toh, ini acara untuk publik bukaHari keberangkatan. Rayyan melihat dirinya dari pantulan cermin di kamarnya.Laki-laki itu memakai kaos hitam polos, dengan hanya satu logo kecil bergambar elang di bagian dada kiri. Bagian bawahnya senada, celana panjang hitam yang tidak ketat. "Hmm.. Begini saja sudah pas, kan?" gumamnya. Rayyan cukup bingung harus memakai setelan yang seperti apa. Kalau menurut Aurel, ia sebaiknya memakai pakaian santai saja. Toh, ini acara untuk publik bukan acara formal. Tapi gadis itu juga sangat menekankan pemilihan baju yang bagus. "Kalau bajumu jelek nanti malah malu-maluin aja." ketus Aurel waktu itu. Rayyan mengambil sisir di meja lalu menyisir rambutnya agar rapi. Tak lupa ia juga menyemprotkan parfum secukupnya. Setelah dirasa cukup, Rayyan pun berjalan keluar dari kamarnya. "Apa Aurel dan Yuni sudah selesai?"Sesaat kemudian ia menggelengkan kepala. "Tidak mungkin. Past
Pagi hari. Rayyan dan Chintya berkumpul di ruang tamu. Keduanya sedang duduk santai di sofa yang panjang sambil menonton televisi dengan layar yang sangat lebar.Cukup lebar sampai bisa dibuat sebagai bioskop mini. Di meja kaca, terdapat beberapa toples kecil yang berisi aneka ragam jajanan. "Hmm...""Menurutmu itu benar-benar bisa dilakukan, Rayyan?" tanya Chintya. Rayyan mengusap dagunya pelan. "Aku kurang tahu juga, sih. Kalaupun bisa pasti sangat sulit dilakukan." Saat ini mereka sedang menyaksikan tayangan berjudul "Panjul Si Petualang".Tayangan itu menceritakan tentang perjalanan Panjul, seorang pria gagah berani, untuk menelusuri alam liar dan bertemu dengan hewan-hewan secara langsung. Kebetulan Rayyan dan Chintya sedang menonton adegan Panjul saat hendak menangkap ular kobra."Itu masuk akal, sih. Lagipula ini kan cuma tayangan televisi. Bisa saja ada rekayasa dibalik
Ckrek. Pintu kamar Rayyan terbuka perlahan. Engselnya mengeluarkan deritan pelan karena sudah lama tidak diberi pelumas.Laki-laki itu melangkah keluar dengan kondisi masih mengantuk. Pakaiannya berantakan, rambutnya acak-acakan, dan mukanya kusam. "Huaaahh.."Rayyan menguap panjang sekali. Ia mengangkat kedua tangannya, memulai peregangan singkat. Selesai melakukan peregangan, Rayyan mengusap matanya yang masih terasa berat karena baru bangun tidur."Uhh.. Kenapa Albert tidak membangunkanku?" "Sekarang bahkan sudah jam tujuh pagi, olahraga harusnya sudah selesai, bukan?" gerutunya. Rayyan melangkah menuju jendela di dekat sana. Ia melihat ke bawah untuk memeriksa keadaan. Dan benar saja. Para pelayan dan koki baru saja menyelesaikan rutinitas pagi mereka. Mereka semua sudah beranjak masuk ke kediaman, menyisakan hanya satu-dua orang di halaman. "Astaga," Ra
"Aahh!!""Aahh!!""Uhh.. Aahh!!"Desahan-desahan kencang memenuhi seisi kamar.Kasur besar itu bergoyang hebat. Seprai putih yang menyelimuti sudah basah terkena campuran keringat dan air kesenangan. Bantal dan guling yang sebelumnya tertata rapi kini berjatuhan di sisi kasur, menandakan betapa ganasnya Rayyan. "Uhh.. AHH!!"Badan Vanya gemetaran hebat. Tubuhnya terasa menggigil dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bersamaan dengan itu, cairan lengket menyembur keluar dari kemaluannya. Rayyan mengangkat tangannya. Cairan itu bening dan tidak berbau. "Uhh.. Rayyan, jangan melihat sampai sebegitunya." pinta Vanya lemas. "Hahahaha, selamat datang ke dunia orang dewasa, adikku. Bagaimana rasanya?" sahut Yuni yang berbaring di samping. "Uhh.." Vanya meraih sisa selimut yang masih ada di kasur, menariknya untuk menutupi sebagian wajahnya. "A-apa maksud, kakak?" "Hehe,"Yuni memiringkan tubuhnya sedikit. Tangannya terulur memegang pipi Vanya. "Berhubungan badan, menurutmu ini enak
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Kediaman Sanjaya sudah terlelap dalam keadaan tidur. Lampu-lampu kamar dimatikan, menyisakan lampu di beberapa ruang utama dan di taman. Suasana hening dan sunyi. Dan disinilah Rayyan berada, kuduk di tepi kasur milik Yuni dalam keadaan gelisah. Salah satu kakinya terus-menerus menghentak. "Haahh.. Apa ini akan baik-baik saja?" Rayyan menatap ke luar jendela. Langit malam disertai bulan dan secercah bintang tampak indah. Tapi bukan itu yang sedang ia pikirkan melainkan keputusan untuk melakukan threesome. "Uh.. Apakah harusnya aku memikirkannya dengan lebih baik?""Tapi.. Apa bedanya threesome dengan yang selama ini kulakukan?" gumamnya. Setelah Rayyan pikirkan lebih lanjut, seharusnya tidak ada alasan untuknya khawatir melakukan threesome dengan Yuni dan Vanya.Hal itu sama saja dengan kegiatan cabulnya selama ini dengan Chinty
Sebuah mobil hitam memasuki kawasan perumahan elit.Satpam yang berjaga segera berdiri dan menunduk hormat, lalu mempersilakan mobil tersebut masuk.Mobil itu melaju perlahan menyusuri jalan beraspal yang rapi. Di sepanjang jalan, mereka melewati deretan rumah besar dan mewah dengan halaman luas.Sesampainya di ujung jalan, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah paling besar di kawasan tersebut.Bangunannya berdiri megah dengan taman luas yang terawat di sekelilingnya.Kediaman Keluarga Sanjaya.Gerbang dibuka lalu mobil itu meluncur masuk.Setelah berhenti, Rayyan dan Albert turun dari mobil. "Langsung bawa satu kardus sayuran ke dapur, Rayyan." perintah Albert. Rayyan mengernyitkan dahi. "Huh? Kenapa tidak ditaruh gudang seperti biasa?""Dapur sedang kehabisan stok sayur. Sisa kardusnya akan kuletakkan sendiri di gudang." "Baiklah."Rayyan pun mengambil salah satu kardus di bagasi mobil, mengangkatnya lalu membawanya pergi ke dapur.Suasana di dapur terlihat sedikit kacau. Uap
Mendengar namanya disebut, sosok perempuan itu berbalik. Lampu jalan yang samar-samar menampakkan wajahnya yang familiar. Rayyan menyipitkan mata, hampir saja ia mengalihkan pandangan karena tidak sudi melihat Desi. "Eh, Rayyan..." gumam Desi canggung. Gadis itu spontan menundukkan kepala. Matan
"Iyaaaa!!! Aku dan Rayyan ada disini! Kamu jangan masuk, yaa!!" Bukannya merasa takut atau khawatir, Chintya justru berteriak kencang untuk menjawab panggilan pelayan. "Eh, C-Chintya!" tegur Rayyan gugup. Ia melirik ke arah pintu, takut pelayan masuk. Akan tetapi hal itu tidak terjadi. Alih-alih
Sepanjang perjalanan, Rayyan hanya bisa terdiam. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, tetapi tidak satu pun ia ucapkan.Lebih tepatnya, ia merasa mengajukan pertanyaan pun tidak ada gunanya. Kakek tua itu selalu menjawabnya bahkan sebelum pertanyaan sempat keluar dari mulutnya."Sebenarnya apa
"Ahh.. Ahhh.. Yeaaahh.." Desahan seorang perempuan merembes keluar dari balik pintu hotel.Langkah Rayyan spontan berhenti. Tangannya yang hendak membuka pintu kamar hotel membeku di udara. Ia tercekat. "Suara itu kan... " Adegan panas sudah mulai terbayang di kepala Rayyan. Ia menggeram, tangann







