LOGINKring kriing ..
“Hei, pesanan kita udah jadi tuh ambil gih!” pinta Minami sembari ia ketuk lembut meja. Si pacar, Kyohei malah asik melirik ke depan cafe mengikuti langkah seseorang yang Minami sendiri tak sempat melihatnya siapa dia. ‘Bukan Yuuki kan?’ batin si cantik licik itu sebelum ia panggil lagi nama pacarnya dengan nada tinggi namun tetap lirih. Masih sadar ini tempat umum rupanya. Sedangkan Kyohei, ia masih memikirkan Shima dan sesosok asi“Kyohei!” satu teman terdengar memanggil dengan lantangnya. Orang itu adalah Takumi. Ia berlari ke arah Kyohei yang berbalik setelah namanya dipanggil.“Aduh-““Makanya gak usah lari. Situ ke sini doang juga.”“Hehe,” ujar Takumi terkekeh memegangi ujung kakinya yang tersandung, “gosip panas itu bener adanya?”Kyohei menghela panjang nafasnya. Dia hanya diam tak beri jawaban.“Kok bisa sih? Kenapa? Soal Yuuki? Trus Minami gimana, bukannya kalian masih pacaran? Atau udah putus? Kok gak cerita-cerita sii?!” Langkah Kyohei berhenti. Keningnya berkerut dan tangannya mengacak kasar rambut yang tadi rapi itu.“Udah selesai pertanyaanmu?”Seakan tahu dirinya menyebalkan saat ini, Takumi cengengesan mendengar Kyohei bertanya padanya. Mau marah Kyohei pun tak bisa, biar bagaimana, Takumi ini cukup sering bersamanya. Dia juga butuh teman curhat saat ini. Diajaklah Takumi untuk ke atap, agar dia bisa bercerita dengan leluasa di sana.
Angin bertiup cukup kencang di waktu ini. Dua atau tiga daun bahkan terlempar di lantai koridor sekolah berkali-kali. Memanas situasi, jadi semakin mencekam di antara Shima dan Kyohei yang sedang berhadapan sampai detik ini.“Gak usah banyak tingkah dan memaksakan diri demi deket lagi sama Yuuki. Kamu itu udah gak pantes buat jadi temennya!” ucap ketus Shima. Dengan wajah yang datar, amarah tetap tersorot dari dua matanya.“Apa urusanmu? Aku temen dia dari kecil, kamu yang pendatang kan? Sedihnya dia, bahagianya dia, ada aku di sampingnya.”“Gila. Gak waras emang pikiranmu ya!”“Gila? Kamu gak sih yang gila? Apa hakmu menentukan siapa yang boleh temenan sama Yuuki!”Shima sampai menganga mulutnya. Dia pasti berpikir bagaimana bisa ada orang yang gak tahu malu kaya manusia satu ini. “Kamu, sama Minami. Udah berapa kali kalian nyakitin Yuuki hah?!”Emosi Shima semakin meluap, dia bahkan tak peduli ada orang lain atau tidak di sekit
“Aku bener-bener ga paham. Apa yang terjadi dengan persahabatan kami, itu semua gara-gara Minami?”“Dimana letak kesalahanku atau Kyohei, sampai dia berbuat sesuka hati gini?”Yuuki terus mengoceh walaupun televisi di depannya berbunyi cukup keras. Dia bisa bergumam dengan santai karena saat ini hanya ada dirinya sendiri di kos.Saat pintu tiba-tiba terbuka, tatapan matanya langsung beralih ke arah itu. Hikaru muncul dan sempat terdiam, melihat Yuuki yang menatapnya. “Sendirian Kak?” tanya Yuuki basa-basi sebagai pemanis obrolan. Hikaru sedikit gagap menjawabnya. Lalu, orang itu bertanya dimana Ryo, dia memastikan bahwa dirinya tak berduaan saja di rumah ini.Setelah Yuuki menjawabnya, si Hikaru langsung gerak cepat memakai sepatunya lagi sambil berkata, “Ah iya, aku lupa beli sesuatu. Aku pergi dulu ya,” katanya tanpa melihat lawan bicaranya dengan jelas.Yuuki mengiyakan pamitan Hikaru tetapi pintu itu sudah tertutup saking cepatnya
“Selamat ya udah menang lagi!!”Shima tertawa, tangannya membentuk tanda peace mendengar ucapan itu dari Hiromi. Dia menatap Yuuki kemudian. Senyum yang tadi ditujukan untuk Shima telah memudar kini, tinggal lamunan terukir di wajah itu.Shima berbisik kala ia mendekati Hiromi, “Dia kenapa?” tanyanya. “Nanti aku ceritain,” jawab Hiromi. Mereka bertiga pergi dari arena lomba untuk membeli minum. Setelahnya, Shima memisahkan diri karena harus kembali ke kelasnya. Biar begitu dia sudah janjian untuk bertemu dengan Hiromi sepulang sekolah.Yuuki banyak diam setelah dia pergi dengan Kyohei. Hiromi sebenarnya sangat penasaran, tapi dia tidak setega itu untuk bertanya. Jadi, hari itu dia membiarkan Yuuki untuk larut dalam perasaannya dan pulang sendirian begitu saja.Sementara Yuuki pulang, saat ini Shima tengah duduk mendengarkan Hiromi bercerita. Titik-titik embun es di gelas berisi americano itu terus menetes di jari Shima. Dinginnya diacuhkan. Dia
“Gimana perasaanmu?”“Lega. Capek.”“Syukurlah sebelum waktunya habis, kamu udah dapet satu poin dari aku.” Souta melebarkan senyumnya. Dia suka meledek Yuuki akhir-akhir ini.Tak ada tenaga untuk marah, Yuuki mengajak Souta untuk duduk. Dua orang itu menonton anak-anak klub voli latihan. Souta pun diajak ke cafe dulu sebelum pulang.“Gantian aku yang traktir kali ini.” Yuuki tertawa senang, “Makasih,” ucapnya. Satu es latte terteguk habis oleh gadis itu. Dia paling benci olahraga ya karena ini, kehabisan tenaga. Padahal, dia yang memilih untuk tak membiasakan diri dengan olahraga.“Makasih ya, hari ini..” kata Yuuki saat ia keluar dari cafe. Akhirnya Yuuki memutuskan untuk pulang dan berpisah dengan Souta di cafe itu. Hanya sebatas ini, sudah membuat Souta terus tersenyum di sepanjang jalan pulangnya.Dia menikmati perasaannya, sendirian.***Kyohei yang sedang bersiap untuk lomba, melihat Yuuki yang duduk di ban
“Eh, itu kakakmu?” “Iya.” jawab cepat Ryo. Ketiga anak itu menghabiskan minuman mereka lalu berjalan untuk kembali ke kelas. “Emang kamu baru tahu Sho?” “Iya Sei, baru tahu aku. Gila. Dari dulu kemana aja aku ya..” Kemudian Yusei meletakkan tangan kanannya di pundak Shogo. “Cantik kan?” Ryo yang ada di depan Shogo dan Yusei tengah berjalan santai, sembari menguping dikit-dikit. Raut mukanya itu seakan senang. Senyum tipis penuh percaya diri, dagunya sedikit terangkat. Dia seperti sombong sekaligus bangga dengan sang kakak. Shogo menghampiri Ryo dan keduanya berjalan bersamaan sekarang. Yusei merengut bete karena pertanyaannya tak dijawab oleh temannya sendiri. “Hei, bantu kenalin aku ke kakakmu dong!” pinta Shogo. Ryo berhenti lalu menjawabnya, “No! Aku gak mau punya kakak ipar kaya kamu,” ia sambung dengan tawanya yang terbahak-bahak. Jauh sekali pemikiran anak itu. Di sisi lain, Yuuki yang mau masuk ke k
“Kak!” seru seseorang yang mengangkat ponselnya sembari melambaikan satu tangannya pada Hikaru. Dengan cepat, Hikaru berlari ke arahnya, “gimana? Udah ketemu siapa dalangnya?!” tanyanya. Orang tadi mengangguk yakin, ia serahkan ponselnya ke Hikaru. Laki-laki itu mengambil alih panggilan yang masih t
“Sebelah ini, Pak? Rumah yang sebelah betul??”“Betul, coba saja.”"Baik, terima kasih Pak. Maaf merepotkan."Hikaru menunduk sampai setengah badannya. Dia langsung pergi ke rumah yang di sebelah seusai berterima kasih dan meminta maaf atas gangguannya malam-malam seperti ini.Ada sebuah bel yang menemp
"Mau coba yang itu gak?" "Boleh." Saat ini, aku dan Kyohei sedang berada di pusat perbelanjaan di dekat stasiun. Sudah makan sejak tadi, kini kami ingin mencoba berbagai kue cantik di sebuah cafe. Banyak pernak-pernik dan ada juga buku-buku untuk dibaca di sini. Pelayanan yang diberikan juga s
“Mari saya antar. Silakan,” kata salah satu pegawai di sebuah perusahaan yang bertuliskan Daiki di depan gedungnya. Perusahaan itu adalah tempat papa Yuuki bekerja.Akhirnya, anak itu memutuskan untuk menemui papanya. Tetapi ia datang tanpa pemberitahuan, membuatnya menunggu sekitar satu setengah jam


![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




