LOGIN“Gimana kabar Ryo selama di sekolah?” tanya Hikaru setelah ia duduk mendekati Yuuki. Gadis itu menoleh, “Baik Kak. Kadang dia juga bareng aku kalo pas jam istirahat. Sepulang sekolah, dia sibuk ikut ekstra.”
Hikaru mencondongkan badan kekarnya itu ke depan. Sedikit menyamping, mengambil toples yang berisi biskuit matcha. Yang mana itu tergeletak di depan Yuuki. Tepat di depannya. Sontak anak itu bergeser dari titik duduknya.“Maaf, kamu kaget ya?” tanya Hikaru sambil men“Gimana kabar Ryo selama di sekolah?” tanya Hikaru setelah ia duduk mendekati Yuuki. Gadis itu menoleh, “Baik Kak. Kadang dia juga bareng aku kalo pas jam istirahat. Sepulang sekolah, dia sibuk ikut ekstra.”Hikaru mencondongkan badan kekarnya itu ke depan. Sedikit menyamping, mengambil toples yang berisi biskuit matcha. Yang mana itu tergeletak di depan Yuuki. Tepat di depannya. Sontak anak itu bergeser dari titik duduknya.“Maaf, kamu kaget ya?” tanya Hikaru sambil menggeser tubuhnya untuk memberi ruang agar Yuuki nyaman. Lalu ia mengalihkan pembicaraan. “Ry-ryo ikut ekstra apa? Musik juga?” gagapnya. Ia masih canggung karena tingkahnya yang seolah tak pikir panjang.Yuuki menggeleng cepat. “Bukan Kak. Dia ternyata pinter juga olahraganya. Jadi ya, guru olahraga cepet-cepet nyuruh dia masuk ekstranya. Sebelum keduluan mungkin,” jawab Yuuki lalu ia tertawa tipis.Bagi Hikaru, tawa itu sungguh terlihat menawan. Laki-laki itu bahkan sampai
“Hari ini pulang bareng yuk Kak?” pinta Ryo. Matanya menatap lembut sang kakak yang kini sedang menoleh ke arahnya. Baru saja mereka melewati gerbang sekolah, dan menyapa guru yang berjaga di sana.“Boleh. Tapi aku mungkin ngeband dulu. Gimana?”“Gak masalah Kak, aku tunggu di kelas.”“Ngapain di kelas. Masuk aja ke ruang musik.”“Hmm..” adik Yuuki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Oke deh!” lanjutnya.Ryo berpisah dengan Yuuki karena letak loker sepatu miliknya tak sebaris dengan kakaknya. Saat Yuuki sedang mengganti sepatunya dengan sepatu sekolah, seseorang menyapanya. Tanpa melihat siapa orang itu, Yuuki sudah tahu siapa dia. Kyohei. Dialah orangnya.“Minami gak minta berangkat bareng?” sindir Yuuki usai menjawab sapaan dari sahabatnya. Ah, atau mungkin mantan sahabat? Kyohei tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu terus mengajak Yuuki berbicara. Seolah ia sedang menebus obrolan-obrolan yang selama ini ditaha
“Baik. Kamu, lagi nungguin.. Yuuki?” Kyohei mengangguk, “Iya Kak.” “Yuukinya udah tahu?” tanya Usa dengan cepat saat ia melihat aura gelap di sekitar Hikaru. Lagi-lagi, Kyohei mengangguk. “Udah Kak, katanya sebentar lagi keluar,” ucap Kyohei. Suara pintu terbuka, ada Yuuki di sana. Bingungnya bukan main itu anak, dia gelagapan mengetahui semua kakak kos pulang. Terlebih, saat ia menatap Hikaru. Mungkin baginya, sedikit malu untuk membuat janji keluar dengan Kyohei. Orang yang disukainya dulu, dan, yah pokoknya orang yang bermasalah bagi Yuuki semenjak semester lalu. “Kalo gitu, kami pamit dulu Kak,” ujar Kyohei menatap semua orang. Yuuki hanya tersenyum pahit pada Usa, Shin, dan Hikaru. Lalu pada Aimi, ia menatap dalam penuh arti, seperti kode yang entahlah mungkin hanya sesama wanita yang mengerti. Melihat Yuuki dan Kyohei berlalu pergi, Aimi buru-buru mencari topik. Dan tentunya ia ajak masuk semua temannya. Untung saja, malam ini mereka menginap
“Yo!”“Hai Kak. Mau pesen kopi apa Kak?”“Samain kaya kamu aja.”“Oke aku pesen bentar Kak.”Ryo beranjak dari tempat duduknya yang mulai hangat. Ia memesankan kopi yang sama seperti miliknya untuk Shima. Anak itu meminta teman dekat kakaknya untuk keluar bersama, ia ingin bercerita tentang keluh kesahnya.Bukannya Ryo tak punya teman, ia hanya ingin bercerita pada seseorang yang menurutnya bisa dipercaya.“Jadi, kenapa kamu? Soal gosip sama kakakmu?” tanya Shima usai menyeruput kopi dingin di depannya. Ryo menegakkan punggungnya. Lalu, tangan kiri itu mengacak tipis rambut bagian belakangnya seraya mengangguk.“Terus, mau minta solusi atau sekedar butuh pendengar?”“Mmm.. cuma pengen cerita aja sih Kak. Tapi semisal Kak Shima mau kasih solusi gak masalah. Aku dengerin dan aku pertimbangin solusi itu.”Kemudian Ryo bercerita dari sudut pandangnya. Dia juga mengungkapkan rasa tak enak hati karena telah membuat
Hari telah berganti. Tapi, itu tak cukup untuk menghentikan Ren yang memaksa anak laki-lakinya supaya pulang ke rumah. Sudah menyakiti Yuuki, masih saja ia tak mengerti. Keinginan pribadi yang dipancarkan darinya, seberapa besar ia menusuk hati anaknya, ia tak pernah paham.Bahkan hari ini pun, Ren sudah berdiri menunggu anak-anaknya di sekolah. Setiap siswa yang lewat dipandanginya dengan saksama. Terkadang ia juga menanyakan apakah salah satu dari siswa yang lewat itu teman Yuuki dan Ryo atau bukan.Terhitung lima belas menit sudah, akhirnya yang dicari-cari menampakkan hidungnya. Namun, bukannya berhenti dan mengajak bicara papanya, Ryo dan Yuuki tak peduli dan berjalan melewati Ren tanpa bicara satu kata pun.Tersulut juga api amarah itu. Ren membentak Yuuki terlebih dulu, hanya karena ia seorang kakak. Ren sangat yakin, kalau Yuuki yang mengajari adiknya untuk bersikap tidak sopan pada orang tua.“Kamu itu ya, ngajarin adik yang bener
“Heii heii Hikkun!”“Kenapa?”“Sstttt!!! Jangan keras-keras!”Aimi menempelkan jari telunjuknya pada bibir Hikaru yang sedikit memerah saat ini. Dia baru saja makan makanan pedas, itulah penyebab bibirnya memerah.“Ada apa sih? Buru-buru banget naruh piring gitu? Pecah ntar pusing sendiri!?”“Stttt!!! Sttt!! Diem dulu ah! Bukan saatnya bahas piring!! Suruh jangan keras-keras juga lah!”Berbisik saat marah membuat Aimi kehilangan tenaganya. Ia mengambil gelas dan diisi air putih di dalamnya. Lalu ditenggak habis air minum itu.“Yuuki sama Ryo. Kenapa mereka?” tanya Aimi usai dari minumnya. Hikaru sempat mengalihkan tatapannya ke sembarang tempat. Ia tak menyangka kalau temannya ini akan langsung tahu dan bertanya padanya. Dan untungnya, gelagat Hikaru yang mencurigakan seolah sedang menyembunyikan sesuatu itu, tak tertera di mata Aimi kali ini.“Emm.. kalo gitu aku ajak mereka keluar deh besok, kita kan lagi ada waktu senggang di agensi.” ucap Aimi sambil berlalu.Saat semua orang







