بيت / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 18: Malam yang Tak Pernah Tidur

مشاركة

Bab 18: Malam yang Tak Pernah Tidur

مؤلف: Sasmita
last update تاريخ النشر: 2026-07-14 15:24:12

Tenda medis yang dingin dan berbau antiseptik menjadi tempat perlindungan sementara bagi Nika dan Ardi. Setelah Ardi mendapatkan penanganan pertama pada pergelangan kakinya yang terkilir, suasana di dalam tenda terasa canggung namun menenangkan.

Suara gesekan dedaunan di luar tenda terdengar lebih damai dibanding jeritan emosi yang terjadi di lapangan perkemahan tadi.

​Nika dengan telaten membalut perban di kaki Ardi. Sesekali ia mendongak, mendapati Ardi yang terus memperhatikannya dengan pa
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Degrees Of Intimacy   Bab 50: Penyusupan ke Jantung Kegelapan

    Suara desir angin malam di kawasan industri Pulogadung terdengar bercampur dengan deru mesin genset raksasa dari kejauhan. Di balik semak-semak tinggi di sisi belakang pagar kawat berduri kompleks gudang terbengkalai, Ardi, Gibran, dan Dania berjongkok dalam keheningan total. ​Ardi mengenakan jaket hitam gelap, napasnya memburu pelan sementara tangannya mencengkeram sebuah multitool kecil. Di balik perbannya, luka operasi di perutnya masih terasa berdenyut nyeri, namun ia mengabaikan rasa sakit itu sepenuhnya. ​"Sistem kamera pengawas sektor barat sudah mulai aktif berputar ke arah kiri," bisik Dania lirih dari balik laptop kecil di pangkuannya, matanya menatap tajam layar yang memantulkan cahaya biru redup. "Gibran, sekarang waktunya." ​Gibran mengangguk cepat. Jemarinya bergerak lincah memasukkan barisan kode skrip override ke dalam alat pemancar sinyal mini yang terhubung langsung dengan panel utama gardu listrik gudang. ​"Tiga... dua... satu... execute," gumam Gibran pelan.

  • Degrees Of Intimacy   Bab 49: Susunan Rencana di Balik Layar

    Suara ketukan jari di atas permukaan meja kayu tua terdengar berirama dan konstan, memecah kesunyian malam yang mencekam di ruang tamu klinik pribadi milik keluarga Pak Surya yang temaram. Ardi tampak mondar-mandir mondar-mandir tanpa henti di depan jendela besar yang menghadap ke halaman luar. Wajahnya masih menyisakan lebam kebiruan yang cukup pekat, dan perban putih di sekitar perutnya tampak sedikit basah oleh keringat dingin akibat rasa nyeri yang terus berdenyut. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, bagaikan duri tajam yang terus menghujam jantungnya tanpa ampun. ​"Ardi, kumohon berhenti mondar-mandir seperti itu. Kamu bisa membuat jahitan luka operasimu robek lagi kalau terus memaksa bergerak," tegur Dania pelan dari sudut ruangan, tangannya sibuk merapikan beberapa dokumen penting serta peralatan komunikasi darurat di atas meja kecil. ​Ardi serta-merta menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh tajam ke arah Dania dengan mata merah menyala yang penuh oleh amarah

  • Degrees Of Intimacy   Bab 48: Titik Balik di Markas Rahasia

    Suara deru mesin mobil sedan hitam yang membawa Nika menderu kencang membelah jalanan tol lingkar luar Jakarta, meninggalkan pelabuhan tua yang kini perlahan kembali sepi. Di dalam kabin belakang yang pengap, tangan Nika terikat kencang di belakang punggungnya dengan kabel ties plastik yang mengerat pergelangan tangannya. ​Meski jantungnya berdegup kencang dan rasa mual akibat kehamilannya sempat mendera gelombang perutnya, Nika memaksa pikirannya tetap jernih. Ia tahu meronta atau berteriak tidak akan mengubah keadaan. Yang ia butuhkan saat ini adalah mengamati lingkungan sekitar dan mencari celah sekecil apa pun. ​Satu, dua, tiga... Nika dalam hati menghitung tikungan dan durasi perjalanan sejak mereka meninggalkan pelabuhan. Dari perhitungannya terhadap guncangan mobil dan arah angin, ia yakin mereka dibawa ke kawasan industri lama di daerah Pulogadung atau sekitar Cakung, basis gudang logistik terbengkalai yang sering digunakan sebagai tempat penyimpanan gelap. ​Benar saja, be

  • Degrees Of Intimacy   Bab 47: Bayangan di Balik Kontainer

    "ARDI!" teriakan Nika memecah malam yang dingin saat para penjaga bertubuh kekar itu mulai menerjang ke arah kelompok mereka dengan senjata terhunus. ​Ledakan kecil yang memekakkan telinga mendadak meletus dari genggaman Ardi, menciptakan kepulan asap tebal berwarna putih dan kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya itu seketika membutakan pandangan para penjaga, membuat mereka tersentak mundur sambil mengumpat dalam bahasa asing.Memanfaatkan kekacauan singkat itu, Gibran langsung bertindak cepat, ia menarik tangan Dania dan Nika dengan kuat, membimbing mereka merangsek masuk ke dalam celah sempit di antara tumpukan kontainer pelabuhan yang berkarat. ​"Lewat sini! Jangan berhenti, cepat!" bisik Gibran panik, napas mereka memburu di tengah gelapnya lorong antar-kontainer. ​Namun, takdir berkata lain. Sebelum Nika sempat melangkah lebih jauh ke dalam keamanan bayangan kontainer, sebuah lengan kekar tiba-tiba mencengkeram bahunya dari belakang dengan tenaga yang luar biasa besar.

  • Degrees Of Intimacy   Bab 46: Kepungan di Pelabuhan Tua

    Cahaya lampu sorot yang menyilaukan mata langsung menghantam tubuh Nika, Ardi, Gibran, dan Dania begitu mereka berhasil keluar dari lubang pemeliharaan bawah tanah. Suara deru mesin beberapa mobil taktis dan sedan hitam bergema memantul di dinding-dinding gudang pelabuhan yang kosong dan berkarat. ​"Sial, kita terjebak!" seru Gibran panik, matanya liar mencari celah untuk melarikan diri ke arah kontainer-kontainer pelabuhan di sekeliling mereka. ​"Jangan bergerak atau kalian akan tertembak!" suara berat dari pengeras suara kembali membahana, memecah angin malam pelabuhan yang dingin. ​Ardi yang berdiri sempoyongan dengan luka tembak di perutnya langsung menarik tubuh Nika ke belakang punggungnya. Meski wajahnya pucat pasi dan tenaganya hampir habis, ia tetap berusaha melindungi gadis itu. "Nika, dengar... kalau mereka mendekat, kamu harus lari ke arah kontainer itu. Jangan pedulikan aku." ​Nika langsung mencengkeram lengan Ardi dengan erat, menatap pria itu tajam. "Jangan bi

  • Degrees Of Intimacy   Bab 45: Labirin Bawah Tanah

    Bau lembap, lumpur, dan karat berpadu menjadi satu di dalam saluran utilitas kota yang remang-remang. Hanya ada pantulan cahaya senter dari ponsel Gibran yang membelah kegelapan terowongan beton berukuran sedang itu. Air setinggi mata kaki mengalir lambat, menciptakan suaracipratan kecil setiap kali sepatu mereka melangkah. ​"Ardi, bersandarlah padaku lebih banyak," bisik Dania cemas, membantu Gibran memapah Ardi yang napasnya mulai terdengar memburu. ​Ardi menggeleng pelan, wajahnya yang pucat pasi diterpa cahaya redup. "Tidak... Dania, simpan tenagamu. Aku masih bisa berjalan sendiri." ​"Jangan sok kuat, Ardi!" suara Nika memecah kesunyian dari belakang. Ia berjalan dengan waspada sambil terus memindai area belakang menggunakan senter kecilnya. "Kalau kamu pingsan di sini, kami tidak punya alat medis untuk mengangkatmu. Jadi, berhenti berdebat dan ikuti saja instruksi Dania." ​Ardi menoleh ke belakang, menatap Nika dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Kamu benar-benar t

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status