LOGINDi hari ini, lobi tidak segitu ramai biasanya. Sebagian orang lalu-lalang, sisanya fokus ke pekerjaan masing-masing, termasuk resepsionis. Bunyi langkah-langkah kaki, dan denting halus dari pintu kaca hanya menjadi semarak ringan. Tidak ada yang aneh, tetapi Ajeng merasakan keganjalan di batinnya.Dia melangkah pelan, satu tangan bertumpu di perutnya. Pikiran masih tertinggal di kamar—mengenai percakapan kemarin bersama Abimana. Ada banyak hal yang belum benar-benar selesai, tapi setidaknya dia memiliki pelindung. Itu lebih dari cukup saat ini. Ajeng melewati deretan kursi tunggu. Tumit sepatunya mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan intonasi teratur. Satu ... dua ... tiga ... lalu samar-samar ada suara lain. Pendengarannya peka di sini, menangkap sesuatu nan asing sekaligus tidak dapat dibuktikan. Sejenak dia mematung. Keningnya berkerut, memperkirakan perasaan apa barusan tadi. Dia pura-pura menarik tas di bahunya. Napasnya berembus rendah. Pandangnya menyapu sekitar, sekilas saja
Entah karena suasana hati atau memang situasi yang mendukung, ketenangan di kamar Ajeng begitu pekat menguar. Tirainya sudah menutupi hampir seluruh jendela, padahal di luar masih kelihatan terang oleh cahaya sore. Biasnya masuk ke celah-celah, merambat ke sudut ranjang mengenai puluh sebagian tubuh Ajeng. Ajeng duduk bersandar pada tumpukan bantal. Satu tangan bertumpu di perutnya yang makin berat, tangan lainnya memegang ponsel setengah ingin. Pikirannya tidak di situ, melayang ke masalah yang bersarang di benaknya. Sejemang, langkah kaki nan akrab menyebabkan dia mendongak. Pintu kamar terbuka, serentak Abimana masuk hanya dengan seulas senyum tipis. Jasnya langsung dilepas, menyisakan kemeja sedikit kusut di lengannya. "Mas ..." panggil Ajeng, meski dia sendiri bimbang harus berkata apa. Abimana menutup pintu sebelum merajut langkah ke ranjang. Dia berdiri sejenak di samping seraya menatap istrinya, memastikan sesuatu dari sorot mata yang tampak. "Adek cape?" tanyanya akhirn
Keheningan yang kelewat fokus menguasai ruang kerja, dengan pencahayaan siang dari setengah tirai terbuka. Di atas meja, berkas-berkas tersusun rapi, mencerminkan bagaimana cara si pemilik menata kehidupan—terukur tanpa menyisakan celah. Di tengah keseriusan yang menggantung, ketukan ringan terdengar dari balik pintu. "Masuk!" Seru Abimana, tidak pula menjauhkan pandangnya dari tumpukan pekerjaan. Di sana, Arjuna berdiri di ambang. Tubuhnya tegak, kendati di matanya terbaca setitik bimbang. Sebagian kecil di hatinya hendak menahan, namun kini dia enggan membiarkan egonya menang. Sekali hembusan napasnya mengudara panjang. Dia sama sekali tak keberatan dengan sikap Abimana, terlebih iparnya itu tidak mengetahui rencana kedatangannya. "Maaf, sepertinya aku datang di waktu yang salah." Arjuna masih bisa mengendalikan ucapannya, berbanding terbalik dengan kegelisahan di sorot matanya. Warna suara tersebut menyinggung atensi Abimana. Spontan pandangnya terangkat, menampakkan wajah d
Lobi hotel itu tampak sepi dengan hawa sejuk yang menggigit, bahkan di siang hari begini. Arjuna mengenali setiap sudutnya. Termasuk arah pantulan cahaya di lantai marmer. Tempat itu telah menjadi persinggahan sementara dalam hidupnya. Sejak Alyssa memilih menepi, langkah kakinya kerap berakhir di sana. Kadang dengan maksud jelas, ada pula cuma untuk memastikan istrinya baik-baik saja.Pintu kamar terbuka setelah ketukan singkat.Alyssa berdiri di ambang, wajahnya tampak lelah namun tetap bersahaja. Rambutnya diikat longgar, gaun sederhana menutupi tubuh yang kian menampakkan usia kandungan. Tatapannya menyiratkan kejenuhan yang lunak."Kamu datang cepat." Sapaannya terdengar datar saat dia memberi jalan masuk.Arjuna melangkah ke dalam, sembari menutup pintu di belakangnya. Ruangan sunyi menyambut kehadiran dia, beriringan dengung AC berputar pelan. Pandangannya secara refleks menyapu seisi kamar itu—masih terlalu rapi untuk persinggahan."Aku cuma mau tahu kamu gimana. Wajar 'kan kh
Kamar samar-samar masih dilingkupi wangi sabun pel. Seprai telah dirapikan, bantal disusun kembali, sebagai rutinitas mingguan demi menjaga kenyamanan dia dan suaminya. Tangannya bergerak otomatis—menarik sudut seprai dan meratakan lipatannya. Lalu, derap langkah pelan di ambang pintu membuatnya tersentak.Gerakannya terhenti. Sepasang telempap nya tengah menekan permukaan kasur, seiring jari-jarinya kaku. Ajeng mematung, tubuhnya membutuhkan jeda untuk mengenali kehadiran siapa yang baru saja datang."Boleh ibu masuk, Nak?"Suara tersebut lembut, sekaligus menyimpan beban. Di sana, ibunya berdiri di bingkai pintu, enggan langsung melangkah masuk. Pandangnya menyiratkan permohonan—dan perkara yang lebih dalam berupa kesedihan serta kegelisahan.Ajeng menelan ludah. Dadanya sesak akan perkara yang tidak bisa dia namai. Dia menengok lamban, memaksakan senyum tipis yang sesungguhnya juga mengandung sungkan. "Bu—" Kata itu menggantung, kehilangan kelanjutannya. Sejemang dia mengangguk, s
Abimana menatap layar komputernya, meski dia tak benar-benar membaca baris demi baris yang terpampang. Padahal kursor berkedip, seperti menyamai denyut pikiran yang berdentum ke banyak titik.Belakangan hari ada sesuatu yang mengganggu ritme kerjanya, berupa intuisi serta jenis kegelisahan yang sesungguhnya.Perubahan Diana terlalu halus jika disebut mencurigakan. Tetapi, dia kelewat konsisten untuk diabaikan. Abimana tidak menyukai hal-hal yang mengaburkan batas. Dan ketika batas itu mengabur, dia tahu dirinya perlu mengambil sikap.Panggilan internal dikirimnya ke meja personalia. Nama Dimas terlintas pertama kali. Pria muda itu pernah menggantikan posisi Diana saat cutinya beberapa waktu lalu—cepat, rapi, serta tidak pula mencampurkan urusan personal ke dalam pekerjaan.Tak lama berselang, pintu ruangannya diketuk."Masuk!" Dimas berdiri di ambang pintu dengan postur yang tegak. "Bapak manggil saya?""Duduk, Dimas," lanting Abimana sambil menutup dokumen di layarnya.Dimas duduk s
Kafetaria lantai bawah tampak lapang ketika Diana Sophia mengambil tempat di sudut yang agak tertutup. Dinding kaca memantulkan sinar mentari yang sedikit lembut di pagi ini, turun ke permukaan meja kayu berlapis pernis. Dia menyiasati segalanya. Salah satunya dengan membaca saat-saat situasi tidak
Meja makan malam terisi seperti biasa, diterangi cahaya remang jingga yang memantul ke permukaan set kayu sebagai pusat kebersamaan keluarga. Uap masakan mengepul dengan bau lezat yang seharusnya menggugah selera. Cahyani duduk di ujung meja, sedang merapikan serbet di pangkuannya. Mumu mondar-ma
Setengah jam lebih tujuh menit taxi yang dinaiki Ajeng berhenti di depan rumah Olivia. Seperti orang linglung, dia menatap datar pagar rendah berwarna putih itu. Di dalamnya berdiri sebuah rumah yang menguarkan rasa hangat, keramahan juga kejujuran. Tidak ada desain mencolok, namun sedap di pandang.
Siang ini suasana rumah keluarga Abimana menguarkan rasa damai. Jendela-jendela dibiarkan terbuka lebar, menyambut kemurnian udara dari luar. Tirai tipis bergerak perlahan setiap embusan nya lewat, membentuk lengkung-lengkung lembut yang melayang.Di ruang tengah, Cahyani duduk bersandar di sofa. D







