Se connecterTiga bulan setelah perceraian, Annasya tinggal di rumah kontrakan kecil di ujung kota. Satu kamar tidur. Dapur mungil yang menyatu dengan ruang tamu. Kamar mandi dengan pintu yang kadang macet. Tapi cukup. Cukup untuk dia dan Chika.
Nafkah anak diberikan Aldo pas-pasan. Tepat nominal, tidak pernah lebih. Tiga ratus ribu rupiah per bulan. Cukup untuk beras, telur, dan sesekali membelikan Chika susu kotak. Annasya juga mulai menjahit pesanan tetangga untuk tambahan uang.
Malam itu, Chika sudah tidur pulas dengan boneka kelinci kesayangannya di samping bantal. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya remang-remang. Annasya duduk di teras rumah kontrakan, menikmati angin malam yang dingin, ditemani segelas teh manis hangat dan pikirannya yang kusut. Lalu ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari Raka.
Raka. Sahabat Aldo. Laki-laki yang dulu selalu datang membawa buah tangan setiap kali berkunjung ke rumahnya dulu. Laki-laki yang tidak pernah bicara banyak, tapi matanya selalu terlihat sedih saat menatap Annasya. Seperti dia melihat sesuatu yang menyakitkan tapi tidak berani dia bicarakan.
[Assalamu'alaikum, Annasya. Besok aku ke rumahmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Penting].
Annasya menatap layar ponselnya. Jarinya berhenti di atas keyboard. Dia ingin bertanya, “Ada apa?” Tapi kemudian mengurungkannya.
[Penting? Ada apa?]
Dia tidak tahu bahwa di tempat lain—di rumah Aldo yang sekarang sepi dan berantakan karena tidak ada perempuan yang merawatnya—dua orang sedang duduk berdua di ruang tamu.
Aldo dan Raka. Dua sahabat yang dulu tidak pernah terpisahkan. Sekarang duduk terpisah oleh satu meja kayu jati—meja yang sama tempat cincin kawin Annasya tergeletak tiga bulan lalu.
“Kamu yakin mau melakukan ini, Aldo?” tanya Raka. Suaranya datar. Tidak bisa ditebak apakah dia setuju atau tidak.
“Yakin,” jawab Aldo. Matanya merah. Lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan dia jarang tidur.
Raka diam. Wajahnya tidak berekspresi.
“Apa kamu tidak berpikir kalau Annasya akan terluka lagi?”
“Dia akan mengerti,” kata Aldo. Tangannya menggenggam erat lututnya sendiri.
Raka menunduk. Lalu dia mengangguk pelan. Namun di dalam hati, Raka berbisik pada dirinya sendiri, “Maafkan aku, Aldo. Aku tidak bisa melakukan itu.”
Raka mengangkat wajahnya. Menatap Aldo, sahabatnya yang tidak tahu apa-apa.
“Baik, Aldo. Aku akan melakukannya besok.”
Aldo menghela napas lega. Bahunya yang tegang perlahan mengendur.
“Terima kasih, Raka. Kamu sahabat terbaik.”
Raka hanya tersenyum.
Di sisi lain, Annasya mematikan layar ponselnya. Teh manis di tangannya sudah dingin. Dari dalam kamar, terdengar suara Chika bergumam dalam tidurnya, “Ayah ... Chika sayang Ayah …”
Annasya menutup mata. “Maafkan Ibu, Chika,” bisiknya. “Ibu tidak bisa lagi bersama ayahmu.”
Malam berlalu sampai pagi.
Pagi itu hujan gerimis. Air membasahi pepohonan di pinggir gang sempit menuju rumah kontrakan Annasya. Tanah merah di halaman depan rumah becek dan licin. Beberapa genangan air terbentuk di lubang-lubang kecil yang sudah Annasya laporkan pada pemilik kontrakan dua bulan lalu tapi tidak pernah diperbaiki.
Annasya sedang menyuapi Chika bubur ayam hangat. Chika duduk di kursi plastik merah kesayangannya, rambut keritingnya masih berantakan karena belum disisir.
“Mmmm ... enak bubulnyaaa …” Chika membuka mulut lebar-lebar seperti anak burung yang diberi makan induknya.
Annasya tersenyum. Sendok kecil berisi bubur perlahan masuk ke mulut mungil putrinya. “Pinter Chika. Satu suap lagi, ya, Sayang.”
Lalu ketukan di pintu terdengar.
Tok. Tok. Tok.
Tiga kali. Sopan. Tidak terburu-buru.
Annasya menoleh ke arah pintu. Alisnya berkerut. Dia bertanya-tanya, ‘Siapa bertamu di pagi hari gerimis begini?’
Dia tidak pernah mendapat tamu di pagi hari. Teman-temannya sudah jarang berkunjung sejak dia pindah ke kontrakan ini. Mungkin karena malu? Atau mungkin karena tidak ingin terlibat dengan urusan perempuan yang baru saja diceraikan talak tiga oleh suaminya.
“Chika tunggu ya, Ibu buka pintu dulu.”
Annasya meletakkan mangkuk bubur di meja, menyeka tangannya dengan kain lap kecil, lalu berjalan ke pintu. Dia membuka pintu. Dan di depan matanya berdiri Raka.
Laki-laki itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang disetrika rapi. Celana kain hitam. Sepatu pantofel mengilap yang sekarang sedikit terkena cipratan air hujan.
Rambutnya disisir rapi ke samping. Dia membawa sebuah keranjang buah berisi apel merah, anggur hijau, dan jeruk sunkist yang dibungkus plastik bening.
Raka tersenyum. Senyum yang dulu sering Annasya lihat saat Raka berkunjung ke rumahnya bersama Aldo. Senyum yang tidak pernah berlebihan. Senyum yang membuat Annasya merasa canggung.
“Assalamu'alaikum, Annasya.”
Suaranya dalam. Tenang. Tidak seperti Aldo yang selalu terdengar terburu-buru. Annasya masih terpaku di ambang pintu. Pikirannya berkelebat ke mana-mana.
Namun Annasya buru-buru tersadar karena sudah terlalu lama terdiam. Dia tidak ingin terlihat tidak sopan.“Raka? Mari masuk.”
Raka belum pernah datang sendirian ke rumah Annasya. Dulu, dia selalu datang bersama Aldo. Atau jika datang sendiri pun, itu hanya untuk mengantar sesuatu—makanan, titipan barang, atau sekadar menyampaikan pesan dari Aldo.
Namun kali ini berbeda.
Dia datang sebagai pelaksana rencana Aldo. Meski di hatinya, dia datang sebagai laki-laki yang sudah lama menyimpan perasaan.
Dan pertanyaan besarnya, akankah Annasya mengatakan ya? Atau akankah dia menolak tanpa tahu bahwa di balik lamaran ini ada konspirasi yang akan menghancurkan hidupnya lagi?
Raka mengangguk sopan. Dia menunduk sedikit—sebuah gestur hormat yang jarang dilakukan laki-laki seusianya. Kemudian dia masuk ke dalam rumah kontrakan Annasya.
Matanya menjelajahi ruangan kecil itu.
Satu ruang tamu yang menyatu dengan dapur. Sofa jati tua dengan bantal duduk yang sudah mulai kempes. Meja kayu sederhana dengan taplak plastik bermotif bunga-bunga. TV tabung kecil di pojok ruangan—hadiah dari tetangga yang pindah rumah. Dinding bercat putih kusam dengan beberapa bercak lembab di sudut-sudutnya.
Namun semuanya rapi. Bersih. Wangi.
‘Ini rumah perempuan yang berjuang,’ pikir Raka. ‘Perempuan yang tidak menyerah meski hidup menggulungnya sekencang mungkin.’
“Silakan duduk, Raka. Maaf rumahnya kecil,” kata Annasya sambil merapikan bantal sofa yang kempes.
“Tidak apa-apa. Rumahmu rapi.”
Raka duduk dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu. Keranjang buah dia letakkan di atas meja.
Annasya duduk di seberangnya. Jeda. Canggung.
“Chika, ayo sapa Om Raka.”
Chika yang dari tadi diam memperhatikan dari kursi plastik merahnya, perlahan turun. Gadis kecil itu berjalan tertatih-tatih mendekati Raka. Matanya yang bulat dan hitam menatap laki-laki itu dengan rasa ingin tahu.
“Om …” Chika mengulurkan tangan mungilnya.
Raka tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah Annasya lihat dari laki-laki itu. Dia membungkuk sedikit, meraih tangan Chika, dan menggenggamnya dengan lembut.
“Halo, Chika. Kamu tambah cantik, ya.”
Chika terkikik. “Matatih Om ... Om bawa apel!” matanya berbinar melihat keranjang buah.
“Iya. Om bawain apel untuk Chika dan ibu kamu.”
“Chika mau apel! Chika mau!”
“Chika, nanti Ibu potongin ya. Sekarang Chika main dulu ya. Ibu mau ngomong sama Om Raka.” Annasya menggandeng Chika kembali ke kursinya.
Setelah Chika sibuk dengan sendok dan mangkuk buburnya lagi, Annasya kembali menghadap Raka.
“Jadi ... ada perlu apa, Raka?
Bersambung …
***
Dua minggu telah berlalu lebih cepat dari yang Annasya duga. Kini sampai di penghujung waktu yang telah dia janjikan pada Raka. Dan dua minggu yang memberinya banyak waktu untuk berpikir.Malam ini, Annasya duduk di kamar Chika, menatap putrinya yang tertidur pulas dengan boneka kelinci di samping bantalnya. Wajah Chika begitu tenang, tidak tahu bahwa ibunya akan membuat keputusan besar malam ini, tidak tahu bahwa hidup mereka mungkin akan segera berubah.Annasya mencium kening Chika pelan. “Doakan Ibu, Sayang,” bisiknya. “Ibu tidak ingin salah pilih.”Dia keluar dari kamar, merapikan jilbab dusty pink yang dia kenakan—jilbab yang sama saat dia pertama kali melamar pekerjaan di toko Bu Dewi. Rok panjang hitam dan blazer krem melengkapinya.Sedikit bedak dan lipstik pink tipis. Dia ingin terlihat baik-baik saja. Bukan untuk Raka. Tapi untuk dirinya sendiri. Sebagai bentuk penghormatan pada momen penting ini.Annas
Annasya masih duduk di ruang tamu, memandangi masakannya yang sudah matang namun tidak disantap. Pikirannya terlalu kacau untuk beraktivitas hari itu.Dia butuh seseorang untuk diajak bicara. Bukan Raka, bukan Aldo, bukan orang yang terlibat langsung dalam pusaran ini. Seseorang yang netral, yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi, yang tidak punya kepentingan apa pun atas jawaban yang akan dia berikan dua minggu lagi.Annasya membuka ponselnya. Jari telunjuknya bergerak di atas daftar kontak, berhenti pada satu nama yang sudah lama tidak dia hubungi.Jeeha.Sepupunya. Anak dari kakak ibunya. Mereka tumbuh bersama di kampung halaman, bermain di sawah, mandi di sungai, berbagi cerita tentang cita-cita.Dulu mereka sangat dekat, tapi setelah Annasya menikah dengan Aldo dan pindah ke kota, komunikasi mereka merenggang.“Lama tidak bertemu,” bisik Annasya. “Mungkin ini saatnya bertemu dia.”Dia menekan tombol pangg
Aldo mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan Annasya dan untuk sesaat, ada sesuatu yang terlihat di sana. Bukan marah, bukan kesal, bukan kebencian. Tapi... kesedihan. Kesedihan yang sangat dalam.“Annasya,” sapa Aldo, suaranya parau, seperti orang yang baru saja bangun tidur atau orang yang sudah lama tidak bicara.Aldo mendekat, tapi Annasya mundur selangkah. Aldo berhenti. Matanya sedikit menyipit — terluka — tapi dia tidak maju lagi.“Chika mana?” tanya Aldo. Bukan basa-basi. Bukan pembuka percakapan tentang cuaca atau kabar. Langsung ke inti. Langsung pada anaknya.Annasya menggenggam erat tali tas selempangnya. Jari-jarinya yang dingin meremas kulit tas itu hampir sampai memutih. “Chika masih di rumah Bu RT. Aku belum jemput dia. Rencananya aku mau masak makan malam dulu, baru jemput dia.”Aldo mengangguk. Matanya menatap ke arah rumah Bu RT di ujung gang — rumah dengan cat hijau pucat ya
“Aku perlu waktu sendirian. Tanpa kamu. Tanpa Aldo. Tanpa tekanan dari siapa pun. Aku perlu berpikir jernih, dan aku tidak bisa berpikir jernih kalau kamu terus datang ke sini, mengantar Chika jalan-jalan, dan membuat Chika semakin dekat denganmu.”Raka terdiam. Ada sedikit kekecewaan di matanya, tapi dia mengangguk.“Aku mengerti.”“Ini bukan karena aku tidak suka dengan kehadiranmu,” lanjut Annasya cepat, seolah takut Raka salah paham. “Ini karena aku perlu ... jujur pada diriku sendiri. Tanpa pengaruh dari siapa pun. Termasuk kamu, dan Chika.”Raka tersenyum tipis. “Aku tahu. Aku akan menjaga jarak. Dua minggu. Tapi setelah itu ... aku datang lagi.Aku jJanji.”Annasya mengangguk.Raka berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti. Tidak menoleh, hanya membelakangi Annasya.“Annasya.”“Iya?”“Apa pun jawabanmu nanti ... aku aka
Sore hari saat Annasya tiba di kontrakan, langit mulai berwarna jingga kemerahan. Matahari di ufuk barat perlahan tenggelam, meninggalkan sisa-sisa cahaya yang hangat di balik pepohonan. Udara mulai terasa sejuk, angin sore membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering dari selokan di belakang rumah. Burung-burung mulai pulang ke sarangnya, bertengger di dahan pohon rindang di depan gang, sesekali berkicau pelan seolah mengucapkan selamat tinggal pada hari yang berlalu.Tapi di sela-sela kesibukannya, pikiran Annasya tidak pernah benar-benar tenang.Dua hari. Sudah dua hari sejak Raka bertanya di mobil. Sudah dua hari sejak Annasya mengatakan bahwa dia belum yakin. Sudah dua hari sejak Chika dengan polosnya memilih Raka daripada ayah kandungnya sendiri.Dan sekarang, Raka akan bertanya lagi.Annasya bisa merasakannya. Ada sesuatu kegugupan yang tidak bisa dia sembunyikan, kegelisahan yang membuat jemarinya dingin meskipun cuaca tidak sedingin itu. Sejak R
Dia teringat empat bulan terakhir. Sejak perceraian, Aldo memang jarang datang untuk bertemu Chika. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu. Itu pun hanya sebentar — setengah jam, paling lama satu jam. Aldo akan menggendong Chika, menanyakan kabarnya, lalu pergi lagi.Tidak pernah lebih. Tidak pernah mengajak Chika bermain seharian seperti Raka. Tidak pernah membawanya ke mall atau ke taman seperti yang dilakukan Raka akhir-akhir ini.Dan Chika yang ceria, Chika yang selalu tersenyum, Chika yang jarang menangis, mungkin diam-diam merasakan kehilangan itu.Annasya menunduk. Jari-jarinya yang masih memainkan ujung jilbab kini berhenti.“Ibu sudah berusaha, Chika,” bisiknya lirih. “Ibu sudah berusaha menjadi ibu sekaligus ayah untukmu. Tapi Ibu tahu, Ibu tidak akan pernah bisa menggantikan ayah.”Di dalam hatinya, Annasya mengakui sesuatu yang selama ini tidak pernah dia ucapkan dengan lantang bahwa Chika butuh sosok ay







