Share

Bab 2

last update publish date: 2026-04-10 10:51:31

Tiga bulan setelah perceraian, Annasya tinggal di rumah kontrakan kecil di ujung kota. Satu kamar tidur. Dapur mungil yang menyatu dengan ruang tamu. Kamar mandi dengan pintu yang kadang macet. Tapi cukup. Cukup untuk dia dan Chika.

Nafkah anak diberikan Aldo pas-pasan. Tepat nominal, tidak pernah lebih. Tiga ratus ribu rupiah per bulan. Cukup untuk beras, telur, dan sesekali membelikan Chika susu kotak. Annasya juga mulai menjahit pesanan tetangga untuk tambahan uang.

Malam itu, Chika sudah tidur pulas dengan boneka kelinci kesayangannya di samping bantal. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya remang-remang. Annasya duduk di teras rumah kontrakan, menikmati angin malam yang dingin, ditemani segelas teh manis hangat dan pikirannya yang kusut. Lalu ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari Raka.

Raka. Sahabat Aldo. Laki-laki yang dulu selalu datang membawa buah tangan setiap kali berkunjung ke rumahnya dulu. Laki-laki yang tidak pernah bicara banyak, tapi matanya selalu terlihat sedih saat menatap Annasya. Seperti dia melihat sesuatu yang menyakitkan tapi tidak berani dia bicarakan.

[Assalamu'alaikum, Annasya. Besok aku ke rumahmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Penting].

Annasya menatap layar ponselnya. Jarinya berhenti di atas keyboard. Dia ingin bertanya, “Ada apa?” Tapi kemudian mengurungkannya.

[Penting? Ada apa?]

Dia tidak tahu bahwa di tempat lain—di rumah Aldo yang sekarang sepi dan berantakan karena tidak ada perempuan yang merawatnya—dua orang sedang duduk berdua di ruang tamu.

Aldo dan Raka. Dua sahabat yang dulu tidak pernah terpisahkan. Sekarang duduk terpisah oleh satu meja kayu jati—meja yang sama tempat cincin kawin Annasya tergeletak tiga bulan lalu.

“Kamu yakin mau melakukan ini, Aldo?” tanya Raka. Suaranya datar. Tidak bisa ditebak apakah dia setuju atau tidak.

“Yakin,” jawab Aldo. Matanya merah. Lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan dia jarang tidur.

Raka diam. Wajahnya tidak berekspresi.

“Apa kamu tidak berpikir kalau Annasya akan terluka lagi?”

“Dia akan mengerti,” kata Aldo. Tangannya menggenggam erat lututnya sendiri.

Raka menunduk. Lalu dia mengangguk pelan. Namun di dalam hati, Raka berbisik pada dirinya sendiri, “Maafkan aku, Aldo. Aku tidak bisa melakukan itu.”

Raka mengangkat wajahnya. Menatap Aldo, sahabatnya yang tidak tahu apa-apa.

“Baik, Aldo. Aku akan melakukannya besok.”

Aldo menghela napas lega. Bahunya yang tegang perlahan mengendur.

“Terima kasih, Raka. Kamu sahabat terbaik.”

Raka hanya tersenyum.

Di sisi lain, Annasya mematikan layar ponselnya. Teh manis di tangannya sudah dingin. Dari dalam kamar, terdengar suara Chika bergumam dalam tidurnya, “Ayah ... Chika sayang Ayah …”

Annasya menutup mata. “Maafkan Ibu, Chika,” bisiknya. “Ibu tidak bisa lagi bersama ayahmu.”

Malam berlalu sampai pagi.

Pagi itu hujan gerimis. Air membasahi pepohonan di pinggir gang sempit menuju rumah kontrakan Annasya. Tanah merah di halaman depan rumah becek dan licin. Beberapa genangan air terbentuk di lubang-lubang kecil yang sudah Annasya laporkan pada pemilik kontrakan dua bulan lalu tapi tidak pernah diperbaiki.

Annasya sedang menyuapi Chika bubur ayam hangat. Chika duduk di kursi plastik merah kesayangannya, rambut keritingnya masih berantakan karena belum disisir.

“Mmmm ... enak bubulnyaaa …” Chika membuka mulut lebar-lebar seperti anak burung yang diberi makan induknya.

Annasya tersenyum. Sendok kecil berisi bubur perlahan masuk ke mulut mungil putrinya. “Pinter Chika. Satu suap lagi, ya, Sayang.”

Lalu ketukan di pintu terdengar.

Tok. Tok. Tok.

Tiga kali. Sopan. Tidak terburu-buru.

Annasya menoleh ke arah pintu. Alisnya berkerut. Dia bertanya-tanya, ‘Siapa bertamu di pagi hari gerimis begini?’

Dia tidak pernah mendapat tamu di pagi hari. Teman-temannya sudah jarang berkunjung sejak dia pindah ke kontrakan ini. Mungkin karena malu? Atau mungkin karena tidak ingin terlibat dengan urusan perempuan yang baru saja diceraikan talak tiga oleh suaminya.

“Chika tunggu ya, Ibu buka pintu dulu.”

Annasya meletakkan mangkuk bubur di meja, menyeka tangannya dengan kain lap kecil, lalu berjalan ke pintu. Dia membuka pintu. Dan di depan matanya berdiri Raka.

Laki-laki itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang disetrika rapi. Celana kain hitam. Sepatu pantofel mengilap yang sekarang sedikit terkena cipratan air hujan.

Rambutnya disisir rapi ke samping. Dia membawa sebuah keranjang buah berisi apel merah, anggur hijau, dan jeruk sunkist yang dibungkus plastik bening.

Raka tersenyum. Senyum yang dulu sering Annasya lihat saat Raka berkunjung ke rumahnya bersama Aldo. Senyum yang tidak pernah berlebihan. Senyum yang membuat Annasya merasa canggung.

“Assalamu'alaikum, Annasya.”

Suaranya dalam. Tenang. Tidak seperti Aldo yang selalu terdengar terburu-buru. Annasya masih terpaku di ambang pintu. Pikirannya berkelebat ke mana-mana.

Namun Annasya buru-buru tersadar karena sudah terlalu lama terdiam. Dia tidak ingin terlihat tidak sopan.

“Raka? Mari masuk.”

Raka belum pernah datang sendirian ke rumah Annasya. Dulu, dia selalu datang bersama Aldo. Atau jika datang sendiri pun, itu hanya untuk mengantar sesuatu—makanan, titipan barang, atau sekadar menyampaikan pesan dari Aldo.

Namun kali ini berbeda.

Dia datang sebagai pelaksana rencana Aldo. Meski di hatinya, dia datang sebagai laki-laki yang sudah lama menyimpan perasaan.

Dan pertanyaan besarnya, akankah Annasya mengatakan ya? Atau akankah dia menolak tanpa tahu bahwa di balik lamaran ini ada konspirasi yang akan menghancurkan hidupnya lagi?

Raka mengangguk sopan. Dia menunduk sedikit—sebuah gestur hormat yang jarang dilakukan laki-laki seusianya. Kemudian dia masuk ke dalam rumah kontrakan Annasya.

Matanya menjelajahi ruangan kecil itu.

Satu ruang tamu yang menyatu dengan dapur. Sofa jati tua dengan bantal duduk yang sudah mulai kempes. Meja kayu sederhana dengan taplak plastik bermotif bunga-bunga. TV tabung kecil di pojok ruangan—hadiah dari tetangga yang pindah rumah. Dinding bercat putih kusam dengan beberapa bercak lembab di sudut-sudutnya.

Namun semuanya rapi. Bersih. Wangi.

‘Ini rumah perempuan yang berjuang,’ pikir Raka. ‘Perempuan yang tidak menyerah meski hidup menggulungnya sekencang mungkin.’

“Silakan duduk, Raka. Maaf rumahnya kecil,” kata Annasya sambil merapikan bantal sofa yang kempes.

“Tidak apa-apa. Rumahmu rapi.”

Raka duduk dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu. Keranjang buah dia letakkan di atas meja.

Annasya duduk di seberangnya. Jeda. Canggung.

“Chika, ayo sapa Om Raka.”

Chika yang dari tadi diam memperhatikan dari kursi plastik merahnya, perlahan turun. Gadis kecil itu berjalan tertatih-tatih mendekati Raka. Matanya yang bulat dan hitam menatap laki-laki itu dengan rasa ingin tahu.

“Om …” Chika mengulurkan tangan mungilnya.

Raka tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah Annasya lihat dari laki-laki itu. Dia membungkuk sedikit, meraih tangan Chika, dan menggenggamnya dengan lembut.

“Halo, Chika. Kamu tambah cantik, ya.”

Chika terkikik. “Matatih Om ... Om bawa apel!” matanya berbinar melihat keranjang buah.

“Iya. Om bawain apel untuk Chika dan ibu kamu.”

“Chika mau apel! Chika mau!”

“Chika, nanti Ibu potongin ya. Sekarang Chika main dulu ya. Ibu mau ngomong sama Om Raka.” Annasya menggandeng Chika kembali ke kursinya.

Setelah Chika sibuk dengan sendok dan mangkuk buburnya lagi, Annasya kembali menghadap Raka.

“Jadi ... ada perlu apa, Raka?

Bersambung …

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 63

    “Mas … kok lama banget sih?” suara wanita itu terdengar manis.Dia berdiri di samping Aldo, menyentuh lengan Aldo dengan lembut, seperti pasangan yang sudah sangat akrab. “Aku udah nungguin di mobil dari tadi.”Aldo menunduk. Ada rasa bersalah di matanya, tapi bukan pada Tari. Pada Chika.“Maaf, Tari. Aku kangen anakku.”Tari tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. Dia menoleh ke arah Chika, lalu berlutut menyamakan tinggi badan dengan gadis kecil itu.“Chika, ya?” Tari mengulurkan tangan, mencoba mengelus rambut keriting Chika. “Chika cantik banget. Mirip ibunya.”Chika mundur selangkah. Bukan karena takut, tapi karena dia tidak nyaman.“Halo, Tante,” sapa Chika sopan meskipun matanya tidak lepas dari wajah Tari.“Chika mau main sama Tante Tari, ‘kan? Tante punya boneka barbie di mobil. Yang rambutnya panjang, bisa disisir-sisir. Ch

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 62

    Sore itu matahari masih terik, menciptakan pola-pola cahaya yang bergerak perlahan mengikuti tiupan angin. Beberapa ibu sudah mulai berdatangan menjemput anak-anak mereka. Mobil-mobil terparkir tidak rapi di pinggir jalan, dan suara anak-anak yang berlarian keluar dengan riang memenuhi udara.Chika sedang asyik mewarnai gambar kelinci di halaman belakang daycare. Jari-jari mungilnya yang masih kaku memegang krayon merah, mencoba mewarnai telinga kelinci itu dengan rapi.Wajahnya yang tembam berkonsentrasi penuh, lidahnya sedikit terjulur ke samping, kebiasaan lucu yang membuat para guru di daycare selalu tersenyum setiap melihatnya.“Chika, ada tamu untuk kamu!” panggil Bu Rina dari pintu depan.Chika mengangkat wajah. Matanya yang bulat berkedip-kedip.Chika meletakkan krayon merahnya, merapikan buku gambar yang mulai kusut di sudut-sudutnya, lalu berlari kecil menuju pintu depan. Sandal jepitnya yang bergambar kelinci dibelikan Ayah minggu lalu di pasar, berbunyi nyaring setiap kali

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 61

    “Kamu mengancam saya?”“Saya tidak mengancam, Bu. Saya hanya mengingatkan.”“Kamu tidak tahu siapa saya! Suami saya bisa menghancurkan hidupmu—”“Bu.” Raka memotong, suaranya tetap tenang. “Saya tidak takut dihancurkan. Saya sudah tidak punya apa-apa. Istri saya, anak saya, itu harta saya. Saya akan lindungi mereka dengan cara apa pun.”Ibu Aldo kehilangan kata-kata.Di belakang Raka, Annasya akhirnya melangkah keluar. Tangannya meraih lengan Raka.“Bu,” panggil Annasya, suaranya pelan. “Apa yang Ibu cari di sini? Aldo? Aldo tidak ada di sini.”“Aku tidak mencari anakku. Aku mencarimu!”“Ada apa, Bu? Apa yang saya perbuat?”Ibu Aldo menatap Annasya dengan mata yang penuh kebencian.“Aldo depresi! Dia tidak mau makan, tidak mau keluar rumah, tidak mau bicara pada siapa pun! Dia hancur karena kamu, Annasya! Kamu yang menghancurkannya!”Annasya terdiam. Dadanya terasa sesak tetapi bukan karena dia masih cinta pada Aldo. karena dia tidak pernah ingin menghancurkan siapa pun.“Bu, saya tid

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 60

    Malam itu, setelah Via pergi, suasana di rumah kecil itu kembali tenang. Chika sudah tertidur di kamarnya dengan boneka kelinci di samping bantal. Mulut mungilnya terbuka sedikit, napasnya teratur dan damai, tidak tahu bahwa dunia orang dewasa di luar kamarnya sedang berusaha keras untuk tetap tenang. Annasya baru saja selesai membereskan gelas-gelas bekas teh dan piring pisang goreng. Raka duduk di kursi ruang tamu, matanya menatap Annasya yang bolak-balik dari dapur ke ruang tamu dengan langkah ringan.“Mas belum tidur?" tanya Annasya sambil mengelap meja kayu tua di depan Raka."Belum. Masih mikirin besok.""Besok?""Besok aku mulai cari kerja lagi. Kaki udah enakan. Nggak enak terus-terusan di rumah. Kamu yang cari nafkah sendiri."Annasya berhenti mengelap. Dia menatap Raka. "Mas, nggak usah buru-buru. Kaki Mas masih belum sembuh total. Istirahat dulu.""Udah hampir dua bulan, Annasya. Cukup lama.""Tapi—""Say

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 59

    Raka tidak peduli dengan setelan jas mahal yang mungkin terkena air teh. Dia tidak peduli dengan tamunya yang masih berdiri di pintu. Dia hanya peduli pada Annasya.Wajah istrinya yang pucat, matanya yang kosong, tangannya yang menggenggam erat ujung jilbab.Raka meraih tangan Annasya, memeriksa apakah ada luka akibat pecahan kaca. “Sakit? Ada yang kena?” Suaranya bergetar.Annasya menggeleng. Masih diam. Matanya masih menunduk menatap lantai.“Sayang ... lihat aku.”Annasya mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Raka. Ada ketakutan di sana.“Aku ... nggak sengaja, Mas,” bisik Annasya, suaranya pecah.“Nggak apa-apa. Cuma gelas. Nanti bisa beli lagi.” Raka mengusap pipi Annasya yang ternyata basah. Annasya menangis diam-diam. Tanpa suara.Raka memeluknya. Memeluk istrinya di tengah ruang tamu yang lantainya penuh pecahan kaca dan genangan teh hangat. Dia tidak peduli bahwa

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 58

    Perjalanan pulang dari daycare terasa lebih sunyi dari biasanya. Chika duduk di kursi belakang mobil Bastian dengan boneka kelinci di pangkuannya, sesekali melirik ke luar jendela, sesekali menatap ibunya yang duduk di kursi depan dengan tatapan penuh tanda tanya.Gadis kecil itu tidak mengerti mengapa hari ini ayahnya tidak menjemput mereka berdua. Biasanya Raka selalu datang sendiri, meskipun dengan langkah pincang, meskipun dengan kruk yang kadang membuatnya terlihat lelah.“Bu,” panggil Chika pelan.“Iya, Sayang.”“Kok bukan Papa yang jemput Ibu?”Annasya menoleh ke belakang. Dia tersenyum meski sedikit dipaksakan, tapi cukup untuk menenangkan Chika. “Papa sedang ada urusan. Kita tunggu di rumah.”Chika mengangguk meskipun matanya masih bertanya-tanya. “Urusan apa, Bu?”“Urusan Papa. Nanti Papa jelasin sendiri.”Chika tidak bertanya lagi. Dia kembali as

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 54

    "Ayo, Sayang," kata Raka pelan. "Kita jemput Chika."Raka menggenggam tangannya. Genggaman yang hangat. Genggaman yang mengingatkan Annasya bahwa masa lalu tidak perlu diangkut ke masa depan.Annasya mengangguk. Dia membiarkan Raka menarik tangannya, menjauh dari tempat pertemuan de

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 53

    Annasya berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Wajah itu—wajah dengan lesung pipit di pipi kanan—tidak mungkin dia lupakan. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, meskipun pertemuan terakhir mereka di depan toko baju dulu berlangsung singkat dan menyakitkan, Annasya tetap mengen

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 52

    Bab 53Pagi itu adalah jadwal kontrol Raka yang keempat sejak kecelakaan. Dan hari ini juga, setelah hampir dua bulan lamanya, dokter akan memutuskan apakah kakinya sudah cukup pulih untuk melepas perban dan memulai terapi berjalan tanpa kruk.Raka sudah bangun sejak azan Subuh. Dia

  • Dekap Cinta Suami Pengganti    Bab 51

    Tangan Annasya seketika gemetar. Delapan ratus lima puluh juta. Delapan ratus lima puluh juta rupiah. Nominal yang sangat besar untuk seorang laki-laki yang sehari-hari menjadi kuli angkut, yang kerja serabutan, yang kakinya patah dan tidak punya rumah mewah, yang menyewa kontrakan seharga satu j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status