مشاركة

NAYA

مؤلف: Na_Vya
last update تاريخ النشر: 2026-09-07 19:47:13

BAB 23

NAYA

###

Pintu rumah besar itu terbuka setelah Elena menekan bel untuk kedua kalinya.

Seorang perempuan paruh baya yang sepertinya bekerja sebagai asisten rumah tangga menyambutnya dengan senyum ramah.

“Bu Elena?”

“Iya.”

“Silakan masuk, Non Naya sudah menunggu di ruang keluarga.”

Elena mengangguk lalu mengikuti perempuan itu masuk.

Rumah Naya jauh lebih besar daripada yang Elena bayangkan. Ruang tamunya luas, perabotannya mewah, dan hampir setiap sudut terlihat seperti tidak per
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dekapan Hangat Berondongku   Mungkin Seharusnya Begitu

    BAB 39Mungkin Seharusnya Begitu ###Sejak pagi, Elena merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.Bukan sesuatu yang besar. Tidak ada kejadian istimewa yang membuatnya tiba-tiba bahagia. Hanya saja, setelah beberapa hari terakhir Arga kembali menunjukkan perhatian yang dulu hampir ia lupakan, hati Elena terasa sedikit lebih ringan. Pagi tadi Arga bahkan sempat mengantarnya sampai depan pintu sebelum berangkat kerja. “Hari ini pulang jam berapa?” tanyanya. “Belum tahu. Nanti kalau selesai ngajar, aku kabarin.” Arga mengangguk. “Jangan pulang terlalu malam.” Elena hanya tersenyum. Kalimat sederhana seperti itu seharusnya biasa saja. Tapi setelah beberapa bulan ini terbiasa dengan sikap Arga yang seolah tidak peduli kapan ia pulang atau ke mana ia pergi, perhatian sekecil apa pun terasa cukup berarti. Mungkin benar kata Arga—Mungkin seseorang memang bisa berubah kalau benar-benar mau. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Elena ingin memberinya kesempatan. Setidakn

  • Dekapan Hangat Berondongku   Belum Rela Kehilangan Keduanya

    BAB 38Belum Rela Kehilangan Keduanya ###Pagi itu Elena terbangun bukan karena suara alarm, melainkan aroma makanan yang berasal dari dapur. Perempuan itu mengerjapkan mata beberapa kali. Selama beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengingat kapan terakhir kali ia mencium aroma seperti itu dari rumah mereka sendiri. Dulu, hal seperti ini biasa. Arga sering bangun lebih pagi, membuatkan sarapan sederhana sebelum berangkat kerja. Kadang hanya roti panggang dan telur, kadang nasi goreng yang rasanya terlalu asin karena Arga memang tidak pandai memasak. Elena biasanya akan mengomel sambil tertawa, lalu Arga akan membela diri dengan mengatakan bahwa yang penting adalah niatnya. Sudah lama sekali masa itu berlalu. Elena perlahan bangkit dari tempat tidur. Begitu tiba di lantai bawah, ia langsung melihat Arga yang sedang berdiri di depan kompor. Pria itu mengenakan kemeja kerja dengan lengan yang sudah digulung sampai siku. Di meja makan, sudah ada dua

  • Dekapan Hangat Berondongku   Kamu masih bahagia?

    BAB 37Kamu masih bahagia?###Sejak pagi, Elena terus mengingat ucapan Arga semalam.Makan malam berdua.Sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Mereka adalah suami istri, dan pergi makan bersama seharusnya menjadi hal biasa dalam sebuah rumah tangga. Tetapi entah kenapa, ajakan Arga kali ini terasa sedikit berbeda bagi Elena.Mungkin karena sudah cukup lama mereka tidak benar-benar pergi berdua tanpa ada masalah yang menyertai.Beberapa bulan terakhir, setiap kali mereka duduk bersama, Elena selalu merasa ada jarak yang sulit dijelaskan. Arga sibuk dengan ponselnya, pekerjaannya, atau urusan lain yang tidak pernah dia ceritakan. Bahkan ketika mereka berada dalam satu ruangan, Elena sering merasa seperti sedang sendirian.Karena itu, ketika Arga tiba-tiba mengajaknya makan malam, ada bagian kecil dalam hati Elena yang kembali berharap.Mungkin Arga memang sedang berubah.Mungkin semua perhatian beberapa hari terakhir bukan sekadar kebetulan.Mungkin suaminya benar-benar mulai menya

  • Dekapan Hangat Berondongku   Besok Datang Lagi?

    BAB 36Besok Datang Lagi?### Pagi itu Elena terbangun lebih lambat dari biasanya. Untuk beberapa detik, dia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar, menikmati suasana tenang sebelum akhirnya teringat bahwa hari itu dia tidak memiliki jadwal mengajar. Tidak ada keharusan untuk bangun terburu-buru, tidak ada materi yang harus dipersiapkan, dan tidak ada alasan untuk keluar rumah sejak pagi. Namun baru saja Elena menarik selimut lebih tinggi, ponselnya yang berada di atas meja samping tempat tidur bergetar. Tangannya meraba-raba permukaan meja sampai akhirnya menemukan benda itu. Begitu layar menyala, sebuah pesan langsung terlihat. Enzo. Elena mengerutkan dahi. Pagi-pagi begini? Dia membuka pesannya. Enzo: [ Hari ini nggak ada jadwal, kan?] Elena menatap kalimat itu beberapa detik. Tidak ada sapaan. Tidak ada penjelasan. Tiba-tiba saja bertanya tentang jadwal. Elena akhirnya mengetik. Elena:[ Nggak ada. Kenapa?] Pesan itu bahkan belum sampai satu men

  • Dekapan Hangat Berondongku   Ketakutan Arga

    BAB 35 Ketakutan Arga ### Malamnya Elena pulang dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada ketika dia berangkat pagi tadi. Hari yang awalnya hanya ingin dia habiskan dengan beristirahat ternyata justru menjadi hari yang cukup menyenangkan. Dia bisa berjalan bersama Mama Rani dan Keisha, makan siang, melihat-lihat barang yang sebenarnya tidak terlalu dia butuhkan, lalu menutup harinya dengan mengajar Enzo. Aneh memang. Belakangan ini, kegiatan mengajar yang awalnya dia lakukan semata-mata karena membutuhkan penghasilan justru menjadi salah satu bagian dari rutinitas yang paling dia tunggu. Bukan karena pekerjaannya mudah. Menghadapi Enzo justru sering membuat kepalanya pusing. Pemuda itu terlalu banyak bertanya, terlalu suka bercanda, dan sering membuat Elena kehilangan kesabaran hanya karena komentar-komentar kecil yang sebenarnya tidak penting. Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang membuat Elena merasa nyaman. Mungkin karena Enzo tidak pernah membuatnya meras

  • Dekapan Hangat Berondongku   Belum Siap Mencari Jawaban

    BAB 34Belum Siap Mencari Jawaban ###Sore itu Elena akhirnya tiba di rumah keluarga Raphael dengan langkah yang sedikit tergesa. Sejak turun dari mobil, pikirannya sudah dipenuhi rasa bersalah karena terlambat hampir dua puluh menit dari jadwal yang seharusnya. Sebenarnya dia tahu Enzo pasti akan mengomel. Sejak pagi saja pemuda itu sudah meneleponnya berkali-kali hanya untuk memastikan dirinya tidak lupa jadwal belajar. Entah kenapa anak itu begitu ribut hanya karena terlambat beberapa menit. Begitu Elena baru saja membuka pintu pagar, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Enzo muncul lebih dulu.Pemuda itu masih mengenakan kaus hitam dan celana jeans, rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang sejak tadi tidak bisa diam. Begitu melihat Elena, wajahnya yang sejak tadi tampak bosan langsung berubah.Ada rasa lega yang tidak sempat dia sembunyikan.Namun karena gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa dia memang menunggu, Enzo justru memasang wajah kesal.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status