Share

Dekapan Hangat Kakak Angkatku
Dekapan Hangat Kakak Angkatku
Penulis: NARA

1. Pesan

Penulis: NARA
last update Tanggal publikasi: 2025-12-26 19:20:14

"Sudah kuduga suamimu selingkuh."

Tangan Sela gemetar saat sahabatnya mengatakan itu keras-keras. Di tangannya, layar ponselnya masih menyala, menampilkan foto pesan mesra yang tadi ia ambil diam-diam dari ponsel Brian, suaminya.

Mata Sela kembali membaca beberapa baris pesan tersebut.

[Jika tidak puas lagi dengan istrimu, datanglah padaku, Sayang. Seperti biasa, aku akan memberikan apa yang tidak pernah istrimu itu berikan.]

Nama pengirim pesan itu terpampang jelas, 'Bunga'. Terang saja nama perempuan, meski Sela tidak mengenal siapa pun dengan nama tersebut.

Namun, itu tidak mengubah fakta bahwa suaminya sudah mendatangi perempuan ini beberapa kali karena tidak puas dengan dirinya.

Ditambah lagi, pesan balasan suaminya sangat jelas. Dan menyayat hati Sela.

[Tentu aku akan datang padamu, Sayang. Tidak sabar menikmati permainan panas kamu nanti.]

Bulir air mata Sela jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi pipinya yang pucat.

"Jangan menangis, Sel." Jane, sahabat Sela yang sudah seperti keluarga, berucap lagi.

Kemudian Jane mengapus air mata yang masih mengalir di pipi Sela. "Untuk apa menangisi suami yang tidak setia itu." Ucapnya.

Sela menunduk, tangannya mencengkeram ujung bajunya. "Jane, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya Brian yang aku miliki." Katanya.

"Terus kamu anggap aku apa, hah?" Jane menukas. Nada suaranya meninggi. Bukan karena marah, tapi karena tidak terima sahabatnya merasa sendirian.

Sela terdiam. Ia tahu Jane benar. Sejak dulu, Jane selalu ada untuknya, lebih dari sekadar sahabat, Jane sudah seperti keluarga sendiri.

Rasa bersalah menyelip di antara kesedihannya.

Namun, tetap saja Sela merasa sesak. Selama ini Sela selalu membanggakan suaminya.

Brian adalah pria yang ia cintai sepenuh hati. Lebih dari apa pun. Bagi Sela, keluarga kecilnya adalah yang nomor satu.

Sebelum kemudian ia mengetahui bahwa Brian sang suami berselingkuh.

"Tidak bisa begini!" Seru Jane, membuat Sela mendongak ke arah sahabatnya. “

"Aku tidak bisa membiarkan kamu terpuruk. Ayo kita bersenang-senang."

Sela mengernyit bingung. Otaknya masih kacau, kenyataan pahit yang baru saja ia terima membuatnya sulit mencerna kata-kata Jane.

Jane kini berdiri dari sofa, lalu menarik tangan Sela agar ikut berdiri. "Ayo kita pergi ke acara reuni."

Sela langsung menggeleng.

"Jane, maaf. Sepertinya aku tidak bisa pergi." Kata Sela, memang malam ini ada acara reuni bersama teman sekolahnya dulu, dan Sela memang berniat datang dengan Brian.

Tapi kejadian hari ini benar-benar membuat Sela tidak ingin pergi. Ia hanya ingin menangis semalam meratapi hidupnya yang tidak pernah beruntung.

"Tidak," Sela menolak tegas.

"Kamu harus pergi!" Jane memegang bahu Sela, menatapnya penuh keyakinan. "Aku tidak mau kamu mengurung diri dan menyalahkan diri sendiri. Kita pergi, Sel. Biar kamu ingat, hidupmu tidak berhenti di Brian."

Dengan setengah hati, akhirnya Sela menurut. Ia mengenakan gaun simpel berwarna hitam. Gaun itu membalut tubuhnya dengan anggun, namun juga mencerminkan hatinya yang gelap, kosong, dan penuh luka. Ia menatap bayangannya di cermin sekilas, hampir tidak mengenali dirinya sendiri dengan mata sembab.

Di tempat acara reuni, Sela lebih banyak diam. Hanya menyapa balik orang-orang yang menyapanya lebih dulu.

Ia memilih duduk di kursi paling ujung, tempat acara reuni berlangsung. Dan membiarkan Jane menikmati acara yang sedang berlangsung, setelah sejak masuk ke tempat acara, Jane selalu bersama dengannya.

Dan Sela kini duduk seorang diri, air mata hampir saja menetes membasahi pipinya, mengingat luka hati yang di sebabkan oleh Brian. Tapi ia cepat-cepat menahan air mata untuk tidak tumpah.

Sela tidak ingin orang-orang tahu, apa yang sedang dialaminya. Cukup Jane sang sahabat yang tahu tentang rumah tangganya.

Tiba-tiba kursi tepat disampingnya berbunyi, setelah ada yang menariknya. Sela langsung menatap pada orang yang menarik kursi tersebut.

"Kak Kai." Sela terkejut mendapati pria yang sudah ia anggap kakaknya sendiri.

Pria yang sudah lama hilang kontak dengannya, lebih tepatnya, Sela ingin menjauhi pria tersebut karena sesuatu yang sulit ia jelaskan. Perasaan yang pernah ada untuk Kai, benar-benar membuatnya merasa bersalah.

Bagaimana mungkin, ia yang dulu hanya anak seorang pembantu menyukai anak majikannya, yang sudah menganggap dirinya sebagia keluarga.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Marlien Cute
Penasaran dengan wajah Kak Kau. ...
goodnovel comment avatar
Hadi Junaidi
assiekkk kak kai datang ...... setampan apakah ank majikan🫢
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    53. Putriku Bukan Perempuan Murahan

    Disini Kai berada, di rumah Robert. Tidak peduli jika malam sudah larut. Dan semua penghuni rumah sudah larut dalam mimpi mimpinya. Kai tidak bisa menunggu besok, untuk menunjukkan foto dan video Calista pada Robert. Bagi Kai, semakin cepat semakin baik. Agar ia terlepas dari pernikahan yang tidak sama sekali ia inginkan, dan tentu saja agar terlepas dari Robert.Kai duduk di sofa ruang tamu, ketika pembantu rumah Robert sedang membangunkan majikannya.Awalnya pembantu tersebut tidak ingin menuruti kemauan Kai, untuk membangunkan majikannya. Karena tahu akan risikonya, jika membangunkan majikannya. Apalagi kini sudah tengah malam.Namun, Kai memaksa. Sampai akhirnya pembantu tersebut mau mengikuti perintahnya.Tidak berselang lama, Kai mendengar langkah kaki. Langkah kaki yang begitu Kai kenali.Kai mengangkat kepalanya, menoleh pada sumber langkah kaki, dimana ia melihat Robert dengan menggunakan baju tidur, melangkah mendekatinya."Kau." ujar Robert. Lalu duduk di sofa sebrang berh

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    52. Dua Wanita Dipangkuanku

    Kai menghubungi ponsel Leon, ingin menanyakan sudah sejauh mana sahabatnya itu membantunya.Tapi ponsel Leon tidak bisa di hubungi. Membuat Kai langsung melempar ponselnya ke kursi penumpang. "Sialan kau Leon!" seru Kai dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya, untuk menemui sahabatnya itu.Kai tidak menemukan keberadaan Leon, di apartemen dan rumahnya. Sahabatnya itu tidak ada, ponselnya pun masih belum bisa di hubungi.Sekarang Kai memutuskan untuk pergi ke bar milik Jimi, berharap ia bisa menemukan Leon disana.Tentu saja Kai harus memberi pelajaran pada sahabatnya itu, karena tidak ada kabar. Sudah sejauh mana Leon membantunya.Kai berjalan menuju ruang vip sesaat setelah menginjakkan kakinya di bar milik Jimi, tempat ketiga sahabat itu selalu bertemu. Tepatnya, ruangan itu sudah menjadi markas ke tiganya jika sudah berkumpul.Tautan kening menghiasi wajah Kai, sesaat setelah masuk ke dalam markas mereka, karena Kai tidak mendapati Leon. Hanya ada Jimi di balik meja, sedang m

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    51. Aku Hanya Cemburu

    Brian terus mencoba menghubungi ponsel Sela. Awalnya sambungan itu masih tersambung, walau tidak pernah diangkat. Namun kini, nada dering itu bahkan tidak lagi terdengar. Nomor Sela benar-benar tidak bisa dihubungi."Sial!" teriak Brian frustasi, lalu melempar ponselnya ke atas kasur hingga memantul dan jatuh ke lantai.Nafasnya memburu, dada naik turun tidak teratur. Ia menoleh ketika merasakan tatapan tajam mengarah padanya.Jane berdiri di samping tempat tidur, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya tidak menunjukkan simpati sedikit pun, setelah tahu. Jika Brian di pecat dari pekerjaannya."Kalau kamu dipecat, bagaimana kamu bisa membelikan aku tas keluaran terbaru, Brian." katanya dingin, dengan nada kesal yang jelas.Brian menatapnya tidak percaya. "Dalam situasi seperti ini kamu masih memikirkan tas?" balasnya, suara meninggi. "Aku dipecat, Jane. Dipecat dengan tidak hormat! Kamu tahu itu, kan?""Aku tahu," jawab Jane cepat. "Makanya aku bilang, temui Sela. Dia pasti bisa me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    50. Menghukummu di Tempat Tidur

    Memori Sela kembali berputar ke masa lampau, ketika Kai ternyata mengajaknya pergi ke vila pribadi milik keluarganya. Vila yang berdiri megah di kawasan perbukitan, dikelilingi pepohonan tinggi yang menjulang dan taman yang terawat rapi. Tempat itu sunyi, namun justru menyimpan begitu banyak suara dari kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Sela.Bagi Sela, vila itu bukan tempat asing. Di sanalah sebagian masa remajanya terukir, masa ketika ia masih canggung menyadari perasaannya sendiri.Sela masih mengingat dengan jelas, bagaimana hidupnya berubah. Ia hanyalah anak seorang pembantu yang bekerja untuk keluarga Kai. Namun takdir membawanya menjadi anak angkat keluarga itu. Ia tinggal di rumah besar yang sama, makan di meja yang sama, tapi tetap merasa ada jarak yang tidak kasat mata, terutama dengan Kai.Ia hanya bisa menatap pria itu dari jauh, mengagumi tanpa berani berharap. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik sikap pendiamnya, ia menyimpan cinta yang tumbuh

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    49. Mengancam

    Kai yang berada di dalam mobil mewahnya, beberapa kali melirik kaca spion tengah. Sorot matanya berubah tajam setiap kali lampu kendaraan di belakang tampak terlalu konsisten mengikuti laju mobilnya. Jalanan yang cukup padat, deretan kendaraan mengular menuju perempatan besar yang lampu merahnya sudah berkedip tanda akan segera berganti.Kai mengembuskan napas pelan. Ia mengenali mobil itu bahkan dari jarak puluhan meter. Sedan putih dengan plat yang begitu ia hafal. Siapa lagi kalau bukan Calista.Tanpa banyak berpikir, Kai menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin mobil meraung, jarum speedometer melonjak. Ia memperhitungkan detik yang tersisa sebelum lampu hijau berubah merah.Di kursi penumpang, Sela yang sejak tadi memandangi deretan toko di pinggir jalan mendadak tersentak. Tubuhnya terdorong ke belakang saat mobil melesat cepat."Kak, jangan ngebut!" ujarnya panik, tangannya spontan mencengkeram sabuk pengaman."Mobil Calista mengikuti mobil kita, Sel," Kai akhirnya memberitahu, t

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    48. Bosan

    Tidak mudah bagi Calista untuk masuk ke dalam rumah megah tersebut. Gerbang besi hitam yang menjulang tinggi berdiri kokoh, seolah menjadi pembatas tegas antara dirinya dan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Perumahan elit itu memang dikenal ketat penjagaannya. Setiap kendaraan yang keluar-masuk harus melalui pemeriksaan. Apalagi orang asing yang datang tanpa pemberitahuan.Calista berdiri dengan tas tangan tergenggam erat, saat security perumahan tersebut mendekatinya. Ia mencoba menjaga wibawanya meski tatapan petugas keamanan tersebut mulai terasa menghakimi.Security yang bertubuh tegap berjalan mendekat."Maaf, Anda siapa?" tanyanya sopan namun tegas. "Selain penghuni rumah dan orang terdekat mereka, tidak boleh ada yang masuk ke sini." Ia mengamati Calista dari ujung kepala hingga kaki. "Sepertinya saya tidak pernah melihat Anda. Kalau begitu ikut saya ke pos."Calista menegakkan bahunya. "Aku calon istri dari pemilik rumah ini," jawab Sela.Security itu langsung me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    35. Maafkan Aku Harus Seperti Ini

    "Untuk apa aku cemburu?" Sela menimpali ucapan Kai sambil tersenyum. Senyum itu tipis, rapuh, dan jelas dipaksakan. Ada luka lama yang bergetar di baliknya. "Dan ya, lepas tanganku, Kak." pintanya pelan, tapi tegas.Kai terdiam sesaat sebelum akhirnya melepas genggamannya. Namun, bukannya memberi j

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    33. Kita Akan Bersatu

    Sela mendorong tubuh Kai dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga tautan bibir mereka terlepas. Napas Kai tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Bukan karena lelah, melainkan karena perasaan yang tiba-tiba menyerbu tanpa izin.Namun, Kai tidak benar-benar menjauh. Ia justru menempelkan ken

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    22. Aku Tidak Peduli

    Sela memutuskan untuk pergi ke toko Romi. Lampu-lampu toko roti masih terang benderang ketika Sela berdiri ragu di depan pintu kaca. Ia tahu betul, jam kerjanya pagi dan seharusnya ia ada di kamar kos, beristirahat setelah hari yang melelahkan di pertama kalinya bekerja di toko roti tersebut. Tapi

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    14. Rumah Kalian

    "Sebentar, ibu buka pintu dulu." Ibu Ina berjalan menuju pintu yang masih terus di ketuk.Sedangkan Sela memilih menyandarkan punggungnya di sofa yang ia duduki.Ibu Ina membuka pintu, dan mendapati Pak Ramli tetangga rumahnya yang ada di depan pintu. Padahal ibu Ina pikir, Brian yang datang menyus

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status