LOGIN"Apa yang harus aku lakukan, Bri? Sela sudah tahu hubungan kita." Suara Jane bergetar, nyaris pecah, sesaat setelah pintu rumahnya tertutup, ketika Brian memastikan Sela telah pergi meninggalkan rumahnya.Ruangan itu terasa pengap, seolah udara ikut menekan dadanya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, kedua tangan menutup wajah, napasnya tersengal oleh rasa panik dan penyesalan yang datang bersamaan.Sejak awal, Jane tahu hubungan terlarangnya dengan Brian adalah kesalahan besar. Namun ia memilih menutup mata, menenggelamkan diri dengan janji-janji Brian, dengan ilusi cinta yang terasa nyata meski dibangun di atas pengkhianatan. Kini, saat semuanya terbongkar, ia justru tidak siap menerima akibatnya.Brian berdiri di hadapannya dengan wajah tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini, seperti orang tidak bersalah.Ia mendekat, meraih dagu Jane dan memaksanya menatap lurus ke matanya. "Sayang, kamu tidak perlu cemas," ucapnya ringan, seolah masalah ini hanyalah gangguan kecil yang
"Sayang, akhirnya kamu datang." Jane langsung memeluk Brian, saat pria itu masuk ke dalam rumah.Tentu saja Brian balik memeluknya, setelah melepas pelukannya. Brian kini memberikan buket bunga yang ia bawa. "Untuk kamu sayang,"Jane mengambil buket bunga tersebut sambil tersenyum lebar. "Terima kasih sayang.""Hanya terima kasih?""Tentu saja tidak, dong." Jane mendaratkan ciuman di bibir Brian, suami dari sahabatnya sendiri.Saat Jane ingin melepas bibirnya, Brian langsung menahannya, dan ia balik mencium bibir Jane dengan rakus."Sayang sudah ih." Jane terpaksa melepas ciuman Brian."Lagi." Brian menarik pinggang Jane. "Malam ini kita main sampai pagi ya, sayang.""Acc dong, masa tidak." balas Jane sambil mengukir senyum. "Oh ya, bagaimana dengan Sela?""Jangan bahas dia," Brian melepas pinggang Jane, dan melangkah menuju ruang tengah. Jane mengikutinya dari belakang. "Aku takut, dia mengetahui hubungan kita, sayang.""Tidak akan, selagi kamu masih tetap baik padanya." Jane kini
Hari demi hari berlalu, Sela seakan jauh dari sang suami. Karena Brian jarang pulang ke rumah. Menangis juga percuma untuk Sela, dengan tekad bulat demi rumah tangganya kembali, ia mempunyai niat untuk mencari tahu siapa perempuan yang memiliki hubungan dengan suaminya."Aku harus menemui perempuan itu." ucap Sela, jika sang suami tidak ingin meninggalkan perempuan itu, setidaknya setelah Sela menemuinya, perempuan itu yang akan meninggalkan sang suami, itu harapan Sela satu satunya.Bergegas Sela keluar dari rumah, untuk membuntuti Brian yang belum lama pulang tapi kini sudah pergi lagi. Karena Sela yakin, suaminya pasti akan menemui perempuan itu.Dengan menggunakan ojek online, Sela membuntuti mobil sang suami.Sela yang tidak pernah bicara tidak sopan pada orang lain, kini memarahi pengemudi ojek online, saat lampu merah menghentikannya mengikuti laju mobil suaminya, emosinya akhir-akhir ini benar-benar tidak bisa ia kendalikan."Gimana sih Pak, bisa mengemudi saja tidak bisa!" k
Disini Sela berada, duduk bersimpuh diatas rerumputan tepat di tengah-tengah makam kedua orang tuanya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya kecuali tangis pilu yang menyanyat hati, menandakan ia sedang hancur sehancur hancurnya.Suaminya, pria yang ia cintai dengan gamblang mengatakan memiliki perempuan lain, dan kedua mertuanya yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, malah mendukung putranya, dan itu membuat Sela benar-benar merasa sendiri."Apa salahku." ucapnya lirih di sela-sela isak tangisnya.Entah sudah berapa lama Sela menangis, kini Sela mulai menghentikan tangisnya. Apalagi penjaga makam mendatanginya."Mbak, mbak baik-baik saja?" tanya Penjaga makam.Sela segera menyeka air mata. "Iya Pak, aku baik-baik saja." Bohong Sela."Baiklah, makam akan di tutup jam lima. Sebelum jam lima, mbak harus segera keluar dari makam ya Mbak." Penjaga makam memberitahu.Sela mengangguk. "Baik Pak." ucapnya.Setelah penjaga makam pergi. Sela menegakkan kepalanya, menatap bergant
"Aku tidak bisa, Jane." Ujar Sela."Ya ampun, Brian bukan pria baik Sel. Buka mata kamu lebar-lebar!" Jane benar-benar kesal dengan sang sahabat. "Aku rasa lebih baik kamu bercerai dengannya," Saran Jane.Sela hanya diam, lebih fokus memikirkan bagaimana hubungannya ke depan dengan Brian, tapi untuk berpisah dengan suaminya itu, jujur Sela benar-benar tidak mau."Aku akan memaafkan Brian, Jane."Jane melotot menatap pada sahabatnya tersebut, setelah mendengar apa yang dikatakan Sela."Apa aku tidak salah dengar Sel, kamu masih ingin bertahan dengan Brian? Sungguh tidak masuk akal." Ucap Jane sambil menggelengkan kepalanya."Aku sangat mencintainya,""Kamu benar-benar bodoh!" kesal Jane."Aku akan bicara pada papa dan mama mengenai ini, mereka pasti bisa menyadarkan Brian." ujar Sela menyebut kedua mertuanya."Aku tidak bisa bicara apa-apa, selain mengatakan. Kamu benar-benar bodoh, Sel."***Semalam Brian benar-benar tidak pulang. Sela yakin suaminya itu pasti menginap di rumah orang
"Kenapa baru pulang Mas?" tanya Sela terus mengikuti sang suami."Lembur." Jawab Brian singkat."Bukan karena ada perempuan lain?" tanya Sela hati-hati, padahal hatinya sudah remuk mendapati sang suami berkirim pesan mesra dengan seorang perempuan.Brian menatap pada Sela. "Suami baru pulang kerja, sudah di tuduh macam-macam." sorot mata Brian tajam, menatap pada Sela. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selagi suaminya berada di kamar mandi. Sela berusaha menyusun kalimat untuk menyampaikan pertanyaan pada sang suami mengenai pesan yang ia dapati di ponsel Brian.Pintu kamar mandi terbuka. Brian keluar dengan handuk melingkar di pinggang, rambutnya basah. Tatapan mereka bertemu."Mas," panggil Sela lirih.Namun, Brian seolah tidak mendengar. Ia melangkah santai ke arah tempat tidur. "Mana bajuku, hah?" tanyanya dengan nada kesal, karena bajunya belum di siapkan oleh sang istri. Tatapannya langsung menusuk Sela. "Ngapain aja kamu seharian di rumah, sampai







