Share

2. Tidak

Penulis: NARA
last update Tanggal publikasi: 2025-12-26 19:26:12

Kai kini duduk di bangku tepat di samping Sela, menyodorkan sepiring lasagna hangat dan segelas jus jeruk segar yang masih dipenuhi embun di dinding gelas. Aroma keju yang meleleh dan saus tomat yang khas memenuhi udara, tapi sama sekali tidak membangkitkan selera Sela.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Kai pelan, berusaha terdengar santai meski sorot matanya penuh perhatian.

"Baik," jawab Sela singkat. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang saling bertaut. Ia tidak berani menatap Kai, takut mengusik perasaan yang telah ia pendam.

"Makanlah," pinta Kai. "Aku lihat kamu belum makan apa pun sejak datang."

Sela tetap diam. Makanan dan minuman yang ada di hadapannya seolah benda asing.

Kepalanya dipenuhi terlalu banyak kenangan untuk sekadar memikirkan makanan. Apalagi dengan masalah Sela yang sedang dialaminya.

"Sudah lama sejak papa dan mama meninggal," lanjut Kai. "Terus kamu pergi dari rumah, aku tidak pernah melihatmu lagi, Sel. Dan sekarang aku dengar kamu sudah menikah."

Kalimat itu menusuk. Sela menarik napas dalam-dalam. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi semuanya terjebak di tenggorokannya. Ia ingin menatap Kai, ingin memastikan ekspresi di wajah pria itu, namun rasa takut menguasai dirinya. Takut perasaan lama yang sudah susah payah ia kubur akan muncul kembali.

"Maaf," akhirnya Sela bersuara. Suaranya nyaris tidak terdengar.

"Untuk apa kamu minta maaf?" tanya Kai, keningnya berkerut.

"Karena tidak pernah mengabari Kak Kai."

"Tapi sekarang aku tahu, kamu masih hidup." ujar Kai dengan tatapan terus menatap pada Sela, meskipun yang ditatapnya terus memalingkan wajah. "Kamu yakin baik-baik saja, Sel?" Akhirnya Kai menanyakan hal tersebut, saat ia tidak melihat ekspresi Sela yang dulu selalu riang.

Sela tidak menjawab. Ia berdiri begitu saja, berniat pergi sebelum air mata yang sedari ia tahan tumpah di hadapan Kai.

Namun Kai dengan cepat menahan tangannya. "Duduklah," pintanya, kali ini dengan nada tegas. Ia menarik Sela kembali ke bangku, tidak memberinya kesempatan menolak.

Kai memegang kedua bahu Sela, memaksanya menghadap. "Lihat aku," katanya lembut. "Apa aku pernah berbuat salah sampai kamu menjauh sejauh ini dariku?" tanya Kai, meminta penjelasan.

"Tidak, Kak!" jawab Sela, dan akhirnya ia menatap Kai, dan detik itu juga jantungnya berdegup tidak karuan. Wajah Kai masih sama, hangat, tenang, dan terlalu indah untuk dilupakan.

"Kalau begitu, kenapa kamu menjauh?" desak Kai. "Berikan nomor ponselmu. Kita tidak seharusnya jadi orang asing, Sela. Kamu adikku, dan jangan pernah menghilang lagi dariku,"

Sela terdiam. Tatapannya bergeser ke arah lain, pada seorang perempuan yang berjalan menuju kearahnya. Seorang perempuan yang menjadi alasan lain Sela menjauhi Kai.

Calista, teman sekolahnya dulu yang Sela tahu begitu dekat dengan Kai, dan ia tahu. Kehadiran Kai di acara reuni tersebut pasti karena sedang menemani Calista.

Sela kembali berdiri. Kali ini ia melangkah lebih cepat, menjauh dari Kai dan kenangan yang terlalu menyakitkan, dengan bodohnya Sela memiliki perasaan pada pria yang hanya menganggapnya sebagai adik.

"Sela, tunggu!" panggil Kai.

Namun Sela tidak menoleh. Ia terus berjalan, menahan air mata yang akhirnya jatuh juga. Bukan hanya karena sang suami yang telah mengkhianatinya, tapi juga kenangan dengan Kai yang kembali muncul dengan kehadirannya tiba-tiba.

Sela menghampiri Jane. "Jane, aku ingin pulang." Ucapnya.

Membuat Jane yang sedang menikmati alunan musik dari band terkenal, kini fokus pada sang sahabat.

"Baiklah, aku juga akan pulang." kata Jane.

"Tidak Jane, aku bisa pulang sendiri. Kamu tetap disini, acara juga masih lama selesainya."

"Tidak, kamu pergi bersamaku. Pulang juga harus denganku," Jane tidak akan membiarkan sahabatnya sendirian dalam situasi yang kacau.

***

Jane tetap tinggal di rumah Sela, menemani sahabatnya yang sedang terpuruk. Apalagi, Brian tidak kelihatan batang hidungnya.

"Pulanglah Jane, ini sudah sangat malam." pinta Sela.

"Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian."

Sela langsung memeluk sahabatnya tersebut. "Terima kasih, Jane." ucapnya, tidak Sela pungkiri, ia membutuhkan sang sahabat dalam situasi seperti ini.

Jane menganggukkan kepala. Lalu melepas pelukan sang sahabat. "Jangan pernah menangis lagi ya," ucapnya.

"Aku tidak janji, Jane."

"Kamu pasti bisa menghadapi semua ini,"

Sela hanya diam, memikirkan bagaimana hubungannya ke depan dengan Brian, tapi untuk berpisah dengan suaminya itu, jujur Sela benar-benar tidak mau.

"Aku akan memaafkan Brian, Jane."

Jane melotot menatap pada sahabatnya tersebut, setelah mendengar apa yang dikatakan Sela.

"Apa aku tidak salah dengar Sel, kamu masih ingin bertahan dengan Brian? Sungguh tidak masuk akal. Sudah jelas-jelas, ia berselingkuh." Ucap Jane sambil menggelengkan kepalanya.

"Aku sangat mencintainya, dan aku belum mendengar sendiri dari mulutnya tentang pesan itu, Jane."

"Aku tidak bisa bicara apa-apa, selain mengatakan. Kamu benar-benar bodoh, Sel."

Sela tidak menimpali ucapan dari sang sahabat, yang ada menatap sang suami yang baru pulang.

"Mas Brian, kamu sudah pulang." ucapnya, lalu mengikuti sang suami yang lebih dulu masuk ke kamar, ia ingin mendengarnya penjelasan Brian tentang pesan mesra yang di temukannya di ponsel sang suami.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Hadi Junaidi
masih saja panggil mas ... dia selingkuh Lo 🫢
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    53. Putriku Bukan Perempuan Murahan

    Disini Kai berada, di rumah Robert. Tidak peduli jika malam sudah larut. Dan semua penghuni rumah sudah larut dalam mimpi mimpinya. Kai tidak bisa menunggu besok, untuk menunjukkan foto dan video Calista pada Robert. Bagi Kai, semakin cepat semakin baik. Agar ia terlepas dari pernikahan yang tidak sama sekali ia inginkan, dan tentu saja agar terlepas dari Robert.Kai duduk di sofa ruang tamu, ketika pembantu rumah Robert sedang membangunkan majikannya.Awalnya pembantu tersebut tidak ingin menuruti kemauan Kai, untuk membangunkan majikannya. Karena tahu akan risikonya, jika membangunkan majikannya. Apalagi kini sudah tengah malam.Namun, Kai memaksa. Sampai akhirnya pembantu tersebut mau mengikuti perintahnya.Tidak berselang lama, Kai mendengar langkah kaki. Langkah kaki yang begitu Kai kenali.Kai mengangkat kepalanya, menoleh pada sumber langkah kaki, dimana ia melihat Robert dengan menggunakan baju tidur, melangkah mendekatinya."Kau." ujar Robert. Lalu duduk di sofa sebrang berh

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    52. Dua Wanita Dipangkuanku

    Kai menghubungi ponsel Leon, ingin menanyakan sudah sejauh mana sahabatnya itu membantunya.Tapi ponsel Leon tidak bisa di hubungi. Membuat Kai langsung melempar ponselnya ke kursi penumpang. "Sialan kau Leon!" seru Kai dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya, untuk menemui sahabatnya itu.Kai tidak menemukan keberadaan Leon, di apartemen dan rumahnya. Sahabatnya itu tidak ada, ponselnya pun masih belum bisa di hubungi.Sekarang Kai memutuskan untuk pergi ke bar milik Jimi, berharap ia bisa menemukan Leon disana.Tentu saja Kai harus memberi pelajaran pada sahabatnya itu, karena tidak ada kabar. Sudah sejauh mana Leon membantunya.Kai berjalan menuju ruang vip sesaat setelah menginjakkan kakinya di bar milik Jimi, tempat ketiga sahabat itu selalu bertemu. Tepatnya, ruangan itu sudah menjadi markas ke tiganya jika sudah berkumpul.Tautan kening menghiasi wajah Kai, sesaat setelah masuk ke dalam markas mereka, karena Kai tidak mendapati Leon. Hanya ada Jimi di balik meja, sedang m

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    51. Aku Hanya Cemburu

    Brian terus mencoba menghubungi ponsel Sela. Awalnya sambungan itu masih tersambung, walau tidak pernah diangkat. Namun kini, nada dering itu bahkan tidak lagi terdengar. Nomor Sela benar-benar tidak bisa dihubungi."Sial!" teriak Brian frustasi, lalu melempar ponselnya ke atas kasur hingga memantul dan jatuh ke lantai.Nafasnya memburu, dada naik turun tidak teratur. Ia menoleh ketika merasakan tatapan tajam mengarah padanya.Jane berdiri di samping tempat tidur, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya tidak menunjukkan simpati sedikit pun, setelah tahu. Jika Brian di pecat dari pekerjaannya."Kalau kamu dipecat, bagaimana kamu bisa membelikan aku tas keluaran terbaru, Brian." katanya dingin, dengan nada kesal yang jelas.Brian menatapnya tidak percaya. "Dalam situasi seperti ini kamu masih memikirkan tas?" balasnya, suara meninggi. "Aku dipecat, Jane. Dipecat dengan tidak hormat! Kamu tahu itu, kan?""Aku tahu," jawab Jane cepat. "Makanya aku bilang, temui Sela. Dia pasti bisa me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    50. Menghukummu di Tempat Tidur

    Memori Sela kembali berputar ke masa lampau, ketika Kai ternyata mengajaknya pergi ke vila pribadi milik keluarganya. Vila yang berdiri megah di kawasan perbukitan, dikelilingi pepohonan tinggi yang menjulang dan taman yang terawat rapi. Tempat itu sunyi, namun justru menyimpan begitu banyak suara dari kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Sela.Bagi Sela, vila itu bukan tempat asing. Di sanalah sebagian masa remajanya terukir, masa ketika ia masih canggung menyadari perasaannya sendiri.Sela masih mengingat dengan jelas, bagaimana hidupnya berubah. Ia hanyalah anak seorang pembantu yang bekerja untuk keluarga Kai. Namun takdir membawanya menjadi anak angkat keluarga itu. Ia tinggal di rumah besar yang sama, makan di meja yang sama, tapi tetap merasa ada jarak yang tidak kasat mata, terutama dengan Kai.Ia hanya bisa menatap pria itu dari jauh, mengagumi tanpa berani berharap. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik sikap pendiamnya, ia menyimpan cinta yang tumbuh

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    49. Mengancam

    Kai yang berada di dalam mobil mewahnya, beberapa kali melirik kaca spion tengah. Sorot matanya berubah tajam setiap kali lampu kendaraan di belakang tampak terlalu konsisten mengikuti laju mobilnya. Jalanan yang cukup padat, deretan kendaraan mengular menuju perempatan besar yang lampu merahnya sudah berkedip tanda akan segera berganti.Kai mengembuskan napas pelan. Ia mengenali mobil itu bahkan dari jarak puluhan meter. Sedan putih dengan plat yang begitu ia hafal. Siapa lagi kalau bukan Calista.Tanpa banyak berpikir, Kai menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin mobil meraung, jarum speedometer melonjak. Ia memperhitungkan detik yang tersisa sebelum lampu hijau berubah merah.Di kursi penumpang, Sela yang sejak tadi memandangi deretan toko di pinggir jalan mendadak tersentak. Tubuhnya terdorong ke belakang saat mobil melesat cepat."Kak, jangan ngebut!" ujarnya panik, tangannya spontan mencengkeram sabuk pengaman."Mobil Calista mengikuti mobil kita, Sel," Kai akhirnya memberitahu, t

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    48. Bosan

    Tidak mudah bagi Calista untuk masuk ke dalam rumah megah tersebut. Gerbang besi hitam yang menjulang tinggi berdiri kokoh, seolah menjadi pembatas tegas antara dirinya dan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Perumahan elit itu memang dikenal ketat penjagaannya. Setiap kendaraan yang keluar-masuk harus melalui pemeriksaan. Apalagi orang asing yang datang tanpa pemberitahuan.Calista berdiri dengan tas tangan tergenggam erat, saat security perumahan tersebut mendekatinya. Ia mencoba menjaga wibawanya meski tatapan petugas keamanan tersebut mulai terasa menghakimi.Security yang bertubuh tegap berjalan mendekat."Maaf, Anda siapa?" tanyanya sopan namun tegas. "Selain penghuni rumah dan orang terdekat mereka, tidak boleh ada yang masuk ke sini." Ia mengamati Calista dari ujung kepala hingga kaki. "Sepertinya saya tidak pernah melihat Anda. Kalau begitu ikut saya ke pos."Calista menegakkan bahunya. "Aku calon istri dari pemilik rumah ini," jawab Sela.Security itu langsung me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    47. Rahasia

    Leon benar-benar masih menimbang, apakah dirinya jadi membantu Kai atau tidak.Ia mengenal Kai sejak lama. Sahabatnya itu bukan pria sembarangan,cerdas, ambisius, dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi kali ini, rencana yang diutarakan Kai benar-benar membuat Leon merasakan sesuatu yang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    43. Jangan Macam-macam

    Dari balik punggung Leon yang masih berdiri di ambang pintu, Lian muncul dengan wajah sedikit kesal. Ia mendorong tubuh bosnya itu agar minggir dari hadapannya."Jangan dengarkan apa yang Pak Leon katakan, Mbak." ujar Lian sambil melangkah masuk mendekati Sela.Senyum yang sejak tadi tertahan di su

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    38. Jangan Mendekat

    Meskipun Brian sudah tahu bahwa Kai adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, tetap saja harga dirinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia baru saja dipukul hingga hidungnya berdarah. Rasa perih di wajahnya kalah jauh dibandingkan rasa terhina yang didapatnya. Perintah untuk meninggalkan per

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    39. Aku Sudah Melihat Setiap Inci Tubuhmu

    Apa itu larangan, Kai tetap melangkah mendekati Sela. Senyum terus terukir dari kedua sudut bibirnya, senyum puas sekaligus penuh keyakinan. Bayangan kejadian semalam masih segar di ingatannya, bagaimana Sela tidak menolak, bagaimana tubuhnya itu gemetar dalam pelukannya. Bagi Kai, itu sudah cukup

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status