Share

Dekapan Hangat Musuh Kakakku
Dekapan Hangat Musuh Kakakku
Penulis: Gita Putri

Bab 1

Penulis: Gita Putri
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 21:31:43

***

Lampu di ruang kerja Arga meremang, hanya menyisakan sorot lampu meja yang tajam.

Siska berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar hebat.

Ia merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala. Arga, pria yang selama bertahun-tahun mencoba menghancurkan bisnis kakaknya, kini duduk di hadapannya dengan senyum tipis yang mematikan.

"Duduklah, Siska. Kau tampak tegang." ujar Arga.

Suaranya berat dan berwibawa.

"Aku tidak kesini untuk berbasa-basi, Arga. Lepaskan dokumen penyitaan itu. Kakakku dijebak, dan kau tahu itu." Siska mencoba menguatkan suaranya, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

Arga berdiri, berjalan pelan mengitari meja kerjanya.

"Aku tahu Rendy bersih. Tapi di dunia ini, kebenaran adalah milik siapa yang memegang kendali. Dan saat ini, aku yang memegangnya." Kekeh Arga.

Arga berhenti tepat di belakang Siska. Ia membungkuk, menghirup aroma tubuh Siska yang unik, aroma manis yang samar, seperti susu bayi yang hangat.

Siska tersentak, mencoba menjauh, namun tangan Arga dengan cepat mencengkram pinggangnya.

"Ada aroma yang aneh darimu, Siska. Manis dan sangat menggoda." bisik Arga di dekat tengkuknya.

"Lepaskan aku!" Ucap Siska.

"Aku sudah menyelidikimu, Siska. Rahasiamu, kelainan medis yang kau sembunyikan dari dunia... Galaktorea, bukan? Kau masih perawan, tapi tubuhmu bertingkah seolah kau baru saja melahirkan." Ucap Arga.

Wajah Siska memucat pasi. Rahasia yang ia jaga mati-matian, yang membuatnya merasa seperti orang aneh, kini diketahui oleh musuh terburuk keluarganya.

"Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Siska.

Arga tertawa rendah.

"Aku punya mata di mana-mana. Dan aku melihat noda basah di blusmu sekarang. Kau kesakitan, bukan? Dadamu terasa penuh dan berdenyut karena kau belum sempat 'mengeluarkannya' sejak tadi pagi." Kekeh Arga.

Arga memutar kursi Siska hingga mereka berhadapan. Ia berlutut di depan wanita itu, menatap langsung ke arah dada Siska yang membusung kencang di balik kemeja ketatnya.

"Kau punya dua pilihan." kata Arga, jemarinya mulai menyentuh kancing teratas kemeja Siska.

"Biarkan kakakmu hancur dan masuk penjara, atau biarkan aku menjadi 'bayi' yang akan meredakan rasa sakitmu malam ini. Aku ingin mencicipi cairan suci dari tubuh perawan yang langka ini." Ucap Arga dengan perkataan tanpa disaring.

Siska menggigit bibir bawahnya, air mata mulai menggenang. Rasa sesak di dadanya memang sudah tidak tertahankan, sensasi panas dan berat yang menuntut untuk dilepaskan.

"Kau... kau sangat rendah, Arga."

"Mungkin. Tapi aku adalah satu-satunya orang yang bisa memberikanmu kepuasan sekaligus keselamatan bagi kakakmu." Balas Arga.

Tangan Arga dengan cekatan membuka satu per satu kancing kemeja Siska. Saat kain itu terbuka, terlihatlah bra renda hitam yang tampak tak kuasa menahan beban di dalamnya.

Benar saja, ada dua lingkaran basah kecil yang mulai merembes di cup bra tersebut.

"Lihat ini..." Arga bergumam, matanya berkilat penuh nafsu. "Begitu melimpah."

"Arga, cukup..." desis Siska, namun tubuhnya justru melengkung ke depan saat jemari Arga yang kasar mulai memijat lembut area yang terasa keras dan panas itu.

"Sstt... diamlah. Biarkan aku membantumu." Arga mendekatkan wajahnya. Ia bisa mencium aroma itu lebih tajam sekarang.

Dengan gerakan yang sangat lambat untuk menyiksa Siska, ia menarik turun cup bra tersebut hingga aset paling pribadi Siska menyembul keluar, tampak penuh, putih, dan urat-urat halus terlihat jelas di permukaan kulitnya yang sensitif.

Siska mendongak, memejamkan mata saat ia merasakan lidah hangat Arga mulai menyentuh bagian puncaknya yang sudah menegang.

Sensasi itu seperti aliran listrik yang menyambar seluruh sarafnya.

"Ahhh... Arga..." Siska meremas rambut Arga, tak lagi mencoba melawan.

Arga mulai mengisap dengan ritme yang kuat dan dalam.

Siska merasakan tekanan hebat di dadanya perlahan mulai berkurang, digantikan oleh gelombang kenikmatan yang sangat asing namun sangat ia butuhkan.

Cairan putih hangat itu mengalir keluar, diterima dengan rakus oleh mulut pria yang seharusnya ia benci.

"Manis sekali." Arga berhenti sejenak, menatap Siska dengan tatapan yang penuh kemenangan sementara sudut bibirnya masih menyisakan jejak putih.

"Kau akan menjadi penyedia tetapku mulai sekarang, Siska. Setiap kali kau merasa penuh, kau harus datang kepadaku. Itu syaratnya."

Siska hanya bisa terengah-engah, tubuhnya lemas dalam dekapan musuh kakaknya, menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan dirinya ke dalam perhambaan yang paling intim.

**

Waktu berlalu…

Napas Siska memburu, memutus keheningan ruangan yang hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan isapan rakus Arga.

Rasa sakit yang tadinya menghimpit dadanya kini berganti menjadi sengatan listrik yang menjalar hingga ke ujung jari kakinya.

Ia seharusnya membenci pria ini, namun tubuhnya justru bereaksi seolah ia telah menemukan penawar dari kutukan yang selama ini ia sembunyikan.

Arga melepaskan hisapannya sejenak, menatap lekat ke arah Siska. Sudut bibirnya yang basah oleh cairan putih itu terangkat, membentuk seringai kemenangan yang meruntuhkan sisa-sisa harga diri Siska.

"Lihat dirimu, Siska." bisik Arga, suaranya kini serak oleh gairah yang tertahan.

"Tubuhmu merespons musuh kakakmu dengan begitu liar. Kau tidak butuh dokter, kau hanya butuh aku." Lanjutnya.

Arga tidak berhenti di situ. Ia menarik Siska agar berdiri, lalu dengan satu gerakan sentakan, ia mendudukkan wanita itu di atas meja kerjanya yang luas, di atas tumpukan dokumen penting yang seharusnya menyelamatkan kakaknya.

Kaki Siska yang jenjang kini menggantung di pinggiran meja, terbuka lebar karena posisi duduknya.

"Arga, apa yang kau lakukan... dokumen itu—"

"Persetan dengan dokumen itu

" potong Arga. Ia menyusupkan tangannya ke balik rok Siska, merasakan kulit paha bagian dalam yang halus dan panas.

"Aku ingin tahu, apakah bagian bawahmu sesiap bagian atasmu?" Ucap Arga.

Siska mengerang pendek saat jemari Arga yang kasar menyentuh pusat sensitivitasnya yang terhalang kain tipis.

"Ah! Jangan... kumohon..."

"Kau memohon agar aku berhenti, atau memohon agar aku melanjutkannya?" Arga menekan lebih kuat, merasakan kelembapan yang mulai merembes di sana.

"Kau sangat basah, Siska. Padahal kau bilang kau masih perawan. Ternyata rahasiamu bukan hanya soal ASI ini, tapi betapa haus tubuhmu akan sentuhan pria." Lagi-lagi Arga terkekeh.

Siska mencengkeram kemeja Arga, menarik pria itu mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Kau... kau licik, Arga. Kau memanfaatkan kelemahanku." Ucap Siska terbata.

"Aku tidak memanfaatkan, Sayang. Aku memuaskan." jawab Arga sebelum kembali membenamkan wajahnya di dada Siska yang kembali menegang.

Kali ini, ia tidak hanya menghisap, tapi juga menggigit kecil di area sensitif itu, memicu desahan panjang yang memenuhi ruangan.

"Arga! Hhh... pelan-pelan..."

"Katakan namaku dengan benar, Siska. Katakan siapa yang memilikimu malam ini." perintah Arga sembari terus memacu rangsangannya.

"Arga... Kau... Kau yang memilikiku." bisik Siska dengan suara parau, menyerah sepenuhnya pada sensasi yang memabukkan itu.

Arga menarik diri sejenak, lalu dengan gerakan cepat ia membuka ikat pinggangnya.

Suara logam yang berdenting di keheningan malam itu membuat jantung Siska berdegup dua kali lebih cepat.

"Kau ingin dokumen ini kembali ke tangan Rendy?" Arga mengangkat selembar kertas kontrak di depan wajah Siska yang memerah.

"Maka pastikan setiap tetes yang keluar dari tubuhmu malam ini menjadi milikku. Jangan biarkan ada yang terbuang sia-sia." Ucap Arga.

Arga kembali menyerang, kali ini dengan gerakan yang lebih dalam.

Tangannya meremas pinggang Siska dengan kuat, sementara mulutnya kembali bekerja, menghisap sisa-sisa cairan yang terus mengalir deras seiring dengan meningkatnya gairah Siska.

Siska merasa dunianya berputar. Di bawah meja kerja musuh kakaknya, di tengah tumpukan dokumen legal, ia merasakan orgasme pertamanya meledak bukan karena sentuhan seksual biasa, melainkan karena pelepasan tekanan yang begitu hebat dari dadanya yang terus memproduksi ASI.

Tubuh Siska bergetar hebat dalam dekapan Arga.

Cairan putih itu mengalir lebih banyak, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja.

Arga tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan kepuasan predator.

"Kau benar-benar istimewa, Siska. Kakakmu akan sangat terkejut jika tahu betapa manisnya rasa pengkhianatan adiknya ini." gumam Arga sembari mengecup kening Siska yang penuh keringat.

Siska tak bisa menjawab apapun karena kelelahan.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 7

    ***Siska melangkah keluar dari toilet dengan kaki yang masih terasa lemas, tangannya gemetar hebat saat mencoba merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah detaknya bisa terdengar oleh semua orang di aula pesta malam itu. Ia merasa seolah ada label "milik Arga" yang tertempel di keningnya.​Baru beberapa langkah ia keluar dari lorong toilet, sosok Rendy sudah berdiri di sana dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam.​"Siska! Ke mana saja kau? Kakak mencarimu ke mana-mana." ujar Rendy sambil menghampiri adiknya. Ia segera memegang kedua bahu Siska, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau lama sekali di dalam. Kau sakit? Wajahmu sangat merah."​Siska mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa sangat kaku. "Aku... aku hanya merasa sedikit pusing, Kak. Udara di dalam ruangan tadi terlalu sesak."​Rendy hendak menjawab, namun matanya tiba-tiba terpaku pada bagian dada gaun maroon Siska. Di sana, tepat di dekat

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 6

    **Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin menanamkan "tanda" bahwa meskipun Siska berada di rumah kakaknya, tubuhnya tetap milik Arga.​Di atas tempat tidur luas itu, Arga mengunci kedua tangan Siska di atas kepala. Napasnya yang panas menerpa kulit Siska yang sudah bersimbah peluh dan sisa-sisa cairan putih yang melimpah.​"Kau akan pulang besok, bukan? Kembali ke pelukan kakakmu yang suci itu." bisik Arga dengan nada mengejek yang tajam.​"Arga... lepaskan aku, ini sudah hampir pagi. Aku harus berkemas." rintih Siska, mencoba mengabaikan rasa berdenyut di dadanya yang kembali terasa berat.​"Aku akan melepaskanmu, tapi aku ingin memastikan Rendy tahu, tanpa perlu aku bicara bahwa ada pria lain yang sudah menjamah adiknya." Arga t

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 5

    **Mobil SUV itu masih terparkir di sudut remang-remang basement, mesinnya menderu halus, menciptakan getaran yang seolah menyatu dengan denyut di seluruh tubuh Siska. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma susu yang manis bercampur dengan aroma maskulin Arga yang tajam, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus memabukkan.​Siska terkulai lemas di dada Arga, blusnya terbuka lebar, dan napasnya masih terputus-putus. Arga perlahan melepaskan hisapannya, namun tangannya tetap posesif mencengkram pinggang Siska. Ia mengambil selembar sapu tangan sutra dan dengan tenang membersihkan sudut bibirnya, lalu mengusap sisa-sisa kelembapan di kulit Siska dengan gerakan yang hampir terlihat seperti perhatian, namun terasa seperti penandaan wilayah.​Siska menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Matanya sayu, bibirnya bengkak, dan ia terlihat seperti wanita yang baru saja kehilangan segalanya, namun anehnya, dadanya yang tadi terasa meledak kini terasa ringan dan nyaman.​"K

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 4

    **Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dengan kerah tinggi, pilihan yang sengaja ia buat untuk menutupi jejak kemerahan yang ditinggalkan Arga di lehernya semalam.​Di dadanya, ia masih merasakan sisa-sisa denyutan panas. Meski Arga telah "mengosongkannya" hingga fajar, memori tentang sentuhan kasar namun membebaskan itu masih segar, membuat kulitnya terasa terbakar setiap kali ia teringat suara isapan pria itu.​Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Siska tersentak, hampir menumpahkan tehnya. Itu Rendy.​"Pagi, Siska." suara Rendy terdengar berat namun penuh kasih. Ia berjalan mendekat dan tanpa ragu mencium puncak kepala adiknya, sebuah rutinitas yang biasanya membuat Siska merasa aman, namun pagi ini justru membuatnya ing

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 3

    Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sepatu Arga dan deru napas Siska yang masih belum stabil.​Pintu ganda kamar utama terbuka dengan satu dorongan. Kamar Arga jauh lebih luas, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan maskulin dan dominan. Arga merebahkan Siska di atas tempat tidur berseprai sutra hitam yang dingin, menciptakan kontras tajam dengan kulit Siska yang masih merona panas.​"Tempat ini lebih pantas untukmu, Siska. Bukan meja kayu yang keras." gumam Arga sembari melepas jasnya dan melemparnya ke lantai.​Siska mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, namun tangan Arga menahannya. "Jangan sembunyi. Aku ingin melihat setiap inci dari apa yang sekarang menjadi milikku." Ucap Arga.​"Arga... Kau sudah me

  • Dekapan Hangat Musuh Kakakku   Bab 2

    Tubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya. Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.Arga mengangkat wajahnya, menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya yang basah menyunggingkan senyum puas. Ia menyentuh area sekitar mulut Siska, membersihkan sisa-sisa ASI yang mungkin menempel di sana dengan ibu jarinya yang kasar."Kau... kau membuatku gila, Arga." desis Siska, suaranya parau, dipenuhi campuran kebencian, kebingungan, dan gairah."Aku membuatmu hidup, Siska. Ini adalah caramu untuk bertahan hidup." koreksi Arga, suaranya pelan namun penuh otoritas. Ia menatap dalam-dalam ke mata Siska, mencari jejak perlawanan yang tersisa. "Dan ini adalah caramu menyelamatkan kakakmu.” Lanjutnya.Arga bangkit, berdiri tegak di antara kedua kaki Siska yang ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status