LOGIN“Ayah saya seorang pegawai bank swasta, Tante.” Ada getir di senyum Nadia. Dia tidak malu karena pekerjaan ayahnya. Toh, ia tidak peduli dengan restu orang tua Kenzo. Bukankah hubungan mereka hanya konspirasi? Tetapi ia lebih sakit mengingat perlakuan ayahnya itu.Sungguh, Nadia lelah dengan semua ini.“Oh, baiklah.” Hanya itu respon dari Neya.Kenzo sejak tadi memperhatikan wajah Nadia, tangannya meraih tangan gadis itu, hingga tatapan mereka bertemu.“Aku enggak peduli sama jabatan atau pekerjaan ayahmu, Nad”Nadia hanya tersenyum getir. Akting Kenzo benar-benar luar biasa, tetapi ia mencoba untuk tidak terbawa perasaan.Neya meraih gelas jus yang ada di depannya, lalu meminum perlahan.“Saya ke toilet dulu. Toilet di mana, Kak?” pamit Senja yang sudah tidak nyaman dengan situasi seperti ini.“Aku antar.” Arsen pu berdiri, lalu meraih tangan Senja.Neya tersenyum saat tatapannya bertabrakan dengan tatapan Senja.“Kenzo, tidak lama lagi kamu akan jadi dokter. Kamu harus berpikir jern
Senja tidak menyangka akan melihat Nadia di sana. Kenapa tiba-tiba sekali sahabatnya itu berdandan begitu cantik di rumah keluarga Kenzo?“Loh, Nsd. Kamu di sini?” tanya Senja begitu mendekati Nadia.Nadia sendiri tampak kikuk, malu dan seperti tidak nyaman. Banyak seperti yang ingin dijelaskan.“Iya. Nadia pacar aku.” Kenzo memeluk pinggang Nadia posesif.Arsen diam saja, mengamati keponakannya itu. Entah apa yang ia pikirkan.“Sen, aku ….” nadia handak menjelaskan ini kepada Senja, kalau tidak suara Neya dari dalam menyambut adiknya dengan heboh.“Arsen! Akhirnya!” Neya menghampiri adik laki-laki satu-satunya itu. “Kakak sudah sangat penasran, akhirnya kamu muncul juga. Dasar anak bandel.” Dengan enteng, Neya menjewer telinga adiknya itu. “Kak Neya, ih! Sakit tahu.”Senja hanya tersenyum melihat interaksi itu, jujus ia juga takut salah jika bicara.“Jadi ini yang namanya Senja?” tanya Neya sambil mengamati Senja dengan senyuman. “Kenzo juga sempat cerita waktu itu.”Senja menganggu
“Papa serius gak papa kami tinggal?” Senja baru saja selesai make up, ia dan Arsen akan menghadiri undangan makan malam dari Neya, kakaknya Arsen.“Gak papa. Ada Susi juga, kok. Kamu gak usah khawatirkan papa, lagian papa udah baikan. Jalannya aja udah lancar. Papa sehat, Senja.”Meskipun begitu, tetap saja Senja tidak tenang meninggalkan papanya. Ia mengusap bahu papanya dengan lembut. “Kalau misal ada apa-apa, Papa harus telpon Senja.”“Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di jalan,” jawab RTrian, yang kemudian tatapannya bergeser pada Arsen yang kini sedang memakai jam tangan.“Arsen, ingat jangan ngebut.”“Tahu, Yan. Aku juga gak mau mati kali.”Senja memukul pelan lengan Arsen karena kesal, hingga calon suaminya itu menatapnya bingung. “NGomongnya, ih!”“Maaf. Ya habis papa kamu nyebelin, dikira aku ngajak jalan orang tersayang kaya mau diajak balap liar.”Trian memutar bola matanya. “Serah kamu, lah, Sen.”:“Mbak Susi, jangan lupa nanti obatnya Papa, ya, Mbak.”Susi yang berdiri di
Senja membungkam mulutnya sendiri, tidak menyangka dengan yang baru saja dia dengar. Kenzo, pria yang ia kenal baik, tidak sengaja menabrak orang karena mabuk?“Terus yang ditabrak gimana?” tanya Senja, panik.“Masih kritis. Kelurganya enggak terima, sih. Kakakku sudah memberikan ganti rugi dan menjamin pengobatan. Cuma ….”“Cuma kenapa, Mas?” Senja menyipitkan mata, ia begitu penasaran. ““Kak Neya mau jodohin Kenzo, biar gak main-main lagi, dan hidupnya terurus. Cuma bocah itu masih enggan dijodohkan sama anak temannya Kak Neya.”Senja kembali mengangguk, tangannya kini beralih mengusap bagian kepala Arsen. “Kamu istirahat dulu. Pasti capek. Biar aku buatkan teh ya.”Saat Senja hendak pergi, Arsen justrtu meraih tangan Senja, membuat kekasihnya itu mengangkat dagu. “Aku masih kangen sama kamu. Di sini saja.”Mata Senja mengedar. “Mas,. gak enak kalau ada yang lihat.”“Biarkan.”“Mas!” Senja mengerucutkan bibir, dan Arsen menyerah.Semenjak hubungan mereka diketahui banyak orang, Se
“Ada apa, Nad?” Senja menghampiri Nadia yang kini terlihat begitu gugup setengah mati. Ia takut, sahabatnya itu benar-benar sedang merencanakan hal yang tidak baik. “Senja, aku ….” Nadia menggigit bibir bawahnya. “Sumpah, ini gak ada hubungannya sama kamu dan Om Arsen, kok.”“Aku enggak nuduh kamu. Tapi, kenapa kamu gugup banget. Apa Mas Kenzo melakukan hal yang gak baik sama kamu?”Nadia menggeleng cepat.“Terus, kenapa tadi kamu kaya marah banget? Gak mau berurusan, apa yang terjadi.” Senja meraih tangan Nadia. Ia tahu, Nadia tidak diterima di keluarganya sendiri, dan sekarang, ia sudah menganggap gadis itu seperti saudaranya sendiri.“Nad?”“Sen, aku bukannya mau sembunyikan ini sama kamu, tapi sumpah, Sen. Aku cuma gak mau buat kamu semakin kepikiran.”Senja memilih menarik tangan nadia, mengajaknya duduk di sebelah kolam ikan. Berharap, Nadia bisa menceritakannya dengan tenang.Senja diam saja, dia siap menunggu jawaban dari Nadia yang seperti sedang bergelut dengan perasaannya
Senja senang, Trian sudah lebih baik, dan hari ini papanya itu bisa pulang ke rumah. Kondisinya jauh lebih baik. Meski dokter mengatakan, kalau Trian tidak boleh terlalu kelelahan.Arsen tidak mengantarkan mereka pulang karena hrus mengurus pasien operasi. Nadialah yang menjemput. Ia sudah dianggap seperti putri sendiri oleh Trian. Pun dengan Senja yang kini merasa seperti memiliki saudara.“Nad, gimana hubungan kamu sama Kenzo?” tanya Trian di tengah keheningan.Mereka sedang duduk di ruang tengah. Senja baru saja dari dapur membawa sepiring buah apel dan puding buatan Sari. Sari sekarang ditugaskan untuk bekerja di rumah Trian oleh Arsen.“Om, nanyanya, ih! Orang aku sama Mas Kenzo enggak gimana-gimana.” Niatnya Nadia memang ingin move on dari Kenzo. Untuk apa menyakiti diri sendiri dengan mengejar-ngejar pria. Sementara kenzo sendiri seperti tidak peduli dengan dirinya, kan?Senja hanya mengamati sahabatnya itu, jelas ia paham pergulatan batin Senja. Semalam Senja sempat mencuri d







