Home / Romansa / Dekapan Hangat Om Dokter / Bab. 72 Telat Haid?

Share

Bab. 72 Telat Haid?

Author: Layli Dinata
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-09 09:13:28

Begitu pintu rumah terbuka, Senja bahkan belum sempat meletakkan kantong belanjaannya dengan benar.

Tangannya baru saja menyentuh meja ketika tiba-tiba ia menutup mulut.

Wajahnya berubah.

“Uhuk—”

Senja berbalik dan berlari menuju kamar mandi. Suara muntah langsung terdengar dari dalam.

Nadia yang baru masuk pun tertegun. Beberapa detik kemudian, ia saling pandang dengan Trian sebelum buru-buru meletakkan barang bawaannya.

“Senja?”

Tidak ada jawaban.

Yang terdengar hanya suara muntah yang membua
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 90 Ada Apa?

    “Ada apa, Nad?” Senja menghampiri Nadia yang kini terlihat begitu gugup setengah mati. Ia takut, sahabatnya itu benar-benar sedang merencanakan hal yang tidak baik. “Senja, aku ….” Nadia menggigit bibir bawahnya. “Sumpah, ini gak ada hubungannya sama kamu dan Om Arsen, kok.”“Aku enggak nuduh kamu. Tapi, kenapa kamu gugup banget. Apa Mas Kenzo melakukan hal yang gak baik sama kamu?”Nadia menggeleng cepat.“Terus, kenapa tadi kamu kaya marah banget? Gak mau berurusan, apa yang terjadi.” Senja meraih tangan Nadia. Ia tahu, Nadia tidak diterima di keluarganya sendiri, dan sekarang, ia sudah menganggap gadis itu seperti saudaranya sendiri.“Nad?”“Sen, aku bukannya mau sembunyikan ini sama kamu, tapi sumpah, Sen. Aku cuma gak mau buat kamu semakin kepikiran.”Senja memilih menarik tangan nadia, mengajaknya duduk di sebelah kolam ikan. Berharap, Nadia bisa menceritakannya dengan tenang.Senja diam saja, dia siap menunggu jawaban dari Nadia yang seperti sedang bergelut dengan perasaannya

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 89 Kepo

    Senja senang, Trian sudah lebih baik, dan hari ini papanya itu bisa pulang ke rumah. Kondisinya jauh lebih baik. Meski dokter mengatakan, kalau Trian tidak boleh terlalu kelelahan.Arsen tidak mengantarkan mereka pulang karena hrus mengurus pasien operasi. Nadialah yang menjemput. Ia sudah dianggap seperti putri sendiri oleh Trian. Pun dengan Senja yang kini merasa seperti memiliki saudara.“Nad, gimana hubungan kamu sama Kenzo?” tanya Trian di tengah keheningan.Mereka sedang duduk di ruang tengah. Senja baru saja dari dapur membawa sepiring buah apel dan puding buatan Sari. Sari sekarang ditugaskan untuk bekerja di rumah Trian oleh Arsen.“Om, nanyanya, ih! Orang aku sama Mas Kenzo enggak gimana-gimana.” Niatnya Nadia memang ingin move on dari Kenzo. Untuk apa menyakiti diri sendiri dengan mengejar-ngejar pria. Sementara kenzo sendiri seperti tidak peduli dengan dirinya, kan?Senja hanya mengamati sahabatnya itu, jelas ia paham pergulatan batin Senja. Semalam Senja sempat mencuri d

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 88 Merelakan

    Senja tidak menyangka, kalau Nadia akan semarah ini. Wajah Nadia bahkan terlihat merah, dengan mata menatap sengit ke arah Kenzo.“Apa maksud kamu? Kenapa kamu nuduh aku, Nad?” Kenzo mendekat, tetapi nadia justru mundur, seolah jijik kepadanya.“Mas Kenzo yang kasih tahu Tante Winny soal rumah ini?” Senja kini yang maju selangkah, wajah Kenzo berubah tegang, pria itu menggeleng.‘Enggak, Senja. Aku gak ngasih, kok. Suer. Aku justru ke sini mau ambil tas aku yang ketinggalan.” Baik Senja maupun Nadia menoleh pada bangku di dekat pintu. Ada tas yang tergeletak manis di sana. Kenzo pun mengambilnya.Winny seolah malas, ia masih menatap tajam ke arah Senja. “Jadi, di mana Arsen?”“Sudah aku bilang, gak ada!” Senja kini setengah berteriak, jujur, ia terganggu dengan kehadiran Winny.Mereka masih meributkan soal hubungan Senja dan Arsen, Kenzo yang berusaha menegahi pun kewalahan, hingga suara berat seseorang menghentikan perdebatan itu.“Ada apa ini?”“Mas Arsen!” Senja menghampiri Arsen

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 87 Tambah Benci

    “Sebenarnya dia kenapa, sih? Masih aja ngurusin hidup orang lain. Dasar nyebelin!” Nadia menggerutu. Awalnya ia memang tertarik dengan Kenzo. Selain tampan, Kenzo begitu baik. Dan tentu karena profesinya.Tetapi setelah bersikap seperti tadi, ia benar-benar illfeel.“Kenapa, sih, Nad? Dari tadi menggerutu?’ tanya Senja dengan menepuk pundak sahabatnya, nyaris saja ia jadi korban siram mendadak.“Ya Allah, Sen. Hampir aja, kan kamu kena siram!” Alih-alih marah, Senja justru tertawa. Ia menghampiri keran air, lalu mematikannya. Ia meraih tangan Nadia, menggiring sahabatnya untuk duduk di bangku yang ada di tepi kolam ikan. “BIlang ada apa?”Nadia menggeleng, ia sempat mengalihkan pandanganya, takut ekspresinya itu akan terbaca.Senja justru terkekeh kecil, sahabatnya terus manyun. Diam-diam, ia memperhatikan Nadia sejak tadi. yang terlihat kesal setelah bertemu Kenzo.“Apa ini ada hubungannya dengan Mas Kenzo?Nadia menggeleng, tetapi wajahnya begitu panik. Seperti sedang mencari alas

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 86 Effort Luar Biasa

    Pagi itu, Arsen benar-benar dibuat kewalahan.Bukan karena pekerjaannya di rumah sakit. Bukan pula karena keadaan Trian yang masih harus dipantau. Melainkan karena sejak membuka mata, Senja tiba-tiba memiliki satu keinginan yang menurutnya tidak bisa ditunda.Kebab.Bukan kebab yang bisa dibeli di restoran Turki terdekat, bukan pula kebab yang dipesan melalui aplikasi pengantaran. Senja menginginkan kebab yang dibuat di Turki.Entah bagaimana ceritanya, keinginan itu muncul begitu saja setelah sarapan. Senja yang awalnya hanya duduk sambil memainkan sendok, mendadak mengangkat wajah dan mengatakan bahwa ia ingin kebab. Ketika Arsen bertanya dari mana, gadis itu dengan polos menjawab bahwa ia ingin kebab langsung dari Turki.Nadia yang sedang minum hampir tersedak.Arsen justru diam beberapa detik.“Kamu serius?” Senja mengangguk. “Dari Turki?”Lagi, Senja mengangguk. Kali ini dengan mata berbinar.Arsen mengusap wajahnya, lalu menatap Senja yang sekarang sudah cengar-cengir seolah per

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 85 Restu

    Senja tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tenggorokannya seperti tercekat.“Senja, kamu sama Om Arsen–”“Memangnya kenapa?” Arsen baru saja selesai menangani pasiennya, pria itu masih mengenakan baju serba hijaunya. Kenzo yang berdiri di ambang pintu sampai tercekat.“Ada yang salah? Kami saling mencintai.”“Arsen ….” Suara Trian membuat Arsen berhenti mendebat keponakannya sendiri, ia masuk dan menghampiri sahabatnya. “Trian … kamu tidak apa-apa? apanya yang sakit?”Trian menggelengkan kepala. “Tidak ada. Aku hanya ingin bicara sama kamu.”Mata Arsen langsung menoleh pada Kenzo yang berdsiri di ambang pintu. “Kamu dengar, kan?”Kenzo menarik napas panjang, lalu pergi dari sana dengan perasaan dongkol.Senja lega, setidaknya papanya menyetujui hubungannya dengan Arsen. Hanya, Trian meminta Arsen lekas menikahi Senja, karena tidak ingin menanggung malu, perut Senja akan kian membesar.“Kita bahas nanti setelah kamu sembuh, Trian,” ujar Arsen dengan mata berkaca-kaca.“Tapi, bagaimana

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status