Share

Bab. 85 Restu

Author: Layli Dinata
last update publish date: 2026-09-24 00:01:25

Senja tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tenggorokannya seperti tercekat.

“Senja, kamu sama Om Arsen–”

“Memangnya kenapa?” Arsen baru saja selesai menangani pasiennya, pria itu masih mengenakan baju serba hijaunya. Kenzo yang berdiri di ambang pintu sampai tercekat.

“Ada yang salah? Kami saling mencintai.”

“Arsen ….” Suara Trian membuat Arsen berhenti mendebat keponakannya sendiri, ia masuk dan menghampiri sahabatnya. “Trian … kamu tidak apa-apa? apanya yang sakit?”

Trian menggelengkan kepala
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 86 Effort Luar Biasa

    Pagi itu, Arsen benar-benar dibuat kewalahan.Bukan karena pekerjaannya di rumah sakit. Bukan pula karena keadaan Trian yang masih harus dipantau. Melainkan karena sejak membuka mata, Senja tiba-tiba memiliki satu keinginan yang menurutnya tidak bisa ditunda.Kebab.Bukan kebab yang bisa dibeli di restoran Turki terdekat, bukan pula kebab yang dipesan melalui aplikasi pengantaran. Senja menginginkan kebab yang dibuat di Turki.Entah bagaimana ceritanya, keinginan itu muncul begitu saja setelah sarapan. Senja yang awalnya hanya duduk sambil memainkan sendok, mendadak mengangkat wajah dan mengatakan bahwa ia ingin kebab. Ketika Arsen bertanya dari mana, gadis itu dengan polos menjawab bahwa ia ingin kebab langsung dari Turki.Nadia yang sedang minum hampir tersedak.Arsen justru diam beberapa detik.“Kamu serius?” Senja mengangguk. “Dari Turki?”Lagi, Senja mengangguk. Kali ini dengan mata berbinar.Arsen mengusap wajahnya, lalu menatap Senja yang sekarang sudah cengar-cengir seolah per

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 85 Restu

    Senja tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tenggorokannya seperti tercekat.“Senja, kamu sama Om Arsen–”“Memangnya kenapa?” Arsen baru saja selesai menangani pasiennya, pria itu masih mengenakan baju serba hijaunya. Kenzo yang berdiri di ambang pintu sampai tercekat.“Ada yang salah? Kami saling mencintai.”“Arsen ….” Suara Trian membuat Arsen berhenti mendebat keponakannya sendiri, ia masuk dan menghampiri sahabatnya. “Trian … kamu tidak apa-apa? apanya yang sakit?”Trian menggelengkan kepala. “Tidak ada. Aku hanya ingin bicara sama kamu.”Mata Arsen langsung menoleh pada Kenzo yang berdsiri di ambang pintu. “Kamu dengar, kan?”Kenzo menarik napas panjang, lalu pergi dari sana dengan perasaan dongkol.Senja lega, setidaknya papanya menyetujui hubungannya dengan Arsen. Hanya, Trian meminta Arsen lekas menikahi Senja, karena tidak ingin menanggung malu, perut Senja akan kian membesar.“Kita bahas nanti setelah kamu sembuh, Trian,” ujar Arsen dengan mata berkaca-kaca.“Tapi, bagaimana

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 84 Bagaimana Kalau Jauhi Arsen?

    Begitu melihat papanya terbaring di ruang rawat, Senja mengurut dadanya, lega. Ia tak bisa membayangkan, kalau sang papa harus menjalani operasi bedah jantung.Ia sama sekali tidak berani masuk ke dalam. Takut sang papa marah, meraung dan kondisinya kembali memburuk.“Mbak Senja.” Seorang suster yang baru saja memeriksa Trian tersenyum, begitu mendapati Senja berdiri di depan pintu. “Kok enggak masuk?”Senja menggelengkan kepala. Sungguh, ia takut Ttrian akan seperti tadi.”“Bagaimana keadaan papa saya, Sus?’ tanya Senja, harap-harap cemas.“Membaik, Mbak,” jawab Suster dengan nama Ana itu. “Pak Trian terus mencari Dokter Arsen. Tapi, Dokter sedang ada operasi darurat.”Senja hanya bisa mengangguk. “tapi, tadi juga nanyain Mbak Senja. Katanya kalau Mbak Senja datang, suruh masuk.”Masuk? bagaimana ini? Senja bingung, bagaimana menjelaskan situasinya kepada Suster. “Tapi ….”“Dokter Arsen tadi juga bilang mengenai keadaan Pak Trian, yang kalau bisa, Mbak Senja jangan masuk dulu. teta

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 83 Isi Hati Arsen

    “Om, bagaimana kalau Papa enggak bangun?”“Senja, bisa gak kalau kamu enggak bicara begitu?! Dokter Rusli yang menangani, dia akan baik-baik saja.”Senja bisa lihat kekhawatiran Arsen. Air matanya menetes, pria itu mendekat, lalu memeluknya. Tangis Senja pecah dalam pelukan pria itu.“Maafkan aku, Senja. Harusnya sejak awal aku jujur sama kamu, jadi semua tidak akan seperti ini. Sungguh, aku hanya tidak mau kalau kamu dan papa kamu akan kewalahan. Aku berniat melamar kamu setelah kamu selesai kuliah, tapi semuanya gagal karena aku tidak bisa menahan hasratku sendiri.”Senja mengangkat wajah, nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.“Kamu masih meragukan aku? Aku sama Winny tidak ada apa-apa. Papanya adalah bawahanku. Hubungan kami … bahkan berakhir sudah sangat lama, dia yang mencampakkan aku, aku tidak akan memintanya kembali. Burhan profesional. Dia tidak mungkin berani padaku.”Senja tidak tahu harus berucap apa. Ia masih syok bukan main. Tetapi yang jauh membuatnya ta

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 82 Jangan Ikut campur

    Arsen menoleh kepada Kenzo. Wajahnya masih tegang, tetapi kali ini sorot matanya tidak lagi sekadar menunjukkan kecemburuan. Ada kelelahan, kekhawatiran, dan tekanan yang sejak tadi ia tahan seorang diri.“Kenzo, kuperingatkan jangan mendekati Senja.”Kenzo mengerutkan kening. “Aku cuma menenangkan Senja, kenapa Om sewot? Ada apa Om sama Senja? Om kaya suaminya saja.”“Kenzo kuperingatkan sekali lagi”“Tapi kenapa?!”“Kamu gak perlu tahu!”“Om gak ada hak—”“Cukup.” Senja memotong perkataan Kenzo. “Aku tidak mau mendengar perdebatan kalian. Papaku di dalam sana, kalian malah debat. Untuk sekarang, jangan membuat keadaan semakin rumit.”Kenzo menatap Arsen dengan rahang mengeras. Ia tampak ingin membalas banyak, tetapi Senja yang berdiri di antara mereka membuatnya mengurungkan niat. Gadis itu masih menunduk, bahunya bergetar, sementara matanya terus tertuju pada pintu IGD.Arsen mengembuskan napas, kemudian meraih tangan Senja.“Ayo, ikut aku.”Senja tidak langsung bergerak. Ia masih

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 81 Jangan Sentuh Dia

    Senja tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di depan pintu IGD. Kakinya terasa lemas, tetapi tubuhnya menolak untuk duduk. Setiap kali pintu otomatis terbuka, kepalanya langsung menoleh, berharap melihat Arsen keluar membawa kabar bahwa Trian sudah sadar dan semuanya baik-baik saja.Namun, yang datang hanya petugas medis, keluarga pasien lain, atau perawat yang berjalan tergesa-gesa membawa berkas.Tidak ada Arsen.Tidak ada kabar tentang papanya.Senja memeluk tubuhnya sendiri. Tangannya masih gemetar sejak melihat Trian didorong masuk ke ambulans. Bayangan wajah pucat ayahnya terus berputar di kepalanya. Suara napas Trian yang berat, tangan yang mencengkeram dada, serta tubuhnya yang mendadak tidak merespons membuat Senja merasa seolah-olah sedang berdiri di tepi jurang.“Papa….”Suara itu keluar begitu lirih, hampir tidak terdengar.Air matanya kembali jatuh. Senja mengusapnya dengan punggung tangan, tetapi semakin ia berusaha menahan tangis, semakin dadanya terasa sesak. Ia ingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status