LOGINjantungnya semakin berdegup kencang.“Maaf, Nona. Aku tak bisa menahan perasaanku. Apa kau marah padaku?” Marvin menatapnya, berusaha meraba isi hatinya sendiri.Alina merasakan sesuatu, meski ia sulit mengungkapkannya. Namun, Kata-katanya berhenti di bibir. “Tidak, aku tidak marah padamu, hanya saja…” Alina menggigit bibir bawah, mencoba memahami gemuruh di dadanya yang bercampur dengan ketakutan. “Apa kau tidak memiliki perasaan yang sama sedikit pun denganku?” suara Marvin yang lembut kembali menyentuh, membuat Alina terpaku dalam kebingungan. "Aku… aku takut dengan ayahku, Marvin.” Alina tak bisa menyembunyikan perasaan cemas yang mencengkeram hatinya. “Aku takut kalau dia akan melukaimu, jika dia tahu perasaan yang kita rasakan saat ini." Suara Marvin tiba-tiba mengisi ruang yang hening. “Jadi kau merasa hal yang sama denganku? Kau memiliki perasaan kepadaku?"Raut wajah Alina mulai berubah, ia mulai gelisah, dadanya berdebar tak menentu. Bibirnya membuka mulut, ingin menjaw
Marvin mengepalkan tangannya di samping tubuh, menatap lurus ke dalam manik mata Arthur yang sedingin es."Saya tidak pernah takut mati untuk Nona Alina, Tuan. Tapi saya takut gagal melindunginya. Richard bukan hanya ingin membunuh, dia ingin menyiksa Nona melalui rasa takut dan saya tidak mau Nona Alina trauma."Arthur mengembuskan asap cerutunya ke udara, menciptakan tirai abu-abu di antara mereka."Lalu kau ingin aku menyembunyikan putriku seperti pengecut? Di mana harga diri keluarga Sterling jika kita terus berlari? Atau ini hanya alasanmu untuk lari dari mereka?" Arthur menatap tajam ke arah Marvin."Ini bukan tentang harga diri, Tuan, ini tentang strategi. Tuan tahu kerjaku selama jadi pengawal Nona Alina. Namun, demi menjaga mental Nona Alina, sementara dia bersembunyi dulu," sahut Marvin cepat, mencoba menjelaskan kepada Arthur."Nona Alina baru saja mulai pulih secara psikis. Jika Richard menyerang sekarang, mentalnya akan hancur sebelum matanya benar-benar sembuh. Pertimban
Marvin tertegun, matanya menatap lekat map hitam di atas meja. Keheningan di ruangan itu terasa begitu mencekam, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berdegup kencang melawan rasa perih di bahunya."Ayah! Apa maksudnya ini? Kenapa Ayah memberikan pilihan seperti itu?" suara Alina pecah, tangannya meraba udara mencari tangan Marvin, seolah takut pria itu akan menghilang detik itu juga."Marvin. Kau tak akan pergi kemana-mana. Dan kau tak perlu melindungiku dengan mengorbankan nyawamu." Alina memegang erat tangan Marvin, seolah tak mau melepaskannya."Ayah... Bisakah kau tidak membuat pilihan yang sulit untuknya? Dia sudah banyak berkorban untukku." Entah mengapa Alina terlihat takut, jika Marvin akhirnya mengambil pilihan yang pertama.Arthur tidak menjawab putrinya. Matanya yang tajam tetap terkunci pada Marvin. "Aku tidak butuh jawaban dari seorang wanita yang sedang jatuh cinta, Alina. Aku butuh jawaban dari seorang pria yang siap mati. Bagaimana, Marvin? Kebebasan di luar n
Bram mulai menghitung, terlihat ia tersenyum saat melihat kepanikan Marvin di sana."Satu!""Jangan lakukan itu, Bram! Kau sudah gila!" teriak Marvin, suaranya parau tertelan deru angin di area parkir yang sunyi. Dekapannya pada Alina semakin mengerat, seolah tubuhnya adalah satu-satunya benteng yang tersisa.Bram tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti suara kematian. "Dua!""Marvin... Apa dia kan berbuat nekat? Aku tidak ingin melihat dia hilang kendali," bisik Alina dengan bibir bergetar, jemarinya mencengkeram kemeja Marvin yang kini basah oleh darah."Sst, diamlah Nona. Jangan dengarkan dia," sahut Marvin lembut, meski matanya menatap tajam ke arah jempol Bram yang berada di atas tombol detonator."Kau hanya memiliki satu hitungan lagi, Marvin!" Bram kembali berteriak, wajahnya dipenuhi kegilaan yang tak terbendung. "Serahkan dia sekarang, atau detenator ini akan mengirim kita semua ke neraka bersama-sama!""Kau takkan berani, Bram! Kau juga akan mati di sini!" gertak
"Kau mengancamku? Kau pikir siapa dirimu? Sudah saatnya aku menghancurkan keluarga Sterling lewat putrimu. Karena kau sudah menghancurkan masa depan putraku." Silas tertawa saat melihat Arthur tampak marah, namun tak bisa berbuat apa-apa."Silas!" Arthur menggeram, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Kau sudah gila? Melibatkan putriku dalam dendam konyolmu? Lepaskan dia dan lakukan apa maumu kepadaku. Aku siap menerima semua hukumanmu."Silas tertawa sumbang, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam yang berkarat. Ia melangkah maju, membiarkan pasukannya mengepung Marvin dan Arthur di sebuah ruang sepi."Konyol, kau bilang?" Silas berhenti tepat di depan Arthur, mata tuanya berkilat penuh kebencian dan amarah saat mengingat keadaan putranya saat ini. "Putrimu, melalui tangan bodyguard kesayanganmu ini, dia hampir membuat anakku berada dalam sebuah neraka yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya." Silas mengatur napasnya, sebelum dia mengatakan sesuatu l
"Lift utama sedang diperbaiki, Nona. Kita lewat jalur belakang saja, biar lebih cepat," kata Bram sambil menatap Alina, senyumannya tipis mengambang di sudut bibirnya, seolah sulit diartikan."Aneh sekali, kenapa liftnya tiba-tiba rusak? Biasanya tak pernah seperti ini," gumam Alina merasa sedikit keanehan.Alina merasakan ada sesuatu yang mengganjal, sebuah rasa cemas yang tiba-tiba muncul tanpa sebab jelas. Langkah demi langkah mereka menyusuri lorong yang sunyi dan pengap. Aroma udara di sekitarnya berbeda, bukan bau antiseptik khas rumah sakit, melainkan bau debu dan lembab yang menusuk hidung.Semakin lama, rasa tidak nyaman ini kian menguat dalam dada Alina."Berhenti! Aku tidak mau lewat sini. Aku ingin kembali ke lobi!" suara Alina terputus, seolah kakinya menolak melangkah lebih jauh.Alina berdiri terpaku, jantungnya berdentang kencang, tak tahu harus bagaimana menghadapi firasat buruk yang terus menusuk pikirannya."Ada apa, Nona Alina?" tanya Bram dengan tenang."Ini bukan







