INICIAR SESIÓN"Jangan khawatir, Ayah. Aku kan membawa dia di hadapan ayah. Tolong jaga Alina," ucap Marvin sebelum dia pergi."Baik, Marvin. Kau jangan khawatir dengan Alina. Aku akan menjaganya dengan baik."Arthur dan Hugo segera membawa Alina pergi dari sana."Marvin! Jangan pergi! MARVIN!!!"Teriakan histeris Alina menggema di sepanjang koridor saat Marvin berbalik dan berlari secepat kilat menembus kegelapan malam menuju gedung barat, tempat maut telah menunggunya.'Bertahanlah, Sayang. Aku akan segera kembali,' gumam Marvin dalam hati.****Sepuluh Menit Kemudian. Atap gedung barat rumah sakit jiwa. Angin malam berembus kencang, menerbangkan ujung gaun putih polos milik Lenika yang masih duduk di tepi pembatas gedung yang sangat tinggi. Di belakangnya, Pram berdiri tegak dengan sebuah pistol di tangan kiri dan remote kontrol di tangan kanannya. Ia siap menembakkan peluru ke arah Lenika.BRAKK!Pintu atap didobrak kasar. Marvin melangkah masuk dengan napas memburu, tubuhnya basah oleh keringat
"Leo! Lihat ke arah layar! Di belakang suster! Perbesar, aku ingin melihat wajahnya!" bentak Marvin, suaranya meninggi hingga membuat Alina tersentak di ranjangnya."Ada apa, Marvin?! Apa yang kau lihat?!" tanya Alina panik, tangannya meraba-raba udara dengan cemas."Pram... Keparat itu ada di sana, Alina! Dia berdiri di antara kerumunan dan dia tersenyum licik!" raung Marvin, matanya melekat lekat pada layar laptop yang dipegang Leo."Leo, hubungi tim pengamanan rumah sakit jiwa sekarang! Tangkap pria bertopi hitam di belakang suster Mia! Aku ingin tahu, bagaimana dia bisa kabur dari penjara?"Di layar video, Leo tampak panik dan langsung berteriak pada interkomnya."Sialan! Baik, Tuan! Petugas, amankan area barat gedung sekarang juga!"BZZZZ...Belum sempat Leo menyelesaikan kalimatnya, layar laptop mendadak bergaris dan bergoyang hebat. Wajah cemas suster Mia berganti dengan sorotan kamera yang sengaja didekatkan pada wajah Pram. Pria itu mendongak, menatap langsung ke arah kamera
Marvin menatap layar ponselnya dengan tubuh yang mendadak kaku. Rahangnya mengetat, dan pancaran matanya berubah menjadi sangat tegang.Alina yang merasakan perubahan drastis dari sikap Marvin langsung mengernyitkan dahi di balik perban matanya. "Marvin? Ada apa? Siapa yang mengirim pesan? Apa ada sesuatu yang terjadi?""Bukan siapa-siapa, Sayang. Hanya... urusan pekerjaan dari kantor, kau istirahat saja. Aku harus mengurus pekerjaan kantor dulu. Aku akan segera kembali," bohong Marvin, suaranya sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikan yang mendera dadanya."Aku tahu kau bohong, Marvin. Suaramu berubah tegang. Malam-malam pergi untuk mengurus pekerjaan? Katakan padaku, ada apa? Tolong jujur saja padaku, Marvin!" desak Alina, tangannya meraba-raba ke depan, mencari lengan Marvin.Marvin menghela napas berat, menggenggam tangan Alina dengan lembut namun erat. "Suster di rumah sakit jiwa mengirim pesan. Lenika... dia kumat lagi. Dia duduk di tepi jendela lantai atas dan menganc
Arthur langsung menyambar lembaran kertas dari tangan Marvin, membacanya dengan saksama di bawah cahaya lampu kamar rawat. Kerutan di dahi pria paruh baya itu perlahan memudar, berganti dengan anggukan tegas. Lalu menatap wajah Alina."Hasilnya positif, Alina. Sembilan puluh sembilan persen anak ini adalah darah daging mendiang Rio, bukan anak Marvin seperti yang kau pikirkan," ucap Arthur, suaranya yang berat bergema di dalam ruangan, memberikan kesaksian mutlak. "Marvin tidak berbohong kepadamu, Sayang. Ayah sudah melihat bukti tes DNA nya."Alina terpaku. Tangannya yang meraba selimut mendadak mencengkeram kain itu dengan erat. Di balik perban hitamnya, air mata kembali merembes, namun kali ini bukan hanya karena rasa sakit, melainkan karena perang batin yang berkecamuk di dalam dadanya. Iaasoh belum sepenuhnya percaya dengan apa yang barusan saja dikatakan oleh ayahnya."Lalu... lalu untuk apa kau memberikan bukti itu padaku, Marvin?!" suara Alina bergetar, memecah keheningan. "D
"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan keluar. Tapi tolong, jaga dirimu baik-baik, Sayang. Cintaku padamu tidak pernah berubah sedikit pun, aku akan balik lagi setelah kau tenang," bisik Marvin parau, suaranya sarat akan kepedihan yang mendalam.Arthur hanya menatap punggung menantunya itu dengan helaan napas berat, sementara Alina memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak untuk mendengarkan lebih jauh."Maafkan aku, Alina," gumam Marvin, air matanya tiba-tiba jatuh bergulir.Dengan langkah gontai, Marvin melangkah keluar dari kamar rawat VVIP tersebut. Namun, baru saja pintu kayu ek itu tertutup rapat di belakangnya, Leo berlari menghampirinya dari ujung koridor dengan napas tersengal-sengal. Wajah tangan kanan Marvin itu tampak sangat pucat, dan di tangannya terdapat sebuah map dokumen rahasia."Marvin! Gawat!" seru Leo dengan suara tertahan agar tidak terdengar sampai ke dalam kamar.Marvin menghentikan langkahnya, langsung memasang wajah dingin dan tegas. "Ada apa, Leo? Kenapa kau
"Lenika! Hentikan! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?!" bentak Marvin, menepis kasar tangan Lenika yang terus menjambak rambutnya sendiri hingga beberapa helai rambutnya tercabut."Jangan ambil dia dariku, dia milikku. Dia suamiku," ucap Lenika dengan tatapan kosong."Sadarlah, Lenika! Jangan pernah berpura-pura di depanku!" seru Marvin, menggoyangkan tubuh Lenika.Lenika ambruk ke lantai minimarket, bersimpuh di depan kaki Marvin dengan tubuh gemetar hebat. Sorot matanya yang biasa penuh kelicikan kini tampak kosong, liar, dan dipenuhi ketakutan yang aneh. Ia bukanlah seperti Lenika yang dikenalnya."Marvin... jangan biarkan wanita buta itu membunuh bayiku! Dia... dia membawa pisau besar! Dia ingin merobek perutku, Marvin! Kau harus menyelamatkan anak ini. Dia mau merebutmu dariku," jerit Lenika histeris, air matanya bercucuran sembari memegangi perutnya yang sedikit membuncit.Marvin mengernyitkan dahi dalam-dalam, rahangnya mengetat. "Jangan berakting gila di depanku, Lenika
"Aaargh... Sialan!" erang Pram dengan mengumpat.Marvin dengan gerakan kilat langsung menerjang maju, menarik Alina ke dalam pelukannya, sementara Leo dengan sigap mengunci tubuh Pram ke lantai dan memborgol kedua tangannya. Dan kali ini dia tidak membiarkan dia lolos begitu saja."Lepaskan aku! Si
"Ayo cepat, Marvin! Pintunya terkunci dari luar!" teriak Leo panik, mencoba mendobrak pintu besi gudang yang kokoh."Menyingkir, Leo! Biar aku atasi ini!" raung Marvin."Kali ini aku tak akan melepaskan kalian!"BANG! BANG!Marvin menembak engsel pintu dengan pistolnya, lalu menendangnya dengan sek
"Aku janji, Alina. Aku akan selalu berada di sisimu apa pun yang terjadi. Nyawaku adalah jaminan untuk cintaku padamu," ucap Marvin mantap, sepasang matanya menatap lekat ke dalam manik mata Alina yang berkaca-kaca."I love you, Marvin." Alina mengungkapkan isi hatinya."I love you too, Alina." bal
"Iya, aku sudah mengingat semuanya, Alina. Namamu, wajahmu, dan semua kejadian yang pernah kulalui saat bersamamu." Suara Marvin serak ketika berusaha meyakinkan Alina, tapi di dalam hatinya ada tumpukan penyesalan yang sulit dia ungkapkan. "Benarkah? Kau benar-benar sudah mengingat semua itu?" Al







