Share

132.

Author: Wijaya Kusuma
last update publish date: 2026-09-08 22:10:31

Ruang pemeriksaan rumah sakit terasa lebih sempit dari biasanya. Dinding-dinding putih itu seolah merapat, menekan dada Arka dari segala arah. Ia duduk di kursi tunggu di luar pintu yang tertutup, sikunya bertumpu pada lutut, kepalanya menunduk. Di balik pintu itu, Nadia terbaring lemah. Di balik pintu itu, Nadia sedang mendapat penanganan tim medis menegnai kondisinya. Murka yang sebelumnya terjadi pada diri atas wanita itu pun menghilang, berganti dengan kecemasan yang kini berada dalam dirin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
bingung y Arka mau milih yg mana.. dia kayak yakin bayi di kandungan Nadia itu darah dagingnya..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    136. Kesakitan Ghea

    Apartemen pribadi yang diberikan Devan kepada Ghea berada di lantai dua puluh sebuah gedung mewah di kawasan Sudirman. Tempat itu dipilih dengan pertimbangan matang, privasinya sangat terjaga, tidak ada kamera pengawas yang bisa diretas, dan akses lift hanya dapat digunakan dengan kartu khusus. Selama ini, apartemen tersebut menjadi tempat pelarian yang tenang bagi Ghea, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar dan dari segala luka yang membekas di hidupnya. Namun malam itu, apartemen yang biasanya menjadi surga kecilnya berubah menjadi ruang penyiksaan batin yang mengerikan.Ghea mengunci diri di dalam kamar utama. Pintu kayu tebal itu terkunci dari dalam, dan tidak ada suara yang keluar selain isak tangis yang terputus-putus. Ia duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding yang dingin, lututnya ditarik ke dada, dan tangannya memeluk tubuhnya sendiri seperti anak kecil yang kehilangan induknya. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi gaun yang masih ia kenakan sejak dari labora

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    135.

    Dr. Prasetyo masih duudk di kursi kerjanya, berseberangan dengan Ghea yang terdiam tanpa kata atas penjelasan yang baru didengarnya. Lembar analisis masih di tangannya. "Nona Ghea?" panggilnya pelan. "Apa anda baik-baik saja?" Terlihat kecemasan di wajah pria tua itu. Tidak ada jawaban. Ghea masih duduk di kursi, punggungnya bersandar, tangannya mencengkeram kain blusnya sendiri seperti orang yang sedang menahan sesuatu agar tidak keluar dari dalam dadanya. Matanya kosong. Menatap lantai. Menatap sesuatu yang tidak ada di sana."Nona Ghea?" Dr. Prasetyo melangkah mendekat, suaranya lebih lembut sekarang. "Apakah Anda mendengar saya?"Ghea tidak bergerak. Tidak berkedip. Nafasnya pelan, hampir tak terlihat, seperti seseorang yang sedang berada di antara dua dunia—dunia nyata dan dunia yang baru saja ia temukan, dunia yang penuh dengan racun dan pengkhianatan.Dr. Prasetyo berdiri di sampingnya. Ia meraih bahu Ghea dengan hati-hati, menyentuhnya pelan seperti menyentuh kaca yang reta

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    134. Puzle Masa Lalu

    "Dengan kata lain," suara Dr. Prasetyo menjadi lebih pelan, "ini adalah metode sterilisasi kimiawi. Dirancang secara sadar dan terencana. Setiap tetes yang diminum selama bertahun-tahun... secara perlahan menghancurkan kemampuan tubuh untuk hamil. Secara permanen."Pernyataan itu melayang di udara, menusuk Ghea seperti ribuan jarum."Ini bukan ketidaksuburan alami," lanjut Dr. Prasetyo. "Ini adalah kerusakan yang disebabkan oleh racun. Dirancang oleh seseorang yang tahu persis apa yang mereka lakukan. Dosis dalam sampel Anda—" ia menunjuk angka di halaman terakhir, "—jika dikonsumsi setiap hari dapat menyebabkan kerusakan permanen."Ghea menatap kertas itu. Matanya tidak bisa fokus. Kata-kata itu berbaur menjadi coretan yang tidak masuk akal. Tapi di kepalanya, gambar-gambar melintas deras.Gelas teh jamu hangat yang ibu mertuanya sajikan setiap sore saat di rumah."Minumlah, Ghea. Untuk kesehatanmu.” Senyum Bu Ratna. Hangat. Lembut. Penuh perhatian. Kalimat itu terus menggaung di ben

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    133. Ke Laboratorium

    “Selamatkan ibunya, Dok,” ujar Arka pada sang dokter, ia memilih untuk menyelamatkan Nadia, dari pada anak yang sedang dikandung oleh Nadia itu.”Dokter Surya mengangguk cepat. "Baik, Pak Arka. Kami akan segera bertindak." Ia memberi isyarat pada perawat untuk bersiap. "Kami akan melakukan operasi darurat untuk menyelamatkan Nyonya Nadia."Arka mengangguk, setelah sang dokter mengatakan tindakan yang akan dilakukan oleh tim medis itu padanya. Bu Ratna diam, tidak mengatakan sesuatu atas keputusan yang Arka lakukan itu. Biar bagaimanapun, mereka merasa bertanggung jawab atas kondisi Nadia saat ini yang sedang dalam keadaan kritis. Sementara itu, di lantai dasar rumah sakit, Ghea keluar dari lift dengan langkah cepat. Tasnya tergenggam erat di dadanya, melindungi isi dari botol kaca berisi cairan misterius yang baru saja ia bawa dari kamar Bu Ratna. Setiap langkahnya terasa berat, tapi pikirannya melayang lebih cepat dari detak jantungnya.Bukan ruangan Nadia yang ingin ia tuju, melai

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    132.

    Ruang pemeriksaan rumah sakit terasa lebih sempit dari biasanya. Dinding-dinding putih itu seolah merapat, menekan dada Arka dari segala arah. Ia duduk di kursi tunggu di luar pintu yang tertutup, sikunya bertumpu pada lutut, kepalanya menunduk. Di balik pintu itu, Nadia terbaring lemah. Di balik pintu itu, Nadia sedang mendapat penanganan tim medis menegnai kondisinya. Murka yang sebelumnya terjadi pada diri atas wanita itu pun menghilang, berganti dengan kecemasan yang kini berada dalam dirinya. Arka menggenggam rambutnya sendiri. "Kau harus kuat," bisiknya pada kegelapan di balik kelopak matanya. "Kau harus kuat, Nadia. Apapun yang terjadi di antara kita, kau harus selamat,” ujarnya pelan, berharap penuh keselamatan pada diri Nadia. Pintu lift di ujung lorong terbuka dengan suara berderit pelan. Langkah kaki pelan tapi mantap mendekat. Arka mengangkat kepalanya dan melihat Bu Ratna berjalan mendekat, wajahnya datar—terlihat kekhawatiran pada diri sang ibu yang sedang menghampirin

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    131. Kecurigaan

    Labelnya bertuliskan tangan dengan aksara kuno, tulisan Jawa yang sulit dibaca, tapi Ghea bisa mengenali beberapa kata, "jawa" dan "kesuburan". Di bagian bawah label, ada tulisan kecil yang ia baca dengan susah payah: *"Untuk buah hati yang dinanti"*.Ghea memutar botol itu di tangannya, merasakan beratnya. Cairan di dalamnya berwarna coklat kehitaman, seperti sirup herbal tua. Botol itu sudah setengah kosong, seolah sering digunakan selama bertahun-tahun.Dan tiba-tiba, Ghea teringat. Selama lima tahun pernikahannya dengan Arka, pernikahan yang sekarang sudah hancur oleh skenario keluarga suaminya, Bu Ratna pernah menuangkan beberapa tetes cairan dari botol ini ke dalam teh jamu yang ia minum setiap sore, ketika sang mertua menginap di rumah ini. "Minumlah, Nak," kata Bu Ratna dulu dengan senyum lembut. "Ini obat herbal untuk menjaga kesehatanmu. Sangat baik untuk calon cucuku kelak."Ghea ingat bagaimana ia meneguk teh jamu itu tanpa curiga, percaya bahwa Bu Ratna benar-benar pedul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status