Share

BAB 20. Pergi

Author: Wijaya Kusuma
last update publish date: 2026-07-10 21:04:42

"Bisa tolong belanja ke supermarket? Kulkas kita hampir kosong. Buah-buahan juga habis, aku melihatnya semalam. Aku ingin membuat jus segar nanti siang. Cuaca di luar sangat panas." Ghea mengedarkan pandangan menuju luar jendela apartemen, menunjukkan fakta jika memang cuaca pagi ini yang begitu terik, pertanda siang akan semakin panas pastinya.

Susan mengangguk cepat, wajahnya berseri-seri mendengar Ghea menunjukkan minat pada makanan. "Tentu, Bu. Saya akan pergi sekarang juga. Ibu tunggu di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
haisssss knp Ghea harus pergi tanpa pamit sama Devan sih.. kamu masih lemah Ghea dan GK memungkinkan untuk melawan mereka sendirian..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    104. Membuat Keributan

    Siang itu, kantor pusat Adhitama Corp terasa lebih sibuk dan tegang dari biasanya, seolah-olah ada badai yang akan datang. Para karyawan berlalu-lalang dengan dokumen di tangan mereka, wajah-wajah mereka menunjukkan kekhawatiran yang tidak bisa mereka sembunyikan, dan ruang rapat di lantai utama mulai dipenuhi oleh para kepala divisi yang sedang bersiap untuk rapat terbatas dengan CEO mereka.Arka duduk di kursi kepala meja yang megah, menatap para bawahannya dengan ekspresi tegang yang sudah menjadi pemandangan biasa akhir-akhir ini. Di hadapannya, tumpukan laporan dan presentasi telah siap untuk dibahas dengan detail. Tapi sebelum rapat bisa dimulai dengan lancar, suara langkah kaki marah yang berat menggema di koridor yang sunyi, menarik perhatian semua orang.Nadia melangkah masuk dengan wajah merah padam dan mata yang meny

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    103. Retaknya Angka

    Pagi itu, ruang keuangan Adhitama Corp terasa lebih tegang dari biasanya, seolah-olah ada awan gelap yang menggantung di atas setiap meja dan setiap kepala. Para staf yang biasanya sibuk dengan rutinitas mereka yang monoton kini terlihat gelisah dan waspada, berbisik-bisik di antara tumpukan kertas dan layar monitor yang menampilkan deretan angka kompleks.Laporan keuangan triwulan internal yang baru saja selesai disusun dengan susah payah menunjukkan angka-angka yang tidak sesuai harapan dan mengecewakan, sebuah defisit operasional yang sangat mengkhawatirkan akibat macetnya kas utama yang terus mengalir ke arah yang tidak diketahui dan tidak bisa dijelaskan.Linda, seorang staf keuangan senior yang sudah bekerja di perusahaan itu selama sepuluh tahun dengan dedikasi tinggi, menatap layar monitor dengan alis berkerut dalam dan

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    102. Aliran Dana yang Membelok

    Ruang kerja Gunawan di lantai delapan gedung Adhitama Corp terasa sunyi dan tertutup dari hiruk-pikuk aktivitas di luar. Hanya suara ketukan keyboard yang terdengar pelan dan teratur, menciptakan ritme yang konstan di tengah keheningan ruangan yang ber-AC dingin.Pria itu duduk di belakang meja kayu yang rapi dan bersih, matanya yang tajam di balik kacamata tebalnya fokus pada layar monitor yang menampilkan deretan angka-angka kompleks yang bergerak dalam pola yang rumit. Di luar ruangan yang tertutup, staf-staf keuangan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, tidak menyadari bahwa di dalam ruang tertutup itu, sebuah rencana besar dan berbahaya sedang berjalan dengan mulus tanpa ada yang curiga.Gunawan membuka sistem pembukuan rahasia yang hanya dia sendiri yang tahu keberadaannya, sebuah sistem yang dia bangun dengan hat

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    101. Dokumen Cangkang

    Galeri seni itu terletak di sebuah gedung tua bergaya kolonial yang megah di kawasan elit Jakarta Selatan, tersembunyi di balik pepohonan rindang dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Lampu-lampu temaram yang dipasang dengan strategis di setiap sudut menciptakan suasana yang hangat dan misterius, memantulkan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan abstrak bernuansa gelap dan penuh emosi. Tidak banyak pengunjung yang datang sore itu, hanya beberapa orang yang berbisik pelan dengan penuh kekaguman di antara karya-karya seni yang menggantung di dinding dengan anggun. Suasana sepi dan sunyi, seperti tempat yang sengaja dipilih untuk pertemuan rahasia antara dua orang yang saling memahami.Ghea melangkah masuk dengan gaun hitam sederhana yang tidak mencolok, dirancang untuk membuatnya terlihat seperti pengunjung biasa yang menikmati seni. Matanya yang tajam bergerak cepat mencari sosok yang dia cari di antara bayangan-bayangan yang terbentuk oleh lampu-lampu te

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    100. Paket Misterius

    Siang harinya, rumah Adhitama terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah dinding-dinding rumah itu sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikan drama yang akan terjadi."Ada paket untuk Nyonya Nadia," kata kurir kepada satpam yang bertugas di pos jaga dengan suara sopan. "Tolong sampaikan kepada yang bersangkutan."Satpam itu menerima paket dengan perasaan ragu dan curiga, lalu menyerahkannya kepada pelayan yang kebetulan sedang melintas di halaman dengan membawa sapu. Pelayan yang tidak menyadari apa yang ada di dalam kotak itu, membawanya masuk ke dalam rumah dengan santai dan menaruhnya di atas meja ruang keluarga tanpa banyak berpikir. Beberapa menit kemudian, Nadia yang baru saja turun dari kamarnya dengan gaun santai melangkah masuk ke ruang keluarga dan melihat kotak hitam yang tergeletak di atas meja, menunggu untuk dibuka."Apa itu?" tanya Nadia dengan suara penasaran, mengerutkan keningnya yang rapi."Paket untuk Nyonya," jawab pelayan dengan sopan. "Tidak ada nama peng

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    99. Desakan Bu Ratna Kembali

    Tengah malam tiba dengan keheningan yang mencekam di rumah Adhitama. Bulan bersinar terang di balik jendela kamar utama, menciptakan bayangan perak yang menari di atas lantai marmer. Nadia terbangun dari tidurnya yang gelisah, matanya terbuka lebar di tengah kegelapan. Nadia duduk perlahan, mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan. Matanya mencari-cari di setiap sudut ruangan, dan akhirnya menemukan sosok Arka berdiri di dekat jendela balkon yang terbuka lebar. Pria itu berdiri membelakanginya, tubuhnya kaku dan tegang, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan ujung kemeja putihnya yang tipis.Dengan hati-hati, Nadia turun dari ranjang dan berjalan mendekati Arka. Kakinya yang telanjang tidak bersuara di atas lantai dingin. Dia mendekati pria itu dari belakang, lalu merentangkan tangannya untuk memeluk pinggang Arka dengan lembut."Arka, sayang... kenapa kamu tidak tidur?" bisik Nadia, suaranya penuh dengan kelembutan dan kekhawatir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status