MasukGhea merasakan darahnya berubah dingin. Tangannya gemetar saat dia membaca isi perjanjian itu. Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk hatinya. Di dalamnya, tertulis dengan jelas bahwa Nadia setuju untuk bekerja sama dengan Devan untuk merusak pernikahan Ghea dengan Arka. Nadia akan menggoda Arka, memancingnya ke dalam perselingkuhan, dan memastikan bahwa pernikahan itu hancur. Sebagai imbalan, Nadia akan menerima sejumlah uang yang fantastis—angka yang membuat Ghea hampir tidak percaya. Angka itu tertulis dengan jelas, dengan angka nol yang berderet seperti pasukan yang mengejek."Tidak..." bisik Ghea, suaranya bergetar. "Ini tidak mungkin."Dia membaca ulang dokumen itu, mencoba mencari tanda-tanda pemalsuan. Tapi semuanya tampak asli—tanda tangan, stempel, semuanya. Dan yang paling menyakitkan, tanda tangan Devan ada di sana, dengan tinta hitam yang tebal dan jelas. Tanda tangan itu tidak bisa dipalsukan—Ghea sudah melihat tanda tangan Devan berkali-kali di dokumen-dokumen l
Hari itu terasa lebih lambat dari biasanya. Matahari bergerak pelan di langit Jakarta, seperti enggan meninggalkan cakrawala, dan angin bertiup lembut melalui jendela-jendela rumah asri Devan. Ghea duduk di teras belakang, menatap taman yang penuh bunga dengan tatapan kosong. Bunga-bunga itu bermekaran dengan indah—mawar merah, melati putih, dan lavender ungu yang bergoyang tertiup angin—tapi Ghea tidak melihat keindahan itu. Matanya hampa, seperti jendela yang tertutup rapat. Sudah tiga hari sejak dia mengetahui tentang status tahanan kota Arka, dan sejak itu, dia merasa seperti terjebak dalam keterpurukan yang tidak bisa dia jelaskan. Devan sibuk dengan pekerjaannya, Bu Ratna masih dalam tahanan, dan Arka masih bebas dalam batas-batas tertentu. Ghea merasa tidak berdaya, dan itu membuatnya frustasi."Tiga hari," bisik Ghea, menatap cangkir tehnya yang sudah dingin. "Tiga hari dan aku masih di sini. Tidak melakukan apa-apa."Dia menyesap tehnya yang sudah dingin, merasakan kehampaan
Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui celah-celah tirai di kamar Ghea, menciptakan garis-garis keemasan di atas lantai kayu. Debu-debu halus menari di dalam berkas cahaya itu, seperti serpihan emas yang melayang tanpa tujuan. Aroma kopi dan roti panggang mengalir dari dapur, membangunkan Ghea dari tidurnya yang gelisah. Dia membuka matanya perlahan, merasakan tubuhnya masih lelah meskipun sudah tidur cukup lama. Pikirannya masih dipenuhi oleh rahasia yang baru dia ketahui tentang ibunya dan Bu Ratna—rahasia yang membuat hatinya terasa berat, seperti ada batu yang mengganjal di dadanya."Ibu," bisik Ghea, menatap langit-langit kamar. "Kenapa aku tidak pernah tahu.” Rasa penyesalan yang tidak pernah ia ketahui akan masa lalu sang ibu membuat Ghea dihantui rasa bersalah.Dia bangkit dari ranjang, mengenakan gaun rumah yang nyaman, lalu melangkah keluar kamar. Langkahnya pelan, seperti orang yang enggan meninggalkan tempat tidur. Di ruang makan, dia terkejut melihat Devan sudah duduk di
Di dalam kamar, Ghea menunggu dengan gelisah. Dia mendengar suara Devan dan Nenek Ratih dari dapur, tapi dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia menunggu sampai suara langkah Devan menjauh—mungkin ke ruang kerjanya atau keluar rumah—sebelum dia bangkit dari ranjang.Dia membuka pintu kamar dengan hati-hati dan melangkah keluar. Langkahnya pelan, hampir seperti bisikan. Di dapur, Nenek Ratih masih sibuk dengan pekerjaannya, mengaduk sup di atas kompor. Aroma sup ayam dengan jahe memenuhi udara, menciptakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya hati Ghea."Nek," panggil Ghea, suaranya hati-hati. Dia berdiri di ambang pintu dapur, tangannya menggenggam ujung dress dengan gelisah.Nenek Ratih menoleh, senyumnya hangat. "Iya, Nak. Ada apa? Kamu sudah bangun? Kenapa tidak istirahat yang lama?"Ghea duduk di kursi dekat meja dapur, tangannya menggenggam cangkir teh yang masih hangat yang disiapkan Nenek Ratih. Dia menatap cangkir itu lama, mencoba mengumpulkan keberanian.
Mobil yang dikemudikan Devan melaju pelan memasuki halaman rumah asri di pinggiran Jakarta. Matahari sore mulai condong ke barat, menciptakan cahaya keemasan yang menyinari taman yang penuh bunga. Kupu-kupu beterbangan di antara kelopak-kelopak yang berwarna-warni, dan burung-burung berkicau riang di dahan pohon. Tapi Ghea tidak memperhatikan keindahan itu. Matanya kosong, tatapannya hampa, dan pikirannya melayang jauh—terjebak dalam kata-kata Bu Ratna yang masih bergema di kepalanya seperti gema yang tidak mau pergi."Ibumu juga pembawa sial! Dia menghancurkan keluargaku!"Kalimat itu terus berputar, menusuk-nusuk pikirannya, menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Ghea tidak tahu apa yang dimaksud Bu Ratna. Dia tidak tahu rahasia apa yang tersimpan di balik kebencian wanita itu. Tapi satu hal yang dia tahu—ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang selama ini dia tidak ketahui tentang ibunya."Ibu," bisik Ghea dalam hati, suaranya nyaris tak terdengar. "Apa
Sementara itu, di penjara wanita, Ghea melangkah masuk ke ruang kunjungan. Ruangan itu sunyi, dengan meja-meja kayu yang dipisahkan oleh kaca tebal. Ghea mengenakan dress biru muda sederhana, dan wajahnya tenang namun dingin. Langkahnya mantap, tidak ada keraguan. Di hadapannya, Bu Ratna duduk dengan tubuh yang kurus dan mata yang merah. Wanita tua itu terlihat jauh lebih tua dari yang terakhir Ghea lihat. Rambutnya yang putih acak-acakan, dan kebaya yang dia kenakan kusut. Tapi kemarahannya masih membara."Ghea," desis Bu Ratna, suaranya penuh kebencian. Dia menggenggam meja di hadapannya, kuku-kukunya mencakar permukaan kayu. "Kau! Kau yang melakukan ini padaku!"Ghea duduk di kursi di hadapan Bu Ratna, menatap mertuanya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Tatapan itu dingin, seperti es yang tidak akan pernah mencair. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Bu. Kau telah meracuniku selama lima tahun. Kau telah membunuh anakku. Kau pantas mendapatkan ini. Dan kau, memb







