MasukSetiap kali Sasqia memejamkan mata, yang terbayang justru ruang perawatan rumah sakit—wajah pucat ayahnya, suara mesin medis yang berdengung pelan.
Ia sudah mencoba mencari pinjaman. Menghubungi beberapa teman, bahkan membuka aplikasi pinjaman daring. Namun nominal yang dibutuhkan terlalu besar, dan waktunya terlalu sempit. “Mungkin pergi sebentar ke bar bisa bikin kepala lebih ringan,” gumamnya pelan. Ia bangkit dari ranjang, menatap sekeliling kamar yang elegan itu. Lampu temaram, karpet lembut, tirai panjang dengan pemandangan kota Paris yang berkilau di kejauhan. “Kemewahan seperti ini pun gak ada artinya kalau Papa kesakitan,” bisiknya lirih. Sasqia mengusap wajahnya pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Ia tak merias wajah, tak pula mengganti pakaian tidurnya yang sederhana. Hanya mengenakan long coat tebal berwarna krem untuk menutupi piyama tipisnya, lalu keluar dari kamar. Hotel itu memiliki tiga bar berbeda, namun ia memilih rooftop bar—ingin merasakan angin malam Paris secara langsung, berharap udara dingin mampu meredakan sesak di dadanya. Rooftop itu cukup ramai, dipenuhi tamu hotel yang berbincang dalam balutan setelan mahal dan gaun elegan. Musik mengalun lembut, tidak memekakkan telinga seperti klub malam. Beberapa wanita dengan pakaian minim tampak duduk di meja-meja tertentu, menemani para tamu yang tampaknya sedang membicarakan urusan bisnis. Sasqia mendekati meja bar. “Apakah ada air putih saja?” tanyanya pelan pada bartender. Pria itu tampak sedikit terkejut. “Secara khusus tidak tercantum di menu, Nona. Namun tentu saja saya bisa menyiapkannya. Saya tambahkan irisan lemon agar lebih segar. Bagaimana?” Sasqia tersenyum tipis. “Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih.” Setelah menerima gelas bening dengan irisan lemon mengambang di permukaannya, ia mencari tempat duduk. Pandangannya berhenti pada kursi kosong di dekat pagar pembatas kaca. Ia melangkah ke sana, duduk perlahan, lalu membiarkan angin malam menyentuh wajahnya. Untuk beberapa detik, ia mencoba tidak memikirkan apa pun. “Permisi.” Sasqia tersentak. Ia membuka mata cepat. Bartender tadi berdiri di sampingnya. “Jika Anda membutuhkan sesuatu, beri tahu saya,” ucapnya sopan. Sasqia mengangguk pelan. “Terima kasih.” _____ “Membangun hotel bergaya Eropa klasik di Indonesia adalah peluang yang menjanjikan,” ujar seorang pria paruh baya dengan aksen Prancis kental kepada rekan bisnis di hadapannya. Kaelix hanya menyandarkan punggungnya dengan tenang. “Hm,” sahutnya singkat. “Saya ingin memperluas bisnis di bidang ini. Jika turis Prancis datang ke Indonesia, mereka tak perlu kebingungan mencari tempat menginap yang terasa seperti rumah.” Pria tua itu tersenyum lebar. Sejak awal pertemuan, ia lebih banyak membicarakan anggur daripada isi kontrak. Botol demi botol vintage Bordeaux dan cognac tua dipesan tanpa ragu. Kaelix ikut menyesap minumannya—bukan karena menyukai rasanya, melainkan karena ia paham betul bahwa dalam dunia bisnis, minum bersama sering kali lebih penting daripada menandatangani berkas. “Tambahkan lagi untuk Tuan Kaelix,” perintah pria tua itu pada seorang wanita yang berdiri di samping meja. Wanita tersebut menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal milik Kaelix dengan gerakan lembut. Kaelix mengangkat gelasnya, bersulang, lalu meneguknya perlahan. Gelas ketiga tuntas. Beberapa menit kemudian, kepalanya terasa lebih berat dari seharusnya. Bukan sensasi mabuk biasa. Ada rasa asing di ujung lidah—pahit yang tidak wajar, samar tapi jelas bagi seseorang yang terbiasa mencicipi berbagai minuman mahal. Tatapannya turun pada gelas kosong di tangannya. Ia mengenali tanda-tandanya. Pengalaman bertahun-tahun di dunia bisnis yang penuh intrik membuatnya tak mudah dikelabui. Kliennya ingin bermain kotor malam ini. Namun Kaelix tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia tetap tersenyum tipis, mengangguk seolah semua baik-baik saja. “Kaelix …,” pria tua itu menyeringai samar. “Paris punya banyak hal menyenangkan untuk dinikmati. Terutama malamnya.” Ia memberi isyarat halus. Seorang wanita Paris bergaun ketat yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja mereka melangkah mendekat. “Mungkin Anda tidak ingin bermalam sendirian,” lanjut pria tua itu ringan. Kaelix menoleh sekilas ke arah wanita tersebut. Pria tua itu tampak yakin. Sudut bibirnya terangkat, seolah tahu sesuatu yang Kaelix rasakan di dalam tubuhnya. Tapi Kaelix malah berdiri perlahan. “Tidak perlu,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun tegas. Senyum wanita itu membeku. Dalam hati, Kaelix mendengus dingin. Murahan. “Saya sudah punya wanita sendiri,” lanjutnya santai, seolah pernyataan itu fakta sederhana. Pria tua itu tertawa kecil, mengira Kaelix hanya menjaga gengsi. “Oh? Di Paris?” Kaelix tak langsung menjawab. Tatapannya menyapu rooftop secara acak, mencari sosok pertama yang bisa ia jadikan tameng. Lalu pandangannya berhenti. Seorang wanita duduk sendirian di dekat pagar pembatas kaca. Long coat menutupi tubuhnya. Rambutnya tergerai alami, tanpa riasan mencolok. Ia hanya memegang segelas air lemon, menatap kota dengan tatapan kosong. Sasqia. Tatapan Kaelix menajam. “Itu dia,” ujarnya tenang, menunjuk halus ke arah Sasqia. Pria tua itu mengikuti arah pandangannya. “Ah ….” gumamnya, kali ini benar-benar tertarik. Kaelix mengambil jasnya. “Maaf. Sepertinya malam saya sudah memiliki tujuan lain.” Tanpa menunggu respons, ia melangkah menjauh dari meja itu—meninggalkan botol mahal dan tawa samar di belakangnya. Langkahnya mantap menuju sosok wanita yang sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya baru saja dijadikan alasan. Ia berdiri tak jauh dari Sasqia, menatap wajah kecil itu tanpa berkedip. Hidung mungil, bibir tipis dengan belahan samar di bibir bawah, mata bulat yang bening—terlalu bersih untuk tempat seperti ini. Hanya melihatnya saja, Kaelix tahu, wanita ini orang Indonesia. “Angin Paris malam ini bisa membekukan darahmu,” ucapnya tenang, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di sisi meja Sasqia. “Kalau kamu hanya diam seperti patung di sini.” Sasqia tersentak. Ia menoleh cepat, jelas terkejut mendengar bahasa Indonesia keluar dari mulut pria asing itu. “Maaf … saya cuma butuh udara segar.” “Seharusnya pemandangan Menara Eiffel membuat wanita tersenyum,” katanya datar, sorot matanya meneliti. “Ada masalah?” Sasqia menghela napas pelan, bahunya sedikit merosot. “Saya … sedang banyak pikiran.” Kaelix memejamkan mata sesaat. Desisan tipis lolos dari bibirnya. Sensasi panas dari obat yang diselipkan pria paruh baya tadi kembali merambat, menekan kesadarannya dengan cara yang tidak menyenangkan. Ia membuka mata, menatap Sasqia lagi. Kali ini lebih tajam. “Pikiran tidak akan selesai hanya dengan melamun,” ucapnya. “Butuh uang? Atau pelarian?” Sasqia terkekeh lirih, tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun. “Saya butuh keajaiban,” katanya jujur, nyaris putus asa. “Mendapatkan uang ratusan juta. Dalam satu malam.” Sudut bibir Kaelix terangkat, membentuk senyum tipis. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sikapnya santai, seolah pembicaraan ini tak lebih dari transaksi biasa. “Saya bukan malaikat,” katanya pelan, nyaris berbisik. “Tapi saya bisa jadi keajaiban itu.” Ia sedikit memiringkan kepala, tatapannya mengunci wajah Sasqia. “Masuk ke kamarku malam ini,” lanjutnya tenang, tanpa ragu, “Dan besok pagi, angka berapa pun yang kamu butuhkan sudah ada di rekeningmu.”Sasqia baru saja tiba di kamar kosnya setelah dari rumah sakit. Ia belum sempat bertemu langsung dengan ayahnya. Dokter Jevier memintanya kembali setelah beristirahat usai bekerja, mengingat ia baru saja menempuh penerbangan panjang. Lagipula, saat ia sempat mengintip ke ruang rawat, sang ayah masih terlelap. Pria paruh baya itu memang sering terjaga sepanjang malam, dan baru bisa tidur ketika pagi menjelang. Sasqia membuka koper perlahan. Di antara lipatan pakaian, ia mengeluarkan sebuah kotak mainan. Boneka beruang berwarna krem dengan syal kecil bergambar Menara Eiffel, serta sebuah kotak musik balerina berwarna merah muda yang anggun. “Semoga Sherly suka,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. “Nanti sore aku ke rumah untuk kasih ini ke dia. Setelah itu, jenguk Papa lagi ke rumah sakit.” Pandangannya beralih ke kasur sederhana di sudut kamar. “Sekarang istirahat dulu,” katanya pada diri sendiri, lalu tersenyum kecil. “Tapi mandi dulu, deh.” Sebelum masuk ke kamar mandi, Sa
“Kapten?” bisik Sasqia lirih. Matanya mengerjap pelan, menatap pria yang kini berdiri begitu dekat di hadapannya. Jarak wajah mereka hanya satu tarikan napas. Tristan menelan ludah berat. Jakunnya naik turun jelas. Pandangannya sempat jatuh pada bibir Sasqia, bibir yang beberapa detik lalu tanpa izin telah ia kecup—sebelum akhirnya beralih ke mata indah wanita itu. “Maaf, saya lupa diri. Saya pikir kamu mantan saya,” ucapnya, suaranya rendah namun tegas. Ia kembali menegakkan punggungnya, memberi jarak yang semestinya. “Jika kamu merasa keberatan, kamu berhak menuntut saya atas pelecehan.” Mulut Sasqia terbuka, namun tak satu pun kata keluar. Ia hanya menelan ludah, dadanya naik turun tak beraturan. “Tidak perlu, Kapten,” katanya akhirnya. “Karena Kapten tidak sengaja atau bermaksud apa-apa.” “Tidak, Sasqia,” ucap Tristan tenang, namun sorot matanya serius. “Saya tetap bersalah. Apa yang bisa saya lakukan untuk menebusnya?” “Kapten …,” Sasqia menunduk sejenak, seolah menimbang
Di restoran hotel Paris itu, Tristan duduk seorang diri, menunggu Sasqia menyusul. Baru tiga menit berlalu sejak ia mengambil tempat, sementara secangkir teh hangat yang dipesannya baru saja tiba. “Silakan menikmati teh hangatnya, Tuan.” Tristan mengangguk singkat saat pramusaji meletakkan cangkir di hadapannya. Jemarinya meraih porselen putih itu, meniup pelan uap tipis yang mengepul, lalu menyeruput sedikit. Aromanya lembut, rasanya pas—tidak terlalu pahit, tidak pula manis. “Saya sempat mengira salah orang,” ucap sebuah suara dari sisi kanannya. “Ternyata benar, adikku ada di sini.” Tanpa menoleh, Tristan sudah mengenali siapa pemilik suara itu. Kaelix Enver Valerio—kakak kandungnya, sekaligus CEO Maskapai EBA. Kaelix berdiri santai di sampingnya, kedua tangan masuk ke saku celana, senyum miring menghiasi wajah tampannya. Ia lalu menarik kursi di hadapan Tristan dan duduk, seolah kehadirannya tak perlu izin. “Sudah lama kita tidak sarapan bersama,” ujarnya ringan. “Sejak sa
Bra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Sasqia mengerang pelan di dalam mulutnya dan Kaelix, saat payudaranya terbebas, menggantung indah. Kaelix langsung meremasnya, bukan kasar, tapi penuh nafsu yang terkendali. Jempolnya memilin puting yang sudah mengeras, membuat Sasqia menggeliat dan mencengkeram bahu Kaelix lebih erat. “Ahh ... pelan-pelan,” desahnya Sasqia lirih, membuat Kaelix tersenyum tipis. Kaelix mengangkat tubuh Sasqia dengan mudah, membawanya ke ranjang king-size yang sudah siap dengan seprai putih bersih. Sasqia terbaring di sana, napasnya tersengal, matanya setengah terpejam karena malu dan hasrat yang mulai membara tanpa diduga. Kaelix melepas bathrobe-nya. Tubuhnya telanjang sempurna, otot perutnya yang kotak-kotak terukir jelas, garis V sampai ke pangkal pahanya, rapi seperti dipahat. Bisepnya mengencang setiap kali ia bergerak, menunjukkan seberapa kuat pria itu sebenarnya, dada bidang, dan batangnya yang sudah tegak sempurna, tebal dan panjang, ujungnya sudah b
Mulut Sasqia ternganga. Matanya melebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Kaelix. “Anda … Anda sedang membeli saya?” suaranya bergetar, antara marah dan terluka. Kaelix tersenyum tipis. Ia sedikit membungkukkan punggung tegapnya, mendekat hingga suaranya jatuh tepat di dekat telinga Sasqia. Bibir pria itu nyaris menyentuh daun telinganya. “Saya menawarkan pertukaran yang adil,” bisiknya tenang. “Kamu butuh uang. Saya hanya butuh teman untuk menghabiskan malam dingin di Paris.” Ia kembali berdiri tegak, seolah pembicaraan barusan hanyalah urusan bisnis biasa. Sasqia tersinggung. Dadanya naik turun cepat. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tajam. “Maaf,” ucapnya tegas. “Saya bukan wanita seperti itu. Saya punya harga diri. Saya tidak menjual diri saya untuk uang.” Belum sempat Kaelix menanggapi, ponsel Sasqia yang tergeletak di atas meja bergetar, layar menyala menampilkan panggilan masuk. Keduanya refleks menoleh. Nomor rumah sakit. Nama dokter yang
Setiap kali Sasqia memejamkan mata, yang terbayang justru ruang perawatan rumah sakit—wajah pucat ayahnya, suara mesin medis yang berdengung pelan. Ia sudah mencoba mencari pinjaman. Menghubungi beberapa teman, bahkan membuka aplikasi pinjaman daring. Namun nominal yang dibutuhkan terlalu besar, dan waktunya terlalu sempit. “Mungkin pergi sebentar ke bar bisa bikin kepala lebih ringan,” gumamnya pelan. Ia bangkit dari ranjang, menatap sekeliling kamar yang elegan itu. Lampu temaram, karpet lembut, tirai panjang dengan pemandangan kota Paris yang berkilau di kejauhan. “Kemewahan seperti ini pun gak ada artinya kalau Papa kesakitan,” bisiknya lirih. Sasqia mengusap wajahnya pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Ia tak merias wajah, tak pula mengganti pakaian tidurnya yang sederhana. Hanya mengenakan long coat tebal berwarna krem untuk menutupi piyama tipisnya, lalu keluar dari kamar. Hotel itu memiliki tiga bar berbeda, namun ia memilih rooftop bar—ingin merasakan angin mala







