Compartilhar

BAB 05

last update Data de publicação: 2026-02-18 14:40:14

Setiap kali Sasqia memejamkan mata, yang terbayang justru ruang perawatan rumah sakit—wajah pucat ayahnya, suara mesin medis yang berdengung pelan.

Ia sudah mencoba mencari pinjaman. Menghubungi beberapa teman, bahkan membuka aplikasi pinjaman daring. Namun nominal yang dibutuhkan terlalu besar, dan waktunya terlalu sempit.

“Mungkin pergi sebentar ke bar bisa bikin kepala lebih ringan,” gumamnya pelan.

Ia bangkit dari ranjang, menatap sekeliling kamar yang elegan itu. Lampu temaram, karpet lembut, tirai panjang dengan pemandangan kota Paris yang berkilau di kejauhan.

“Kemewahan seperti ini pun gak ada artinya kalau Papa kesakitan,” bisiknya lirih. Sasqia mengusap wajahnya pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya.

Ia tak merias wajah, tak pula mengganti pakaian tidurnya yang sederhana. Hanya mengenakan long coat tebal berwarna krem untuk menutupi piyama tipisnya, lalu keluar dari kamar.

Hotel itu memiliki tiga bar berbeda, namun ia memilih rooftop bar—ingin merasakan angin malam Paris secara langsung, berharap udara dingin mampu meredakan sesak di dadanya.

Rooftop itu cukup ramai, dipenuhi tamu hotel yang berbincang dalam balutan setelan mahal dan gaun elegan. Musik mengalun lembut, tidak memekakkan telinga seperti klub malam.

Beberapa wanita dengan pakaian minim tampak duduk di meja-meja tertentu, menemani para tamu yang tampaknya sedang membicarakan urusan bisnis.

Sasqia mendekati meja bar.

“Apakah ada air putih saja?” tanyanya pelan pada bartender.

Pria itu tampak sedikit terkejut.

“Secara khusus tidak tercantum di menu, Nona. Namun tentu saja saya bisa menyiapkannya. Saya tambahkan irisan lemon agar lebih segar. Bagaimana?”

Sasqia tersenyum tipis. “Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih.”

Setelah menerima gelas bening dengan irisan lemon mengambang di permukaannya, ia mencari tempat duduk. Pandangannya berhenti pada kursi kosong di dekat pagar pembatas kaca.

Ia melangkah ke sana, duduk perlahan, lalu membiarkan angin malam menyentuh wajahnya.

Untuk beberapa detik, ia mencoba tidak memikirkan apa pun.

“Permisi.”

Sasqia tersentak. Ia membuka mata cepat. Bartender tadi berdiri di sampingnya.

“Jika Anda membutuhkan sesuatu, beri tahu saya,” ucapnya sopan.

Sasqia mengangguk pelan. “Terima kasih.”

_____

“Membangun hotel bergaya Eropa klasik di Indonesia adalah peluang yang menjanjikan,” ujar seorang pria paruh baya dengan aksen Prancis kental kepada rekan bisnis di hadapannya.

Kaelix hanya menyandarkan punggungnya dengan tenang.

“Hm,” sahutnya singkat. “Saya ingin memperluas bisnis di bidang ini. Jika turis Prancis datang ke Indonesia, mereka tak perlu kebingungan mencari tempat menginap yang terasa seperti rumah.”

Pria tua itu tersenyum lebar. Sejak awal pertemuan, ia lebih banyak membicarakan anggur daripada isi kontrak. Botol demi botol vintage Bordeaux dan cognac tua dipesan tanpa ragu.

Kaelix ikut menyesap minumannya—bukan karena menyukai rasanya, melainkan karena ia paham betul bahwa dalam dunia bisnis, minum bersama sering kali lebih penting daripada menandatangani berkas.

“Tambahkan lagi untuk Tuan Kaelix,” perintah pria tua itu pada seorang wanita yang berdiri di samping meja.

Wanita tersebut menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal milik Kaelix dengan gerakan lembut.

Kaelix mengangkat gelasnya, bersulang, lalu meneguknya perlahan. Gelas ketiga tuntas.

Beberapa menit kemudian, kepalanya terasa lebih berat dari seharusnya.

Bukan sensasi mabuk biasa. Ada rasa asing di ujung lidah—pahit yang tidak wajar, samar tapi jelas bagi seseorang yang terbiasa mencicipi berbagai minuman mahal.

Tatapannya turun pada gelas kosong di tangannya. Ia mengenali tanda-tandanya.

Pengalaman bertahun-tahun di dunia bisnis yang penuh intrik membuatnya tak mudah dikelabui. Kliennya ingin bermain kotor malam ini.

Namun Kaelix tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia tetap tersenyum tipis, mengangguk seolah semua baik-baik saja.

“Kaelix …,” pria tua itu menyeringai samar. “Paris punya banyak hal menyenangkan untuk dinikmati. Terutama malamnya.”

Ia memberi isyarat halus. Seorang wanita Paris bergaun ketat yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja mereka melangkah mendekat.

“Mungkin Anda tidak ingin bermalam sendirian,” lanjut pria tua itu ringan.

Kaelix menoleh sekilas ke arah wanita tersebut.

Pria tua itu tampak yakin. Sudut bibirnya terangkat, seolah tahu sesuatu yang Kaelix rasakan di dalam tubuhnya.

Tapi Kaelix malah berdiri perlahan.

“Tidak perlu,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun tegas.

Senyum wanita itu membeku.

Dalam hati, Kaelix mendengus dingin. Murahan.

“Saya sudah punya wanita sendiri,” lanjutnya santai, seolah pernyataan itu fakta sederhana.

Pria tua itu tertawa kecil, mengira Kaelix hanya menjaga gengsi. “Oh? Di Paris?”

Kaelix tak langsung menjawab.

Tatapannya menyapu rooftop secara acak, mencari sosok pertama yang bisa ia jadikan tameng.

Lalu pandangannya berhenti.

Seorang wanita duduk sendirian di dekat pagar pembatas kaca. Long coat menutupi tubuhnya. Rambutnya tergerai alami, tanpa riasan mencolok. Ia hanya memegang segelas air lemon, menatap kota dengan tatapan kosong.

Sasqia.

Tatapan Kaelix menajam.

“Itu dia,” ujarnya tenang, menunjuk halus ke arah Sasqia.

Pria tua itu mengikuti arah pandangannya.

“Ah ….” gumamnya, kali ini benar-benar tertarik.

Kaelix mengambil jasnya. “Maaf. Sepertinya malam saya sudah memiliki tujuan lain.”

Tanpa menunggu respons, ia melangkah menjauh dari meja itu—meninggalkan botol mahal dan tawa samar di belakangnya.

Langkahnya mantap menuju sosok wanita yang sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya baru saja dijadikan alasan.

Ia berdiri tak jauh dari Sasqia, menatap wajah kecil itu tanpa berkedip. Hidung mungil, bibir tipis dengan belahan samar di bibir bawah, mata bulat yang bening—terlalu bersih untuk tempat seperti ini.

Hanya melihatnya saja, Kaelix tahu, wanita ini orang Indonesia.

“Angin Paris malam ini bisa membekukan darahmu,” ucapnya tenang, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di sisi meja Sasqia. “Kalau kamu hanya diam seperti patung di sini.”

Sasqia tersentak. Ia menoleh cepat, jelas terkejut mendengar bahasa Indonesia keluar dari mulut pria asing itu. “Maaf … saya cuma butuh udara segar.”

“Seharusnya pemandangan Menara Eiffel membuat wanita tersenyum,” katanya datar, sorot matanya meneliti. “Ada masalah?”

Sasqia menghela napas pelan, bahunya sedikit merosot. “Saya … sedang banyak pikiran.”

Kaelix memejamkan mata sesaat. Desisan tipis lolos dari bibirnya. Sensasi panas dari obat yang diselipkan pria paruh baya tadi kembali merambat, menekan kesadarannya dengan cara yang tidak menyenangkan.

Ia membuka mata, menatap Sasqia lagi. Kali ini lebih tajam.

“Pikiran tidak akan selesai hanya dengan melamun,” ucapnya. “Butuh uang? Atau pelarian?”

Sasqia terkekeh lirih, tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun. “Saya butuh keajaiban,” katanya jujur, nyaris putus asa. “Mendapatkan uang ratusan juta. Dalam satu malam.”

Sudut bibir Kaelix terangkat, membentuk senyum tipis. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sikapnya santai, seolah pembicaraan ini tak lebih dari transaksi biasa.

“Saya bukan malaikat,” katanya pelan, nyaris berbisik. “Tapi saya bisa jadi keajaiban itu.”

Ia sedikit memiringkan kepala, tatapannya mengunci wajah Sasqia.

“Masuk ke kamarku malam ini,” lanjutnya tenang, tanpa ragu, “Dan besok pagi, angka berapa pun yang kamu butuhkan sudah ada di rekeningmu.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 105

    “Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di kamarnya.” Raka menghela napas ringan, lalu melangkah mendekat. “Papa keseringan diam di kamar,” gumamnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jadi kita jarang punya waktu … untuk melakukan yang seperti biasa.” Kalimat itu membuat Soraya langsung menurunkan majalahnya. Tatapannya berubah tajam. Ia melirik cepat ke sekeliling ruangan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Matanya juga sempat jatuh pada Sherly yang duduk di karpet sambil memainkan boneka beruang kesayangannya, pemberian dari Sasqia. “Kamu jangan bicara sembarangan, Raka,” desis Soraya pelan, namun penuh tekanan. Raka justru tersenyum tipis. “Saya tidak bodoh, Ma,” balasnya santai. “Mana mungkin saya membica

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 104

    Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perlahan, seolah sama sekali tidak tersinggung dengan penolakan itu. “Kenapa?” satu alisnya terangkat tipis. “Apa harganya terlalu murah?” Sasqia membuang pandangannya ke arah lain. “Hutang saya sudah dua miliar pada Anda,” katanya pelan. “Jadi jangan menambahkan apa pun lagi.” Ia menelan napas. “Jangan memberatkan hidup saya.” Kaelix terkekeh pelan. “Ini bukan hutang tambahan,” ujarnya santai. “Ini bayaran untuk waktumu yang berharga.” Ia menatap Sasqia lurus. “Karena kamu sudah meluangkan waktu untuk menemui saya.” Sasqia menelan ludah dengan susah payah. “Maaf, Tuan,” katanya akhirnya. “Anda tidak akan bisa mengendalikan saya hanya dengan uang … ataupun barang-barang seperti itu.” Kael

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 103

    Kaelix menghela napas panjang. “Seharusnya kamu protes pada ibumu,” ucapnya datar. “Kenapa malah pada saya?” Satu alisnya terangkat tipis. Sasqia sempat membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Dadanya terasa sesak oleh emosi yang bercampur antara marah dan terpaksa. “Anda tetap salah,” katanya akhirnya, suaranya tertahan. “Kenapa harus saya yang datang? Yang butuh pekerjaan di perusahaan Anda itu kakak saya dan suaminya.” Kaelix mengangguk pelan, seolah sudah tahu arah pembicaraan ini sejak awal. “Siapa yang tidak tahu itu?” Ia meletakkan iPad di atas meja dengan tenang, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya perlahan mendekati Sasqia. Kini mereka berdiri sangat dekat. Sasqia harus sedikit mendongak untuk menatap wajah pria itu. “Saya meminta ibumu agar kamu yang datang, itu hanya alibi,” ucap Kaelix dingin, dengan nada yang hampir terdengar seperti ejekan. Sasqia mengernyit. “Lalu?” “Saya ingin bertemu dengan kamu.” Sudut bibir Sasqia terangkat tipis. “Jadi benar, k

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 102

    Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Suasana sebenarnya tampak biasa saja. Namun bagi Sasqia, udara di meja itu terasa berat. Ia melirik Raka dan Shiren secara bergantian. Tatapannya datar. Dingin. Tajam. Dalam hatinya ada sesuatu yang terus mengusik—rasa kesal yang sulit dijelaskan. Karena demi mereka ia harus kembali mengemis pada Kaelix. Tapi di sisi lain, Sasqia juga sadar satu hal. Mungkin ada baiknya jika mereka benar-benar bekerja. Setidaknya mereka bisa terlihat berguna sebagai manusia, bukan hanya hidup dari orang lain. Meski konsekuensinya jika mereka gagal, nama Sasqia yang akan ikut tercoreng. “Ma.” Suara Shiren memecah keheningan. Ia mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu yang sedang makan dengan tenang. S

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 101

    Sasqia baru saja keluar dari bandara setelah penerbangan panjang dari Spanyol. Ia menarik kopernya sambil berjalan di sisi Tristan yang juga menyeret koper miliknya. Di kejauhan, sopir pribadi Tristan sudah menunggu di depan mobil. “Berikan kopermu padanya,” ujar Tristan pada Sasqia. “Biar saya antar kamu ke kost putri seperti biasa.” Sasqia langsung menelan ludah. Dengan cepat ia menahan koper miliknya ketika sopir itu hendak mengambilnya. “Mas pulang duluan aja,” ucapnya, mencoba terdengar santai. Tristan menoleh, keningnya berkerut. “Kenapa?” “Ada yang harus saya lakukan di luar,” jawab Sasqia sambil tersenyum tipis. “Saya pulang naik taksi aja.” “Mau ke mana?” tanya Tristan lagi. “Tidak apa-apa, saya antar. Ke mana pun kamu pergi.” Sasqia buru-buru menggeleng. “Mas pasti capek setelah perjalanan panjang. Lebih baik langsung istirahat saja,” katanya. “Saya cuma mau belanja kebutuhan sehari-hari, sekalian mumpung lagi di luar. Nanti Mas malah bosan kalau harus menu

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 100

    “Mas, terima kasih banyak sudah menemani saya jalan-jalan di Granada hari ini. Termasuk mengajak saya ke Alhambra,” ucap Sasqia tulus setelah mereka kembali ke kamar hotel. Tristan yang sedang melepas jam tangannya hanya mengangguk singkat. “Sekarang istirahat,” katanya tenang. “Nanti malam kita harus kembali bekerja.” Sasqia mengangguk cepat. Senyum manisnya masih belum pudar sejak mereka pulang dari sana. “Iya, Mas. Tapi saya tidak yakin bisa tidur siang.” Tristan menoleh. “Kenapa?” Sasqia tertawa kecil. “Kepikiran foto-foto tadi.” “Kenapa harus dipikirkan?” Tristan menyipitkan matanya. “Karena belum puas lihatinnya,” jawab Sasqia sambil terkekeh. Tristan menggeleng pelan. “Kalau begitu, biar saya bantu kamu tidur.” Sasqia langsung membulatkan matanya ketika Tristan tiba-tiba menarik lengannya dan menuntunnya ke arah ranjang. “Mas mau ngapain?” protesnya. “Mas mau puk-puk saya kayak anak kecil itu? Biar saya bisa tidur?” Tristan terkekeh pelan. “Itu tahu,” ka

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 43

    “Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 44

    Mobil Tristan akhirnya berhenti di depan kost putri milik Sasqia, wanita yang malam ini resmi menjadi kekasihnya. “Terima kasih, Kapten. Sudah mengantar saya, dan mentraktir makan malam juga,” ucap Sasqia tulus. “Kapten?” gumam Tristan rendah. “Saya kekasih kamu mulai malam ini, tidak ada pangg

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status