Share

BAB 09

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-02-19 19:01:47

“Kapten?” bisik Sasqia lirih. Matanya mengerjap pelan, menatap pria yang kini berdiri begitu dekat di hadapannya.

Jarak wajah mereka hanya satu tarikan napas.

Tristan menelan ludah berat. Jakunnya naik turun jelas.

Pandangannya sempat jatuh pada bibir Sasqia, bibir yang beberapa detik lalu tanpa izin telah ia kecup—sebelum akhirnya beralih ke mata indah wanita itu.

“Maaf, saya lupa diri. Saya pikir kamu mantan saya,” ucapnya, suaranya rendah namun tegas. Ia kembali menegakkan punggungnya, m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Zelly Frida
baiklah 3 udah keluar karakternya triplet
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 120

    Jevier terus menatap layar ponselnya sejak tadi, menunggu balasan dari Sasqia setelah mengirim vidio yang diam-diam ia rekam dari kamar Tristan. Pesan itu sudah dibaca. Dua centang biru terpampang jelas di layar. Namun belum ada balasan apa pun. Tok. Tok. Tok. Ketukan pintu membuat Jevier tersentak kecil. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya lalu meletakkannya di atas meja kerja. “Permisi, Dok,” sapa seorang perawat yang masuk ke ruangannya. “Pasien Anda sudah menunggu.” Jevier menghela napas pelan sebelum bangkit dari kursinya. “Baik, saya ke sana.” Ia sempat melirik ponselnya sekali lagi, seolah berharap ada balasan dari Sasqia. Namun layar itu tetap sunyi. Akhirnya Jevier berjalan keluar ruangan. Dan tepat setelah pintu tertutup, layar ponselnya kembali menyala. Panggilan masuk dari Sasqia. _____ Di sisi lain, Sasqia duduk di tepi ranjang sambil terus mencoba menghubungi nomor Jevier. Namun panggilannya tak kunjung diangkat. “Kenapa gak diangkat sih!” gumamnya pelan.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 119

    Sasqia berjalan pelan sambil mengamit lengan Mahendra yang menuntunnya keluar kamar. Wajahnya masih sedikit pucat, meski kondisinya jauh lebih baik dibanding semalam. Begitu tiba di dapur, mereka menemukan Kaelix berdiri di depan meja island dapur. Pria itu tengah menuangkan bubur hangat ke dalam mangkuk, uap tipis mengepul di udara. “Nak Kael,” panggil Mahendra sopan. “Kami izin pamit pulang.” Kaelix mengangkat pandangannya sebentar lalu mengangguk kecil. “Tapi sebelum itu, sarapan dulu, Pak,” ucapnya tenang. “Saya sudah membuatkan bubur.” “Tidak perl—” “Semalam terjadi kecelakaan di jalan raya,” sela Kaelix datar sebelum Sasqia sempat menyelesaikan kalimatnya. Tangannya menarik salah satu kursi untuk Mahendra, lalu kursi di sebelahnya untuk Sasqia. “Akibat hujan deras, petir, dan sempat mati lampu di beberapa titik kota,” lanjutnya tenang. “Beruntung Anda dan Sasqia memilih menginap.” Tatapannya beralih pada keduanya. “Kalau tidak … kita tidak tahu apa yang bisa terjadi.”

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 118

    “Tenang,” ucap Kaelix rendah. “Paling hanya beberapa detik sampai genset menyala.” Namun Sasqia tak menjawab, napasnya justru mulai memburu. JEDAR!!! Petir kembali menyambar, membuat tubuh kecil itu tersentak hebat. Jemarinya mencengkeram bagian belakang kemeja Kaelix sampai kusut. Kaelix akhirnya menyadari ada yang aneh. “Sasqia?” Tak ada jawaban. Napas wanita itu terdengar pendek-pendek, tidak beraturan. “Sasqia?” kali ini nada suara Kaelix berubah lebih serius. Ia mencoba melepaskan pelukan itu perlahan, namun tubuh Sasqia justru melemah di pelukannya. “Hei—” Kaelix dengan cepat menopang tubuh wanita itu sebelum jatuh ke lantai. “Sasqia.” Wajahnya menunduk, mencoba melihat dalam gelap. Napas Sasqia semakin kacau, dadanya naik turun cepat seperti kekurangan udara. Tangannya gemetar. “Lihat saya,” ucap Kaelix tegas. “Tarik napas.” Namun Sasqia tetap tak mampu menjawab. Bibirnya sedikit terbuka, berusaha mengambil udara, tapi justru semakin sesak. Kaelix mengeraskan raha

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 117

    Makan malam pun berakhir. Sasqia sudah berdiri, bersiap membawa Mahendra pulang. “Sebentar.” Suara Kaelix menghentikan langkah mereka. Ia berdiri di hadapan keduanya, tenang. “Di luar hujan deras.” “Hujan?” Mahendra terkejut. Kaelix tidak menjawab. Ia menekan tombol remote di tangannya. Perlahan, tirai besar yang menutupi jendela apartemen terbuka. Pemandangan di luar langsung terlihat—langit gelap, hujan turun deras, disertai kilatan petir yang sesekali menyambar. Suara gemuruhnya bahkan terdengar jelas ketika Kaelix membuka pintu balkon. “Lebih baik menginap,” ucapnya datar. “Berkendara dalam kondisi seperti ini tidak aman.” Mahendra dan Sasqia saling menatap. Sasqia segera meraih ponselnya. “Saya sudah pesan taksi.” Kaelix mengangguk singkat. “Baik. Kita tunggu.” Mereka bertiga kemudian berpindah ke ruang tengah. Beberapa menit berlalu. Hujan tak kunjung reda, justru semakin deras. Drrt. Ponsel Sasqia bergetar. Ia membuka layar, lalu wajahnya langsung berubah. “Dibat

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 116

    “Kenapa kamu tidak ikut makan, Nak?” tanya Mahendra, memperhatikan Kaelix yang sejak tadi hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, punggungnya bersandar santai pada kursi. Kaelix belum sempat menjawab. Ding. Dong. Suara bel apartemen menggema. Ia melirik sekilas ke arah pintu, sudut bibirnya terangkat tipis. Orang yang ia tunggu akhirnya datang. “Saya sedang menunggu tamu,” ucapnya singkat, lalu bangkit dari duduknya. Mahendra mengerutkan kening. “Siapa? Orang penting?” Kaelix hanya tersenyum tipis tanpa menjawab, lalu melangkah meninggalkan dapur. Langkahnya tenang, pasti. Begitu pintu dibuka, Sasqia berdiri di sana, napasnya sedikit memburu, wajahnya menyimpan cemas yang jelas terlihat. “Di mana Papa saya?” tanyanya datar, tanpa basa-basi. Kaelix tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser tubuhnya, memberi jalan. “Silakan masuk.” Sasqia menarik napas dalam, menahan dirinya. “Saya datang untuk menjemput Papa saya. Tidak berniat masuk.” Senyum tipi

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 115

    Mahendra berdiri di ambang pintu dapur, masih sedikit canggung. Sementara Kaelix sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja navy yang pas di tubuhnya. Lengan kemeja itu digulung rapi hingga siku, memperlihatkan urat-urat halus di lengannya. Tak lama, ia mengambil dua celemek dari laci. “Pakai ini, Pak,” ucapnya sambil menyerahkan satu pada Mahendra. Mahendra tersenyum kecil, menerima celemek itu. “Wah … sudah seperti chef profesional saja.” Kaelix hanya tersenyum tipis. Di atas meja dapur, ikan hasil pancingan tadi sudah dibersihkan. Kaelix memilih satu yang paling besar. “Kita masak grilled salmon saja,” ucapnya tenang. Mahendra mengangkat alisnya. “Salmon? Ini kalau beli di restoran mahal, kan?” “Lumayan,” sahut Kaelix singkat. “Tapi yang penting rasanya.” Mahendra terkekeh pelan, lalu mulai membantu menyiapkan bahan. Ia mengambil pisau, memotong beberapa bumbu dengan gerakan yang masih cukup terlatih meski sudah lama tak memasak. Kaelix di sisi lain tampak sangat terampil.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 43

    “Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 44

    Mobil Tristan akhirnya berhenti di depan kost putri milik Sasqia, wanita yang malam ini resmi menjadi kekasihnya. “Terima kasih, Kapten. Sudah mengantar saya, dan mentraktir makan malam juga,” ucap Sasqia tulus. “Kapten?” gumam Tristan rendah. “Saya kekasih kamu mulai malam ini, tidak ada pangg

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status