Share

BAB 06

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-02-18 14:40:25

Mulut Sasqia ternganga. Matanya melebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Kaelix.

“Anda … Anda sedang membeli saya?” suaranya bergetar, antara marah dan terluka.

Kaelix tersenyum tipis. Ia sedikit membungkukkan punggung tegapnya, mendekat hingga suaranya jatuh tepat di dekat telinga Sasqia.

Bibir pria itu nyaris menyentuh daun telinganya.

“Saya menawarkan pertukaran yang adil,” bisiknya tenang. “Kamu butuh uang. Saya hanya butuh teman untuk menghabiskan malam dingin di Paris.”

Ia kembali berdiri tegak, seolah pembicaraan barusan hanyalah urusan bisnis biasa.

Sasqia tersinggung. Dadanya naik turun cepat. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tajam.

“Maaf,” ucapnya tegas. “Saya bukan wanita seperti itu. Saya punya harga diri. Saya tidak menjual diri saya untuk uang.”

Belum sempat Kaelix menanggapi, ponsel Sasqia yang tergeletak di atas meja bergetar, layar menyala menampilkan panggilan masuk.

Keduanya refleks menoleh.

Nomor rumah sakit. Nama dokter yang menangani kondisi ayahnya.

“Dokter Jevier?” gumam Sasqia panik. Jantungnya berdegup liar. Tangannya gemetar saat meraih ponsel, lalu menggeser ikon hijau dan menempelkannya ke telinga.

“Halo, Dok, bagaimana kondisi Papa saya?”

“Sas, maaf mengganggu malam kamu,” suara di seberang terdengar hati-hati. “Saya perlu menyampaikan kondisi terbaru. Gagal ginjal Papa kamu mulai berkomplikasi ke paru-paru. Kami harus melakukan cuci darah darurat.”

Wajah Sasqia memucat.

“Dok … tolong,” suaranya nyaris pecah. “Saya baru bisa pulang besok, mungkin lusa baru sampai Indonesia. Saya sedang ada di Paris. Tolong lakukan apa pun untuk Papa saya.”

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Sas,” jawab dokter itu lembut. “Kamu coba tenang di sana. Maaf kalau kabar ini membuat kamu cemas.”

“Tidak apa-apa, Dok,” katanya cepat, menahan air mata. “Dokter justru harus memberi tahu saya. Saya akan menyiapkan dananya.”

“Sas—”

“Saya bakal cari uangnya, Dok,” potong Sasqia panik. “Secepatnya. Tolong … lakukan yang terbaik untuk Papa saya.”

“Iya, Sas. Kamu jangan pikirkan hal lain. Biar kami yang urus di sini.”

Panggilan terputus.

Sasqia menurunkan ponsel perlahan. Kakinya terasa lemah, hampir tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Napasnya memburu, dadanya sesak oleh ketakutan.

Ia mengangkat wajah, menatap Kaelix yang masih berdiri di tempatnya, jelas mendengar percakapan di telepon tadi.

“Harga diri tidak bisa membayar nyawa ayahmu, manis,” ujar Kaelix datar, senyum tipis masih menghiasi bibirnya.

Namun sorot matanya mulai nyalang, efek obat itu kian bekerja—menjalar ke pembuluh nadinya. “Waktumu tinggal satu jam.”

Ia melanjutkan, tenang namun menusuk, “Saya tidak memaksamu. Tapi malam ini, saya satu-satunya pintu yang terbuka.”

Sasqia menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa perih. Matanya terpejam, bayangan ayahnya terbaring di ruang ICU menyesakkan dadanya.

“Satu malam,” ucapnya lirih akhirnya. “Hanya malam ini. Setelah itu, jangan pernah cari saya. Jangan pernah ingat wajah saya. Anggap malam ini tidak pernah ada dalam hidup Anda.”

Kaelix menatapnya dalam-dalam, ada kilat ketertarikan sekaligus penghargaan pada keberanian wanita itu.

“Sepakat,” katanya singkat. “Saya bukan pria yang gemar mengoleksi masa lalu.”

Ia mengeluarkan kartu akses kamar dari saku celananya, lalu menyodorkannya. “Suite 901. Saya tunggu sepuluh menit.”

_____

Sasqia berdiri di depan pintu suite milik Kaelix itu selama hampir lima menit lamanya, bahkan dia sudah lewat lima menit dari perjanjian.

Terlalu banyak berfikir membuatnya mengulur waktu.

Jantungnya berdetak cepat. Tangan kanannya masih memegang gagang pintu, seolah tubuhnya sendiri menolak untuk melangkah masuk.

Klek.

Pintu akhirnya terbuka setelah dia mengumpulkan keberanian.

Ruangan itu gelap, hanya diterangi lampu meja kecil dan cahaya kota Paris yang menyelinap lewat jendela kaca besar.

Bau wiski dan cologne mahal menyeruak, membuat lututnya lemas.

Sasqia akhirnya masuk, pintu tertutup pelan di belakangnya dengan bunyi klik.

Kaelix sudah duduk di sofa kulit berwarna hitam di sudut ruangan, kakinya menyilang santai. Bathrobe sutra hitamnya terbuka sedikit di dada, memperlihatkan garis otot yang tegas.

Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, matanya yang tajam langsung menyapu tubuh Sasqia dari ujung rambut hingga ujung kaki—lambat, seolah sedang menilang barang berharga.

“Datang juga,” katanya pelan, suaranya rendah dan berat. “Saya pikir kamu berubah pikiran.”

Sasqia tak menjawab. Dia hanya berdiri di tengah ruangan, tangannya saling meremas di depan perut. Gaun hitam sederhana yang dia kenakan terlalu ketat sekarang.

Terlalu pendek. Terlalu terbuka.

Kaelix mencondongkan tubuh tegapnya sedikit ke depan, kedua sikunya bertumpu di lutut. “Buka pakaianmu.”

Sasqia menelan ludah. Jarinya gemetar saat menyentuh resleting samping gaun. Satu tarikan pelan, tapi tangannya berhenti. Matanya melirik ke lantai, pipinya merah sampai ke telinga.

“Saya ... belum pernah,” bisik Sasqia hampir tak terdengar.

Kaelix tersenyum tipis. Bukan ejekan, tapi senyum penuh pengertian sekaligus kelaparan. “Saya tahu. Sangat mudah ditebak.”

Ia bangkit dari sofa. Bathrobe-nya sedikit terbuka lebih lebar saat Kaelix berjalan mendekat, langkahnya tenang tapi penuh kuasa. Tingginya membuat Sasqia harus mendongak.

Kaelix berdiri di depannya, jarak mereka hanya satu tarikan napas.

Tangan besarnya naik, menyentuh bahu Sasqia dengan lembut—kontras sekali dengan tatapannya yang sudah membara.

Dia menarik resleting gaun itu perlahan, sampai bawah. Kain hitam itu meluncur ke lantai, meninggalkan Sasqia hanya dengan bra renda hitam dan celana dalam yang senada.

Tubuh Sasqia gemetar di udara kamar Kaelix.

Kaelix menatapnya lama. “Cantik sekali.”

Lalu dia menunduk. Ciuman pertama mendarat di bibir Sasqia—lembut, seperti sedang meminta izin. Bibirnya hangat, bergerak pelan, lidahnya hanya menyentuh sedikit.

Sasqia membalas ragu, tangannya naik ke dada Kaelix, mencengkeram bathrobe itu erat.

Ciuman itu berubah. Semakin lama, semakin dalam. Kaelix memiringkan kepala, menghisap bibir bawah Sasqia, lalu lidahnya masuk dengan kuat, menjelajah, menuntut.

Tangan kanannya memeluk pinggang ramping Sasqia, menarik tubuhnya agar menempel, sementara tangan kirinya membuka kaitan bra dengan satu gerakan ahli.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Irizka RA Yusuf
Aku hadir kaaak, aah ceritanya bagus juga niiih. tp blm Nisa kasih GEM yaa, udh dihabisin di RADJA-DJIWA
goodnovel comment avatar
Langit Parama
Jam abis buka puasa, ya
goodnovel comment avatar
Anita Nouval
Thor kira2 jam BRP nich kelanjutannya ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 264

    “Ada apa, Martha?” tanya Miriam ketika melihat asisten pribadinya datang tergesa-gesa siang itu. Martha menutup pintu ruang kerja lebih dulu sebelum melangkah mendekat. Raut wajahnya tampak serius. “Saya baru mendapat informasi, Nyonya.” Miriam meletakkan cangkir tehnya di atas meja. “Informasi apa?” “Tuan Kaelix membawa Nyonya Sasqia ke rumah sakit pagi tadi.” Alis Miriam langsung bertaut. “Rumah sakit?” “Iya, Nyonya.” “Untuk apa?” “Pemeriksaan kandungan.” Martha menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Tuan Kaelix ingin memastikan kondisi rahim istrinya setelah mengonsumsi pil kontrasepsi.” Jari-jari Miriam yang semula tenang di atas meja perlahan menegang. “Apa ... apa Kael juga tahu kalau saya—” “Tidak.” Martha buru-buru menggeleng. “Setidaknya sampai informasi yang saya dapat, Tuan Kaelix belum mengetahui siapa yang berada di balik semua itu.” “Dan ... Nyonya Sasqia juga tidak pernah menyebut nama Anda sampai detik ini.” Helaan napas panjang akhirnya keluar dari b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 263

    “Apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Tristan dingin. Jevier yang sedang menuangkan segelas air minum menghentikan gerakannya. Ia menoleh sekilas ke arah sang kakak. “Maksudnya?” “Memeluk Sana.” Nada bicara Tristan terdengar datar, tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih tajam. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Atau ... kamu mulai ingin mengakui kalau dia anak kandungmu?” Jevier terkekeh pelan, seolah menganggap ucapan itu tak lebih dari lelucon. “Saya hanya memeriksa pasien.” “Pasien?” Tristan menyandarkan bahunya pada kusen pintu. “Sana tidak sakit separah itu.” “Dia demam sejak kemarin.” Jevier menjawab tanpa nada emosi. “Pagi tadi saya memeriksanya. Sebagai dokter, kalau ada orang sakit di depan mata saya, tentu saya akan membantu.” Tristan mendengus pelan. “Aneh.” “Apa yang aneh?” Jevier menyipitkan matanya. “Barusan Sana bilang dia sehat-sehat saja.” “Itu karena dia tidak ingin kamu khawatir.” Jevier menatap lurus ke arah kakaknya. “Dia sendiri yang bila

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 262

    “Mas ... udah gak marah sama aku?” tanya Sasqia pelan. Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan bandara, membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan menjelang sore. Kaelix, yang duduk di sampingnya, menoleh sekilas. “Sejak kapan saya marah sama kamu?” Sasqia tersenyum tipis. “Maksudnya ... masih kecewa.” Tak ada jawaban. Kaelix kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan deretan gedung pencakar langit berganti satu demi satu. Melihat tak ada respons, senyum Sasqia perlahan memudar. “Berarti ... Mas masih kecewa sama aku, ya?” Keheningan kembali menyelimuti mobil. Beberapa detik kemudian, Kaelix akhirnya membuka suara. “Apa kamu benar-benar sudah berhenti minum obat itu?” Pertanyaan itu membuat Sasqia langsung menoleh. “Udah, Mas.” Ia mengangguk cepat. “Aku benar-benar udah berhenti.” Tanpa ragu, ia meraih kedua tangan suaminya dan menggenggamnya erat. “Aku mau punya anak dari Mas.” Tatapan Kaelix jatuh pada jemari kecil yang menggenggam tan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 261

    “Om Jev ....” Langkah Jevier yang semula hendak menuju ruang kerjanya terhenti. Ia menoleh ke arah kamar Sana yang pintunya terbuka sedikit. Tanpa banyak berpikir, ia mengubah arah langkahnya. Di atas ranjang, Sana terbaring di balik selimut tebal. Wajah mungilnya tampak pucat, sementara sebuah kompres penurun demam menempel di dahinya. “Kamu kenapa?” tanya Jevier pelan sembari mendekat. “Sana sakit, Om,” jawab gadis kecil itu lirih. “Om, kan, dokter. Periksa Sana, ya, biar cepet sembuh.” Jevier tersenyum tipis. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sana. Masih hangat. “Sudah diperiksa dokter?” Sana mengangguk pelan. “Udah. Kata Nenek cuma demam biasa.” “Kamu sudah minum obat?” “Udah.” “Kalau begitu tinggal istirahat. Besok juga pasti lebih enakan.” Sana menghembuskan napas pelan. “Sana gak mau sakit lama-lama.” “Kenapa?” Jevier mengernyitkan alisnya. “Nanti Papa Tristan sedih kalau pulang kerja lihat Sana masih demam.” Senyum di wajah Je

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 260

    “Mama ... bajunya bagus.” Sherly bertepuk tangan kecil melihat ibunya yang pagi itu sudah berdiri rapi dengan seragam barunya. “Mama jadi cantik.” Shiren tersenyum lebar. Ia merapikan kerah seragamnya, lalu berputar pelan di depan putrinya. “Iya, dong. Sekarang Mama udah naik jabatan. Jadi seragamnya juga beda.” Sherly mengangguk kagum. “Lebih bagus daripada yang dulu.” “Ya harus, dong,” sahut Shiren dengan nada bangga. “Sekarang Mama udah bukan office girl lagi.” Bocah itu tersenyum semakin lebar. “Berarti gaji Mama banyak?” Shiren terkekeh pelan, lalu berjongkok hingga sejajar dengan tinggi putrinya. “Iya. Kenapa memangnya? Kamu mau dibeliin apa?” Sherly mengerucutkan bibir, berpikir cukup lama. Matanya kemudian berbinar. “Sherly mau Papa pulang.” Senyum di wajah Shiren perlahan menghilang. “Papa?” “Iya.” Sherly mengangguk polos. “Sekarang Papa juga udah kerja lagi, kan? Terus Mama juga udah kerja yang bagus. Jadi Papa gak usah capek-capek kerja terus. Papa bisa tinggal

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 259

    Sasqia baru saja selesai membersihkan diri di suite baru yang disiapkan Kaelix. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sunyi. Tak ada sosok suaminya. “Mas ...?” panggilnya pelan. Rambut panjangnya masih setengah basah, beberapa helainya menempel di pipi. Bathrobe putih yang dikenakannya membungkus tubuh mungilnya dengan rapi. Tak lama kemudian pintu suite terbuka. Kaelix melangkah masuk dengan wajah setenang biasanya. “Mas dari mana?” tanya Sasqia sambil menghampirinya. “Dari luar,” jawab Kaelix singkat. Ia berjalan melewati sang istri menuju sofa, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sebentar lagi makan malam. Kita makan di kamar saja.” Sasqia mengangguk kecil. “Iya, Mas.” Ia kemudian membuka koper, mengambil pakaian bersih, lalu duduk di depan meja rias. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Kaelix melalui pantulan cermin. Sementara itu, Kaelix duduk tenang di sofa. Tatapannya sesekali mengikuti setiap gerakan sang istri yang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 43

    “Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status