Mag-log inMulut Sasqia ternganga. Matanya melebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Kaelix.
“Anda … Anda sedang membeli saya?” suaranya bergetar, antara marah dan terluka. Kaelix tersenyum tipis. Ia sedikit membungkukkan punggung tegapnya, mendekat hingga suaranya jatuh tepat di dekat telinga Sasqia. Bibir pria itu nyaris menyentuh daun telinganya. “Saya menawarkan pertukaran yang adil,” bisiknya tenang. “Kamu butuh uang. Saya hanya butuh teman untuk menghabiskan malam dingin di Paris.” Ia kembali berdiri tegak, seolah pembicaraan barusan hanyalah urusan bisnis biasa. Sasqia tersinggung. Dadanya naik turun cepat. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tajam. “Maaf,” ucapnya tegas. “Saya bukan wanita seperti itu. Saya punya harga diri. Saya tidak menjual diri saya untuk uang.” Belum sempat Kaelix menanggapi, ponsel Sasqia yang tergeletak di atas meja bergetar, layar menyala menampilkan panggilan masuk. Keduanya refleks menoleh. Nomor rumah sakit. Nama dokter yang menangani kondisi ayahnya. “Dokter Jevier?” gumam Sasqia panik. Jantungnya berdegup liar. Tangannya gemetar saat meraih ponsel, lalu menggeser ikon hijau dan menempelkannya ke telinga. “Halo, Dok, bagaimana kondisi Papa saya?” “Sas, maaf mengganggu malam kamu,” suara di seberang terdengar hati-hati. “Saya perlu menyampaikan kondisi terbaru. Gagal ginjal Papa kamu mulai berkomplikasi ke paru-paru. Kami harus melakukan cuci darah darurat.” Wajah Sasqia memucat. “Dok … tolong,” suaranya nyaris pecah. “Saya baru bisa pulang besok, mungkin lusa baru sampai Indonesia. Saya sedang ada di Paris. Tolong lakukan apa pun untuk Papa saya.” “Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Sas,” jawab dokter itu lembut. “Kamu coba tenang di sana. Maaf kalau kabar ini membuat kamu cemas.” “Tidak apa-apa, Dok,” katanya cepat, menahan air mata. “Dokter justru harus memberi tahu saya. Saya akan menyiapkan dananya.” “Sas—” “Saya bakal cari uangnya, Dok,” potong Sasqia panik. “Secepatnya. Tolong … lakukan yang terbaik untuk Papa saya.” “Iya, Sas. Kamu jangan pikirkan hal lain. Biar kami yang urus di sini.” Panggilan terputus. Sasqia menurunkan ponsel perlahan. Kakinya terasa lemah, hampir tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Napasnya memburu, dadanya sesak oleh ketakutan. Ia mengangkat wajah, menatap Kaelix yang masih berdiri di tempatnya, jelas mendengar percakapan di telepon tadi. “Harga diri tidak bisa membayar nyawa ayahmu, manis,” ujar Kaelix datar, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. Namun sorot matanya mulai nyalang, efek obat itu kian bekerja—menjalar ke pembuluh nadinya. “Waktumu tinggal satu jam.” Ia melanjutkan, tenang namun menusuk, “Saya tidak memaksamu. Tapi malam ini, saya satu-satunya pintu yang terbuka.” Sasqia menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa perih. Matanya terpejam, bayangan ayahnya terbaring di ruang ICU menyesakkan dadanya. “Satu malam,” ucapnya lirih akhirnya. “Hanya malam ini. Setelah itu, jangan pernah cari saya. Jangan pernah ingat wajah saya. Anggap malam ini tidak pernah ada dalam hidup Anda.” Kaelix menatapnya dalam-dalam, ada kilat ketertarikan sekaligus penghargaan pada keberanian wanita itu. “Sepakat,” katanya singkat. “Saya bukan pria yang gemar mengoleksi masa lalu.” Ia mengeluarkan kartu akses kamar dari saku celananya, lalu menyodorkannya. “Suite 901. Saya tunggu sepuluh menit.” _____ Sasqia berdiri di depan pintu suite milik Kaelix itu selama hampir lima menit lamanya, bahkan dia sudah lewat lima menit dari perjanjian. Terlalu banyak berfikir membuatnya mengulur waktu. Jantungnya berdetak cepat. Tangan kanannya masih memegang gagang pintu, seolah tubuhnya sendiri menolak untuk melangkah masuk. Klek. Pintu akhirnya terbuka setelah dia mengumpulkan keberanian. Ruangan itu gelap, hanya diterangi lampu meja kecil dan cahaya kota Paris yang menyelinap lewat jendela kaca besar. Bau wiski dan cologne mahal menyeruak, membuat lututnya lemas. Sasqia akhirnya masuk, pintu tertutup pelan di belakangnya dengan bunyi klik. Kaelix sudah duduk di sofa kulit berwarna hitam di sudut ruangan, kakinya menyilang santai. Bathrobe sutra hitamnya terbuka sedikit di dada, memperlihatkan garis otot yang tegas. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, matanya yang tajam langsung menyapu tubuh Sasqia dari ujung rambut hingga ujung kaki—lambat, seolah sedang menilang barang berharga. “Datang juga,” katanya pelan, suaranya rendah dan berat. “Saya pikir kamu berubah pikiran.” Sasqia tak menjawab. Dia hanya berdiri di tengah ruangan, tangannya saling meremas di depan perut. Gaun hitam sederhana yang dia kenakan terlalu ketat sekarang. Terlalu pendek. Terlalu terbuka. Kaelix mencondongkan tubuh tegapnya sedikit ke depan, kedua sikunya bertumpu di lutut. “Buka pakaianmu.” Sasqia menelan ludah. Jarinya gemetar saat menyentuh resleting samping gaun. Satu tarikan pelan, tapi tangannya berhenti. Matanya melirik ke lantai, pipinya merah sampai ke telinga. “Saya ... belum pernah,” bisik Sasqia hampir tak terdengar. Kaelix tersenyum tipis. Bukan ejekan, tapi senyum penuh pengertian sekaligus kelaparan. “Saya tahu. Sangat mudah ditebak.” Ia bangkit dari sofa. Bathrobe-nya sedikit terbuka lebih lebar saat Kaelix berjalan mendekat, langkahnya tenang tapi penuh kuasa. Tingginya membuat Sasqia harus mendongak. Kaelix berdiri di depannya, jarak mereka hanya satu tarikan napas. Tangan besarnya naik, menyentuh bahu Sasqia dengan lembut—kontras sekali dengan tatapannya yang sudah membara. Dia menarik resleting gaun itu perlahan, sampai bawah. Kain hitam itu meluncur ke lantai, meninggalkan Sasqia hanya dengan bra renda hitam dan celana dalam yang senada. Tubuh Sasqia gemetar di udara kamar Kaelix. Kaelix menatapnya lama. “Cantik sekali.” Lalu dia menunduk. Ciuman pertama mendarat di bibir Sasqia—lembut, seperti sedang meminta izin. Bibirnya hangat, bergerak pelan, lidahnya hanya menyentuh sedikit. Sasqia membalas ragu, tangannya naik ke dada Kaelix, mencengkeram bathrobe itu erat. Ciuman itu berubah. Semakin lama, semakin dalam. Kaelix memiringkan kepala, menghisap bibir bawah Sasqia, lalu lidahnya masuk dengan kuat, menjelajah, menuntut. Tangan kanannya memeluk pinggang ramping Sasqia, menarik tubuhnya agar menempel, sementara tangan kirinya membuka kaitan bra dengan satu gerakan ahli.Hari itu, halaman luas tempat pernikahan Tristan dan Viona dipenuhi bunga-bunga putih yang ditata elegan. Udara terasa hangat, langit cerah, dan suara musik mengalun pelan di antara para tamu yang mulai memenuhi tempat acara. Sasqia datang bersama Kaelix dan Kaelyn. Seperti biasa, Kaelix berjalan di sisi istrinya dengan satu tangan sesekali menyentuh punggung Sasqia, memastikan perempuan itu tetap berada di dekatnya. Sementara Kaelyn sibuk memandangi seluruh tempat dengan mata berbinar. Gaun kecil yang dikenakannya bergerak setiap kali gadis itu berlari kecil. Tak lama kemudian, Sana dan Sherly menghampirinya. Tiga anak itu langsung menghilang dari sisi orang dewasa, berlarian ke area taman yang sudah disiapkan khusus untuk para tamu anak-anak. Sasqia hanya tersenyum melihat putrinya. Lima tahun berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia menggendong bayi m
Tristan menatap kedua orang tuanya secara bergantian. “Viona.” Hening. Untuk beberapa saat, Miriam hanya berdiri sambil memandangi putranya. Seolah belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Viona?” ulangnya. “Iya, Bu.” “Viona anak teman Ibu? Tante Tari?” Tristan mengangguk. “Perempuan yang lima tahun terakhir sering menemani kamu?” “Orangnya sama.” Miriam menutup mulutnya dengan satu tangan. “Ya Tuhan … kamu serius?” “Saya tidak mungkin datang ke sini hanya untuk bercanda soal pernikahan.” Miriam menatap putranya cukup lama. Kemudian, tanpa diduga, kedua matanya mulai berkaca-kaca. “Kenapa malah menangis?” tanya Tristan. “Karena Ibu senang.” Tristan terdiam. Miriam tersenyum di balik air mata yang mulai menggenang. “Setelah sekian lama … akhirnya kamu mau menikah.” “Bu, jangan berlebihan.” Tristan menghela napas pelan. “Bagaimana Ibu tidak berlebihan?” Miriam kembali duduk. “Selama ini Ibu selalu khawatir.” Tristan menundukkan pa
Kaelyn melirik Sasqia. “Mama.” “Iya, sayang?” Sasqia mengangkat kedua alis. “Papa sayang siapa?” tanya Kaelyn sambil memiringkan kepala. Sasqia langsung menahan senyum. “Nah, tanyain sendiri sama orangnya langsung.” Ia melirik sang suami. Kaelyn kembali menatap sang ayah. “Papa.” “Hm?” sahut Kaelix singkat. “Papa lebih sayang Mama atau Elyn?” suara Kaelyn terdengar manja, seolah berharap sang ayah akan memilihnya. Sasqia menatap suaminya dengan penuh rasa ingin tahu. Kaelix justru tersenyum. “Pertanyaan sulit.” “Enggak sulit,” sahut Kaelyn cepat. “Pilih Elyn.” Ia menekan dadanya, meminta di pilih. “Kenapa harus Elyn?” Kaelix mengangkat sebelah alisnya tipis. “Karena Elyn cantik.” Ucap Kaelyn penuh percaya diri. Sasqia kembali tertawa. Kaelix menggelengkan kepala pelan. “Kamu memang cantik.” “Nah!” “Tapi ….” Senyum Kaelyn perlahan memudar. “Tapi apa?” Kaelix melirik Sasqia. “Mama juga cantik.” Kaelyn langsung memanyunkan bibir. “Papa harus pilih satu.
“Mama dulu pramugari, ya?” Kaelyn bertanya sambil membuka lembar demi lembar album foto yang berada di pangkuannya. Matanya berbinar melihat deretan potret lama sang ibu dalam balutan seragam pramugari. Ada foto Sasqia sedang berdiri di dalam kabin pesawat, tersenyum di dekat pintu pesawat, hingga beberapa potret bersama rekan-rekan kerjanya. Sasqia yang duduk di samping putrinya tersenyum kecil. Tangannya terulur, membelai rambut panjang Kaelyn. “Iya, sayang. Dulu Mama bekerja sebagai pramugari.” “Mama cantik banget.” Kaelyn menatap sebuah foto Sasqia cukup lama. Namun, beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajah dan membandingkan foto itu dengan wajah sang ibu yang kini berada di hadapannya. “Tapi ….” Sasqia mengangkat sebelah alis. “Tapi apa?” “Masih cantikan Elyn.” Sontak
Lima tahun kemudian. “PAPAAA!” Suara nyaring seorang anak perempuan memecah kesunyian rumah sejak pagi hari. Kaelix yang baru saja keluar dari kamar langsung menghentikan langkahnya. Belum sempat ia bertanya apa yang terjadi, sepasang kaki kecil sudah berlari menyusuri lorong. “Papa!” Seorang gadis kecil berambut panjang itu langsung menabrak tubuhnya. Kaelix refleks membungkukkan tubuh, lalu menangkap putrinya sebelum gadis kecil itu kehilangan keseimbangan. “Pelan-pelan,” tegurnya. Kaelyn Adisthy Valerio mendongakkan wajah. “Papa lama banget bangunnya.” Kaelix mengangkat sebelah alisnya. “Sekarang Papa yang disalahkan?” “Iya.” Jawaban polos itu membuat sudut bibir Kaelix terangkat. Lima tahun telah berlalu sejak kelahiran putri kecil
“Aku serius, Mas. Kalau kamu gak mau cerita, malam ini kamu tidur di luar. Nggak boleh tidur di samping aku, gak boleh peluk aku, bahkan gak boleh cium aku.” Sasqia berdiri berkacak pinggang di hadapan sang suami. Tatapannya menyipit tajam, sementara Kaelix yang baru saja selesai mengganti pakaian hanya bisa menghembuskan napas panjang. Pria itu kini mengenakan piyama rumah. Rambutnya masih sedikit basah, sepertinya baru selesai membersihkan diri. Namun, sejak keluar dari kamar Kaelyn hingga kembali ke kamar mereka, Sasqia masih belum menyerah. Ia tetap menginginkan jawaban. “Sayang ….” “Aku serius, Mas,” potong Sasqia dengan tegas. “Jangan panggil aku sayang kalau ujung-ujungnya kamu tetap gak mau cerita.” Kaelix menatap istrinya dalam diam. “Itu tidak penting untuk dibahas.” “Tapi penting buat aku.” “Sasqia—”
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Su
“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di
Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perla







