공유

BAB 04

작가: Langit Parama
last update 최신 업데이트: 2026-02-18 14:40:05

Sasqia menatap kartu itu, lalu mengangkat pandangannya perlahan.

“Kapten … ini tidak perlu,” ucapnya pelan. “Saya bisa menginap di hotel kru.”

“Kamu butuh istirahat,” jawab Tristan tenang. “Dan di sini lebih aman.”

“Aman?” Sasqia mengernyit kecil.

Tristan menatapnya lurus. “Dan lebih dekat jika sewaktu-waktu kamu membutuhkan sesuatu.”

Kalimat itu sederhana. Tidak ada nada berlebihan. Namun justru itu yang membuat Sasqia tercekat. Ia ragu sejenak, lalu akhirnya menerima kartu itu dengan tangan sedikit gemetar.

“Terima kasih, Kapten,” ucapnya lirih.

Tristan mengangguk singkat. “Istirahatlah. Kita terbang lagi besok malam.”

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Tristan berbalik dan melangkah menuju lift. Punggungnya tegap, langkahnya mantap, seolah tak ada hal yang perlu dibicarakan lebih jauh.

Sasqia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia segera menyusul, berdiri beberapa langkah di belakang Tristan.

Di dalam lift yang sunyi, hanya suara dengung mesin yang mengisi ruang sempit itu. Tak ada percakapan. Tak ada tatapan. Jarak di antara mereka terasa ganjil—dekat, tapi tetap terjaga.

Setibanya di lantai atas, mereka berjalan menyusuri koridor tebal berkarpet empuk. Kamar mereka saling berhadapan.

Sebelum masuk, Sasqia berhenti sejenak.

“Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih, Kapten,” ucapnya pelan, tulus.

Tristan yang sudah membuka pintunya hanya melirik sekilas dari balik bahu. “Sama-sama,” jawabnya singkat, lalu masuk dan menutup pintu.

Klik.

Sasqia berdiri beberapa detik di tempatnya sebelum akhirnya masuk ke kamar miliknya.

Ruangan itu luas. Terlalu luas untuk kru biasa sepertinya. Lampu kristal, ranjang king size dengan seprai putih bersih, dan aroma lembut pengharum ruangan menyambutnya.

Ia menutup pintu perlahan, lalu bersandar sejenak.

“Kenapa Kapten sebaik ini?” gumamnya lirih.

Langkahnya mendekat ke ranjang. Jemarinya mengusap seprai halus itu, nyaris tak percaya ia boleh menginap di tempat semewah ini.

“Kalau kamar ini diuangkan …,” ia tersenyum hambar, “Mungkin bisa buat setengah biaya rumah sakit Papa.”

Seketika wajahnya berubah. “Mama.” Ia buru-buru meraih ponsel dari saku blazer dan menekan nama yang sama seperti tadi.

Panggilan tersambung.

“Halo, Ma.”

“Qia, kamu belum kirim uangnya?” suara ibunya terdengar tajam, tanpa sapaan.

Sasqia menarik napas pelan, menahan diri. “Ma, Qia mau tanya dulu. Uang yang Qia kirim tiga hari lalu itu … udah habis?”

“Habis. Sekarang Papa kamu butuh tindakan lagi. Dokter bilang kondisinya menurun.”

“Tapi tiga hari lalu Mama bilang itu untuk bayar rumah sakit Papa. Qia kirim dua puluh lima juta, Ma.” Suaranya mulai bergetar.

“Iya, waktu itu biayanya belum sebanyak itu. Jadi Mama pakai sebagian untuk keperluan lain.”

“Keperluan lain?” ulang Sasqia pelan.

“Untuk ulang tahun Sherly. Besok dia ulang tahun. Masa cucu Mama dirayakan biasa-biasa saja? Kamu juga jangan lupa kirim hadiah yang bagus.”

Sasqia terdiam.

Beberapa detik.

Lalu sesuatu di dalam dirinya retak.

“Ma …,” suaranya tak lagi setenang tadi. “Itu uang rumah sakit Papa.”

“Papa kamu belum butuh sebanyak itu waktu itu!”

“Dua puluh lima juta, Ma!” kali ini suaranya meninggi tanpa bisa ia tahan. “Ulang tahun seperti apa sampai habis puluhan juta?”

“Qia kumpulin uang itu dari menyisihkan gaji sedikit demi sedikit. Qia bayar kos sendiri. Qia kirim uang bulanan ke Mama. Qia bahkan makan mie instan tiap hari supaya bisa nabung!”

“Jangan membesar-besarkan masalah!” desis ibunya di seberang sana.

“Qia hampir kena skors cuma karena berat badan naik sedikit!” lanjutnya, napasnya memburu. “Qia jaga penampilan, jaga kerjaan, jaga semuanya supaya tetap bisa kirim uang buat Papa. Dan Mama pake untuk pesta ulang tahun?”

“Sherly itu keponakan kamu!”

“Dia punya Papa dan Mamanya sendiri, Ma!” suara Sasqia bergetar, antara marah dan terluka. “Kenapa bukan mereka yang membiayai? Kenapa harus uang Papa? Uang pengobatan Papa?”

Di seberang sana terdengar helaan napas kasar. “Kamu sekarang sudah berani membantah orang tua?”

Sasqia terdiam.

“Durhaka sekali kamu, Qia. Mama cuma minta sedikit. Kamu kerja di maskapai besar, menginap di hotel yang nyaman, naik pesawat ke luar negeri. Masa bantu keluarga sendiri saja berat?”

Air mata Sasqia akhirnya jatuh.

“Mama gak tahu gimana Qia hidup di sini,” bisiknya lirih. “Mama gak tahu.”

“Sudah. Jangan banyak alasan. Kalau Papa kamu kenapa-kenapa karena telat tindakan, itu tanggung jawab kamu.”

Panggilan itu terputus.

Sasqia menatap layar ponselnya yang gelap. Tangannya gemetar.

Perlahan ia terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang mewah yang tadi terasa begitu indah, kini semuanya terasa hampa.

Uang di rekeningnya hampir tak tersisa. Besok malam ia baru terbang kembali. Dan ayahnya, mungkin tak punya waktu sebanyak itu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 10

    Sasqia baru saja tiba di kamar kosnya setelah dari rumah sakit. Ia belum sempat bertemu langsung dengan ayahnya. Dokter Jevier memintanya kembali setelah beristirahat usai bekerja, mengingat ia baru saja menempuh penerbangan panjang. Lagipula, saat ia sempat mengintip ke ruang rawat, sang ayah masih terlelap. Pria paruh baya itu memang sering terjaga sepanjang malam, dan baru bisa tidur ketika pagi menjelang. Sasqia membuka koper perlahan. Di antara lipatan pakaian, ia mengeluarkan sebuah kotak mainan. Boneka beruang berwarna krem dengan syal kecil bergambar Menara Eiffel, serta sebuah kotak musik balerina berwarna merah muda yang anggun. “Semoga Sherly suka,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. “Nanti sore aku ke rumah untuk kasih ini ke dia. Setelah itu, jenguk Papa lagi ke rumah sakit.” Pandangannya beralih ke kasur sederhana di sudut kamar. “Sekarang istirahat dulu,” katanya pada diri sendiri, lalu tersenyum kecil. “Tapi mandi dulu, deh.” Sebelum masuk ke kamar mandi, Sa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 09

    “Kapten?” bisik Sasqia lirih. Matanya mengerjap pelan, menatap pria yang kini berdiri begitu dekat di hadapannya. Jarak wajah mereka hanya satu tarikan napas. Tristan menelan ludah berat. Jakunnya naik turun jelas. Pandangannya sempat jatuh pada bibir Sasqia, bibir yang beberapa detik lalu tanpa izin telah ia kecup—sebelum akhirnya beralih ke mata indah wanita itu. “Maaf, saya lupa diri. Saya pikir kamu mantan saya,” ucapnya, suaranya rendah namun tegas. Ia kembali menegakkan punggungnya, memberi jarak yang semestinya. “Jika kamu merasa keberatan, kamu berhak menuntut saya atas pelecehan.” Mulut Sasqia terbuka, namun tak satu pun kata keluar. Ia hanya menelan ludah, dadanya naik turun tak beraturan. “Tidak perlu, Kapten,” katanya akhirnya. “Karena Kapten tidak sengaja atau bermaksud apa-apa.” “Tidak, Sasqia,” ucap Tristan tenang, namun sorot matanya serius. “Saya tetap bersalah. Apa yang bisa saya lakukan untuk menebusnya?” “Kapten …,” Sasqia menunduk sejenak, seolah menimbang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 08

    Di restoran hotel Paris itu, Tristan duduk seorang diri, menunggu Sasqia menyusul. Baru tiga menit berlalu sejak ia mengambil tempat, sementara secangkir teh hangat yang dipesannya baru saja tiba. “Silakan menikmati teh hangatnya, Tuan.” Tristan mengangguk singkat saat pramusaji meletakkan cangkir di hadapannya. Jemarinya meraih porselen putih itu, meniup pelan uap tipis yang mengepul, lalu menyeruput sedikit. Aromanya lembut, rasanya pas—tidak terlalu pahit, tidak pula manis. “Saya sempat mengira salah orang,” ucap sebuah suara dari sisi kanannya. “Ternyata benar, adikku ada di sini.” Tanpa menoleh, Tristan sudah mengenali siapa pemilik suara itu. Kaelix Enver Valerio—kakak kandungnya, sekaligus CEO Maskapai EBA. Kaelix berdiri santai di sampingnya, kedua tangan masuk ke saku celana, senyum miring menghiasi wajah tampannya. Ia lalu menarik kursi di hadapan Tristan dan duduk, seolah kehadirannya tak perlu izin. “Sudah lama kita tidak sarapan bersama,” ujarnya ringan. “Sejak sa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 07

    Bra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Sasqia mengerang pelan di dalam mulutnya dan Kaelix, saat payudaranya terbebas, menggantung indah. Kaelix langsung meremasnya, bukan kasar, tapi penuh nafsu yang terkendali. Jempolnya memilin puting yang sudah mengeras, membuat Sasqia menggeliat dan mencengkeram bahu Kaelix lebih erat. “Ahh ... pelan-pelan,” desahnya Sasqia lirih, membuat Kaelix tersenyum tipis. Kaelix mengangkat tubuh Sasqia dengan mudah, membawanya ke ranjang king-size yang sudah siap dengan seprai putih bersih. Sasqia terbaring di sana, napasnya tersengal, matanya setengah terpejam karena malu dan hasrat yang mulai membara tanpa diduga. Kaelix melepas bathrobe-nya. Tubuhnya telanjang sempurna, otot perutnya yang kotak-kotak terukir jelas, garis V sampai ke pangkal pahanya, rapi seperti dipahat. Bisepnya mengencang setiap kali ia bergerak, menunjukkan seberapa kuat pria itu sebenarnya, dada bidang, dan batangnya yang sudah tegak sempurna, tebal dan panjang, ujungnya sudah b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 06

    Mulut Sasqia ternganga. Matanya melebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Kaelix. “Anda … Anda sedang membeli saya?” suaranya bergetar, antara marah dan terluka. Kaelix tersenyum tipis. Ia sedikit membungkukkan punggung tegapnya, mendekat hingga suaranya jatuh tepat di dekat telinga Sasqia. Bibir pria itu nyaris menyentuh daun telinganya. “Saya menawarkan pertukaran yang adil,” bisiknya tenang. “Kamu butuh uang. Saya hanya butuh teman untuk menghabiskan malam dingin di Paris.” Ia kembali berdiri tegak, seolah pembicaraan barusan hanyalah urusan bisnis biasa. Sasqia tersinggung. Dadanya naik turun cepat. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tajam. “Maaf,” ucapnya tegas. “Saya bukan wanita seperti itu. Saya punya harga diri. Saya tidak menjual diri saya untuk uang.” Belum sempat Kaelix menanggapi, ponsel Sasqia yang tergeletak di atas meja bergetar, layar menyala menampilkan panggilan masuk. Keduanya refleks menoleh. Nomor rumah sakit. Nama dokter yang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 05

    Setiap kali Sasqia memejamkan mata, yang terbayang justru ruang perawatan rumah sakit—wajah pucat ayahnya, suara mesin medis yang berdengung pelan. Ia sudah mencoba mencari pinjaman. Menghubungi beberapa teman, bahkan membuka aplikasi pinjaman daring. Namun nominal yang dibutuhkan terlalu besar, dan waktunya terlalu sempit. “Mungkin pergi sebentar ke bar bisa bikin kepala lebih ringan,” gumamnya pelan. Ia bangkit dari ranjang, menatap sekeliling kamar yang elegan itu. Lampu temaram, karpet lembut, tirai panjang dengan pemandangan kota Paris yang berkilau di kejauhan. “Kemewahan seperti ini pun gak ada artinya kalau Papa kesakitan,” bisiknya lirih. Sasqia mengusap wajahnya pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Ia tak merias wajah, tak pula mengganti pakaian tidurnya yang sederhana. Hanya mengenakan long coat tebal berwarna krem untuk menutupi piyama tipisnya, lalu keluar dari kamar. Hotel itu memiliki tiga bar berbeda, namun ia memilih rooftop bar—ingin merasakan angin mala

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status