MasukSasqia menatap kartu itu, lalu mengangkat pandangannya perlahan.
“Kapten … ini tidak perlu,” ucapnya pelan. “Saya bisa menginap di hotel kru.” “Kamu butuh istirahat,” jawab Tristan tenang. “Dan di sini lebih aman.” “Aman?” Sasqia mengernyit kecil. Tristan menatapnya lurus. “Dan lebih dekat jika sewaktu-waktu kamu membutuhkan sesuatu.” Kalimat itu sederhana. Tidak ada nada berlebihan. Namun justru itu yang membuat Sasqia tercekat. Ia ragu sejenak, lalu akhirnya menerima kartu itu dengan tangan sedikit gemetar. “Terima kasih, Kapten,” ucapnya lirih. Tristan mengangguk singkat. “Istirahatlah. Kita terbang lagi besok malam.” Tanpa mengatakan apa pun lagi, Tristan berbalik dan melangkah menuju lift. Punggungnya tegap, langkahnya mantap, seolah tak ada hal yang perlu dibicarakan lebih jauh. Sasqia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia segera menyusul, berdiri beberapa langkah di belakang Tristan. Di dalam lift yang sunyi, hanya suara dengung mesin yang mengisi ruang sempit itu. Tak ada percakapan. Tak ada tatapan. Jarak di antara mereka terasa ganjil—dekat, tapi tetap terjaga. Setibanya di lantai atas, mereka berjalan menyusuri koridor tebal berkarpet empuk. Kamar mereka saling berhadapan. Sebelum masuk, Sasqia berhenti sejenak. “Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih, Kapten,” ucapnya pelan, tulus. Tristan yang sudah membuka pintunya hanya melirik sekilas dari balik bahu. “Sama-sama,” jawabnya singkat, lalu masuk dan menutup pintu. Klik. Sasqia berdiri beberapa detik di tempatnya sebelum akhirnya masuk ke kamar miliknya. Ruangan itu luas. Terlalu luas untuk kru biasa sepertinya. Lampu kristal, ranjang king size dengan seprai putih bersih, dan aroma lembut pengharum ruangan menyambutnya. Ia menutup pintu perlahan, lalu bersandar sejenak. “Kenapa Kapten sebaik ini?” gumamnya lirih. Langkahnya mendekat ke ranjang. Jemarinya mengusap seprai halus itu, nyaris tak percaya ia boleh menginap di tempat semewah ini. “Kalau kamar ini diuangkan …,” ia tersenyum hambar, “Mungkin bisa buat setengah biaya rumah sakit Papa.” Seketika wajahnya berubah. “Mama.” Ia buru-buru meraih ponsel dari saku blazer dan menekan nama yang sama seperti tadi. Panggilan tersambung. “Halo, Ma.” “Qia, kamu belum kirim uangnya?” suara ibunya terdengar tajam, tanpa sapaan. Sasqia menarik napas pelan, menahan diri. “Ma, Qia mau tanya dulu. Uang yang Qia kirim tiga hari lalu itu … udah habis?” “Habis. Sekarang Papa kamu butuh tindakan lagi. Dokter bilang kondisinya menurun.” “Tapi tiga hari lalu Mama bilang itu untuk bayar rumah sakit Papa. Qia kirim dua puluh lima juta, Ma.” Suaranya mulai bergetar. “Iya, waktu itu biayanya belum sebanyak itu. Jadi Mama pakai sebagian untuk keperluan lain.” “Keperluan lain?” ulang Sasqia pelan. “Untuk ulang tahun Sherly. Besok dia ulang tahun. Masa cucu Mama dirayakan biasa-biasa saja? Kamu juga jangan lupa kirim hadiah yang bagus.” Sasqia terdiam. Beberapa detik. Lalu sesuatu di dalam dirinya retak. “Ma …,” suaranya tak lagi setenang tadi. “Itu uang rumah sakit Papa.” “Papa kamu belum butuh sebanyak itu waktu itu!” “Dua puluh lima juta, Ma!” kali ini suaranya meninggi tanpa bisa ia tahan. “Ulang tahun seperti apa sampai habis puluhan juta?” “Qia kumpulin uang itu dari menyisihkan gaji sedikit demi sedikit. Qia bayar kos sendiri. Qia kirim uang bulanan ke Mama. Qia bahkan makan mie instan tiap hari supaya bisa nabung!” “Jangan membesar-besarkan masalah!” desis ibunya di seberang sana. “Qia hampir kena skors cuma karena berat badan naik sedikit!” lanjutnya, napasnya memburu. “Qia jaga penampilan, jaga kerjaan, jaga semuanya supaya tetap bisa kirim uang buat Papa. Dan Mama pake untuk pesta ulang tahun?” “Sherly itu keponakan kamu!” “Dia punya Papa dan Mamanya sendiri, Ma!” suara Sasqia bergetar, antara marah dan terluka. “Kenapa bukan mereka yang membiayai? Kenapa harus uang Papa? Uang pengobatan Papa?” Di seberang sana terdengar helaan napas kasar. “Kamu sekarang sudah berani membantah orang tua?” Sasqia terdiam. “Durhaka sekali kamu, Qia. Mama cuma minta sedikit. Kamu kerja di maskapai besar, menginap di hotel yang nyaman, naik pesawat ke luar negeri. Masa bantu keluarga sendiri saja berat?” Air mata Sasqia akhirnya jatuh. “Mama gak tahu gimana Qia hidup di sini,” bisiknya lirih. “Mama gak tahu.” “Sudah. Jangan banyak alasan. Kalau Papa kamu kenapa-kenapa karena telat tindakan, itu tanggung jawab kamu.” Panggilan itu terputus. Sasqia menatap layar ponselnya yang gelap. Tangannya gemetar. Perlahan ia terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang mewah yang tadi terasa begitu indah, kini semuanya terasa hampa. Uang di rekeningnya hampir tak tersisa. Besok malam ia baru terbang kembali. Dan ayahnya, mungkin tak punya waktu sebanyak itu.“Ada apa, Martha?” tanya Miriam ketika melihat asisten pribadinya datang tergesa-gesa siang itu. Martha menutup pintu ruang kerja lebih dulu sebelum melangkah mendekat. Raut wajahnya tampak serius. “Saya baru mendapat informasi, Nyonya.” Miriam meletakkan cangkir tehnya di atas meja. “Informasi apa?” “Tuan Kaelix membawa Nyonya Sasqia ke rumah sakit pagi tadi.” Alis Miriam langsung bertaut. “Rumah sakit?” “Iya, Nyonya.” “Untuk apa?” “Pemeriksaan kandungan.” Martha menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Tuan Kaelix ingin memastikan kondisi rahim istrinya setelah mengonsumsi pil kontrasepsi.” Jari-jari Miriam yang semula tenang di atas meja perlahan menegang. “Apa ... apa Kael juga tahu kalau saya—” “Tidak.” Martha buru-buru menggeleng. “Setidaknya sampai informasi yang saya dapat, Tuan Kaelix belum mengetahui siapa yang berada di balik semua itu.” “Dan ... Nyonya Sasqia juga tidak pernah menyebut nama Anda sampai detik ini.” Helaan napas panjang akhirnya keluar dari b
“Apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Tristan dingin. Jevier yang sedang menuangkan segelas air minum menghentikan gerakannya. Ia menoleh sekilas ke arah sang kakak. “Maksudnya?” “Memeluk Sana.” Nada bicara Tristan terdengar datar, tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih tajam. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Atau ... kamu mulai ingin mengakui kalau dia anak kandungmu?” Jevier terkekeh pelan, seolah menganggap ucapan itu tak lebih dari lelucon. “Saya hanya memeriksa pasien.” “Pasien?” Tristan menyandarkan bahunya pada kusen pintu. “Sana tidak sakit separah itu.” “Dia demam sejak kemarin.” Jevier menjawab tanpa nada emosi. “Pagi tadi saya memeriksanya. Sebagai dokter, kalau ada orang sakit di depan mata saya, tentu saya akan membantu.” Tristan mendengus pelan. “Aneh.” “Apa yang aneh?” Jevier menyipitkan matanya. “Barusan Sana bilang dia sehat-sehat saja.” “Itu karena dia tidak ingin kamu khawatir.” Jevier menatap lurus ke arah kakaknya. “Dia sendiri yang bila
“Mas ... udah gak marah sama aku?” tanya Sasqia pelan. Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan bandara, membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan menjelang sore. Kaelix, yang duduk di sampingnya, menoleh sekilas. “Sejak kapan saya marah sama kamu?” Sasqia tersenyum tipis. “Maksudnya ... masih kecewa.” Tak ada jawaban. Kaelix kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan deretan gedung pencakar langit berganti satu demi satu. Melihat tak ada respons, senyum Sasqia perlahan memudar. “Berarti ... Mas masih kecewa sama aku, ya?” Keheningan kembali menyelimuti mobil. Beberapa detik kemudian, Kaelix akhirnya membuka suara. “Apa kamu benar-benar sudah berhenti minum obat itu?” Pertanyaan itu membuat Sasqia langsung menoleh. “Udah, Mas.” Ia mengangguk cepat. “Aku benar-benar udah berhenti.” Tanpa ragu, ia meraih kedua tangan suaminya dan menggenggamnya erat. “Aku mau punya anak dari Mas.” Tatapan Kaelix jatuh pada jemari kecil yang menggenggam tan
“Om Jev ....” Langkah Jevier yang semula hendak menuju ruang kerjanya terhenti. Ia menoleh ke arah kamar Sana yang pintunya terbuka sedikit. Tanpa banyak berpikir, ia mengubah arah langkahnya. Di atas ranjang, Sana terbaring di balik selimut tebal. Wajah mungilnya tampak pucat, sementara sebuah kompres penurun demam menempel di dahinya. “Kamu kenapa?” tanya Jevier pelan sembari mendekat. “Sana sakit, Om,” jawab gadis kecil itu lirih. “Om, kan, dokter. Periksa Sana, ya, biar cepet sembuh.” Jevier tersenyum tipis. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sana. Masih hangat. “Sudah diperiksa dokter?” Sana mengangguk pelan. “Udah. Kata Nenek cuma demam biasa.” “Kamu sudah minum obat?” “Udah.” “Kalau begitu tinggal istirahat. Besok juga pasti lebih enakan.” Sana menghembuskan napas pelan. “Sana gak mau sakit lama-lama.” “Kenapa?” Jevier mengernyitkan alisnya. “Nanti Papa Tristan sedih kalau pulang kerja lihat Sana masih demam.” Senyum di wajah Je
“Mama ... bajunya bagus.” Sherly bertepuk tangan kecil melihat ibunya yang pagi itu sudah berdiri rapi dengan seragam barunya. “Mama jadi cantik.” Shiren tersenyum lebar. Ia merapikan kerah seragamnya, lalu berputar pelan di depan putrinya. “Iya, dong. Sekarang Mama udah naik jabatan. Jadi seragamnya juga beda.” Sherly mengangguk kagum. “Lebih bagus daripada yang dulu.” “Ya harus, dong,” sahut Shiren dengan nada bangga. “Sekarang Mama udah bukan office girl lagi.” Bocah itu tersenyum semakin lebar. “Berarti gaji Mama banyak?” Shiren terkekeh pelan, lalu berjongkok hingga sejajar dengan tinggi putrinya. “Iya. Kenapa memangnya? Kamu mau dibeliin apa?” Sherly mengerucutkan bibir, berpikir cukup lama. Matanya kemudian berbinar. “Sherly mau Papa pulang.” Senyum di wajah Shiren perlahan menghilang. “Papa?” “Iya.” Sherly mengangguk polos. “Sekarang Papa juga udah kerja lagi, kan? Terus Mama juga udah kerja yang bagus. Jadi Papa gak usah capek-capek kerja terus. Papa bisa tinggal
Sasqia baru saja selesai membersihkan diri di suite baru yang disiapkan Kaelix. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sunyi. Tak ada sosok suaminya. “Mas ...?” panggilnya pelan. Rambut panjangnya masih setengah basah, beberapa helainya menempel di pipi. Bathrobe putih yang dikenakannya membungkus tubuh mungilnya dengan rapi. Tak lama kemudian pintu suite terbuka. Kaelix melangkah masuk dengan wajah setenang biasanya. “Mas dari mana?” tanya Sasqia sambil menghampirinya. “Dari luar,” jawab Kaelix singkat. Ia berjalan melewati sang istri menuju sofa, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sebentar lagi makan malam. Kita makan di kamar saja.” Sasqia mengangguk kecil. “Iya, Mas.” Ia kemudian membuka koper, mengambil pakaian bersih, lalu duduk di depan meja rias. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Kaelix melalui pantulan cermin. Sementara itu, Kaelix duduk tenang di sofa. Tatapannya sesekali mengikuti setiap gerakan sang istri yang
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?







