Share

BAB 148

Author: Langit Parama
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-11 00:02:03

Setetes darah segar mengalir dari sudut bibir Kaelix. Namun alih-alih marah atau membalas, pria itu hanya memiringkan wajahnya sedikit.

Tatapannya perlahan kembali terangkat pada Tristan, tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipukul.

“Kamu memukul saya, Tris?” tanyanya pelan. Nada suaranya rendah, nyaris tak menunjukkan emosi apa pun.

Tristan berdiri tegak dengan dada naik turun. “Itu belum seberapa untuk mulutmu yang kurang ajar, Kael.”

Kaelix menyipitkan mata. “Kurang aja
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Milena
ngaku gak yaaaaa, klo tristan terima dan gak berubah ke sasqia berarti cinta mati....sekali2 lah sm pilot, cerita sm ceo ud banyak xixixiii
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 148

    Setetes darah segar mengalir dari sudut bibir Kaelix. Namun alih-alih marah atau membalas, pria itu hanya memiringkan wajahnya sedikit. Tatapannya perlahan kembali terangkat pada Tristan, tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipukul. “Kamu memukul saya, Tris?” tanyanya pelan. Nada suaranya rendah, nyaris tak menunjukkan emosi apa pun. Tristan berdiri tegak dengan dada naik turun. “Itu belum seberapa untuk mulutmu yang kurang ajar, Kael.” Kaelix menyipitkan mata. “Kurang ajar?” “Iya.” Tristan melangkah maju satu langkah. “Kamu terus membawa-bawa wanita yang sudah meninggal. Menghina wanita yang sudah hamil dan melahirkan anakmu. Dan sekarang kamu tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri.” Rahangnya mengeras. “Jadi, ya. Itu pantas kamu dapatkan.” Kaelix perlahan mengangkat tangannya, menyeka darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Saat melihat noda merah di kulitnya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang membuat suasana semaki

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 147

    “Akhir-akhir ini kamu lebih sering berada di rumah ini,” ucap Tristan sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menyorot ke arah Kaelix. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Apa ada sesuatu yang sedang kamu pastikan, Kael?” Suasana meja makan mendadak terasa lebih dingin. Miriam menghela napas pelan. “Rumah ini juga rumah Kael, Tris,” tegurnya. “Dia anak Ayah dan Ibu. Tidak ada yang salah jika dia pulang.” Tatapannya beralih pada suami dan ketiga putranya secara bergantian. “Justru Ibu senang melihat kalian berkumpul seperti ini. Orang tua, anak-anaknya, kakak dan adik dalam satu meja makan.” “Tapi bukan itu alasan Kaelix pulang, kan?” balas Tristan tenang. Kaelix yang sejak tadi menikmati kopinya akhirnya mengangkat pandangan. “Saya datang karena Ibu yang meminta.” Tristan terkekeh pelan. “Dari dulu Ibu juga sering meminta kamu pulang. Tapi apa pernah dituruti?” Ia menggeleng. “Tidak, kan?” Rahang Kaelix mengeras sesaat. “Itu karena saya baru menyadari satu hal.” Tatapa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 146

    “Tante Sasqia cantik dan baik,” celetuk Sana riang dari kursi samping kemudi sambil memeluk boneka kesayangannya. Tristan yang sedang menyetir melirik sekilas ke arah bocah itu. Senyum tipis terulas di bibirnya. “Kamu suka Tante Sasqia?” Sana langsung mengangguk cepat. “Suka. Pokoknya Sana suka semua yang Papa suka.” Ia tersenyum lebar. “Kalau Papa suka, berarti orangnya baik.” Tristan terkekeh pelan. “Kalau Papa gak suka?” godanya. “Nah, kalau Papa gak suka ...,” Sana berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Sana juga gak suka.” Tristan mengangkat satu alis. “Oh ya?” “Iya.” Sana mengangguk mantap. “Sama kayak Mama Yo—” Kalimatnya terputus. Bocah itu buru-buru menggeleng. “Eh, salah. Tante Yola maksudnya.” Senyum Tristan perlahan memudar. “Kenapa dengan Tante Yola?” tanyanya tenang, meski nada suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Sana memainkan jari-jarinya yang mungil. “Papa gak suka Tante Yola, kan? Jadi Sana juga gak suka.” Tristan menghembuskan napas panjang. “Sa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 145

    Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih hening dibandingkan saat mereka berangkat. Sasqia yang duduk di kursi belakang sesekali melirik ke arah sang ayah. Sejak mereka meninggalkan restoran, Mahendra lebih banyak diam sambil menatap jalan raya di luar jendela. Tidak ada senyum. Tidak ada candaan. Pria itu hanya tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Pa ....” Sasqia akhirnya memanggil pelan. Mahendra yang sejak tadi menatap keluar jendela langsung menoleh. “Iya?” Sasqia meraih tangan sang ayah yang berada di atas pangkuannya. “Papa dari tadi diem terus.” Mahendra tersenyum tipis. “Memangnya tidak boleh diam?” “Boleh.” Sasqia mengerucutkan bibirnya. “Tapi bukan diem yang kayak gini.” “Kayak gimana?” “Kayak lagi mikirin sesuatu.” Mahendra terkekeh pelan. “Perasaan kamu terlalu peka.” “Papa ngomong apa aja sama Mas Tristan waktu aku sama Sana ke toilet?” Pertanyaan itu membuat Mahendra terdiam sejenak. Ia menatap wajah putrinya beberapa saat sebelum menghela napas perlahan.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 144

    “Maaf jika saya lancang,” ucap Mahendra hati-hati. “Tapi saya sulit percaya kalau seseorang seperti kakak Anda bisa menelantarkan anak kandungnya sendiri.” Tatapan Tristan perlahan menggelap. “Ayah biologis Sana bukan pria yang baik, Pak.” Mahendra terdiam. “Sedangkan kakak saya ...,” Tristan berhenti sejenak. “Dia hanya terlalu membenci ibunya.” Suasana meja mendadak sunyi. Tak ada suara selain dentingan alat makan dari meja lain. Mahendra perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun justru semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya. Tristan kembali membuka suara. “Sebenarnya ada satu hal lagi yang belum diketahui banyak orang tentang Sana.” Mahendra langsung menatapnya. “Apa itu?” Tatapan Tristan perlahan berubah tajam. “Identitas ayah kandungnya yang sebenarnya.” “Baiklah,” ucap Mahendra setelah beberapa saat terdiam. “Kita lupakan dulu pembahasan tentang Sana.” Tristan mengangguk pelan. “Di sini seharusnya saya yang bertanya mengenai keseriusan Anda terhadap a

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 143

    “Kamu tidak bilang kalau akan membawa Papa kamu.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Tristan begitu ia duduk di kursi sebelah Sana membuat Sasqia tersentak kecil. Wanita itu langsung tersenyum kikuk. “Dadakan, Mas.” Ia menggaruk pelipisnya pelan. “Maaf. Saya cuma kepikiran sekalian aja. Biar Mas sama Papa bisa kenalan langsung.” Sasqia melirik Mahendra yang sejak tadi memperhatikan Tristan dengan saksama. “Papa juga dari kemarin penasaran pengen ketemu Mas.” Sudut bibir Tristan terangkat tipis. “Untung saya sudah siap bertemu dengan Papa kamu.” Mahendra ikut tersenyum kecil. “Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya.” Tristan menoleh. “Di mana, ya?” “Rumah sakit.” Mahendra menyipitkan mata, berusaha mengingat. “Kalau tidak salah, waktu saya kontrol.” Sasqia langsung mengangguk antusias. “Oh iya!” Ia menepuk dahinya sendiri. “Waktu itu aku yang antar Papa ke rumah sakit.” Tristan akhirnya mengingat. “Benar. Sepertinya memang pernah.” Mahendra mengangguk pelan sebelum me

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 43

    “Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 44

    Mobil Tristan akhirnya berhenti di depan kost putri milik Sasqia, wanita yang malam ini resmi menjadi kekasihnya. “Terima kasih, Kapten. Sudah mengantar saya, dan mentraktir makan malam juga,” ucap Sasqia tulus. “Kapten?” gumam Tristan rendah. “Saya kekasih kamu mulai malam ini, tidak ada pangg

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status