Share

BAB 148

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-06-11 00:02:03

Setetes darah segar mengalir dari sudut bibir Kaelix. Namun alih-alih marah atau membalas, pria itu hanya memiringkan wajahnya sedikit.

Tatapannya perlahan kembali terangkat pada Tristan, tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipukul.

“Kamu memukul saya, Tris?” tanyanya pelan. Nada suaranya rendah, nyaris tak menunjukkan emosi apa pun.

Tristan berdiri tegak dengan dada naik turun. “Itu belum seberapa untuk mulutmu yang kurang ajar, Kael.”

Kaelix menyipitkan mata. “Kurang aja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Milena
ngaku gak yaaaaa, klo tristan terima dan gak berubah ke sasqia berarti cinta mati....sekali2 lah sm pilot, cerita sm ceo ud banyak xixixiii
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 304

    Ruang tamu mendadak terasa begitu sunyi setelah mobil polisi meninggalkan halaman rumah. Kaelix dan Mahendra kini duduk saling berhadapan. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun yang membuka suara. Kaelix akhirnya memecah keheningan. “Sekali lagi saya minta maaf, Pa.” Mahendra mengangkat pandangannya. “Saya sudah membuat keributan di rumah ini. Saya juga sadar, apa yang saya lakukan mungkin terlihat berlebihan.” Kaelix menghembuskan napas pelan. “Saya melaporkan istri dan anak Papa sendiri kepada pihak kepolisian. Saya tahu keputusan ini berat. Apalagi Shiren masih memiliki Sherly. Anak itu sudah kehilangan ayahnya, dan sekarang harus melihat ibunya dibawa ke kantor polisi.” Tatapan Kaelix perlahan menunduk. “Percayalah, Pa. Ini bukan keputusan yang saya ambil karena emosi. Saya hanya ingin memberikan keadilan untuk istri saya. Saya juga ingin mencari tahu siapa yang harus bertanggung jawab.” Rahangnya mengeras. “Suami mana yang bisa diam ketika melihat istrinya menderita sela

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 303

    Sore mulai berganti malam. Lampu-lampu taman di halaman rumah telah menyala sejak beberapa menit lalu. Namun, sosok yang ditunggu Sasqia tak kunjung muncul. Wanita itu berdiri di teras rumah sambil sesekali melongok ke arah gerbang. “Mas Kael kok belum pulang, ya?” gumamnya pelan. Ia melirik layar ponselnya. Jarum jam sudah melewati waktu kepulangan sang suami. “Biasanya kalau ada rapat atau lembur, Mas pasti ngabarin.” Keningnya berkerut tipis “Atau ... jangan-jangan masih ada urusan di kantor?” Sasqia menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum sendiri. “Aneh. Baru beberapa jam gak ketemu aja aku udah sekangen ini.” Padahal mereka baru saja pulang dari Swiss. Baru semalam mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Namun entah mengapa, ia tetap ingin segera melihat wajah sang suami. Tanpa berpikir panjang, Sasqia menekan nama Mas Kael di layar ponselnya. Beberapa detik berlalu, panggilan itu tidak tersambung. ‘Nomor yang Anda tuju sedang berada dalam panggilan lain.’ Sasqia me

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 302

    Shiren menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat. Baru setelah itu ia menghembuskan napas panjang, seolah beban besar baru saja terlepas dari pundaknya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi, lalu menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. “Untung aja,” gumamnya lirih. “Tadi hampir ketahuan.” Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka mata. Keningnya perlahan berkerut. “Tapi kenapa Kaelix sampe bawa jamu itu ke laboratorium?” Jemarinya tanpa sadar mengetuk permukaan meja. “Dia bener-bener selidikin itu.” Shiren menggigit bibir bawahnya pelan. “Padahal itu cuma jamu. Gak mungkin dia sampe sejauh itu kalau bukan karena bener-bener curiga dari awal.” Ia mengepalkan tangan di atas meja. “Untungnya tadi aku cepet alihin semuanya ke Mama.” Setidaknya untuk sementara, perhatian Kaelix sudah beralih. _____ Tak terasa, jam kerja pun berakhir pada pukul lima sore. Satu per satu karyawan mulai meninggalkan gedung perusahaan. Shiren ikut melangkah keluar sambil menyampirkan tas di bahunya.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 301

    Siang itu, suasana kantor kembali sibuk setelah jam makan siang usai.Shiren baru saja menyalakan kembali komputernya ketika salah seorang rekan kerja menghampiri mejanya.“Shiren.”Wanita itu mengangkat kepala. “Iya?”“Pak Kaelix minta kamu ke ruangannya. Sekarang.”Shiren mengernyit tipis. “Kaelix? Maksudku ... Pak Kael?”“Iya. Beliau bilang sekarang juga.”Rekan kerjanya kemudian berlalu begitu saja setelah menyampaikan informasi tersebut.Sementara Shiren masih terduduk beberapa saat, perlahan sudut bibirnya terangkat.‘Kaelix manggil aku buat apa?’Jarang sekali pria itu memanggilnya secara langsung, apalagi di luar urusan pekerjaan. Jangan-jangan ada sesuatu yang ingin dibicarakan?Senyum Shiren semakin mengembang. Atau Kaelix mulai melihat keberadaannya?Cepat-cepat ia merapikan rambut, mengoleskan sedikit lipstik yang mulai memudar, lalu mematikan layar komputer.Dengan langkah anggun, ia berjalan menuju lantai paling atas, tempat ruang kerja sang direktur utama berada.Tangan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 300

    Seminggu kemudian. Pesawat yang membawa Kaelix dan Sasqia akhirnya mendarat mulus di Bandara Jakarta. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, Sasqia menoleh ke luar jendela sambil tersenyum tipis. “Rasanya cepet banget.” Kaelix yang duduk di sampingnya melirik sekilas. “Apa?” “Liburannya.” Sasqia mengembuskan napas pelan. “Padahal aku masih betah di Swiss. Kalau bukan karena Mas harus kerja, mungkin aku belum mau pulang.” Kaelix tersenyum kecil. “Nanti kita ke sana lagi.” “Serius?” “Iya.” “Kalau program hamil sudah selesai,” ia berhenti sejenak, lalu menggeleng pelan. “Maksud saya kalau semuanya sudah lebih tenang. Saya akan ajak kamu lagi.” Sasqia menatap suaminya beberapa detik sebelum tersenyum lebar. “Janji?” Kaelix mengangguk. “Janji.” Tak lama kemudian, keduanya berjalan keluar dari area kedatangan. Di luar bandara, Zidan sudah berdiri menunggu di samping mobil hitam yang mengilap. “Selamat datang kembali, Tuan. Nyonya.” Zidan membungkukkan badan hormat. Kaelix menga

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 299

    Dokter wanita paruh baya itu menutup map hasil pemeriksaan, lalu mengangkat pandangannya kepada Kaelix. “Secara keseluruhan kondisi Anda sangat baik, Pak Kaelix.” Wanita itu tersenyum tipis. “Tubuh Anda sehat. Kualitas sperma juga berada di atas rata-rata. Peluang Anda untuk memiliki keturunan tidak ada masalah.” Kaelix mengangguk pelan, tetapi wajahnya tetap sulit ditebak. “Kalau begitu ….” gumamnya lirih. Dokter memperhatikan perubahan raut wajah pria di hadapannya. “Apa yang membuat Anda sampai ingin memeriksakan diri?” Beberapa detik Kaelix terdiam. Bayangan percakapannya dengan Tristan di lobi hotel kembali terlintas di benaknya. ‘Siapa tahu yang membuat Sasqia sulit hamil selama ini justru suaminya.’ Kaelix menarik napas pelan. “Saya tidak pernah meragukan kondisi tubuh saya. Namun saya hanya ingin memastikan. Kalau memang ada masalah, saya ingin mengetahuinya lebih dulu.” Dokter mengangguk memahami. Ia kembali membuka lembar hasil pemeriksaan. “Paru-paru Anda juga bers

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 29

    Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 36

    Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 30

    “Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 28

    “Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status