分享

BAB 154

作者: Langit Parama
last update publish date: 2026-06-14 00:03:59

Di atas ranjang, Soraya dan Raka terperanjat. Soraya telanjang dada, rambutnya acak-acakan, wajahnya merah padam karena syok.

Raka berada di atasnya, tubuhnya masih menyatu dengan tubuh ibu mertuanya. Wajahnya memucat seketika.

“Ya Tuhan …,” desis Sasqia. Matanya membelalak lebar, campuran antara terkejut dan amarah yang langsung meledak. “Kalian … MAMA?! MAS RAKA!”

Sasqia langsung berteriak histeris. Tubuhnya gemetar hebat.

Soraya buru-buru mendorong Raka, berusaha menutupi tubuhnya dengan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (1)
goodnovel comment avatar
Fitriani Ningsih
waw ketahuannya secepat ini?! syukurlah biar zina nya gak berlarut larut jijik banget mertua sama menantu.
查看全部評論

最新章節

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 164

    “Papa sama Mama kenapa berantem?” Suara kecil Sherly membuat Raka yang sedang terduduk di ruang tengah perlahan mengangkat kepalanya. Bocah itu berdiri beberapa langkah darinya sambil memeluk boneka kesayangannya erat-erat. Matanya sembab. Sejak semalam ia ikut menangis karena melihat ibunya terus menangis. “Kenapa Mama nangis?” tanya Sherly lagi lirih. “Apa yang Papa lakuin ke Mama?” Dada Raka terasa seperti diremas. Ia menatap wajah putrinya lama. Wajah kecil yang selama ini selalu menyambutnya dengan tawa dan pelukan. Kini hanya ada kebingungan di sana. Raka mengulurkan tangannya. “Sini sama Papa.” Sherly ragu sejenak, lalu berjalan mendekat. Raka langsung memeluk tubuh kecil putrinya erat. Sangat erat. Seolah takut kehilangan satu-satunya hal baik yang masih tersisa dalam hidupnya. “Papa bikin kesalahan, Nak.” “Kesalahan apa?” Raka memejamkan mata, tenggorokannya terasa tercekat. “Kesalahan yang bikin Mama sedih.” “Kalau salah kan tinggal minta maaf.” Kalimat polos it

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 163

    Malam telah larut ketika Sasqia berdiri di depan ruang pemulihan ayahnya. Dari balik kaca, ia dapat melihat Mahendra terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus menancap di punggung tangannya, sementara berbagai alat medis terus memantau kondisinya. Sejak operasi selesai, Sasqia hampir tidak beranjak dari sana. Di belakangnya, Tristan masih setia menemani. Pria itu hanya pulang sebentar untuk mandi, berganti pakaian, dan makan. Setelah itu, ia kembali lagi ke rumah sakit tanpa banyak bicara. “Saya tahu penyebab lain yang membuat Papa kamu drop.” Suara Tristan yang tiba-tiba terdengar memecah keheningan. Tubuh Sasqia sedikit menegang, perlahan ia membalikkan badan dan menatap pria itu. “Mas tahu dari mana?” tanyanya pelan. Tristan menghembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada lantai beberapa saat sebelum kembali menatap Sasqia. “Ibu saya yang memberitahu.” Seketika rahang Sasqia mengeras. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. “Mas ....” “Saya tidak b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 162

    “Tuan Kaelix?” “Benar.” Pria itu mengalihkan pandangannya ke jendela kamar. “Sebenarnya pertemuan itu memang sudah direncanakan sejak awal. Saya dipersiapkan sebagai kandidat pendonor ginjal untuk Pak Mahendra.” Napas Sasqia tercekat. “Jadi ... sejak dulu?” “Ya.” “Tuan Kaelix yang mengurus semuanya?” Pria itu tersenyum kecil. “Saya tidak tahu sampai sejauh mana yang beliau lakukan. Tapi yang saya tahu, sejak awal beliau memang sangat serius memikirkan kondisi kesehatan Pak Mahendra.” Sasqia terdiam. Jemarinya perlahan saling menggenggam. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. “Pak ....” panggil Sasqia pelan. “Hm?” “Terima kasih.” Pria itu tersenyum hangat. “Kamu tidak perlu berterima kasih pada saya.” Sasqia mengernyit. “Kalau memang ingin berterima kasih ...,” lanjut pria itu pelan, “Orang yan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 161

    Sasqia baru saja tiba di rumah sakit. Dengan langkah tergesa, ia memasuki lobby sambil menggenggam erat tas di tangannya. Wajahnya masih terlihat pucat setelah pergi menemui seseorang yang diharapkannya dapat menyelamatkan sang ayah. “Sasqia.” Suara yang memanggil namanya membuat wanita itu tersentak pelan. Ia segera menoleh. “Mas Tristan?” Tristan berjalan menghampirinya dengan langkah cepat. Raut wajah pria itu terlihat tegang. “Kamu dari mana saja?” tanyanya. “Nomor kamu saya hubungi terus tidak aktif.” Sasqia menundukkan pandangan sesaat. “Sa-saya tadi menemui seseorang yang memiliki donor ginjal untuk Papa, Mas,” jawabnya lirih, sengaja tidak menyebut nama orang tersebut. Tristan menghembuskan napas panjang, seolah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya. “Kamu tidak perlu memikirkan itu lagi.” Kening Sasqia langsung berker

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 160

    Kaelix menghentikan aktivitasnya, lembar dokumen yang semula berada di tangannya perlahan diletakkan ke atas meja. Tatapannya yang dingin terangkat. “Dia bilang ingin bertemu dengan Anda, Pak,” lanjut sekretaris itu hati-hati. “Apa saya minta beliau membuat janji terlebih dahulu, atau—” “Tidak.” Jawab Kaelix cepat. Sekretaris itu terdiam. “Suruh dia naik.” “Baik, Pak.” Sekretaris itu segera pergi. Pintu kembali tertutup. Ruangan mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Asisten Kaelix melirik atasannya sekilas. “Sepertinya Nona Sasqia sedang dalam masalah besar.” Kaelix menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menatap lurus ke arah jendela kaca besar di belakang meja. “Dia memang selalu datang saat sedang dalam masalah.” Nada suaranya datar, membuat sang asisten tidak berani menanggapi. _____ Jevier m

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 159

    Miriam refleks tersedak teh yang baru saja diteguknya. Dengan cepat ia meraih gelas dan memuntahkan kembali cairan hangat itu ke dalamnya. Wajahnya berubah antara terkejut, jijik, dan tidak percaya. “Kamu tidak sedang bercanda, kan, Martha?” tanyanya tajam pada sang asisten. Martha yang berdiri di hadapannya segera menggeleng. “Tidak, Nyonya. Saya mendengarnya langsung semalam.” Miriam menatap asistennya lekat-lekat. Seolah berharap wanita itu mengatakan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Namun Martha tetap berdiri tenang. “Bahkan saya merekam percakapan mereka.” “Merekam?” kedua alis Miriam langsung terangkat tinggi. “Iya, Nyonya.” Martha mengeluarkan ponselnya. “Kalau Nyonya ingin mendengarnya, saya bisa memutarnya sekarang.” “No!” Miriam langsung mengangkat tangan. “Jangan.” Ia menutup matanya sejenak. “Saya tidak ingin mendengar hal-hal menjijikkan sepert

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 30

    “Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i

    last update最後更新 : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 28

    “Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka

    last update最後更新 : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 31

    “Project apa yang dimaksud Kael, Sas?” Pertanyaan itu meluncur begitu pintu kamar tertutup. Nada Tristan tidak tinggi, tapi cukup membuat Sasqia menelan ludah. Pria itu berdiri tak jauh darinya, sorot matanya tajam, menunggu jawaban. Sasqia melipat bibir, mengalihkan pandangan. Ada rasa malu yan

    last update最後更新 : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 29

    Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu

    last update最後更新 : 2026-03-21
更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status