Share

BAB 158

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-06-16 00:01:22

Sunyi. Hening yang begitu panjang dan mencekam langsung menyelimuti ruang tamu.

Shiren membeku. Soraya membelalak. Sedangkan wajah Raka seketika kehilangan warna.

“Apa?” suara Shiren terdengar lirih, hampir tak terdengar. “Apa yang kamu bilang?”

“Mama sama Mas Raka selingkuh,” ulang Sasqia dengan lebih tegas.

“Nggak!” Soraya langsung menyela. “Jangan asal bicara!”

“Iya, Sas,” timpal Raka cepat. “Kamu salah paham.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Milena
terhanyuut baca nya ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 322

    “Untung Papa ada di sekolah kamu tadi. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang kamu masih menunggu di sana.” Raka mengusap pelan kepala putrinya. “Mama, Kakek, sama Nenek mungkin terlalu sibuk sampai lupa kalau ada Sherly yang harus dijemput.” Sherly langsung mencebik. Raka tersenyum tipis, berusaha menghibur. “Papa sebenarnya selalu ada di dekat kamu, Sher. Papa sering datang ke sekolah dan melihat kamu dari jauh.” “Tapi kenapa Papa gak pernah nyamperin?” Raka terdiam sesaat. “Karena Papa takut.” “Takut Mama marah?” Raka mengangguk. “Papa takut Mama kamu gak mengizinkan Papa dekat sama kamu.” Sherly menunduk, jemarinya memainkan ujung bajunya. “Tapi Papa lebih jahat.” Raka tertegun. “Papa ninggalin Sherly sama Mama.” Suara bocah itu bergetar. Raka menghela napas panjang, lalu menarik putrinya mendekat. “Papa gak pernah bermaksud meninggalkan kamu, Nak. Tapi Mama yang meminta Papa pergi.” “Nggak!” Sherly menggeleng kuat. “Mama bilang Papa melakukan kesalahan. Makanya Papa per

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 321

    “Jadi seperti itu kejadiannya, Pa?” tanya Kaelix. Nada suaranya terdengar datar, tetapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran yang sulit disembunyikan. Mahendra mengangguk perlahan. “Maafkan Papa, Kaelix. Ini kesalahan Papa karena tidak bisa menjaga putri Papa sendiri dari ibunya.” Ia menundukkan kepala sesaat. “Papa ada di rumah yang sama. Seharusnya Papa bisa mencegah semuanya sebelum terjadi. Tapi Papa terlambat menyadari keadaan, sampai akhirnya Sasqia harus berhadapan dengan ibunya saat kondisi tubuhnya sedang lemah.” Kaelix menarik napas panjang. Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih kepada brankar di sampingnya, tempat Sasqia masih terbaring dengan wajah pucat dan mata terpejam. Jemari Kaelix kembali menggenggam tangan istrinya. “Yang penting sekarang Sasqia baik-baik saja, Pa.” Mahendra mengangguk pelan. “Saya hanya takut sesuatu terjadi pada dia dan bayinya. Terima kasih sudah membawanya ke rumah sakit dengan cepat.” Kaelix hendak melanjutkan, tetapi tiba-tib

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 320

    “Apa yang terjadi pada istri saya, Pa?” desak Kaelix dengan nada dingin. Mahendra menarik napas berat. “Kaelix ... Sasqia—” Sambungan mendadak terputus. “Pa?” Kaelix menatap layar ponselnya. “Papa?” Tak ada jawaban. Wajahnya berubah pucat. “Zidan.” Ia berbalik cepat. “Ke rumah sakit. Sekarang.” Zidan yang sejak tadi berdiri di balik pagar segera bergerak setelah melihat perubahan wajah majikannya. Ia bergegas kembali ke mobil dan mengambil posisi di balik kemudi. “Cepat.” Satu kata itu keluar dari bibir Kaelix dengan suara rendah, tetapi penuh tekanan. Zidan langsung menyalakan mesin. Mobil melesat meninggalkan halaman rumah Sasqia, membelah jalanan menuju rumah sakit yang disebutkan Mahendra dalam panggilan terakhir. Di kursi belakang, Kaelix terus menatap layar ponselnya. Nomor Mahendra masih tercatat di riwayat panggilan. Ia mencoba menelepon kembali. Tidak tersambung. Sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban. “Sayang ...,” gumamnya lirih. Tangannya mengepal di atas paha.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 319

    “Cerai?” kening Sasqia berkerut. Ia menatap ibunya dengan sorot mata penuh kebingungan. “Apa maksud Mama? Qia bener-bener gak ngerti.” Soraya justru tertawa sinis. “Jangan pura-pura bodoh. Selama ini Papa kamu gak pernah membicarakan perceraian. Tapi hari ini, tiba-tiba dia meminta cerai dari Mama.” Tatapan Soraya semakin tajam. “Dan sekarang Mama menemukan kamu ada di rumah ini.” Sasqia membulatkan mata. “Jadi Mama nyalahin aku? Aku gak tahu apa-apa, Ma. Aku tidur di kamar. Papa sendiri yang nyuruh aku istirahat. Begitu bangun, aku langsung turun karena haus.” Soraya mendengus keras. “Sasqia, berhenti berpura-pura!” Nada suaranya meninggi. “Kamu pikir Mama lupa? Sejak awal, siapa yang meminta Papa kamu menceraikan Mama?” Sasqia terdiam sesaat. “Mama masih bahas itu? Aku gak pernah minta Papa cerain Mama, kalau Papa ngelakuin itu pasti atas kemauan sendiri.” Soraya mencibir. “Jadi sekarang kamu mau bilang Mama yang salah?” “Aku gak bilang begitu.” Sasqia menghela napas, berusah

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 318

    “Ma-maksud Mas ... apa?” Sorot mata Soraya berubah tajam. Wajahnya seketika memucat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mahendra tetap duduk tenang. Tak ada nada tinggi. Tak ada kemarahan. Dan justru ketenangan itulah yang membuat suasana terasa semakin mencekam. “Saya ingin bercerai. Saya akan mengurus gugatan ke pengadilan besok. Kamu tinggal menghadiri persidangannya.” Soraya menggeleng keras. “Nggak. Aku gak mau cerai.” Mahendra menatapnya tanpa ekspresi. “Itu hakmu. Kalau kamu menolak, biar hakim yang memutuskan.” Soraya maju beberapa langkah. “Apa alasan Mas tiba-tiba mau cerai? Kenapa sekarang? Kenapa bukan dari dulu?” Mahendra menghembuskan napas panjang. “Karena sebelumnya, saya menganggap semua kesalahan yang kamu lakukan hanya karena sifat keras kepalamu. Saya memilih bertahan demi anak-anak, demi keluarga yang sudah kita bangun selama puluhan tahun.” Tatapannya perlahan berubah sendu. “Tapi saya salah. Saya terlalu lama menutup mata, saya ter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 317

    “Ini kabar yang sangat membahagiakan, Sas,” bisik Mahendra lirih. Suaranya terdengar bergetar ketika perlahan melepaskan pelukan putrinya. Kedua tangannya masih menggenggam bahu Sasqia, seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata. “Papa bersyukur sekali.” Sasqia tersenyum lebar. “Iya, Pa. Mungkin Tuhan akhirnya mengabulkan semua doa Papa.” Mahendra menggeleng pelan sambil tersenyum. “Bukan cuma doa Papa. Ini juga hasil perjuangan kamu dan Kaelix. Kalian tidak menyerah, terus berusaha, terus saling menguatkan. Itulah yang akhirnya membuahkan hasil.” Sasqia mengangguk pelan. “Iya. Kalau dipikir-pikir ... semua ini juga karena aku sempet berhenti minum jamu itu.” Mahendra mengernyit. “Maksudnya?” “Selama di Swiss aku udah gak pernah minum lagi. Bahkan sebelum berangkat, Ibu mertuaku sempat melarangku mengonsumsi jamu itu bersamaan dengan program hamil.” Mahendra tampak terkejut. “Ibu mertua kamu tahu soal jamu itu?” Sasqia menggeleng. “Beliau gak tahu isi jamunya. T

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 30

    “Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 28

    “Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status