Share

BAB 258

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 00:05:27

Sasqia mengerjap pelan. Perlahan, ia membuka matanya. Tubuhnya masih terasa lemas setelah aktivitas intim beberapa saat sebelumnya.

Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, ia mendapati dirinya telah berbaring nyaman di atas ranjang hotel, terselimuti selimut tebal.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dari kejauhan terdengar suara Kaelix yang sedang berbicara melalui telepon.

“Saya membutuhkan kamar suite yang lebih luas,” ucap pria itu dengan nada tenang namun tegas. “Pastikan kamar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (10)
goodnovel comment avatar
MARSADI TRIO
ayo thor banyakin updatenya.semangat ya....suka sekali dengan ceritanya nih.seru bangett
goodnovel comment avatar
Erna Nena
hmmmmm... bikin pembaca pd penasaran bin komplaen
goodnovel comment avatar
Sultan Balqis
pada gantung thorrrr hmmmmmm
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 260

    “Mama ... bajunya bagus.” Sherly bertepuk tangan kecil melihat ibunya yang pagi itu sudah berdiri rapi dengan seragam barunya. “Mama jadi cantik.” Shiren tersenyum lebar. Ia merapikan kerah seragamnya, lalu berputar pelan di depan putrinya. “Iya, dong. Sekarang Mama udah naik jabatan. Jadi seragamnya juga beda.” Sherly mengangguk kagum. “Lebih bagus daripada yang dulu.” “Ya harus, dong,” sahut Shiren dengan nada bangga. “Sekarang Mama udah bukan office girl lagi.” Bocah itu tersenyum semakin lebar. “Berarti gaji Mama banyak?” Shiren terkekeh pelan, lalu berjongkok hingga sejajar dengan tinggi putrinya. “Iya. Kenapa memangnya? Kamu mau dibeliin apa?” Sherly mengerucutkan bibir, berpikir cukup lama. Matanya kemudian berbinar. “Sherly mau Papa pulang.” Senyum di wajah Shiren perlahan menghilang. “Papa?” “Iya.” Sherly mengangguk polos. “Sekarang Papa juga udah kerja lagi, kan? Terus Mama juga udah kerja yang bagus. Jadi Papa gak usah capek-capek kerja terus. Papa bisa tinggal

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 259

    Sasqia baru saja selesai membersihkan diri di suite baru yang disiapkan Kaelix. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sunyi. Tak ada sosok suaminya. “Mas ...?” panggilnya pelan. Rambut panjangnya masih setengah basah, beberapa helainya menempel di pipi. Bathrobe putih yang dikenakannya membungkus tubuh mungilnya dengan rapi. Tak lama kemudian pintu suite terbuka. Kaelix melangkah masuk dengan wajah setenang biasanya. “Mas dari mana?” tanya Sasqia sambil menghampirinya. “Dari luar,” jawab Kaelix singkat. Ia berjalan melewati sang istri menuju sofa, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sebentar lagi makan malam. Kita makan di kamar saja.” Sasqia mengangguk kecil. “Iya, Mas.” Ia kemudian membuka koper, mengambil pakaian bersih, lalu duduk di depan meja rias. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Kaelix melalui pantulan cermin. Sementara itu, Kaelix duduk tenang di sofa. Tatapannya sesekali mengikuti setiap gerakan sang istri yang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 258

    Sasqia mengerjap pelan. Perlahan, ia membuka matanya. Tubuhnya masih terasa lemas setelah aktivitas intim beberapa saat sebelumnya. Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, ia mendapati dirinya telah berbaring nyaman di atas ranjang hotel, terselimuti selimut tebal. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dari kejauhan terdengar suara Kaelix yang sedang berbicara melalui telepon. “Saya membutuhkan kamar suite yang lebih luas,” ucap pria itu dengan nada tenang namun tegas. “Pastikan kamar mandinya memiliki bathtub berukuran besar.” Ada jeda sejenak. “Lima menit lagi saya akan pindah ke sana bersama istri saya setelah dia bangun.” “Baik, Pak. Kami akan segera menyiapkannya.” Panggilan pun berakhir. Kaelix memasukkan ponselnya ke saku bathrobe putih yang dikenakannya. Saat berbalik, ia mendapati Sasqia sudah membuka mata. Tatapan mereka bertemu. “Kamu sudah bangun?” Sasqia mengangguk pelan. “Iya, Mas.” Ia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk. Namun baru sedikit bergerak,

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 257

    “Kael ....” Tristan membuka suara lebih dulu. Senyum tipis terulas di bibirnya, seolah kemunculan sang kakak benar-benar di luar dugaannya. “Kamu ada perjalanan bisnis ke Tokyo?” Tak ada jawaban. Kaelix hanya menatap adiknya dengan sorot mata dingin yang sulit diartikan. “Saya satu penerbangan dengan Sasqia,” lanjut Tristan tenang. “Dan menginap di hotel yang sama, bersama kru yang lain juga. Kamu jangan salah paham.” Keheningan kembali menguasai lorong. Sasqia yang berdiri di samping mereka hanya mampu meremas jemarinya sendiri. Jantungnya berdetak semakin cepat. “Mas ... saya masuk duluan, ya.” Suaranya pelan, nyaris berbisik. Tanpa menunggu jawaban, ia segera memutar tubuh dan berjalan menuju kamarnya. Ia bahkan tak sanggup menatap wajah suaminya. Masalah pil kontrasepsi saja belum selesai. Kini Kaelix justru memergokinya berada di hotel yang sama dengan Tristan, bahkan sedang mengobrol berdua di depan kamar. Walaupun tak ada yang terjadi, tetap saja, pemandangan itu muda

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 256

    “Masih belum ada balasan dari asistennya Kak Kael?” tanya Viona sambil menyilangkan kedua kaki. Asistennya kembali melirik layar ponsel. “Belum ada, Bu.” Sudut bibir Viona terangkat tipis. “Bagus. Setidaknya pesannya udah dibaca.” Ia menyandarkan tubuh ke kursi. “Kebetulan banget ketemu mereka di bandara. Tepat waktu pula buat motret.” Ia terkekeh pelan. “Sekarang tinggal tunggu Kak Kael lihat fotonya.” Sang asisten tampak ragu. “Tapi, Bu ... bagaimana kalau Pak Arlan tidak menyampaikan foto itu kepada Tuan Kaelix? Sedangkan Ibu juga meminta saya mengirim tanpa penjelasan apa pun.” Viona tersenyum penuh keyakinan. “Justru itu tujuannya. Foto tanpa penjelasan jauh lebih berbahaya. Orang akan membuat kesimpulannya sendiri.” Ia memainkan gelas di hadapannya. “Dan aku yakin ... Arlan pasti nunjukin. Mustahil dia menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan istri atasannya.” Asisten itu mengangguk pelan. “Kalau pun berhasil ... mereka tetap tidak bisa bercerai secara agama, Bu. Di

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 255

    Pagi itu Arlan baru saja tiba di kediaman Kaelix untuk menjemput atasannya berangkat ke kantor. Begitu mobil berhenti di halaman depan, ia segera turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang. “Selamat pagi, Pak.” Kaelix mengangguk tipis. “Pagi.” Tanpa banyak bicara, pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Arlan menyusul duduk di kursi penumpang depan, tepat di samping sopir. Tak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Suasana di dalam kabin begitu hening. Hanya terdengar suara pendingin udara dan mesin mobil yang berjalan stabil. Ting. Ponsel Arlan tiba-tiba bergetar. Ia mengernyit ketika melihat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Isinya hanya satu foto. Arlan membuka foto itu, seketika dahinya berkerut. “Apa ...?” gumamnya pelan. Di dalam foto itu tampak seorang wanita berseragam pramugari berjalan berdampingan dengan seorang pilot. Wajah keduanya terlihat jelas. Sasqia, dan Tristan. Foto itu tampak diambil dari kejauhan, seolah

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 30

    “Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 28

    “Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 29

    Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 17

    Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status