LOGIN"Kamu pikir aku akan percaya dengan rubah licik sepertimu? Kamu dirancang tak punya empati atau kepedulian pada orang lain, Kael Veyron," gumam Violet dalam hati sambil terus berlari.
Ingatan Violet sebagai tester game bekerja cepat. Peta Beastmen Dominion terlintas jelas di benaknya. Sungai yang baru saja ia lewati adalah sungai Mant. 'Kalau dari sini, aku bisa keluar dari wilayah Benua Shartia,' pikirnya pantang menyerah. Ada satu tempat yang ingin Violet datangi, yakni Pulau Edrin. Pulau yang tak pernah terjadi kekacauan antar klan dan hanya ada ketenangan. Dan yang paling terkenal dengan sikap netralnya adalah Klan Gajah. Violet bergegas melanjutkan perjalanan, meski tubuhnya sudah lelah. Klan Gajah terkenal dengan sikap netralnya, berbeda dengan klan lain yang selalu berseteru satu sama lain. Tempat yang paling aman untuk bersembunyi, setidaknya untuk sementara. Tiba-tiba, langkah Violet terhenti. Suara auman singa bergema di kejauhan, dalam dan menggetarkan tanah. Violet langsung membeku, jantungnya berdebar kencang. 'Suara ini...' batinnya sedikit panik. Violet mengenal auman itu. Refleks, ia bersembunyi di balik semak-semak rimbun, menahan napas. Dari balik dedaunan, ia mengintip keluar. Di kejauhan, terlihat sebuah pasukan Beastmen Klan Singa sedang bergerak. Dan yang memimpin di depan adalah sosok yang sangat ia kenal. Jenderal Leo Reign. Pria yang pernah menghabiskan malam bersama Violet di penjara itu kini berdiri tegap di depan pasukannya. Dalam hati Violet berpikir, 'Dia sudah kembali ke pasukannya setelah lepas dari Loss of Reason.' "Kerahkan semua kemampuan kalian. Cari Fateku yang kabur!" perintah Leo dengan suara lantang pada para bawahannya. "Baik, Jenderal!" sahut pasukannya serempak. Violet menekan tubuhnya serendah mungkin, berusaha tidak terlihat. Ia bahkan tidak berani menatap Leo langsung, takut tatapannya akan menarik perhatian pria itu. Untung saja jubah rubah yang Violet kenakan membuat aromanya tertutupi. Tangannya diam-diam mengusap pergelangan yang bertanda kepemilikan dari Leo. Tanda itu masih terasa hangat, seolah mengingatkannya pada ikatan yang tak bisa diputus. Violet kembali bertekad, 'Aku tidak mau terjebak di sini.' Dengan perlahan, Violet merayap mundur, menjauh dari lokasi pasukan. Setelah cukup jauh, ia bangkit dan mengambil jalan lain memutar, menjauhi wilayah Klan Singa. Tak terasa, dua hari telah berlalu. Violet terus berjalan, kadang berlari, kadang istirahat sebentar di balik pohon. Tubuhnya lelah, lapar, dan kedinginan di malam hari. Tapi ia terus bertahan. Selama dua hari itu, entah bagaimana, belum ada Beastmen lain yang mengejarnya. Mungkin aroma rubah dari Kael masih melekat, atau mungkin keberuntungan masih berpihak padanya. Saat akhirnya kakinya menginjak daratan Pulau Edrin dengan perahu sederhana, ia menjatuhkan diri di bawah pohon besar, mengistirahatkan dirinya. Bobo muncul tiba-tiba di sampingnya, melayang dengan wajah malas seperti biasa. "Hoam... kamu tidak lelah melarikan diri?" Violet mendelik. "Berisik! Kamu yang tidak berguna! Baru satu hari di sini, aku sudah diincar banyak Beastmen. Bagaimana aku bisa bertahan hidup kalau terus begini?" "Karena begitu, terima saja, bukan malah melarikan diri," jawab Bobo dengan nada santai. "Haish! Kamu tidak membantu sama sekali. Pergi sana!" usir Violet kesal. "Cih." Bobo mendesis jengkel, lalu perlahan menghilang. Violet hanya bisa menghela napas. Ia memakan buah-buahan liar yang ditemukannya di sepanjang jalan—rasanya asam, pahit, dan sama sekali tidak mengenyangkan. Tapi setidaknya, ia bisa bertahan hidup. Matahari mulai terbit. Violet menyipitkan mata karena sinar yang menyilaukan. Dari arah langit, terlihat siluet burung besar mendekat. "Beastmen elang? Kenapa elang ada di Benua Shartia?" gumam Violet heran. Elang biasanya hidup di pegunungan tinggi di Benua Nalgath. Burung itu terus terbang mendekat, semakin jelas. Dan bayangan dari sayap besarnya mulai menutupi tubuh Violet. 'Tidak mungkin dia melihatku sampai sejauh ini,' pikir Violet gelisah. Tapi dugaannya salah. Beastmen elang itu sudah mengawasinya dari kejauhan, dan kini menyergap saat Violet sendirian. Dengan kedua tangan yang sekuat cakar elang, Beastmen itu meraih Violet dan membawanya terbang ke langit. "Akh!" Violet menjerit kaget. "Lepaskan aku!" "Kukira ada keributan apa di Benua Shartia, ternyata muncul manusia murni seharum dirimu," suara berat terdengar sangat dekat di telinga Violet. Violet meronta, tapi cengkeraman itu terlalu kuat. Matanya menangkap lencana di pakaian Beastmen itu, sayap perak. Lencana Klan Elang, simbol kebanggaan mereka. Violet akhirnya mendongak, menatap wajah Beastmen itu. Wajah tampan dengan rambut kecoklatan, mata tajam berwarna cokelat gelap. "Kamu, Ignis Falcon?" gumam Violet memastikan ingatannya. Sudut bibir Ignis terangkat, lesung pipitnya terlihat saat ia tersenyum. "Benar. Apa kita pernah bertemu?" Violet memalingkan wajah, berusaha tidak terpengaruh. "Tolong lepaskan aku!" "Memang kamu mau ke mana?" tanya Ignis. "Klan Gajah." Ignis terbang semakin tinggi. Pelukannya kian erat. "Untuk apa? Lebih baik kamu tinggal di klan elangku saja." "Tidak mau. Lepaskan aku!" Violet menolak mentah-mentah. Ia terus meronta. Dari bawah, tiba-tiba terdengar teriakan. "Itu dia! Manusia itu dengan Klan Elang!" Violet menoleh panik. Di bawah, pasukan Klan Singa sedang berlarian, mengacungkan senjata ke arah mereka. Mereka pasti sudah melacak aromanya. Dan dari depan, sekelompok Beastmen Burung Hantu ikut menyerang ke arah Ignis. Sayap mereka terbentang, cakar tajam siap mencengkeram. Ignis menggeram kesal. "Pegangan, Nona." Ignis berputar cepat di udara, satu tangannya menarik tombak dari punggungnya. Dengan gerakan lincah, ia menepis serangan Burung Hantu pertama yang menerjang. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Burung Hantu terus berdatangan, menyerang dari berbagai arah. Dan dari bawah, anak panah pasukan Klan Singa mulai melesat ke atas. Violet meronta, berusaha melindungi diri. Tapi sebuah anak panah berhasil mengenai lengannya. "Akh!" jeritnya kesakitan. Cengkeraman Ignis terlepas. Tubuh Violet terjatuh. Ia tak bisa menahan pegangan karena lengannya yang kesakitan. "Nona!" Ignis berusaha meraih. Tapi terlambat, jarak sudah terlalu jauh.Pesta masih berlangsung. Tapi Violet memilih untuk pergi lebih dulu dari aula karena lelah. Yang tersisa hanya orang-orang dari empat klan besar yang masih menikmati pesta.Suasana masih cukup kondusif di antara para Beastmen itu.Violet pergi menuju satu ruangan yang pernah ia gunakan untuk berganti pakaian di istana Raja Targos. Namun, ia heran dengan ketiga suaminya tadi yang pergi.'Mereka ke mana, ya? Sampai sekarang belum kembali,' pikirnya penasaran.Di lorong, Violet bertemu salah satu pelayan dan langsung bertanya."Hei, em..." Sejenak, Violet agak ragu mengatakannya. "Apa kamu lihat suamiku?"Pelayan itu membungkuk sopan."Suami-suami Nona Violet sedang di ruang kerja Raja. Ada di lantai dua," jawabnya, lalu menawarkan. "Mau saya antar?"Violet tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak perlu. Aku tahu tempatnya."Pelayan itu berlalu, sambil menunduk untuk yang terakhir kali sebelum pergi.Violet pun melanjutkan langkah, menuju anak tangga di depan sana. Baru mencapai pertengaha
"Tentu saja hari ini. Tidak ada alasan untuk menunda," ucap Raja Targos dengan santai. Ia berdiri lalu memerintah pada para pelayannya. "Ayo, semua persiapkan secepatnya. Kita pergi ke kuil Dewa Binatang!"Violet menepuk jidatnya, frustrasi setengah mati.'Aku benar-benar akan menikah dengan empat Beastmen hari ini juga? Astaga, bagaimana bisa hidupku berubah secepat ini?' batinnya masih tak percaya.Para pelayan dan prajurit Klan Gajah bergerak cepat, mempersiapkan prosesi pernikahan.**Kuil itu megah, dikelilingi pepohonan raksasa dengan bunga-bunga bercahaya. Di dalamnya, patung Dewa Binatang menjulang tinggi dari batu giok putih.Violet berdiri di depan patung itu, gaun putih sederhana bersulam emas membalut tubuhnya. Rambutnya dihiasi mutiara dan bunga-bunga kecil.'Astaga, aku belum pernah menikah,' gumam Violet dalam hati, gugup. 'Kenapa sekalinya menikah malah dengan empat pria sekaligus?'Di hadapannya, empat Beastmen berdiri tegap, rapi dengan pakaian formal. Violet merasa
"Benar, Nona Violet. Dengan menjadi suamimu, mereka bisa leluasa melindungimu dari ancaman." Targos menegaskan.Begitu Targos mengumumkan keputusan itu, aula yang tadinya hening seketika bergemuruh. Para Beastmen dari berbagai klan mulai ribut.Seekor Beastmen Harimau dengan loreng tebal di wajahnya berdiri."Kenapa harus dari empat klan itu saja? Manusia dengan Living Pheromone langka seharusnya milik yang terkuat!"Yang lain ikut berseru setuju. "Benar! Kami juga berhak. Kita harus bertarung mendapatkannya! Hanya satu yang terkuat yang pantas!"Dari kerumunan, Kael yang sejak tadi hanya diam ikut menghasut. Wajah rubahnya tampak menyeringai licik."Mereka pikir mereka siapa? Hanya karena mereka klan besar, mereka bisa seenaknya mengambil manusia murni? Ini tidak adil!"Suasana semakin memanas. Beberapa Beastmen mulai mengeluarkan cakar mereka, siap bertarung.Para pemimpin keempat klan yang terpilih dengan berani menerima tantangan. Namun, sebelum itu terjadi, Targos segera menghent
'Apa aku akan mati?' pikir Violet penuh kepasrahan yang tak rela. Tubuhnya terjun bebas ke bawah.Dari bawah, Leo melompat tinggi. Tangannya yang kekar meraih tubuh Violet tepat sebelum ia menyentuh tanah.Violet memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya gemetar ketakutan. Saat ia membuka mata, di depannya adalah pria pertama yang ia lihat di dunia ini."Bunga, kamu tidak apa-apa?" suara Leo berat namun penuh kecemasan. "Apakah elang itu melukaimu?"Violet terdiam. Bayangan saat Leo menidurinya secara paksa terlintas dalam kepalanya."Lepaskan aku!"Refleks, Violet mendorong Leo. Ia turun secara paksa dari pangkuan Leo, hampir jatuh karena kakinya lemas."Bunga—" Leo hendak meraih Violet, tapi Violet langsung menyela dengan suara lantang."Jangan mendekat!"Leo terdiam, terkejut dengan reaksi Violet. Matanya menangkap sesuatu di lengan Violet—tetesan darah dan anak panah kecil masih menancap di sana.'Itu, panah dari klan Singa,' pikirnya."Bunga, kamu terluka. Sepertinya anak buahku tida
"Kamu pikir aku akan percaya dengan rubah licik sepertimu? Kamu dirancang tak punya empati atau kepedulian pada orang lain, Kael Veyron," gumam Violet dalam hati sambil terus berlari.Ingatan Violet sebagai tester game bekerja cepat. Peta Beastmen Dominion terlintas jelas di benaknya. Sungai yang baru saja ia lewati adalah sungai Mant.'Kalau dari sini, aku bisa keluar dari wilayah Benua Shartia,' pikirnya pantang menyerah.Ada satu tempat yang ingin Violet datangi, yakni Pulau Edrin. Pulau yang tak pernah terjadi kekacauan antar klan dan hanya ada ketenangan. Dan yang paling terkenal dengan sikap netralnya adalah Klan Gajah.Violet bergegas melanjutkan perjalanan, meski tubuhnya sudah lelah. Klan Gajah terkenal dengan sikap netralnya, berbeda dengan klan lain yang selalu berseteru satu sama lain. Tempat yang paling aman untuk bersembunyi, setidaknya untuk sementara.Tiba-tiba, langkah Violet terhenti. Suara auman singa bergema di kejauhan, dalam dan menggetarkan tanah. Violet langsun
"Kamu mengenalku, ya. Kamu berasal dari mana?" celetuk Kael bertanya.Violet tersadar dari lamunannya dan langsung menghindari tatapan licik Kael. Kepalanya sedikit menunduk."Aku, tidak ingat," jawabnya dengan suara pelan.Violet memilih pura-pura bodoh di depan Kael. Ia menggerutu dalam hati."Kamu tidak ingat, tapi kamu tahu namaku?" Kael menyipitkan mata, sedikit curiga. "Padahal aku baru melihatmu di sini. Aneh, kan?"Violet memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan tajam itu. "Entahlah. Aku tidak tahu kenapa bisa di sini. Tapi aku tahu orang-orang terkenal sepertimu.""Oh, ya? Memangnya menurutmu aku siapa?" balas Kael, nada bicaranya ringan, tapi tatapannya terus mengamati setiap reaksi Violet."Pemimpin Klan Rubah."Kael tersenyum lebar, matanya ikut menyipit puas. Ia mengulurkan tangan, berniat membantu Violet bangkit.Tapi Violet menepis pelan. Ia bangkit sendiri, meski tubuhnya masih lemas dan kakinya gemetar hebat."Terima kasih sudah menolongku."Kael hanya tertawa







