LOGIN'Apa aku akan mati?' pikir Violet penuh kepasrahan yang tak rela. Tubuhnya terjun bebas ke bawah.
Dari bawah, Leo melompat tinggi. Tangannya yang kekar meraih tubuh Violet tepat sebelum ia menyentuh tanah. Violet memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya gemetar ketakutan. Saat ia membuka mata, di depannya adalah pria pertama yang ia lihat di dunia ini. "Bunga, kamu tidak apa-apa?" suara Leo berat namun penuh kecemasan. "Apakah elang itu melukaimu?" Violet terdiam. Bayangan saat Leo menidurinya secara paksa terlintas dalam kepalanya. "Lepaskan aku!" Refleks, Violet mendorong Leo. Ia turun secara paksa dari pangkuan Leo, hampir jatuh karena kakinya lemas. "Bunga—" Leo hendak meraih Violet, tapi Violet langsung menyela dengan suara lantang. "Jangan mendekat!" Leo terdiam, terkejut dengan reaksi Violet. Matanya menangkap sesuatu di lengan Violet—tetesan darah dan anak panah kecil masih menancap di sana. 'Itu, panah dari klan Singa,' pikirnya. "Bunga, kamu terluka. Sepertinya anak buahku tidak sengaja—" Leo mencoba melangkah maju, tapi Violet mundur dengan cepat. "Jangan berani mendekatiku!" Leo menunduk, raut wajahnya berubah murung. "Bunga, setidaknya biarkan aku—" Tapi tiba-tiba, gemuruh langkah kaki terdengar dari berbagai arah. Puluhan, bahkan ratusan Beastmen muncul dari balik pepohonan, bukit, bahkan dari langit. Serigala, macan, rubah, beruang, elang, burung hantu, Beastmen dari daerah laut. Beberapa naga bahkan terbang di langit, mengelilingi Violet. Hampir semua Beastmen ada di sana. "Kamu tidak bisa memiliki manusia itu sendiri, Jenderal Leo!" teriak seorang Beastmen serigala. "Kami sudah mengincarnya sejak lama!" Leo mendelik tajam. Ia berdiri tegap penuh keberanian dan langsung membantah. "Sembarangan! Dia pasanganku! Aku yang lebih dulu menemukannya!" Violet merasa sesak napas. Tekanan dari puluhan Beastmen kuat di sekelilingnya membuatnya pusing. 'Baru sekitar tiga hari, berita tentangku sudah tersebar secepat ini?' "Sepertinya tidak ada cara lain selain berperang," usul Kael tiba-tiba, muncul di antara kerumunan dengan senyum liciknya. Violet memalingkan wajah, meremas jubah di pundaknya erat-erat. Ia benci harus bergantung pada rubah itu. "Tidak ada peperangan di wilayahku." Suara itu menggema keras dari kejauhan, penuh wibawa. Seketika semua Beastmen menoleh. Tanah sedikit bergetar. Beberapa pasukan Beastmen Gajah muncul dari balik bukit. Mereka semua tinggi besar, beberapa kali lipat ukuran Beastmen biasa. Di depan mereka, seorang pria tua namun terlihat sangat berwibawa melangkah. Rambut abu-abunya sedikit beruban. Dia adalah Raja Targos Mamora—pemimpin Klan Gajah. "Aku masih mentolerir perbuatan kalian yang masuk wilayahku sembarangan. Tapi untuk berperang, jangan harap." Suaranya dalam dan tegas. "Pergi dari sini sebelum kuusir paksa." Seekor Beastmen serigala berani protes. "Memangnya Klan Gajah bisa melawan kami para predator?! Kami tidak terima! Manusia murni dengan Living Pheromone langka tidak akan mudah ditemukan lagi!" Yang lain ikut bergemuruh setuju. Targos mengangkat tangannya dan kembali berkata lantang. "Kalau begitu bagaimana jika kita membentuk Dewan Perlindungan?" "Dewan Perlindungan?" Beberapa Beastmen bergumam bingung. "Untuk lebih jelasnya, kita bicarakan di istanaku dulu." Targos kemudian menatap Violet. "Kasihan nona manusia ini terluka. Dia butuh perawatan." Targos menatap Violet dengan mata bijak. "Mari, Nona." Violet mengangguk. Ia tahu mereka netral, tidak akan memanfaatkannya seperti yang lain. Dia bergabung dengan pasukan Targos, meninggalkan para Beastmen predator yang hanya bisa menonton. Dari kejauhan, Leo menunduk, terlihat penuh penyesalan. Di aula istana Klan Gajah yang megah, beberapa perwakilan dari setiap klan berkumpul. Raja Targos duduk di singgasana tertinggi, ditemani beberapa pemimpin klan lain yang tinggal di Pulau Edrin sebagai klan netral. "Jelaskan tentang Dewan Perlindungan itu, Raja Targos," desak Leo tidak sabar. Tatapan Leo tak lepas dari Violet yang menjadi pusat perhatian. Violet kini sudah diobati dan berpakaian lebih layak. Gaun sederhana berwarna krem yang membuat Violet terlihat anggun. Kecantikannya semakin terpancar. Para Beastmen lain ikut terpesona. Targos berdehem, membuat perhatian mereka kembali fokus. "Ekhem! Aku dan para pemimpin klan lain sudah berdiskusi. Nona Violet Luviera, manusia murni yang memiliki kemampuan Living Pheromone, tidak bisa dimiliki hanya satu klan saja." "Benar!" seru beberapa Beastmen setuju. "Karena itu, ada empat klan besar yang bisa melindunginya." Targos menjeda, menciptakan ketegangan. "Klan Singa dan Klan Paus Orca di Benua Shartia. Lalu Klan Naga dan Klan Elang di Benua Nalgath." Semua terdiam, menanti kelanjutan keputusan. "Perwakilan jantan terkuat dari keempat klan tersebut akan menjadi Dewan Pelindung sekaligus suami dari Nona Violet." Setelah mendengar kalimat itu, kini semua yang ada di aula itu terpaku. Mereka yang tadinya ramai tiba-tiba hening sesaat, begitu pun Violet. Violet yang baru mendengar keputusan ini ikut tercengang. Batinnya syok. "T-tunggu, suami? Keempatnya?"Pesta masih berlangsung. Tapi Violet memilih untuk pergi lebih dulu dari aula karena lelah. Yang tersisa hanya orang-orang dari empat klan besar yang masih menikmati pesta.Suasana masih cukup kondusif di antara para Beastmen itu.Violet pergi menuju satu ruangan yang pernah ia gunakan untuk berganti pakaian di istana Raja Targos. Namun, ia heran dengan ketiga suaminya tadi yang pergi.'Mereka ke mana, ya? Sampai sekarang belum kembali,' pikirnya penasaran.Di lorong, Violet bertemu salah satu pelayan dan langsung bertanya."Hei, em..." Sejenak, Violet agak ragu mengatakannya. "Apa kamu lihat suamiku?"Pelayan itu membungkuk sopan."Suami-suami Nona Violet sedang di ruang kerja Raja. Ada di lantai dua," jawabnya, lalu menawarkan. "Mau saya antar?"Violet tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak perlu. Aku tahu tempatnya."Pelayan itu berlalu, sambil menunduk untuk yang terakhir kali sebelum pergi.Violet pun melanjutkan langkah, menuju anak tangga di depan sana. Baru mencapai pertengaha
"Tentu saja hari ini. Tidak ada alasan untuk menunda," ucap Raja Targos dengan santai. Ia berdiri lalu memerintah pada para pelayannya. "Ayo, semua persiapkan secepatnya. Kita pergi ke kuil Dewa Binatang!"Violet menepuk jidatnya, frustrasi setengah mati.'Aku benar-benar akan menikah dengan empat Beastmen hari ini juga? Astaga, bagaimana bisa hidupku berubah secepat ini?' batinnya masih tak percaya.Para pelayan dan prajurit Klan Gajah bergerak cepat, mempersiapkan prosesi pernikahan.**Kuil itu megah, dikelilingi pepohonan raksasa dengan bunga-bunga bercahaya. Di dalamnya, patung Dewa Binatang menjulang tinggi dari batu giok putih.Violet berdiri di depan patung itu, gaun putih sederhana bersulam emas membalut tubuhnya. Rambutnya dihiasi mutiara dan bunga-bunga kecil.'Astaga, aku belum pernah menikah,' gumam Violet dalam hati, gugup. 'Kenapa sekalinya menikah malah dengan empat pria sekaligus?'Di hadapannya, empat Beastmen berdiri tegap, rapi dengan pakaian formal. Violet merasa
"Benar, Nona Violet. Dengan menjadi suamimu, mereka bisa leluasa melindungimu dari ancaman." Targos menegaskan.Begitu Targos mengumumkan keputusan itu, aula yang tadinya hening seketika bergemuruh. Para Beastmen dari berbagai klan mulai ribut.Seekor Beastmen Harimau dengan loreng tebal di wajahnya berdiri."Kenapa harus dari empat klan itu saja? Manusia dengan Living Pheromone langka seharusnya milik yang terkuat!"Yang lain ikut berseru setuju. "Benar! Kami juga berhak. Kita harus bertarung mendapatkannya! Hanya satu yang terkuat yang pantas!"Dari kerumunan, Kael yang sejak tadi hanya diam ikut menghasut. Wajah rubahnya tampak menyeringai licik."Mereka pikir mereka siapa? Hanya karena mereka klan besar, mereka bisa seenaknya mengambil manusia murni? Ini tidak adil!"Suasana semakin memanas. Beberapa Beastmen mulai mengeluarkan cakar mereka, siap bertarung.Para pemimpin keempat klan yang terpilih dengan berani menerima tantangan. Namun, sebelum itu terjadi, Targos segera menghent
'Apa aku akan mati?' pikir Violet penuh kepasrahan yang tak rela. Tubuhnya terjun bebas ke bawah.Dari bawah, Leo melompat tinggi. Tangannya yang kekar meraih tubuh Violet tepat sebelum ia menyentuh tanah.Violet memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya gemetar ketakutan. Saat ia membuka mata, di depannya adalah pria pertama yang ia lihat di dunia ini."Bunga, kamu tidak apa-apa?" suara Leo berat namun penuh kecemasan. "Apakah elang itu melukaimu?"Violet terdiam. Bayangan saat Leo menidurinya secara paksa terlintas dalam kepalanya."Lepaskan aku!"Refleks, Violet mendorong Leo. Ia turun secara paksa dari pangkuan Leo, hampir jatuh karena kakinya lemas."Bunga—" Leo hendak meraih Violet, tapi Violet langsung menyela dengan suara lantang."Jangan mendekat!"Leo terdiam, terkejut dengan reaksi Violet. Matanya menangkap sesuatu di lengan Violet—tetesan darah dan anak panah kecil masih menancap di sana.'Itu, panah dari klan Singa,' pikirnya."Bunga, kamu terluka. Sepertinya anak buahku tida
"Kamu pikir aku akan percaya dengan rubah licik sepertimu? Kamu dirancang tak punya empati atau kepedulian pada orang lain, Kael Veyron," gumam Violet dalam hati sambil terus berlari.Ingatan Violet sebagai tester game bekerja cepat. Peta Beastmen Dominion terlintas jelas di benaknya. Sungai yang baru saja ia lewati adalah sungai Mant.'Kalau dari sini, aku bisa keluar dari wilayah Benua Shartia,' pikirnya pantang menyerah.Ada satu tempat yang ingin Violet datangi, yakni Pulau Edrin. Pulau yang tak pernah terjadi kekacauan antar klan dan hanya ada ketenangan. Dan yang paling terkenal dengan sikap netralnya adalah Klan Gajah.Violet bergegas melanjutkan perjalanan, meski tubuhnya sudah lelah. Klan Gajah terkenal dengan sikap netralnya, berbeda dengan klan lain yang selalu berseteru satu sama lain. Tempat yang paling aman untuk bersembunyi, setidaknya untuk sementara.Tiba-tiba, langkah Violet terhenti. Suara auman singa bergema di kejauhan, dalam dan menggetarkan tanah. Violet langsun
"Kamu mengenalku, ya. Kamu berasal dari mana?" celetuk Kael bertanya.Violet tersadar dari lamunannya dan langsung menghindari tatapan licik Kael. Kepalanya sedikit menunduk."Aku, tidak ingat," jawabnya dengan suara pelan.Violet memilih pura-pura bodoh di depan Kael. Ia menggerutu dalam hati."Kamu tidak ingat, tapi kamu tahu namaku?" Kael menyipitkan mata, sedikit curiga. "Padahal aku baru melihatmu di sini. Aneh, kan?"Violet memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan tajam itu. "Entahlah. Aku tidak tahu kenapa bisa di sini. Tapi aku tahu orang-orang terkenal sepertimu.""Oh, ya? Memangnya menurutmu aku siapa?" balas Kael, nada bicaranya ringan, tapi tatapannya terus mengamati setiap reaksi Violet."Pemimpin Klan Rubah."Kael tersenyum lebar, matanya ikut menyipit puas. Ia mengulurkan tangan, berniat membantu Violet bangkit.Tapi Violet menepis pelan. Ia bangkit sendiri, meski tubuhnya masih lemas dan kakinya gemetar hebat."Terima kasih sudah menolongku."Kael hanya tertawa







