LOGINHampir pukul 8 malam, Aston baru tiba di Bandara Incheon Korea Selatan yang terletak di pulau Yeongjong, Incheon. Namun karena apartement yang Aston tempati berada di kota Seoul, jadi memerlukan waktu hampir 1 jam untuk menuju ke sana.
Sebuah mobil dari staff rumah sakit yang merekrut pertukaran Dokter sudah berhenti menunggu Dokter Sp.OG itu."Kami perwakilan staff dari Rumah Sakit, mengucapkan selamat datang kepada anda, Dokter Aston," ucap seorang pria di atas usia AstonTama akhirnya memutuskan kembali ke ruang tengah sambil membawakan dua gelas jahe hangat dan cemilan untuk sang Mama. Setelah semuanya di letakan, Tama duduk di sebelah Bu Syanas untuk menanyakan kebenaran yang terjadi."Bu, di dapur ada susu ibu hamil, apa Alena hamil?" tanya Tama dengan wajah serius."Iya, Tam... Mama sebentar lagi akan punya cucu, dan kamu akan di panggil Om," kata Bu Syanas. Selama ini, yang Bu Syanas tahu: Tama hanya menikahi Dinda secara siri lalu berakhir begitu saja. Aston dan Tama sudah menyepakati, untuk tidak menceritakan masalalu pernikahan Tama dengan Alena. Aston hanya tidak ingi sang Ibu kembali kepikiran.Tama hanya tersenyum tipis, menegakan duduknya menatap kosong ke depan sambil menggapai gelas jahe tadi. Semakin ia mengingat bagaimana caranya memperlakukan Alena dulu, sama seperti Tama menggenggam pisau tajam yang hanya akan menyakitinya saja. Penyesalan memang hanya tinggal penyesalan. Namun setidaknya, Tama sudah berh
Setelah Aston selesai menandatangani data kepulangan pasien, ia dan Alena langsung menuju Apoteker bawah untuk mengambil vitamin yang sudah Aston resepkan tadi. Satu kantung paperbag itu sudah lengkah dengan beberapa vitamin pilihan, dan susu ibu hamil yang Aston recomended kan untuk sang Istri.Selanjutnya, Alena dan Aston langsung mampir ke rumah Mama Lusy, berniat untuk memberikan kejutan kepada keluarganya. Namun apa yang terjadi, setibanya di halaman rumah, Alena di buat mengernyit melihat mobil hitam mengkilap yang terparkir di halaman rumah Mamanya."Mobil itu?" bisik Aston. "Itu bukannya mobil milik Leon?" Aston menatap istrinya. "Sayang... Kamu yakin? Ada Leon di dalam?""Ada apa ya, Kak? Apa ada Leana juga di dalam?" gumam Alena penuh tanya. Ia hanya mengkhawatirkan sahabatnya, takut terjadi sesuatu."Sayang...." Aston menatap Istrinya penuh keyakinan. "Ayo kita masuk, dan kamu tidak perlu cemas lagi karena ada saya di samping kamu."
Langkah Aston semakin teratur begitu lift terbuka. Ia rengkuh pinggang istrinya, berjalan sedikit tergesa karena memang Alena sangat pucat. Semua orang banyak di buat bertanya-tanya, mengapa Dokter Aston kembali lagi bersama Istrinya? Namun tam sedikit pula yang fokus dengan masalah hidup masing-masing.Seorang Asisten perawat mengerutkan dahi, menegur Aston dengan wajah penuh tanya baru saja keluar dari meja konter. "Dok... Apa ada sesuatu?""Ini, Istri saya nggak enak badan. Saya mau periksa dulu," kata Aston."Oh, baik, Dok. Jika membutuhkan sesuatu hubungi saya," ucap sang Asisten.Pintu ruangan terbuka. Alena tersenyum pucat sebagai tanda terimakasih kepada Asisten suaminya. Di dalam, Aston meminta Istrinya untuk melakukan tes kehamilan, karena yang Alena rasakan sangat mirip dengan wanita hamil. Aston mengeluarkan tespack yang masih terbungkus rapi kepada Alena."Sayang, kamu coba tes dulu ya. Dan apapun hasilnya, jangan berkecil h
Aston meraih kedua tangan istrinya dengan mata berkaca. Mimpi buruk yang Istrinya katakan, mungkin semua itu kare perbuatan Leon sore tadi. Alena pun mengernyitkan dahi melihat perubahan ekspresi wajah suaminya. Ia bahkan menyeka sudut mata Aston yang kini luruh dengan air mata."Sayang, ada apa? Kamu menangis karena merasa bersalah padaku, sementara kamu selama ini sudah menjadi suami luar biasa," rintihnya. Aston pun langsung mendekap tubuh Alena dengan isakan tangis."Sayang... Kenapa kamu musti menutupi semuanya. Katakan pada saya, pasti pria brengsek itu 'kan yang sudah membuat kamu jadi seperti ini," ucap Aston begitu pelukan terlerai. "Sayang... Biar ku bunuh sekalian dia. Biar saya lenyapkan dia dari dunia ini."Alena terdiam. Bibirnya melekuk senyum dalam. "Kak....""Mana, sayang? Mana bagian tubuhmu yang dia sentuh? Biar saya bersihkan," sela Aston mengusap lengan Alena cukup lembut.Alena tahu suaminya tengah merasa berslah se
Pria tadi keluar tanpa dosa. Sepatu mahal mengkilapkanya menapak jalanan aspal, lalu tersenyum penuh keremehan ke arah Aston. Pria tadi menyandarkan punggungnya pada body mobil, bersedekap dada, kembali tersenyum dengan penuh arti. "Brengsek! Bedebah!" Umpatan itu keluar begitu saja dari mulut Aston seraya ia membuka pintu mobilnya. Aston keluar, lalu segera beranjak mendekati pria tadi dengan tatapan bengis. "Katakan, apa mau kamu, brengsek!" lanjut Aston dengan deretan gigi yang sudah menggeretak. Terlihat anak buah pria tadi tampak mendekat dan membisiki sesuatu sambil menunjukan ponselnya. "Mr. Leon... Nona Alena baru saja mengungah rasa ketidaksabarannya untuk makan rujak. Dan mungkin, suaminya malam ini tengah berusaha memberikan rujak untuk Nona Alena." Leon hanya tersenyum tipis, lalu menyuruh anak buahnya pergi."Aston... Senang sekali malam-malam kebetulan bertemu kamu. Oh ya, apa kamu sudah tahu kejian sore tadi di toilet? Tubu
Bu Syanas menatap sang putra dengan raut wajah serius. Jika di bilang tanda-tanda, mungkin hampir mendekati. Tapi Bu Syanas tak ingin mengeklaim semuanya sendiri. Karena setiap orang memiliki hormon yang berbeda. Bisa jadi itu pembawaan dari tubuh Alena yang tengah dehidrasi, jadi ingin memakan buah yang banyak mengandung air. Dan keinginan itu bisa muncul kapan pun juga."Aston... Ibu nggak bisa mengatakan 'iya' juga 'tidak'. Ibu hanya tidak ingin istrimu lebih berharap. Atau begini saja, kamu tanyakan pelan-pelan masa haid Alena. Kamu sebagai suaminya harus lebih paham. Apalagi kamu kan Dokter kandungan. Hal begini seharusnya mudah saja bagi kamu," jelas Bu Syanas.Aston membuang napas. Entah mengapa, keluhan itu pun juga sering ia terima dari berbagai macam pasiennya. Tapi untuk sang istri sendiri, entah mengapa pikirannya mendadak buntu."Aston hampir melupakan semua itu, Bu. Mungkin saking paniknya. Ya sudah, Aston keluar buat cariin rujaknya. Nanti k
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se







