LOGINAlena sudah tidak dapat lagi menahan gejolak yang hampir meledakan emosionalnya saat ini. Sentuhan panas itu membuat dadanya lebih membusung naik ketika bibir Aston berhasil mencapai pucuk kemerahan dibalik daster tipisnya. Sensasi memutar dari lidah Aston diluar kain satin -menusuk pucuk gundukannya, Alena merasakan gigitan kecil yang membuat sekujur tubuhnya terasa lemas bersamaan. Aston memainkan dua aset kembar Alena beberapa menit, hingga remasan lembut itu serasa membuat tubuh Alena ter
Ting!Lift baru saja terbuka, Alena keluar sambil mengedarkan mata. Teknisi tadi bilang, Aston akan menunggunya. Tapi dimana? Alena mencari jalan keluar, namun baru dua langkah kakinya menapak, ada tangan kekar yang mencengkram tangannya dari belakang. Alena pun reflek menoleh. Di depannya sudah ada seorang pria yang mengenakan setelan kasual dilapisi jaket hoodie memakai masker dan topi. Alena mengenal betul jaket milik siapa itu.Alena menarik maskernya ke bawah. "Kak....""Sayang...." Aston pun langsung memeluk tubuh Istrinya begitu erat dengan tangisan prihatin. "Sayang, akhirnya kita bersama lagi. Saya berjanji sama kamu dan diri saya sendiri, mulai detik ini, saya akan menjaga kamu."Alena merasakan lega, napasnya teratur lembut, membuat rasa nyaman dan tenang melingkupi dinding hatinya. Ia pun memeluk tubuh sang Istri dengan erat, tangan kekarnya mengusap lembut kepala Alena, di ciumi berkali-kali sebagai bentuk ungkapan rasa rindunya.
Segelas air tadi tertenggak sampai tatas, karena memang selain enak, asinan buah kuah buatan Alena juga sedikit pedas. Keringat sampai memupuk di sudut dahi Renaldi. Bibirnya pun sampai ikut merah karena kulit wajah Renaldi sangat bersih."Wah, enak sekali, Nona. Ya sudah, kalau begitu saya kembalikan ke dapur dulu," ucap Renaldi yang sudah bersiap membawa mangkuk dan gelas tadi."Eh, jangan!" Alena menahan lengan Renaldi. "Biar saya sekalian mau ke belakang."Renaldi tertunduk merasa segan. "Jangan, Nona! Nanti Tuan Leon marah. Anda sedang hamil, dan tidak boleh melakukan aktivitas lebih.""Ini hanya mangkuk dan gelas saja, Renaldi. Bukan batu lima kilo," kata Alena seraya bangkit. Ia lalu meraih gelas dan mangkuk tadi untuk di bawa menuju dapur.Alena duduk lagi di kursi kecil mini bar dapur. Ia menatap ke arah Renaldi yang sejak tadi sudah menguap beberapa kali. Alena tersenyum miring, sorot matanya menatap penuh licik, berharap pria g
TingTongSuara bel menggema di seluruh ruangan megah Penthouse Leon. Seorang pria berpenampilan formal pagi itu bergegas membukakan pintu. Wajahnya kaku tatapannya sangat dingin. Ia menatap seorang pria berseragam - mengalungi identitas yang tertulis "Teknisi Ac". "Siapa kamu?""Saya teknisi Ac, Tuan. Saya sebulan sekali memang di tugaskan kantor untuk mengecek Ac setiap hunian Penthouse," ucap pria berseragam biru tua tadi. Ia masih mengenakan masker, topi, dan membawa satu kotak perkakas di tangannya. Pria berpakaian formal tadi masih menyipitkan mata. Mungkinkah pria di depannya ini adalah komplotan salah satu pria yang ingin masuk lift tadi malam? Batin anak buah Leon masih terus mengusik. Jika salah sedikit pun, hidupnya tak akan selamat. "Buka masker dan topimu!" ucap Anak buah Leon. Sorot matanya tajam, menunggu Teknisi Ac tadi bergerak. Meskipun berat, namun petugas Teknisi Ac itu akhinya menuruti. Ia segera
Hingga pukul 9 malam, ke-empat pria itu masih duduk di area lobi. Aston bingung apa yang harus dirinya lakukan agar dapat masuk ke dalam lift tadi. Ia duduk di sebelah adiknya, sementara Damian dan Danu duduk di sebrangnya. Dan tak lama itu, sebuah ide muncul dari Tama. Pria itu memang paling muda, tapi kecerdasan Tama memang tidak di ragukan lagi. Itulah sebanya dulu Aston berniat betul menyekolahkan adiknya di jurusan Kedokteran. Meskipun arogan, tapi iq Tama di atas rata-rata. Tama menyerongkan duduknya sambil menepuk pundak sang Kakak. "Mas, aku punya ide menarik."Di saat itulah semua orang berkerumun. Tama menjelaskan secara rinci, dari jalan pertama yang harus mereka lakukan, dan bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Penthouse Leon. Karena Tama yakin betul, Penthouse di atas pasti milik pria singa itu. Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba dari arah pintu lobi datang seseorang dengan langkah tergesanya. Mike, pria itu berhenti, dan melihat
Leon masih terus berjalan. Alena sudah sangat ketakutan, berasa nyawanya di ujung tanduk. Sikap maskulin pria itu tidak membuat Alena terkesima, tapi malah membuatnya ingin muntah. "Alena... Jangan seperti ini, sayang. Ayo kita makan malam dengan romantis. Kamu duduk di sampingku, lalu saya memegang tanganmu dengan mesra."Tangan Leon sudah menjulur mencoba meraih lengan Alena, namun belum sampai Alena lebih dulu menepisnya. "Jangan sentuh saya, Leon?!"Suara Alena melengking, bergetar, air matanya mulai menetes membasahi wajah cantiknya. Sementara Leon kembali tersenyum tipis, menghadapi Alena membutuhkan kesabaran ekstra besar. Namun Leon bukan tipikal orang penyerah begitu saja. Ia sudah berjalan sejauh ini. Alena sudah ada di depan matanya, jadi selangkah lagi ia harus mendapatkan. "Ayolah, sayang... Jangan galak seperti ini," pinta Leon. Suaranya rendah dengan tatapan memohon. "Saya lebih baik tidak makan apa-apa, daripada harus duduk di sa
Perusahaan Damian,1 jam berlalu, pukul 2 siang Aston baru saja keluar dari ruang meeting sembari menghidupkan gawainya. Karena memang selama meeting Aston selalu menonaktifkan, agar ponselnya tak mengganggu jalannya meeting. Ia tampak terkejut melihat beberapa panggilan tak terjawab dari sang Ibu, begitu Tama juga mendapat panggilan yang sama. Karena Bu Syanas tahu, jika ke dua putranya tengah meeting bersama. "Mas, Mama kok Mama telfon ya bekasnya? Ada apa ya?!" Tama menatap Kakaknya dengan gurat cemas. "Iya, Ibu juga telfon banyak banget bekasnya," gumam Aston seraya menghubungi Mamanya kembali. Pikiran Aston sudah kemana-mana karena memang Alena tengah hamil muda. Dan tak berselang lama itu panggilan Bu Syanas terhubung. "Bu... Ada apa, Bu?""Aston... Ayo cepat pulang, Nak. Alena dalam bahaya. Dia di bawa taxi online yang mengatasnamakan perintah Sarah, padahal Sarah saja baru datang," jelas Bu Sarah. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu san
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah







