LOGIN“Kakak ….” Suara ketukan pintu itu terdengar sangat keras, saking kerasnya membuat Asih yang sedang menyiapkan sarapan pagi, melongokkan kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya saat Nina menggerakkan kepalanya seolah sebuah pertanyaan tanpa kalimat. Dua hari sudah berlalu sejak malam menghilangnya Kiara. Rumah yang sepi itu kembali ceria.“Apa?” Suara maskulin itu langsung terdengar sesaat setelah pintu terbuka lebar. Kiara langsung masuk tanpa permisi. Matanya menatap seisi kamar Hanson dan tersenyum saat melihat koleksi kaset film di atas mejanya. Hanson langsung berlari. Bukan karena tidak suka barang-barangnya disentuh oleh Kiara, tapi ia tak mau Kiara tahu hal hal yang tak seharusnya. “Kamu mau apa, Ara?” tanya Hanson. Ia sengaja menjadikan badannya sebagai penghalang tangan Kiara untuk menggapai tumpukan kaset koleksinya.“Kakak kenapa, sih? Ara cuma mau pinjem kaset film koleksi Kakak, kok,” sahut Kiara, “kemar
Semua mata di meja makan itu tertuju pada Kiara. Pak Gunadi menatapnya dengan senyuman. Wisnu bersandar di kursinya dengan mata menyorot tajam pada sosok yang baru bergabung itu. Sedangkan Prana berdiri dengan kedua tangan bertumpu di meja dan senyuman tipisnya.Lalu Hanson duduk di seberang meja dengan alat makan yang sudah diletakkan dari tadi. Mata elangnya tidak pernah lepas dari wajah Kiara sejak pertanyaan Prana itu menggantung di udara.Kiara menundukkan kepala. Ia menarik napas canggung. Ia tak bisa memungkiri apalagi Pak Gunadi jelas melihat momen tadi.“Aku …” Kiara mulai bersuara. Ia melirik ke arah Hanson. “Aku sudah mencoba untuk tidak mengakuinya. Aku sudah coba bilang ke diriku sendiri kalau itu hanya karena situasinya. Terlalu banyak hal yang terjadi sekaligus belakangan ini. Karena perasaan seperti itu tidak masuk akal, mengingat apa yang sudah kita lewati bersama sebagai kakak adik.”Hanson menatapnya lekat. Ia menunggu Kiara men
Satu langkah, Kiara maju dengan tenangnya, membuat jantung lelaki di hadapannya gemuruh tak karuan. Sepasang kakinya berjingkat, membuat tubuhnya bertumpu pada jari kaki, membuat bibir mereka saling bersentuhan dengan singkat. Sentuhan singkat itu membuat jantung Hanson berdegup lebih kuat. Semua yang sudah dilaluinya seperti terbayar lunas. Sentuhan itu seakan membangkitkan kembali harapannya. Sesaat ia bergeming, tubuhnya seperti kaku saking terkejutnya menerima sentuhan itu. Namun saat Kiara kembali mendaratkan kakinya dan membuat jarak di antara mereka; Hanson segera merengkuh pinggangnya. Ia menundukkan kepalanya, menghapus jarak di antara mereka dengan sebuah kecupan. Kecupan yang dalam, sedalam perasaan rindu yang disimpannya sepanjang hari ini. Suara dehem terdengar memecah keheningan, di antara derik serangga malam yang mulai berisik. Saking terkejutnya, Kiara mendorong dada Hanson. Ia langsung menoleh ke belakang. Wajahnya memucat, karena malunya. Ia hanya berharap si
Dinginnya udara malam seperti merambat di tubuhnya saat tubuhnya menabrak tubuh lelaki di hadapannya. Lelaki yang semalam kemaren membuat mentalnya jatuh, hanya karena memergokinya dengan perempuan lain di ruang kerjanya. “Kenapa kamu kemari?” tanya Kiara dengan kesal. Ia menatap Prana yang berlagak innocent, saat melangkah pergi dari balik punggung Hanson. “Karena aku nggak mau kehilangan kamu lagi,” sahut Hanson, “karena aku mau menepati janjiku buat melindungi kamu seumur hidup kamu.” Hanson mengangkat tangan kanannya, hendak menyentuh Kiara. Tapi Kiara justru mundur selangkah, seakan jijik untuk sekedar bersentuhan. “Nggak perlu.” Kiara menatapnya dengan tajam. Hatinya terasa beku, seperti peristiwa yang telah terpatri di ingatannya malam itu. “Aku punya dua kakak yang bisa menjagaku. Aku juga punya papa yang sayang sama aku.”Hanson menghela napas. Perlahan ia menurunkan tangan kanannya dengan canggung. “Aku nggak tau apa yang buat kamu tiba-tiba bereaksi seperti ini, Kiara.
“Apanya?” Kiara mengerutkan kening. “Maksud Mas Wisnu tentang rumah? Tenang saja. Aku bisa tinggal di sini ataupun di sana. Ada Nenek Melati yang pastinya cemas kalau aku tidak pulang ke rumah juga. Jadi, aku akan—”“Bukan itu.” Wisnu menggelengkan kepala. “Aku tahu Nenek Melati sangat baik padamu. Dia juga tentu khawatir kamu pergi. Aku tahu itu. Hanya saja aku mengatakan itu untuk yang lain. Maksudku … tentang gosip itu. Apakah tidak ada cara untuk menghapusnya? Kakak cuma berpikir tentang masa depanmu, nama baikmu.”Kiara terdiam. Ia menatap lama kakak yang baru saja dia temukan hari ini. “Tidak usah dipikirkan, Mas.” Kiara tersenyum. “Gosip itu akan turun dan hilang sendiri ketika ada gosip baru. Aku tidak terlalu peduli. Faktanya ... aku tidak pernah melakukan hal seperti itu."Wisnu melebarkan mata. “Bagaimana bisa kamu tidak peduli? Nama baikmu jadi hancur—”“Aku tahu, Mas. Tetapi, percuma juga membela diri. Mereka hanya akan percaya apa yang mereka ingin percayai. Dikira aku
Kiara tidak punya jawaban untuk itu. Baginya Theo hanya teman yang baru dikenalnya beberapa hari.“Apa-apaan itu? Bagaimana bisa Theo menyukaiku? Dia kan hanya kasihan padaku.” Kiara membatin bingung. Sebab, baginya itu terdengar mustahil.Mereka berjalan dalam diam lagi. Lampu jalan kekuningan menerangi trotoar. Prana memperbaiki letak kantong belanjaannya. Ia mendongak menatap punggung Kiara.“Kiara.” Prana memanggil Kiara lagi.Kiara melambatkan langkah kakinya. Ia menunggu.“Kamu boleh berbohong pada siapapun. Itu hakmu. Aku tidak bisa melarangnya. Tetapi, aku mau minta satu hal.”Kiara belum menjawab sedikitpun. Hanya berjalan biasa yang sesekali menarik napas. Perasaannya aneh ketika ditodong pertanyaan itu.“Jangan berbohong kepada dirimu sendiri.”Langkah Kiara melambat lagi. “Aku tidak berbohong kok.”“Perasaan yang tidak diakui tidak bisa hilang begitu saja. Justru bisa saja perasaan itu semakin mendalam. Kamu bisa berkata tidak menyukai salah satu diantara mereka. Hanya saj







