Share

DPK 033

last update publish date: 2026-05-01 01:59:31

“Nggak ada yang perlu kamu takutkan.”

Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

Kiara membeku. Perasaannya benar-benar kacau. Keluarga Luminto tidak sesederhana yang terlihat. Dan … ia merasa tak aman berada di dalam lingkaran itu.

“Kakak, nggak marah kan, sama aku?” tanya Kiara penuh harap, “Kakak masih anggap aku adik, kan?”

Lelaki itu mencubit pucuk hidungnya dengan gemas. “Dasar bodoh! Kapan aku pernah marah sama kamu.”

Dalam kegelisahannya, Hanso
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 34

    “Bukan … bukan sekedar buat asuransi. Tapi juga … mengambil alih semua usaha yang sudah orang tuaku perjuangkan buat kami.” Carlos menghela napas. “Dia mungkin memang satu-satunya yang tersisa dari keluarga Luminto seandainya kamu dan adik kamu nggak ada. Tapi … kamu yakin dia sanggup menyakiti keluarganya sendiri? Bukannya sepuluh tahun lalu, dia yang terlihat paling terpukul saat pemakaman orang tuamu?” Hanson menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa kupercaya. Tapi … ada baiknya kalau kita tetap mengawasi dia.” Carlos mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bisa memahami kecurigaan sahabatnya. “Vanessa kemarin diperiksa selama dua jam di kepolisian. Tapi …” Carlos menghela napas, “tidak cukup bukti buat menahannya. Vanessa punya alibi yang kuat.”Tiba-tiba pintu ruang inap itu terbuka dengan lebar. Seorang wanita dengan rambut memutih itu melangkah masuk. Dibelakangnya, seorang gadis muda mengikuti dengan sekeranjang buah segar di tangannya.“Astaga … Kiara.” Su

  • Dekapan Panas Kakakku   DPK 033

    “Nggak ada yang perlu kamu takutkan.”Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”Kiara membeku. Perasaannya benar-benar kacau. Keluarga Luminto tidak sesederhana yang terlihat. Dan … ia merasa tak aman berada di dalam lingkaran itu.“Kakak, nggak marah kan, sama aku?” tanya Kiara penuh harap, “Kakak masih anggap aku adik, kan?”Lelaki itu mencubit pucuk hidungnya dengan gemas. “Dasar bodoh! Kapan aku pernah marah sama kamu.”Dalam kegelisahannya, Hanson bukan mengkhawatirkan dirinya, melainkan keselamatan adiknya seandainya motif pamannya benar-benar tentang harta keluarga Luminto.Ia tahu dengan jelas karakter Edwin Luminto yang bisa melakukan apapun untuk mencapai keinginannya. Apalagi beberapa tahun lalu, Hanson dengan sengaja mengusirnya dari perusahaan karena kasus penggelapan yang dilakukannya.Hanson bahkan menindak tegas kesalahan itu dengan memutasinya ke anak cabang perusahaan di luar negeri. Entah apa yang bakal pamannya lakukan se

  • Dekapan Panas Kakakku   DPK 032

    Hanson menatap gadis yang terbaring di atas ranjang. Mata indah dengan bulu lentiknya itu masih terkatup. Dadanya naik turun dengan lembut dan teratur seperti lelap dalam mimpi indahnya. Lelaki muda itu gelisah. Ia tak bisa melupakan percakapannya dengan dokter Kirana semalam. Hatinya mencelos setiap memikirkan kemungkinan orang tuanya melakukan hal yang tidak seharusnya. Dan seandainya Nenek Melati mendengar berita ini, nama baik mendiang ibunya bisa saja hancur. Tidak! Tidak ada yang boleh tau sebelum ia mengetahui kebenarannya. Terlalu banyak kemungkinan. Bisa saja Kiara yang sebenarnya hidup bahagia dengan keluarganya. Lelaki itu meraih ponselnya dan menggulir layarnya sebelum menempelkan benda pipih itu di telinganya. “Alex, aku butuh bantuanmu.” Hanson mencubit pangkal hidungnya, berusaha menghilangkan pening di kepalanya karena tak bisa tidur semalaman. “Pergilah ke rumah sakit bersalin Kasih. Cari berkas atas nama Nyonya Tiara Indah, tepatnya dua puluh tahun yan

  • Dekapan Panas Kakakku   DPK 031

    Hanson memijat keningnya dengan frustasi. Bayangan kejadian semalam tak bisa hilang dari ingatannya. Ia masih ingat bagaimana nekadnya dirinya untuk mencium adiknya. Bukan hanya itu, ia juga merasa berdosa karena sudah menggerayang di tubuh gadis itu. Jemarinya masih bisa merasakan saat menyentuh lembut kulitnya bahkan bagian intinya. Ia bisa merasakan dengan jelas belahannya yang rapat, hangat dan basah itu. “.... Pak Hanson, bagaimana pendapat Anda.”Tiba-tiba suara maskulin itu menghancurkan lamunannya. Ia menatap Carlos yang lagi-lagi seperti sengaja memojokkan di hadapan team peserta meeting kali ini“Kita sedang membicarakan design interior mall kita,” terang Carlos setelah tak juga mendapat tanggapan dari bosnya. “Apa Anda sudah menyetujui design yang diajukan oleh PT. Mitra tadi?” Hanson menegakkan tubuhnya dengan gelisah. Ini bukan pertama kali baginya melamun di tengah rapat penting yang ia pimpin. Tapi ia tidak ingin semua mata yang tertuju padanya itu merasa kecewa kar

  • Dekapan Panas Kakakku   DPK 030

    “Pegang tanganku!” perintah Hanson. Wajahnya tegang, jelas menunjukkan kepanikannya. Tapi pinggiran teralis itu terasa tajam dan Kiara tak sanggup menahan rasa sakit di telapak tangannya. Perlahan pegangannya mulai terlepas dan tubuhnya melayang jatuh begitu saja. “Ara!” Teriakan itu menggema. Hanson membuka matanya. Keringat membasahi keningnya. Ia hampir tidak pernah bermimpi, tapi mimpi buruk kali ini benar-benar terasa begitu nyata. Hanson mengatur napasnya, berusaha mengusir kegelisahan yang semakin menggila di otaknya. Pikirannya tak lepas dari Kiara. Mungkin saja itu sebuah peringatan baginya bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Mungkin saja mimpi itu sengaja diberikan agar ia dapat melindungi Kiara.Lelaki itu menyibak selimutnya. Ia turun dari ranjang dan bergegas keluar dari kamarnya. Rasa dahaga seperti mengundangnya untuk melangkahkan kakinya ke dapur. Suara degung halus terdengar dan cahaya lampu dari lemari pendingin begitu mencolok di kegelapan ruangan. Kiara men

  • Dekapan Panas Kakakku   DPK 029

    “Hei!” Teriak Kiara saat seorang gadis menabrak lengannya.Gadis itu menoleh. Bukan hanya dia, tapi juga beberapa gadis yang kebetulan ada di toilet saat itu. “Kenapa? Kamu nggak terima? Mau marah? Mau nampar lagi?” ketus gadis itu. Ia melangkah mendekat seolah sengaja mengintimidasi. “Kamu pikir karena kamu dekat dengan keluarga Luminto, lalu kamu bisa main tampar?”Gadis berbadan bongsor itu melangkah mendekati Kiara dengan tatapannya yang mengintimidasi. Vanessa tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan itu. Ia berdiri di hadapan gadis itu. Kedua tangannya terangkat, menghalangi pukulan yang dilayangkan pada Kiara. “Jangan pukul dia!” teriaknya sembari memejamkan mata.Gadis bertubuh bongsor itu menurunkan tangannya. “Aku nggak paham sama kamu. Tadi kamu sudah ditampar juga, kan sama dia. Tapi … kamu sekarang malah berdiri jadi tameng buat dia. Apa kamu sudah gila?” “Itu … urusan aku sama dia,” bantah Vanessa, “kalian nggak perlu ikut campur.” Gadis-gadis itu mendengus kesal. Ada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status