Mag-log inBau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciuman Felix, menciptakan suasana dingin yang sangat ia benci. Di depannya, di atas bangsal putih yang tampak terlalu keras bagi tubuhnya yang mungil, Jolina terbaring tak berdaya.
Wajahnya yang pucat hampir sewarna dengan sprei rumah sakit, dan sepasang matanya yang biasanya memancarkan ketakutan—namun tetap indah—kini terpejam rapat di bawah pengaruh obat bius. Tangan Jolina yang halus kini dipenuhi dengan selang infus dan kabel-kabel monitor. Di sampingnya, botol cairan penguat kandungan menetes perlahan, seolah-olah sedang menghitung setiap detik kehidupan yang hampir saja melayang. Felix duduk di kursi kayu di samping ranjang, punggungnya yang biasanya tegak kini tampak sedikit membungkuk. Dokter baru saja keluar setelah memberikan vonis yang membuat jantung Felix seolah berhenti berdetak. Pendarahan hebat. Janin itu masih ada, detak jantungnya masih terdengar meski sangat lemah. Namun, Jolina berada dalam kondisi kritis secara emosional dan fisik. Rahimnya lemah, dan dokter memperingatkan dengan nada yang sangat serius bahwa sedikit saja tekanan atau kelelahan—baik fisik maupun mental—maka Felix akan kehilangan segalanya. "Bodoh," desis Felix pada dirinya sendiri. Suaranya yang berat bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia meraih jemari Jolina yang dingin, menggenggamnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah wanita itu terbuat dari kaca yang bisa pecah hanya dengan satu sentuhan. Perasaan-perasaan aneh mulai merayapi dada Felix. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan, kekhawatiran yang menyesakkan, dan penyesalan yang membakar. Sebagai seorang Don, ia dididik untuk tidak memiliki perasaan. Baginya, kelemahan adalah hukuman mati. Namun malam ini, melihat Jolina yang terkapar karena perbuatannya sendiri, Felix merasa seperti pria paling lemah di muka bumi. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas yang sudah sedikit lecek. Surat Jolina. Felix menatap tulisan tangan yang miring dan gemetar itu. "...Aku harap kau akan bahagia saat tahu tentang bayi kita." Setiap kata dalam surat itu terasa seperti peluru yang menembus jantungnya. Jolina mencintainya. Setelah semua kekasaran yang ia berikan, setelah ia menyeretnya ke rumah ini sebagai budak hutang, dan setelah ia memperlakukannya sebagai objek pemuas hasrat, wanita ini justru membalasnya dengan cinta. Dan benih yang ia tanam, yang seharusnya menjadi bukti kekuasaannya, hampir saja ia lenyapkan dengan tangannya sendiri hanya karena hasutan ular berbisa bernama Oliver. Felix membenci dirinya sendiri. Ia membenci rasa lemah ini. Ia membenci bagaimana Jolina, tanpa mengangkat satu senjata pun, berhasil menaklukkan benteng pertahanannya yang paling kokoh. Saat keheningan semakin mencekam, bayangan masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam mulai bangkit kembali. Ingatan itu seperti film lama yang diputar ulang dengan warna-warna yang suram. Felix kecil berdiri di ambang pintu perpustakaan ayahnya. Ia memegang sebuah piala perunggu hasil kompetisi menembak yang baru saja ia menangkan dengan skor sempurna. Ia ingin menunjukkan itu pada ayahnya, ingin mendengar satu saja kata pujian. Namun, di dalam ruangan itu, ayahnya justru sedang tertawa lebar sambil mengacak-acak rambut Oliver. "Lihat ini, Oliver mendapatkan nilai sempurna lagi di sekolah! Inilah calon pemimpin yang pintar, yang tidak hanya mengandalkan otot!" suara ayahnya terdengar penuh kebanggaan. Sang ibu pun ada di sana, tersenyum manis sambil menyuapi Oliver sepotong kue. "Oliver memang istimewa. Tidak seperti kakaknya yang hanya tahu cara berkelahi dan membuat masalah." Felix yang saat itu masih berusia sepuluh tahun perlahan menyembunyikan pialanya di balik punggung. Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sejak hari itu, ia belajar bahwa cinta adalah hal yang mahal, dan perhatian adalah sesuatu yang harus direbut, bukan diberikan cuma-cuma. Orang tuanya selalu pilih kasih. Oliver adalah emas di mata mereka, sementara Felix hanyalah jelaga yang mengotori nama keluarga. Itulah yang membuat Felix tumbuh menjadi sosok yang temperamental. Ia menjadi kasar karena dunia tidak pernah memberinya kelembutan. Ia menjadi posesif karena ia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun yang berharga tanpa harus berdarah-darah untuk mendapatkannya. Dan sekarang, pola itu terulang lagi. Oliver mencoba mengambil Jolina darinya, dan Felix—dengan sifat kasarnya yang sudah mendarah daging—hampir saja menghancurkan satu-satunya hal yang tulus mencintainya. "Maafkan aku," bisik Felix lirih. Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Ia belum pernah meminta maaf pada siapa pun seumur hidupnya. Felix mendekatkan wajahnya ke tangan Jolina, mencium punggung tangan istrinya itu dengan penuh rasa bersalah. Ia bersumpah dalam hati, jika Jolina bangun dan anak ini selamat, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh mereka. Terutama Oliver. Ia akan memastikan adiknya itu membayar setiap tetes air mata Jolina dengan darahnya sendiri. Tiba-tiba, monitor jantung di samping ranjang berbunyi lebih cepat. Jari-jari Jolina yang berada di genggaman Felix mulai bergerak sedikit. Felix tersentak. "Jolina? Kau bisa mendengarku?" Kelopak mata Jolina bergetar hebat. Ia mulai merintih pelan, wajahnya tampak kesakitan seolah ia sedang terjebak dalam mimpi buruk yang sangat mengerikan. Ia mulai mengigau, suaranya kecil dan serak, namun cukup untuk membuat Felix membeku di tempatnya. "Jangan... jangan ambil dia... Tuan Felix, jangan..." isak Jolina dalam tidurnya. Air mata merembes dari sudut matanya yang masih terpejam. "Tolong... jangan sakiti bayiku..." Hati Felix serasa disayat sembilu. Jolina tidak sedang takut pada musuh atau pada Oliver. Ia sedang takut padanya. Istrinya sendiri memohon perlindungan darinya dalam tidurnya. Felix segera berdiri, mencoba menenangkan Jolina. "Sshh... aku di sini, Jolina. Tidak ada yang akan menyakitimu. Aku berjanji." Jolina perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, namun saat ia mengenali wajah Felix yang berada begitu dekat dengannya, reaksi pertama yang ia tunjukkan bukanlah kelegaan. Tubuhnya tersentak ketakutan, ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Felix seolah-olah pria itu adalah monster yang siap menerkamnya kembali. "Pergi..." bisik Jolina dengan suara ketakutan yang murni. "Jangan sentuh aku..." Felix terpaku, tangannya menggantung di udara. Penolakan itu jauh lebih sakit daripada luka tembak mana pun yang pernah ia terima. Ia melihat mata Jolina yang penuh dengan trauma, mata yang kini tidak lagi melihatnya sebagai seorang suami, melainkan sebagai seorang algojo. "Jolina, dengarkan aku. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Bayinya... dia selamat. Dia masih ada di sini," Felix mencoba berbicara selembut mungkin, tangannya gemetar saat ia menyentuh perut Jolina dengan sangat pelan. Jolina membeku. Ia menatap Felix dengan tatapan yang kosong namun pedih. "Dia selamat? Tapi kau... kau membencinya, Felix. Kau bilang aku pengkhianat. Kau memperlakukanku seolah aku adalah sampah..." "Aku salah, Jolina! Aku buta karena cemburu!" Felix jatuh berlutut di samping bangsal rumah sakit, kepalanya tertunduk di sisi ranjang Jolina. Pria yang ditakuti seluruh kota itu kini tampak hancur di depan seorang wanita yang tak berdaya. "Aku tahu tentang Oliver. Aku tahu dia berbohong. Aku membaca suratmu..." Jolina menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan tangan yang terinfus. "Kau baru percaya padaku setelah kau hampir membunuhku? Setelah kau menghancurkan harga diriku berkali-kali? Aku mencintaimu, Felix... tapi aku tidak tahu apakah aku bisa menatapmu tanpa merasa sakit lagi." Felix merogoh surat itu dan meletakkannya di tangan Jolina. "Aku tidak pantas mendapatkan cintamu. Tapi tolong, demi bayi ini, beri aku satu kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang kau butuhkan. Bukan monster yang kau takuti." Jolina menatap surat itu, lalu menatap Felix yang masih berlutut. Ada keheningan panjang yang menyiksa di antara mereka. Jolina ingin membenci pria ini, namun ia juga tahu bahwa di balik kekasaran Felix, ada seorang anak kecil yang terluka yang hanya butuh diakui. Perlahan, tangan Jolina bergerak menyentuh rambut Felix. Sentuhan itu sangat ringan, namun bagi Felix, itu terasa seperti pengampunan yang tak ternilai harganya. Namun, saat suasana sedang begitu emosional, pintu kamar terbuka sedikit. Bukan oleh perawat, melainkan oleh seorang anak buah Felix yang berwajah pucat. "Tuan... maaf mengganggu," bisiknya gemetar. "Ayah Anda... Beliau baru saja mendarat di kota ini. Beliau mendengar tentang kehamilan Nyonya Jolina, dan beliau menuntut agar Anda segera membawa Nyonya pulang untuk melakukan tes DNA di hadapan seluruh anggota keluarga besar." Pria itu menarik napas sejenak. "Beliau bilang... jika bayi itu bukan murni darah kita, ia tidak boleh lahir."Asap rokok abu-abu membumbung tinggi, terdistribusi pelan oleh angin malam yang berembus dingin di balkon lantai teratas mansion megah berarsitektur klasik Eropa modern. Mansion itu berdiri terisolasi di kawasan perbukitan paling eksklusif, memandang jauh ke arah pendar lampu kota yang membentang bagai lautan cahaya di bawah sana.Pria yang baru saja bertabrakan secara tidak sengaja dengan Felix Wesley di persimpangan jalan berdiri bersandar pada pagar pembatas besi tempa. Natan Kyler—seorang pengusaha terkaya dan salah satu figur paling berpengaruh di tingkat internasional—menyesap rokoknya perlahan. Mantel kasmir mewahnya yang basah terkena gerimis tadi telah berganti dengan setelan lounge suit sutra gelap yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna.Wajahnya yang tegas tampak tenang, namun sepasang mata cokelat gelapnya memancarkan keletihan jiwa yang teramat dalam. Di dunianya, kekuasaan tak terbatas dan kekayaan berlimpah yang ia miliki tidak pernah sanggup membeli satu hal ya
Rerumputan liar dan pepohonan rimbun mengapit bangunan tua berdinding bata yang telah tampak merana di batas kota. Rumah lama keluarga Roberson berdiri membisu di bawah guyuran gerimis malam. Sebagian atapnya telah runtuh akibat kebakaran beberapa tahun silam, meninggalkan sisa-sisa kayu hitam dan pilar-pilar rapuh yang diselimuti lumut.Iring-iringan SUV hitam milik Felix berhenti tepat di halaman depan yang dipenuhi semak belukar. Felix melangkah turun dengan gerakan cepat. Wajahnya mengeras, sementara tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam menggenggam revolver peraknya. Di saku jasnya, foto Nyonya Valerie yang baru saja didapatnya dari pria asing di persimpangan jalan terasa menekan dadanya bagai timah panas."Amankan seluruh perimeter! Jangan biarkan siapa pun lolos!" perintah Felix pada tim taktisnya.Satu tim pengawal berpelindung tubuh lengkap menyergap masuk terlebih dahulu, memecahkan sisa-sisa pintu kayu yang sudah lapuk. Suara derap sepatu bot bergaung
Malam membungkus kota dengan keheningan yang dingin. Hujan gerimis yang turun sejak sore meninggalkan permukaan aspal jalanan licin dan berkilat di bawah temaram lampu jalan. Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalurnya, dipimpin langsung oleh Felix Wesley dari balik kemudi kendaraan paling depan. Mata elang Felix menatap lurus ke jalanan yang sepi. Informasi terbaru dari The Ghost mengenai sinyal ponsel Roberson yang bergerak mendekati rumah tua terus berputar di kepalanya. Pria itu menancap gas lebih dalam, membiarkan deru mesin mobilnya menggerung membelah malam. Fokusnya terkunci total pada brankas tua yang menyimpan rahasia tentang Valerie dan asal-usul Jolina. Namun, di sebuah persimpangan jalan utama yang sepi di batas kota, takdir memiliki rencananya sendiri. Sebuah mobil sedan mewah edisi terbatas berwarna hitam kelam, kendaraan berpelat diplomatik dengan sistem keamanan antipeluru tingkat tinggi, mendadak melaju memotong jalur
Keheningan manis di perpustakaan mansion terpaksa buyar saat ponsel satelit rahasia di saku kemeja Felix bergetar hebat. Sebuah nada getar berkode khusus, hanya digunakan oleh The Ghost untuk laporan yang sifatnya sangat darurat dan rahasia.Felix menarik napas perlahan, merapikan helai rambut Jolina yang sedikit berantakan di dahi. Ia mengecup kening istrinya sekilas. "Istirahatlah di kamar dulu, Jolina. Ada laporan keamanan yang harus kupantau sebentar."Jolina menatap Felix dengan binar mata yang masih menyisakan kehangatan ciuman mereka tadi. Wanita itu mengangguk pelan, mengusap lengan tegap suaminya sebelum melangkah keluar dari perpustakaan, membiarkan Felix kembali ke dalam sangkar tugasnya sebagai seorang Don.Begitu pintu tebal perpustakaan tertutup rapat, raut wajah Felix berubah seketika. Kehangatan yang baru saja ia tunjukkan pada Jolina menguap tanpa sisa, berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh kewaspadaan. Ia menekan tombol penerima pada ponselnya dan menempelkannya
Pagi hari menyapa mansion Wesley dengan hamparan kabut tipis yang merayap pelan di antara pilar-pilar batu megah. Dari luar, suasana terkesan tenang dan tenteram, meski aroma halus tanah basah yang berbaur dengan jelaga sisa ledakan semalam masih membekas di sudut-sudut perbatasan halaman. Sisa-sisa pertempuran berdarah telah dibersihkan secara efisien oleh tim The Ghost, meninggalkan mansion dalam kedamaian tiruan yang mencekam.Di ruang makan utama yang luas, pendar sinar matahari pagi menembus jendela kaca tinggi, memantulkan cahaya lembut ke atas meja kayu mahoni yang terbentang panjang. Jolina duduk di salah satu sisi meja, mengaduk pelan mangkuk sup hangatnya dengan tatapan menerawang. Jubah sutra berwarna krem yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan siluet kehamilannya yang mulai sedikit memadat.Di ujung meja, Felix duduk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk menyesap kopi hitamnya sembari meneliti beberap
Di sebuah rumah tua terisolasi yang tersembunyi jauh di dalam rimbunnya hutan batas kota, napas ketakutan masih terasa begitu pekat. Bau mesiu, darah kering, dan asap rokok murahan memenuhi ruangan bersudut sempit yang hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung kekuningan yang berkedip-kedip. Luar mansion Wesley mungkin telah sunyi, tetapi kepanikan sisa-sisa pelarian itu kini berkumpul di dalam pondok reyot ini.Vico duduk bersandar di sudut dinding kayu, mengepalkan kedua tangannya yang bernoda hitam bekas ledakan. Pakaian taktisnya robek di beberapa bagian, namun bukan luka fisik yang membuatnya membisu. Kepala Vico serasa mau pecah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Felix di balik kaca ruang panel keamanan terus berputar tanpa henti, merusak pertahanan keyakinan yang selama ini ia agungkan.“William Benharg adalah orang yang memegang kendali atas kasus hukum ayahmu... Siapa yang diuntungkan saat ayahmu masuk penjara dan Addison menghilang? Benharg, Vico. Bukan Addison.”Vico men
Mansion keluarga Benharg berdiri angkuh di atas perbukitan, sebuah monumen kemegahan yang dibangun di atas tumpukan rahasia dan pilih kasih. Namun, bagi Felix, setiap jengkal tanah di sini adalah pengingat akan luka lama yang tak pernah mengering. Ia melangkah masuk seorang diri, tanpa pengawal d
Kemarahan Felix meledak seperti gunung api yang sudah ribuan tahun memendam lava. Saat anting milik Jolina itu mendarat di atas sprei putih, Felix tidak hanya melihat sebuah perhiasan, ia melihat sebuah penghinaan. Namun, sisa-sisa kewarasannya masih mengarah pada pria yang
Waktu seolah membeku di dalam mansion megah milik Felix. Satu bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang terasa seperti pemakaman itu, namun bagi Jolina, setiap detik yang ia lalui tetap terasa seperti berjalan di atas mata pisau. Felix tidak berubah. Pria itu tetaplah S
Langit-langit katedral tua itu dipenuhi dengan lukisan fresko para malaikat yang seolah menatap dingin ke arah bawah, menyaksikan sebuah persatuan yang jauh dari kata suci. Aroma dupa yang berat bercampur dengan wangi bunga lili putih yang melimpah di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang







