Home / Mafia / Dekapan Tuan Mafia / 08. Sisi Lain Sang Don

Share

08. Sisi Lain Sang Don

Author: Marfia Aphro
last update Last Updated: 2026-01-07 19:00:00

Bau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciuman Felix, menciptakan suasana dingin yang sangat ia benci. Di depannya, di atas bangsal putih yang tampak terlalu keras bagi tubuhnya yang mungil, Jolina terbaring tak berdaya.

Wajahnya yang pucat hampir sewarna dengan sprei rumah sakit, dan sepasang matanya yang biasanya memancarkan ketakutan—namun tetap indah—kini terpejam rapat di bawah pengaruh obat bius.

Tangan Jolina yang halus kini dipenuhi dengan selang infus dan kabel-kabel monitor. Di sampingnya, botol cairan penguat kandungan menetes perlahan, seolah-olah sedang menghitung setiap detik kehidupan yang hampir saja melayang.

Felix duduk di kursi kayu di samping ranjang, punggungnya yang biasanya tegak kini tampak sedikit membungkuk. Dokter baru saja keluar setelah memberikan vonis yang membuat jantung Felix seolah berhenti berdetak.

Pendarahan hebat. Janin itu masih ada, detak jantungnya masih terdengar meski sangat lemah. Namun, Jolina berada dalam kondisi kritis secara emosional dan fisik.

Rahimnya lemah, dan dokter memperingatkan dengan nada yang sangat serius bahwa sedikit saja tekanan atau kelelahan—baik fisik maupun mental—maka Felix akan kehilangan segalanya.

"Bodoh," desis Felix pada dirinya sendiri.

Suaranya yang berat bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia meraih jemari Jolina yang dingin, menggenggamnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah wanita itu terbuat dari kaca yang bisa pecah hanya dengan satu sentuhan.

Perasaan-perasaan aneh mulai merayapi dada Felix. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan, kekhawatiran yang menyesakkan, dan penyesalan yang membakar. Sebagai seorang Don, ia dididik untuk tidak memiliki perasaan.

Baginya, kelemahan adalah hukuman mati. Namun malam ini, melihat Jolina yang terkapar karena perbuatannya sendiri, Felix merasa seperti pria paling lemah di muka bumi.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas yang sudah sedikit lecek. Surat Jolina.

Felix menatap tulisan tangan yang miring dan gemetar itu. "...Aku harap kau akan bahagia saat tahu tentang bayi kita."

Setiap kata dalam surat itu terasa seperti peluru yang menembus jantungnya. Jolina mencintainya. Setelah semua kekasaran yang ia berikan, setelah ia menyeretnya ke rumah ini sebagai budak hutang, dan setelah ia memperlakukannya sebagai objek pemuas hasrat, wanita ini justru membalasnya dengan cinta.

Dan benih yang ia tanam, yang seharusnya menjadi bukti kekuasaannya, hampir saja ia lenyapkan dengan tangannya sendiri hanya karena hasutan ular berbisa bernama Oliver.

Felix membenci dirinya sendiri.

Ia membenci rasa lemah ini. Ia membenci bagaimana Jolina, tanpa mengangkat satu senjata pun, berhasil menaklukkan benteng pertahanannya yang paling kokoh.

Saat keheningan semakin mencekam, bayangan masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam mulai bangkit kembali. Ingatan itu seperti film lama yang diputar ulang dengan warna-warna yang suram.

Felix kecil berdiri di ambang pintu perpustakaan ayahnya. Ia memegang sebuah piala perunggu hasil kompetisi menembak yang baru saja ia menangkan dengan skor sempurna. Ia ingin menunjukkan itu pada ayahnya, ingin mendengar satu saja kata pujian.

Namun, di dalam ruangan itu, ayahnya justru sedang tertawa lebar sambil mengacak-acak rambut Oliver.

"Lihat ini, Oliver mendapatkan nilai sempurna lagi di sekolah! Inilah calon pemimpin yang pintar, yang tidak hanya mengandalkan otot!" suara ayahnya terdengar penuh kebanggaan.

Sang ibu pun ada di sana, tersenyum manis sambil menyuapi Oliver sepotong kue. "Oliver memang istimewa. Tidak seperti kakaknya yang hanya tahu cara berkelahi dan membuat masalah."

Felix yang saat itu masih berusia sepuluh tahun perlahan menyembunyikan pialanya di balik punggung. Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sejak hari itu, ia belajar bahwa cinta adalah hal yang mahal, dan perhatian adalah sesuatu yang harus direbut, bukan diberikan cuma-cuma.

Orang tuanya selalu pilih kasih. Oliver adalah emas di mata mereka, sementara Felix hanyalah jelaga yang mengotori nama keluarga. Itulah yang membuat Felix tumbuh menjadi sosok yang temperamental.

Ia menjadi kasar karena dunia tidak pernah memberinya kelembutan. Ia menjadi posesif karena ia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun yang berharga tanpa harus berdarah-darah untuk mendapatkannya.

Dan sekarang, pola itu terulang lagi. Oliver mencoba mengambil Jolina darinya, dan Felix—dengan sifat kasarnya yang sudah mendarah daging—hampir saja menghancurkan satu-satunya hal yang tulus mencintainya.

"Maafkan aku," bisik Felix lirih. Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Ia belum pernah meminta maaf pada siapa pun seumur hidupnya.

Felix mendekatkan wajahnya ke tangan Jolina, mencium punggung tangan istrinya itu dengan penuh rasa bersalah.

Ia bersumpah dalam hati, jika Jolina bangun dan anak ini selamat, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh mereka. Terutama Oliver. Ia akan memastikan adiknya itu membayar setiap tetes air mata Jolina dengan darahnya sendiri.

Tiba-tiba, monitor jantung di samping ranjang berbunyi lebih cepat. Jari-jari Jolina yang berada di genggaman Felix mulai bergerak sedikit.

Felix tersentak. "Jolina? Kau bisa mendengarku?"

Kelopak mata Jolina bergetar hebat. Ia mulai merintih pelan, wajahnya tampak kesakitan seolah ia sedang terjebak dalam mimpi buruk yang sangat mengerikan. Ia mulai mengigau, suaranya kecil dan serak, namun cukup untuk membuat Felix membeku di tempatnya.

"Jangan... jangan ambil dia... Tuan Felix, jangan..." isak Jolina dalam tidurnya. Air mata merembes dari sudut matanya yang masih terpejam. "Tolong... jangan sakiti bayiku..."

Hati Felix serasa disayat sembilu. Jolina tidak sedang takut pada musuh atau pada Oliver. Ia sedang takut padanya. Istrinya sendiri memohon perlindungan darinya dalam tidurnya.

Felix segera berdiri, mencoba menenangkan Jolina. "Sshh... aku di sini, Jolina. Tidak ada yang akan menyakitimu. Aku berjanji."

Jolina perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, namun saat ia mengenali wajah Felix yang berada begitu dekat dengannya, reaksi pertama yang ia tunjukkan bukanlah kelegaan.

Tubuhnya tersentak ketakutan, ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Felix seolah-olah pria itu adalah monster yang siap menerkamnya kembali.

"Pergi..." bisik Jolina dengan suara ketakutan yang murni. "Jangan sentuh aku..."

Felix terpaku, tangannya menggantung di udara. Penolakan itu jauh lebih sakit daripada luka tembak mana pun yang pernah ia terima.

Ia melihat mata Jolina yang penuh dengan trauma, mata yang kini tidak lagi melihatnya sebagai seorang suami, melainkan sebagai seorang algojo.

"Jolina, dengarkan aku. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Bayinya... dia selamat. Dia masih ada di sini," Felix mencoba berbicara selembut mungkin, tangannya gemetar saat ia menyentuh perut Jolina dengan sangat pelan.

Jolina membeku. Ia menatap Felix dengan tatapan yang kosong namun pedih. "Dia selamat? Tapi kau... kau membencinya, Felix. Kau bilang aku pengkhianat. Kau memperlakukanku seolah aku adalah sampah..."

"Aku salah, Jolina! Aku buta karena cemburu!" Felix jatuh berlutut di samping bangsal rumah sakit, kepalanya tertunduk di sisi ranjang Jolina. Pria yang ditakuti seluruh kota itu kini tampak hancur di depan seorang wanita yang tak berdaya.

"Aku tahu tentang Oliver. Aku tahu dia berbohong. Aku membaca suratmu..."

Jolina menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan tangan yang terinfus. "Kau baru percaya padaku setelah kau hampir membunuhku? Setelah kau menghancurkan harga diriku berkali-kali? Aku mencintaimu, Felix... tapi aku tidak tahu apakah aku bisa menatapmu tanpa merasa sakit lagi."

Felix merogoh surat itu dan meletakkannya di tangan Jolina. "Aku tidak pantas mendapatkan cintamu. Tapi tolong, demi bayi ini, beri aku satu kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang kau butuhkan. Bukan monster yang kau takuti."

Jolina menatap surat itu, lalu menatap Felix yang masih berlutut. Ada keheningan panjang yang menyiksa di antara mereka. Jolina ingin membenci pria ini, namun ia juga tahu bahwa di balik kekasaran Felix, ada seorang anak kecil yang terluka yang hanya butuh diakui.

Perlahan, tangan Jolina bergerak menyentuh rambut Felix. Sentuhan itu sangat ringan, namun bagi Felix, itu terasa seperti pengampunan yang tak ternilai harganya.

Namun, saat suasana sedang begitu emosional, pintu kamar terbuka sedikit. Bukan oleh perawat, melainkan oleh seorang anak buah Felix yang berwajah pucat.

"Tuan... maaf mengganggu," bisiknya gemetar.

"Ayah Anda... Beliau baru saja mendarat di kota ini. Beliau mendengar tentang kehamilan Nyonya Jolina, dan beliau menuntut agar Anda segera membawa Nyonya pulang untuk melakukan tes DNA di hadapan seluruh anggota keluarga besar."

Pria itu menarik napas sejenak. "Beliau bilang... jika bayi itu bukan murni darah kita, ia tidak boleh lahir."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Tuan Mafia   15. Di bawah Langit Benharg

    Mansion keluarga Benharg tampak seperti benteng batu yang dingin di bawah langit pagi yang mendung. Felix sedang mengenakan jas antipelurunya dengan gerakan yang efisien dan penuh amarah yang tertahan. Di seberangnya, Jolina berdiri dengan mata sembab namun penuh tekad. Ia sudah mendengar pembicaraan Felix di telepon; ia tahu ibunya ada di tempat ini."Aku ikut," ucap Jolina tegas.Felix berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Tidak. Kau tetap di sini dengan pengawalan maksimal. Tempat itu adalah sarang ular, Jolina. Ayahku dan Oliver tidak akan segan-segan menggunakanmu untuk memeras leherku.""Dia ibuku, Felix!" Jolina melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang kehilangannya. Aku tidak peduli seberapa berbahaya tempat itu. Jika kau meninggalkanku di sini, aku akan gila karena kecemasan. Tolong... biarkan aku melihat wajahnya sekali saja."

  • Dekapan Tuan Mafia   14. Sisa Badai Semalam

    Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar utama mansion Wesley. Cahaya itu jatuh di atas wajah Jolina, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Untuk sesaat, ia merasa disorientasi. Ingatan tentang bentakan Felix, rasa mual di kamar mandi, hingga pengakuan jujur pria itu tentang ibunya semalam, berputar di kepalanya seperti kepingan film yang rusak.Jolina meraba sisi ranjang di sebelahnya. Dingin. Felix sudah tidak ada di sana.Ia berusaha bangkit, namun rasa pusing yang hebat mendadak menghantam kepalanya. Pandangannya sedikit mengabur, sisa-sisa stres luar biasa dari kejadian kemarin malam masih meninggalkan jejak di tubuhnya. Jolina memijat pelipisnya, mendesah pelan saat rasa malu mulai merayapi hatinya.Bagaimana bisa aku begitu bodoh? batinnya menyalahkan diri sendiri. Ia telah mempercayai secarik kertas tanpa identitas dan menuduh suaminya sebagai penculik ibunya, padahal Fel

  • Dekapan Tuan Mafia   13. Janji Yang Rapuh

    Suasana di restoran mewah yang tadinya romantis seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Genggaman tangan Felix pada pergelangan tangan Jolina tidak lagi hangat, itu adalah cengkeraman baja yang menuntut kejujuran. Sebelum Jolina sempat menyembunyikan foto usang itu ke dalam tasnya, Felix sudah lebih dulu menyambarnya dengan gerakan secepat kilat.Felix menatap foto itu. Matanya menyipit, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menatap sosok wanita di foto itu—ibu Jolina—lalu beralih pada tulisan tangan di baliknya. Keheningan yang menyusul terasa begitu berat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh kemarahan yang mulai mendidih di balik dada Sang Don. Jolina tidak berani bernapas. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap pangkuannya sendiri sambil meremas kain gaun biru safirnya hingga kusut. Jantungnya berdegup begitu kencang, memberikan rasa

  • Dekapan Tuan Mafia   12. Di ambang Keraguan

    Kegelapan malam di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Jolina. Setelah membaca pesan misterius yang diselipkan di bawah pintu balkon, jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam di dinding. Kata-kata itu—Proyek Mawar Hitam—terasa seperti belati dingin yang menusuk tepat ke pusat traumanya. Ibunya, sosok yang menghilang tanpa jejak sepuluh tahun lalu, kini kembali menghantui dalam bentuk tuduhan mengerikan terhadap pria yang sedang memeluknya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Felix, Jolina merangkak turun dari ranjang. Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia berlutut di samping ranjang, jemarinya meraba-raba kolong kayu jati yang megah itu. Nafasnya tertahan. Ia mencari sebuah celah, sebuah tonjolan, atau apa pun yang menyerupai brankas kecil seperti yang disebutkan dalam surat itu. Ia meraba hingga ke sudut terdalam, debu tipis

  • Dekapan Tuan Mafia   11. Duri di Dalam Daging

    Keamanan di kediaman Felix Wesley kini berubah menjadi benteng yang nyaris mustahil ditembus. Kejadian kamera pengintai di rumah sakit tempo hari telah menyulut api kemarahan sekaligus kecurigaan yang luar biasa di dalam diri Felix. Ia tidak lagi bisa mempercayai bayangannya sendiri. Satu per satu, pelayan, koki, hingga tim penjaga ring terluar diinterogasi secara brutal. Felix yakin, Oliver tidak mungkin bisa menembus privasinya tanpa bantuan orang dalam. Ada pengkhianat yang telah menjual informasi demi kepingan uang dari adiknya yang licik itu. Namun, di hadapan Jolina, Felix tetaplah samudra yang tenang. Ia tidak ingin istrinya yang sedang mengandung itu kembali didera ketakutan. Satu bulan kemudian, Jolina mulai menikmati masa-masa keemasannya. Perutnya mulai sedikit membuncit, sebuah tonjolan kecil yang selalu membuat Felix tersenyum tipis setiap kali ia mengusapnya sebelum tidur. Kelembutan Felix b

  • Dekapan Tuan Mafia   10. Benih Cinta Di antara Luka

    Lampu-lampu rumah sakit berpendar temaram saat Felix melangkah menyusuri lorong VIP yang dijaga ketat. Langkah kakinya yang biasanya terdengar seperti dentuman sepatu tentara, kini ia pelankan. Ada kegelisahan yang aneh di dadanya, sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan setelah menghancurkan musuh atau memenangkan negosiasi jutaan dolar. Felix berhenti di depan pintu kamar rawat Jolina. Melalui celah kaca kecil, ia melihat pemandangan yang membuatnya terpaku. Jolina sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya yang pucat kini sedikit lebih berwarna di bawah cahaya lampu nakas yang kekuningan. Wanita itu tampak sangat fokus, jemari tangannya yang mungil memegang sebuah pena, menggoreskan kata-kata di atas sebuah buku diary kecil bersampul beludru. Felix tidak langsung masuk. Ia berdiri di sana, mengamati istrinya dari balik bayang-bayang. Ia memperhatikan bagaimana rambut Jolina ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status